Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Tangisan Merdu


__ADS_3

Langkah tergopoh tidak beraturan menggema di lorong sepi. Lalu bercampur baur dengan derap konstan milik orang lain. Sekejap terhenti kala bingung melanda.


Terdengar sepasang orang tua senja itu saling melempar tanya. Keduanya saling memastikan bahwa ayunan tungkai yang menapak telah benar membawa jiwa dan raga pada tempat yang dituju.


"Kev ... Pa, itu Keven. Ayo, Pa, cepat!" seru Mama Agni. Wanita tua itu berjalan cepat mendahului. Sedikit berlari dengan rasa cemas dan lega yang menyatu. Tidak peduli pada Papa Leigh yang juga terfokus pada Keven, mengekor sama khawatirnya.


Di depan pintu ruang bersalin Keven bergerak gelisah. Sesekali ia menunduk cemas, lalu mendongak dengan helaan berat nan kasar. Meremas jemari yang saling tertaut hingga memerah. Rohnya seolah tersedot dalam lorong cahaya tanpa ujung.


“Ma … Yuki, Ma.” Suara Keven bergetar. Ekspresi panik terlukis nyata. Ia adukan gundah gulana itu lewat pancaran mata yang gusar. Bahkan rambut kusut yang dijambak tampak mencuat.


“Sabar, Kev. Gak apa-apa,” sahut Mama Agni lembut seraya mengusap punggung kokoh Keven. Terasa basah karena kucuran keringat. Namun tetap berusaha menjalarkan ketenangan meski sama cemasnya.


“Ta-tadi pecah. Mobil mogok. Gak ada siapa-siapa. Istriku, Ma … Yuki … Yuki di da-lam … ketuban ... darah ….” Keven tercekat. Tergenang segala ketakutan di pelupuk mata. Masih hangat pula diingatan segala kepanikan yang berakhir dengan cengkraman Yuki yang melemah.


Namun yang bisa Keven lakukan kini hanya menunggu Yuki bertaruh nyawa di balik pintu yang tertutup rapat. Keven seolah kehilangan pijakan. Ia kesulitan bernafas. Ditambah kalimat lirih permohonan maaf Yuki samar-samar berbisik.


‘Nggak! Kamu bisa, Sayang. Tolong jangan … aku mohon bertahanlah. Jangan tinggalin aku,’ batin Keven berkelut resah.


Sejenak udara di lorong sepi itu seakan semakin menipis. Sesak menekan rongga dada. Menyekat pasokan oksigen dalam darah ke otak.


"Permisi, maaf suaminya?"


Ketiga manusia berlainan usia berjingkat. Menoleh tepat pada sosok yang menyembul di balik pintu ruang bersalin yang sedikit terbuka di belakangnya. Terdengar pula alunan merdu tangisan melengking yang menghadirkan haru, menarik kedua sudut bibir melengkung bahagia. Namun senyum itu luruh dari bibir Keven kala cemas kembali melanda.


"Saya," sahut Keven cepat dengan suara agak tercekat.


"Sus, cucu saya gimana?" tanya Mama Agni memberondong. Matanya berusaha mengintip dari celah tipis. Sayangnya hanya dinding kosong yang tertangkap indera penglihatan.


"Laki-laki. Bayi dan ibunya sehat ... maaf, suami Ibu Yuki bisa langsung masuk? Silakan Bapak. Mari saya bantu."


"Aku masuk dulu ya, Ma, Pa."

__ADS_1


"Iya, buruan temui Yuki," desak Mama Agni tidak sabaran. Kepalanya kembali melongok kala pintu dibuka sedikit lebar.


Seketika tangan renta Mama Agni bergetar. Spontan ditangkup oleh Papa Leigh yang sedari tadi nyatanya merapalkan banyak permohonan kepada Sang Kuasa.


Sedangkan di ruangan dingin yang baru Keven masuki, laki-laki itu terlihat berdiri kaku. Tidak pula langsung menerima bayi yang seharusnya langsung didekap hangat. Sempat termangu penuh tanya dalam kekalutan.


"Aku masih hidup, By," seloroh Yuki dengan kekehan ringan. Mata yang terpejam sangat damai sukses membuat Keven goyah.


"Tolong peluk Leo sebentar," pinta Yuki seiring kelopak mata mengerjap lambat.


Dapat Yuki lihat Keven yang kikuk kala menempelkan tubuh mungil putranya di dada. Beruntung berkat bantuan para perawat Papa muda itu berhasil memberikan skin to skin contact dengan aman.


"Anak kita, Sayang. Thank you ... kamu luar biasa. Makasih karena berhasil berjuang. Maafin aku bikin kamu kesakitan." Lagi-lagi Keven menjadi cengeng. Tumpah ruah pelupuk matanya basah meski tidak meleleh.


Pemandangan yang tidak sekali dua kali disaksikan tim medis yang bertugas itu tetap saja memberikan kebahagiaan tersendiri. Meskipun tidak sebesar bahagia Keven yang duduk di samping brankar persalinan Yuki. Mendekap erat sang putra yang sesekali menggeliat, sedangkan matanya tetap menatap lekat Yuki yang mulai menutup mata rapat. Ibu muda itu benar-benar kelelahan dan mendadak mengantuk berat.


...----------------...


"Sakit banget ya, Sayang?" tanya Keven sambil meringis nyeri. Bukan karena merasakan apa yang Yuki rasakan, namun menahan perih di lengan yang sedari tadi Yuki cengkram.


Kuku milik Yuki yang tidak panjang entah mengapa berhasil menusuk hingga ke tulang. Mengoyak kulit dan mememarkan daging berotot.


"Anak laki-laki emang kuat. Baru lepas kalau udah puas ... nah, baru Oma bilang udah dilepas. Udah kenyang ya cucu Oma? Bener-bener anak kamu, Kev. Kalau udah gitu biasanya sebentar lagi langsung tidur tuh," celetuk Mama Agni yang tiba-tiba sudah berada di belakang Keven.


"Mama beliin pisang sama apel. Sambil kamu makan ya, Ki. Biar gak lemes," ucap Mama Agni lagi. Mengeluarkan satu sisir pisang kepok dan beberapa buah apel merah.


Sementara Yuki berusaha membenahi pakaiannya. Dibantu pula oleh Keven dengan menaikan resleting baju khusus ibu menyusui yang Yuki kenakan.


Tidak berapa lama terlihat Papa Leigh masuk sambil mengelap tangan basahnya dengan dua helai tisu. "Cucu Papa udah kalian kasih nama?" tanya Papa Leigh berbinar penasaran.


"Udah, Pa," jawab Yuki dengan anggukan kecil. "Namanya Leo, Kaleo."

__ADS_1


"Alamgir Kaleo Haziq,” sambung Keven mengimbuhi jawaban Yuki. Tidak lupa dielus lembut rambut sang istri yang sudah tidak lagi acak-acakan. Menjatuhkan sorot teduh penuh rasa syukur dan cinta yang semakin bermekaran. “Semoga dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, cerdik, dipenuhi berkah dalam setiap perjalanan yang ditempuhnya di dunia ini."


“Dan semoga bisa menjadi Kakak yang baik buat sepuluh adik-adiknya nanti. Atau dua lusin sekalian ya, By? Gimana menurut Mama? Mama sama Papa sanggup kan jadi wasit turnamen keluarga nanti?” seloroh Yuki sekenanya. Menyengir geli mendapati reaksi mendelik enggan Keven. Begitu pula dengan Mama Agni yang melongo syok serta Papa Leigh yang justru mengangguk penuh semangat.


“Satu, Leo aja … kamu mau banyak? Kita adopsi ya?”


“Mumpung masih muda loh, By. Masih kuat ngejan. Iya kan, Ma?”


Seolah trauma, Keven gegas menggeleng. Satu saja sukses membuat ia nyaris gila padahal bukan pula dirinya yang bertaruh nyawa.


Tidak terbayang bila harus mengalami hal serupa berulang kali. Apalagi jika ikut menemani Yuki selama proses persalinan berlangsung. Seketika laki-laki yang baru saja menyandang gelar Papa itu didera rasa mual yang bergejolak hebat.


“Serejekinya aja. Kalau nanti Leo bisa cepet punya adek, Mama ya bersyukur banget. Mumpung Mama masih kuat gendong juga.”


“Iya, tapi kalau bisa udah ini aja. Aku gak sanggup Ma lihat Yuki kesakitan kayak tadi lagi. Lagi pula gak masalah jadi anak tunggal.”


“Gayamu, Kev. Sekarang udah tau kan gimana susahnya mau melahirkan? Masih mau bandel sama Mama?”


“Aku bandel apa lagi, Ma? Aku bukan anak kecil,” sangkal Keven.


“Tuh gak mau ngaku lagi anak Papa itu. Semoga cucu Mama mirip Yuki. Biar rumah kita cerah, ramai, penuh warna. Biar ceriwisnya nurun dari Yuki aja.”


“Mirip Keven juga gak apa-apa. Mama ini anak sendiri kok digituin,” tegur Papa Leigh.


Merotasi bola mata malas, Mama Agni kembali mengultimatum Keven. “Ingat ya, sayangi bener-bener istri dan anakmu. Udah susah payah Yuki kandung sembilan bulan. Berjuang ngelahirin mati-matian. Awas aja kalau kamu nakal. Mama sendiri yang potong tongkatmu itu sampai habis!”


Bergidik ngilu, Keven spontan menangkup paralon yang tengah meleyot di balik celana. Berbeda dengan Yuki yang tertawa terbahak-bahak hingga mengejutkan sang buah hati yang tengah terlelap.


Sontak tangisan merdu memancing kepanikan. Menyentil rasa malu dan penyesalan akibat tidak bisa mengontrol luapan tawa yang berkedut di bibir yang dikatub rapat.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih udah ngikutin kisah Yuki sampai sejauh ini ❤


__ADS_2