Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Matematika Cinta


__ADS_3

Kegelapan menyelimuti hati seorang gadis yang tertunduk di tepi ranjang. Terkunci rapat tanpa celah hingga teriakan memilukan nya terbungkam. Jika ditanyakan apa yang mampu mempertahankan kesadarannya, maka jawabannya hanya helaan nafas putus asa.


Sebanding dengan ruangan segi empat yang ditempatinya, sangat sunyi dan gelap tanpa penerangan. Sedikitpun tubuh Yuki tidak beranjak untuk meraih saklar lampu meski sebenarnya ia cukup takut kegelapan.


Hanya bertahan dengan kepala menunduk dan mata terpejam Yuki mencoba menghalau air matanya agar berhenti merembes. Diremas seprai kasur dalam kedua cengkeramannya.


Malam ini Yuki terlihat sangat rapuh. Kepercayaan dirinya mengecil.


Pemandangan bahagia sepasang kekasih yang disaksikan mata kepalanya sendiri sukses mengoyak sisi iri Yuki. Sekuat tenaga menampik, namun ketidakberdayaannya dalam menggapai kebahagiaan itu malah terpampang nyata. Padahal dirinya yang sudah berada dalam ikatan suci, namun mengapa semua itu bagai menggores pasir harapan di bawah derasnya hujan.


“Sampai semalam ini juga kamu gak pulang. Tanpa kabar … Benar-benar pernikahan gila, istri figuran," lirih Yuki miris.


Mengusap sisa air mata yang menggenang, menyedot cairan ingus yang menyumbat hidung, Yuki membuka kelopak matanya yang langsung disambut dengan kegelapan. Sontak saja secepat kilat Yuki meraba-raba permukaan kasur mencari ponselnya. Tidak dapat dipungkiri tubuh Yuki bergetar merinding ketakutan pada kegelapan di depan mata.


Klek.


Belum sempat Yuki menemukan ponselnya, suara saklar dinaikkan serta silau pancaran cahaya lampu langsung membuatnya terkejut. Sedangkan si pelaku yang baru saja masuk ke dalam kamar yang mulanya gelap itu mengernyit heran. Dikiranya Yuki pergi sehingga rumah dibiarkan gelap gulita tanpa satu pun lampu yang menyala.


“Kenapa gak nyalakan lampu?” tanya nya sembari melempar jaket yang baru saja dilepaskan ke atas kursi. Sesekali sosok yang tidak lain adalah Keven itu meregangkan tubuh lelahnya.


Satu per satu tulangnya seakan bergesekan dan berbunyi. Sangat menguras tenaga menghabiskan waktu mengemudi, berlanjut menjaga Alia semalaman dan yang lebih parah hampir seharian Keven menghabiskan waktu mendatangi satu tempat ke tempat lainnya demi menemukan Saka.


Bukannya menjawab, Yuki justru mendengus sebal pada Keven yang benar-benar seenaknya. Hubungan mereka yang tidak dekat kini sangat terasa bagai orang asing. Di sinilah Yuki akhirnya berharap agar program KKN dari kampusnya segera di mulai dan jika bisa terlaksana dalam waktu yang cukup lama. Akan lebih baik jika Yuki memiliki banyak waktu menjauh dari manusia bernama ‘Keven’.


Sedangkan Keven yang seolah mengerti kekesalan Yuki mencoba menjelaskan kondisinya, “seharian ini aku pergi cari Saka. Kondisi Alia gak bisa aku biarkan gitu aja.”


Hening. Tidak ada respon sama sekali. Yuki lebih memilih membuang pandangannya, tidak ingin mata sembabnya diketahui oleh Keven. Selain itu, Yuki yakin suaranya akan terdengar parau.


“Kamu nangis?” tanya Keven, rupanya ia sudah lebih dahulu menangkap raut wajah sembab Yuki.

__ADS_1


“Haah ….” Sekali lagi Yuki tidak menjawab, hanya hembusan udara kosong yang terdengar menyela.


Malam itu Yuki belum juga membasuh tubuhnya. Beban di hati membuatnya larut hingga lupa waktu. Dan menakjubkannya disaat sudah puas menumpahkan segala teriakan dalam diam yang bergulat hebat Keven muncul begitu saja.


Menegakkan kepala, Yuki melenggang pergi menuju kamar mandi, melewati Keven dengan acuh. Udara malam yang dingin tidak mampu menembus dinding, namun yang masuk lewat celah pintu terkumpul bagai benteng di antara Yuki dan Keven.


“Kenapa?” Pertanyaan Keven terdengar lucu di telinga Yuki. ‘Kenapa?’, masih perlukah hal itu dipertanyakan?


“Kenapa?” ucap Yuki membeo, menghentikan langkah kaki membelakangi Keven. Terkekeh Yuki mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit putih polos


“Aku ini siapa sebenarnya di sini?” lirih Yuki parau. Memasok udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru, Yuki kembali berkata lagi, “apa tugas ku hanya untuk menumpang hidup? Menerima semua uang yang terus kamu berikan dengan alasan nafkah, tapi nyatanya aku hanya orang asing di sini.”


“Mau kamu apa? Gak usah berbelit!” ujar Keven ketus. Mendesis geram menghadapi Yuki yang berubah ‘aneh’. Niatnya pulang agar bisa mengistirahatkan segala beban yang bertumpuk, namun harus menghadapi Yuki yang membuat kepalanya bertambah pusing.


“Aku lelah … Kamu baik, tapi kamu juga jahat. Sebenarnya apa yang kamu mau dan harus aku lakuin? Apa ini yang dulu kamu maksud dengan menunjukkan bagaimana aku harusnya tersiksa?” bergeming Yuki mencerca Keven. “Kalau iya … Selamat, kamu berhasil.”


“Jangan kekanakan! Kondisi Alia saat ini gak baik-baik aja, kamu tau itu! Kalau kamu marah karena terpaksa pulang ... Masih ada waktu lain,” ketus Keven.


“Cukup! Tatap aku kalau kamu masih mau bicara dan to the point aja mau mu apa!?” bentak Keven nyaring, tatapan nyalang dari wajah dinginnya menghujam punggung terguncang Yuki.


Memaksakan kakinya bergeser menyerong, Yuki mengangkat kepalanya. Tanpa dapat dihindari tatapan kedua manusia yang telah lama saling berbagi ranjang itu bersirobok.


Rahang mengeras dan sorot berapi-api Keven seketika meredup. Tampak wajah sembab berurai air mata yang membuatnya langsung ingin berlari mendekap, akan tetapi egonya menolak. Ia tidak ingin terlihat lemah dan kalah, cukup menyimak bibir mungil bergetar itu menyuarakan isi hatinya.


“Kalau aku mau cinta kamu, boleh?”


Deg!


Tubuh Keven menegang. Bukan karena kalimat permintaan Yuki, namun senyuman kaku di tengah raut wajah pilu yang seolah meremas jantung Keven. Tangannya ingin bergerak mengusap, akan tetapi hanya berakhir menjadi sebuah kepalan. Ia takut saat kulitnya berhasil bersentuhan maka sosok rapuh di depannya akan hancur tercerai-berai.

__ADS_1


Keven bodoh. Ia tau hatinya sudah terbuka dan menerima hadirnya Yuki, namun mengapa sulit untuk mengakuinya.


“Jangan kaget gitu … Aku bercanda, hahaha …,” tawa renyah yang dibuat-buat tidak dapat menipu Keven.


Pancaran mata Keven seketika berkabut kecewa. Perlu ditekankan lagi bukan karena kalimat yang katanya berupa candaan, namun kecewa akan perasaannya yang berwujud tapi selalu ditutupi dengan penolakan.


“Sebenarnya aku benci matematika. Mungkin itulah yang membuat kisah cinta yang aku pilih terasa rumit dan benar-benar sulit. Tidak pernah bisa aku pecahkan. Taukah kamu ….” Menelan air liur yang terasa mencekat di depan lubang saluran antara kerongkongan dan tenggorokan, Yuki menghembuskan nafas perlahan yang terputus-putus.


“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”


“TARIK KATA-KATA MU!” Suara meninggi Keven menggelegar, mencekam takut Yuki yang bergeming semakin terpaku. Lututnya yang lemas tidak berani membawa tubuh lemahnya luruh ke lantai. Hanya memejamkan mata, mengatupkan gigi rapat dan mengepalkan tangan yang mampu Yuki lakukan.


"Semua itu gak akan pernah terjadi!" geram Keven sambil menarik kedua bahu menegang Yuki menghadap ke arahnya.


Meringis Yuki merasakan bahunya sakit dalam cengkeraman Keven yang tampak sangat marah.


...****************...


*


*


*


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰


Jika berkenan bisa mampir ke cerpen ku, ada 4 dan yang setting waktunya masa kita hanya "SENJA KU PERGI", sisanya berbau fantasy kuno 😁


Menurutku pembaca kisah Yuki pasti cukup suka dengan alur cerpen SENJA😉 (ini promosi ya🤫)

__ADS_1



__ADS_2