Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Hamil?


__ADS_3

“By, bagus yang ini, ini atau ini?” Bahkan tanpa melihat objek yang dimaksud, Yuki tetap menunjuknya dengan tepat. Jemarinya yang menggantung sekejap sudah saling tertaut. Cemas dan penuh harap.


“Ini bagus. Tapi ….”


“Apa?” sela Yuki tidak sabaran. Matanya berbinar menanti jawaban Keven.


“Pakai celana panjang, ya? Aku gak mau orang lain lihat paha kamu.”


“Kan udah pakai cardigan, By. Bakal aneh kalau ditambah celana. Lagi pula dress nya gak pendek-pendek banget. Siapa juga yang mau lihat paha? Iya kali orangnya harus jongkok ngintipin pahaku. Gak ada kerjaan banget,” ucap Yuki penuh penyangkalan. Gegas diraih satu set mini dress yang dipadukan dengan cardigan oversize.


“Ini coba lihat … lucu, kan? Terus nanti pakai sling bag yang putih tulang sama sandal yang baru kamu beliin itu, By. Udah lama banget aku gak pakai style kayak gini. Kaos oblong sama celana jeans mulu. Bosan.”


Menghela nafas panjang, Keven membenarkan perkataan Yuki. Tapi tetap saja ia tidak rela membiarkan Yuki bergaya manis namun tetap seksi jika harus pergi tanpa dirinya. “Ya udah ganti yang ini. Tapi jangan pakai crop top.”


“Ih, kok gitu?! Kenapa diganti semua sih?”


Sontak mata berbinar Yuki meredup. Bibirnya cemberut sebal. Sudah dipastikan akan terjadi perang. Bahkan pakaian yang dipegang sudah dilempar sembarangan ke atas ranjang.


“Nggak semua, Sayang. Aku cuma gak mau pakaian kamu terlalu terbuka. Susah?” ucap Keven lembut, lugas dan tetap tegas.


“Udah lah kamu pergi sana. Aku pilih sendiri. Semuanya gak boleh. Jangan-jangan kalau pakai jumpsuit ini juga gak boleh gara-gara nggak berlengan, iya kan?”


Suara Keven tertahan di tenggorokan. Lidahnya sengaja dibekukan agar tidak spontan menjawab. Lebih baik saat ini Yuki marah padanya dari pada ia seharian tidak fokus bekerja. Istrinya itu bukan hanya kembali cerewet, tapi sedikit-sedikit menjadi mudah sekali marah.


Namun perempuan dengan keajaiban yang maha dahsyat itu tidak hanya mengabaikan Keven. Bahkan hal kecil seperti pintu yang Keven bukakan untuknya sengaja Yuki tutup ulang. Rela menunggu beberapa saat sambil mendengus sebal dan membukanya lagi. Lalu melenggang enggan menatap Keven yang terbengong bingung pada tingkah super anehnya.


...----------------...


"Mertuamu mana?"


"Toilet ... ini menu baru? Lumayan rame ya Dim?" Yuki mengedarkan penglihatannya. Tersenyum lega bercampur bangga pada Dimas serta Ara yang notabene istri pemilik pusat perbelanjaan itu, siapa lagi kalau bukan Rava.


"Gara-gara banyak seleb sosmed nge-vlog. Lihat aja tuh di meja sana." Tunjuk Dimas lewat sorot matanya. "Tau kan apa-apa yang lagi viral pasti diserang. Membludak pada rebutan."


"Bagus dong. Cuan mengalir deras."


“Kalau gak pinter bikin promo atau menu baru, gak yakin pemasukan mengalir deras. Yang namanya mendadak viral kan bisa jadi musiman.”


“Tapi dapatnya lumayan gak sih buka di sini?”


“Dibilang lumayan ya lumayan banget. Aku sendiri untung bisa ajak join stand minuman. Terus tim pemasaran di sini proaktif banget bantu promo, jadi kita gak dilepas gitu aja.”

__ADS_1


“Serius? Gratis tuh? Nggak pajak-pajak lagi? Soalnya rata-rata orang kan datang belanja bahan pokok di dalam. Atau sekadar cuci mata di dalam lah. Apa lagi area makan ini lebih ke belakang. Kalau segala macam promo gratis lumayan juga.”


“Ya gratis lah. Lagian yang lalu-lalang emang banyak, tapi yang mampir jajan juga gak kalah banyak. Akses parkiran paling dekat itu ya harus lewat sini. Gak mungkin tempat ini dibuat tanpa perkirakan untung rugi.”


Yuki mengangguk. Ia jelas membenarkan kalimat Dimas. “Iya juga sih, Dim. Apa lagi Pak Rava kan memang pebinis. Otaknya beda dari kita.”


“Gak usah dibandingin. Jam terbangnya udah jauh beda. Aku juga gak yakin bisa hoki gini kalau bukan karena Ara.”


“Sama aku nggak hoki?”


Mendelik, Dimas tampak berdecih jengah.


“Gak tau diri banget ya anda yang suka nyontek. Tau gitu aku protes ke dosen, aku koyak tugasmu biar ada yang ngulang mata kuliah,” ujar Yuki sambil menendang ujung kaki Dimas.


“Masih ada Ara yang kasih contekan.”


“Dasar Cuit gak tau diri,” umpat Yuki lagi sambil merotasi bola matanya malas. “Oya, keripik jengkol kapan launching?”


“Dikira mobil launching. Bulan depan baru masuk. Kenapa? Mau? Beli!”


"Pelit banget. Minta dikit aja. Lagi kepengen banget nih."


"Gak peduli. Heran, doyan banget sama jengkol."


"Hamil?”


“Kayaknya … mungkin.”


“Gak jelas.”


"Ya kan nebak gak apa-apa. Udah nikah bisa kali. Udah telat sebulan juga. Bulan ini bentar lagi udah mau tanggalnya dapet, tapi kayaknya beneran telat dua bulan,” ucap Yuki tiba-tiba, sangat santai dan terlihat biasa saja. Berbeda dengan Dimas yang terlihat sedikit terkejut lalu berdecak jengah.


Memicing, Dimas bertanya, “jangan bilang Bang Keven belum tau? Udah dicek?”


“Memang belum. Kan baru nebak.”


“Wah parah, gak bener ….” Dimas menggeleng kepalanya. Memegangi tengkuk yang seakan kaku oleh tekanan darah tinggi.


“Cari masalah banget malah bahas sama aku dulu,” lirih Dimas yang masih bisa Yuki dengarkan.


“Gak usah lebay gitu kali.”

__ADS_1


“Masalahnya repot punya dua istri yang bukan istrinya sendiri. Ujung-ujungnya aku jadi korban tidak berdosa yang dicemburui sana-sini. Jangan-jangan gara-gara kalian aku masih jomblo."


"Ngaco. Gak laku tuh gak laku aja. Gak usah nuduh-nuduh orang lain. Salahnya punya bestie cantik paripurna. Untung aja dirimu gak belok," balas Yuki sewot.


“Eh, tunggu-tunggu … sama Titi gimana?” Yuki sengaja menekan panggilan 'Titi'. Tersenyum miring seraya mencondongkan badan ke depan. Tangannya terlipat rapi dengan kedua alis yang digerakkan naik turun serentak, kepo.


“Udah lah, gak usah bahas.”


“Cerita woi, kenapa? Gak setia kawan banget. Minimal tanggung jawab udah pernah ganggu aku sama Mas Keven gara-gara galau gak jelas itu.”


“Sadar diri aja lah, Ki. Dia butuh komitmen yang pasti aku belum siap. Gimana ya … udah bukan waktunya dia main-main. Dan bukan aku mau main-main, tapi masih banyak tanggunganku. Ada Nita sama Dio yang harus hidup enak. Ibaratnya kalau kami bertiga harus kerja keras, cukup aku aja yang susah payah,” ucap Dimas getir. Bisa Yuki tangkap ada hal lain yang memberatkan Dimas.


“Ngomong-ngomong Tante Agni mana? Ke toilet lama banget,” tanya Dimas tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan. Namun jika diingat memang benar Mama Agni terlalu lama pergi ke toilet.


“Astaga, iya-ya, Mama lama banget. Aku ….” Tubuh yang belum sempat ditegakkan sepenuhnya itu mematung. Telinganya menyimak gema suara yang mengalun konstan, menjelaskan detil informasi seseorang yang bisa dipastikan adalah Mama Agni. Terbukti lewat nama Yuki yang ikut disebutkan.


“Cabut ya, Dim.” Gegas Yuki meraih kantong-kantong belanjaan memenuhi tangan. Mendorong mundur kursi yang diduduki dengan kasar. Mengindahkan peringatan Dimas agar dirinya berhati-hati setelah pembahasan kemungkinan sudah ada nyawa lain yang terbentuk di perut rata itu. Meskipun masih sebatas tebakan semata.


‘Loh, ada si bang-’ gumam Yuki terputus di dalam hati. Langkahnya terhenti sejenak beberapa meter di samping laki-laki yang bertukar obrolan dengan Mama Agni.


“Sat?” sambung Yuki. Tentu bukan nada menyapa, melainkan intonasi tanya atas kehadiran sosok mantan menyebalkan di depan mata. Namun perhatian perempuan itu secepat kilat berpindah pada Mama Agni yang duduk bersandar di sebuah kursi putar.


“Mama kenapa bisa gini?” Mata Yuki membulat. Ia berjongkok menyentuh kaki kanan Mama Agni yang lebam membiru meski masih terlihat samar-samar.


“Kepleset. Mama gak lihat ada tanda lantai licin. Untung ada Mas-mas ini. Dipapah ke sini.” Tunjuk Mama Agni pada sosok Satria yang mengulas senyum simpul, manis dan meneduhkan. Tapi jelas memuakkan bagi Yuki.


“Kan udah aku kasih tau sandal Mama perlu diganti. Udah mulus banget bawahnya. Ya udah kita pulang aja ya, Ma? Nanti Yuki ajak Mas Keven beliin Mama sandal baru.”


“Khem, Ki, biar aku antar. Kebetulan aku juga mau ke daerah air mancur,” ucap Satria tiba-tiba.


“Loh kalian saling kenal?”


“Nggak kenal-kenal banget, Ma. Lagian tau dari mana kami mau ke sana? Nggak tuh,” balas Yuki tidak ramah pada Satria. “Ayo, Ma, kita pulang. Sambil jalan ke depan bisa pesan ojek. Mama bisa kan jalannya? Atau mau aku gendong?”


“Mama jalan pelan-pelan,” jawab Mama Agni sembari beranjak dari duduknya. Sedikit meringis tidak nyaman akibat pergelangan kaki yang terkilir.


“Makasih ya Nak Satria udah bantuin Tante tadi. Kapan-kapan kalau lewat mampir ke rumah," ucap Mama Agni lagi, tentu hanya basa-basi.


‘Lah Mama ….’ Yuki membatin resah. Tidak tau saja jika anaknya bisa uring-uringan dan cemburu buta jika mendapati tamu seperti sosok yang kini mengangguk ramah pada Mama Agni.


Sedangkan Keven yang mulai membuka restorannya mendadak ingin bersin seiring telinga yang tiba-tiba berdenging dan gatal.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih atas kesabaran menanti UP😘


__ADS_2