
"Kalau kamu gak mau aku ribut di sini, ikut aku pulang! Kita selesaikan semuanya berdua!" ucap Keven lantang, menarik atensi seluruh wanita penghuni kos yang diam-diam dan terang-terangan menyaksikan pertengkarannya dengan Yuki.
Menggigit bibir bawahnya, Yuki menghembuskan nafas kasar. Ia kesal dan bimbang secara bersamaan. Sengaja pula ia tidak keluar melewati pagar yang tertutup dan dijaga Satpam. Walaupun bukan hanya sekali sang Satpam menyarankan Yuki untuk keluar menyelesaikan permasalahan sebelum berlarut dan meresahkan orang lain.
"Ki ...," panggil Ara pada Yuki yang mengunci rapat bibirnya. Gadis itu mengusap lengan Yuki, turun mengurai tangan yang terkepal. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuki dan berbisik lirih, "saat kamu kabur, masalah itu akan datang lagi. Hadapi dan selesaikan meski berat. Karena sampai kapanpun masalah itu gak akan lari dari kamu."
Menatap Ara dengan mata sendu dan bibir melengkung ke bawah, Yuki tampak enggan meladeni Keven. Namun keributan yang Keven timbulkan sangat mengganggu penghuni kos lainnya. Yuki juga sangat risih kala bisik-bisik gosip tentangnya menggema. Sangat yakin pula jika kabar pertengkarannya dengan Keven pasti sudah sampai keluar dari lingkungan kos.
Tak ayal kini kepala dan tengkuk Yuki sakit, berat memikirkan beban yang mendera. Ia seolah baru saja tertabrak kapal tanker. Percayalah, Yuki tidak berbohong. Rasa sakit itu nyaris mirip seperti saat dirinya ditabrak kapal tanker mainan milik anak tetangganya dulu.
Brak.
Terperanjat Yuki pada dentuman nyaring besi pagar yang didorong kasar. Tampak Keven sudah mencengkeram erat jeruji pagar dengan kedua tangannya. Dibukanya secara paksa pagar yang menjadi pembatas antara dirinya dan Yuki. Meski sudah ditahan Pak Satpam, namun tenaga bercampur emosi Keven mengalahkan segalanya.
Bahkan semua itu berlalu sangat cepat tanpa Yuki duga. Ia terlalu larut dalam keputusan yang saling bertolakan dengan batin dan logikanya.
"Aaaaaa ...," jerit Yuki sambil meremas kuat bahu berlapis kemeja yang Keven kenakan.Tubuhnya melayang dan menjulang tinggi. Wajahnya tertampar ranting dan dedaunan pohon rambutan. Lehernya nyaris tersangkut saat Keven dengan asal ingin langsung beranjak menuju mobil yang terparkir.
Ingin berontak menendang, namun kakinya terkunci dalam dekapan Keven. Alhasil Yuki yang tidak seimbang hanya mampu melemaskan punggung. Kini ia layaknya sekarung dedak yang dipanggul di bahu kokoh Keven.
Ara yang melihat pemandangan itu hanya menggeleng pelan. Bukan tidak mau menolong, namun lebih baik dibiarkan agar sahabatnya itu segera menyelesaikan permasalahan yang tidak kunjung usai. Gadis itu tampak sudah pasrah jika nantinya harus menerima omelan Yuki yang saat ini menjerit kuat meminta diturunkan oleh Keven diselingi panggilan histeris atas nama Ara.
"Pakai!"
"Udah sana, aku bisa pakai sendiri!" protes Yuki saat Keven akan memakaikan seatbelt untuknya. Namun tidak diindahkan oleh Keven yang terlanjur menyumbat telinga atas segala ocehan Yuki.
"Ngapain sih ngelirik aku terus?" Merengut dan memberikan tatapan sinis Yuki mendelik. Ia risih berulang kali ditatap sekilas oleh Keven.
Tanpa jawaban Keven hanya menghembuskan nafas panjang nan berat. Laki-laki itu tidak ingin kecolongan lagi. Cukup aksi kabur dan gugatan cerai saja yang harus dihadapi. Tidak akan ia biarkan perpisahan menjadi akhir kisah mereka.
"Jangan keluar dulu!" perintah Keven pada Yuki. Keduanya sudah sampai di pelataran rumah orang tua Keven. Ia benar-benar membawa Yuki pulang agar tidak bisa lari ke mana-mana.
__ADS_1
Keven memutari mobil dengan cepat. Menyambut Yuki yang sudah lebih dulu turun, mengabaikan peringatannya yang melarang gadis itu keluar. Sekelebat raut wajah Keven tergambar kepanikan, khawatir bila Yuki kembali melarikan diri. Sedangkan Yuki jelas tau alasan perubahan ekspresi Keven.
"Apaan sih pegang-pegang terus?! Aku bisa jalan sendiri. Gak perlu dituntun!" ketus Yuki sambil berusaha menepis genggaman tangan Keven. Memasang wajah penuh kebencian dengan kerutan dalam pada alis dan dahi, tidak ketinggalan disertai bibir manyun yang panjangnya hampir melampaui tinggi hidung.
Sayangnya sikap Yuki itu tidak bertahan lama. Seketika ia tersenyum kaku, canggung pada Mama Agni yang terkejut dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Wanita tua itu bahkan melempar asal keranjang berisi pakaian yang belum lama itu diantar tukang laundry langganannya.
"Akhirnya kamu pulang ... Ini-," kata Mama Agni terbata-bata. Ada kelegaan dan harapan atas kehadiran Yuki di rumahnya. Diusapnya pipi Yuki dengan penuh kasih sayang. Meraih genggaman tangan anak dan menantunya dengan perasaan haru.
Sedangkan Yuki tentu merasa serba salah. Pertemuan terakhir kali dengan Mama Agni jelas membahas permintaan wanita tua itu agar Yuki pulang, menerima Keven kembali dan memperbaiki hubungan mereka.
Kini, semua mata tertuju pada Yuki. Menyorot dalam penuh tekanan yang beragam. Yuki hanya mampu menunduk. Pasrah tangannya digenggam erat Keven. Ia bukan tidak sempat protes, tapi tidak enak jika mempertontonkan keributan rumah tangganya di depan mertua.
Sedangkan Keven mati-matian bertahan, tidak langsung membawa Yuki menuju kamar mereka demi menghormati kedua orang tuanya yang mendadak memberi wejangan. Bukan ini rencana Keven, tapi di lubuk hati terdalam Keven juga berharap apa yang disampaikan Mama Agni dan Papa Leigh sedikit banyak bisa mempengaruhi Yuki untuk membatalkan gugatan cerai yang diajukannya.
...----------------...
"Sisihkan dulu sebagian yang Mama dan Papa sampaikan ke kamu. Jangan jadikan beban, tapi tetap ambil sisi positifnya," ucap Keven tiba-tiba, ia menatap Yuki yang memunggunginya.
Berjalan mendekat, Keven memeluk Yuki dari belakang. Menyandarkan kepalanya dengan putus asa di bahu Yuki. Sontak sikap Keven membuat Yuki tersentak kaget.
"Ini tentang kita. Aku mau kamu kembali membuka hati kamu karena memandang hubungan kita layak untuk dipertahankan." Hembusan tipis yang menembus pori-pori pakaian membuat Yuki bergidik.
Yuki ikut menghela nafas berat. Mencerna kalimat Keven dengan cermat. Dapat disimpulkan bahwa Keven tengah serius, namun Yuki takut keseriusan Keven saat ini hanya bersifat musiman. Layaknya durian yang menyengat, menghadirkan semerbak aroma khas, menggugah selera jiwa-jiwa yang terlanjur mencinta, sayangnya menghilang disaat musim itu telah usai.
Ketakutan itu hadir. Kepercayaannya akan sebuah hubungan harmonis dalam pernikahan menipis. Dihancurkan dengan sandiwara Mama Maria dan Papa Gibran yang terkuak, mengoyak asa yang tersisa, meruntuhkan puing-puing keyakinan yang disadari hancur perlahan.
Yuki sudah rapuh dan lelah. Berusaha tegar menghadapi segalanya, namun semakin bertahan bersama Keven yang diecapnya hanya luka baru di balik senyum cerah. Tidak jarang kilasan mengerikan kehancuran keluarganya yang berkelebat di otak Yuki terpampang nyata di bola mata Keven.
Sebelum dunianya semakin memburuk, menghantui dalam keterpurukan, Yuki ingin terbebas. Melangkah menapaki jalan tanpa bayang-bayang selain miliknya sendiri. Mungkin bersama Keven benar-benar kesalahan yang harus segera diakhirinya.
"Maafkan aku yang selalu mengabaikan kamu. Saat itu aku kalut dengan diriku sendiri, tapi aku justru melimpahkan kekesalan itu pada kamu. Meskipun aku mulai nyaman dengan kamu, aku dengan ego yang tinggi tidak ingin mengakuinya ... Aku terus berusaha menjauh. Aku juga membenci kamu. Di benak ku hanya terpatri kamu yang tidak tulus karena cara kamu mengekspresikan cinta sangat berlebihan dan terkadang tidak masuk akal."
__ADS_1
Dapat Yuki rasakan tubuh Keven yang terguncang. Suaranya parau menahan isak tangis yang berusaha ditutupinya dari Yuki. Sejenak Keven menggigit bibir bawahnya, mengeratkan lengan yang mendekap Yuki.
Sedetik kemudian Keven mendongakkan wajah saat merasakan setetes air mengenai lengannya. Spontan Keven menegakkan punggung, memutar tubuh Yuki yang mematung dengan derai air mata memenuhi wajah.
Gadis itu menangis tergugu tanpa suara. Ia mengeratkan gigi menahan isakan yang samar-samar masih terdengar. Pilu Yuki meratapi kisah yang ingin diakhirinya. Ditatapnya nanar Keven yang ikut meneteskan air mata.
Keven mengangkat tangannya, mengusap pipi Yuki yang basah. Ia tersenyum getir pada kebodohannya selama ini. Lidahnya kelu dengan bibir bergetar dan dada ngilu. Sama halnya dengan Yuki yang sejak tadi memilih diam merasai tenggorokan tercekat.
"Aku takut pada perasaan mu. Rasa itu bisa saja berubah tanpa aku tau.Terpesona, obsesi atau cinta ... Aku ingin kamu bisa membedakannya. Tapi aku lupa memahami perasaan aku sendiri. Aku terlambat menyadari jika aku yang tidak bisa melepaskan kamu pergi. Maaf ... Bisakah kesempatan kedua itu kamu berikan tanpa menjauh dari sisi ku?"
Sekali lagi Keven berucap disertai helaan nafas berat dalam alunan suara yang semakin parau. Ia tangkup wajah Yuki yang tiada hentinya dihiasi lelehan air mata. Ingin sekali Keven menghentikan air mata kesedihan yang disebabkan olehnya, namun apa daya jika Keven hanya mampu menahan nyeri menusuk yang berulang kali menghujam jantungnya.
"Sa-salah-kah a-ak-ku yang ma-rah dan ke-ce-wa?" ucap Yuki terbata-bata. Ia menarik nafas dalam-dalam lewat rongga mulutnya. Sedangkan sepasang lubang hidung yang harusnya berfungsi normal sudah dari awal menahan tangis tersumbat ingus.
"Jang-an sok pa-ling tersakiti kamu! Kesem-patan kedua yang aku ka-sih? Aku hanya ingin memberi harapan pal-su ... Menakjubkan bukan disia-siakan saat kamu berjuang? Syukuri lah ... Setidaknya kita punya kenangan indah." Tersenyum kecut Yuki terkekeh miris.
Perkataan Yuki sukses melukai hati Keven. Namun dalam sekejap juga menampar ingatannya akan perkataan sinis yang ia ucapkan untuk Yuki di masa lalu.
'Apa kamu dulu juga sesakit ini saat hardikan itu aku ucapkan? Padahal kamu benar-benar tersakiti, tapi aku yang egois menutup mata,' batin Keven semakin menyesal. Masih diingatnya aura kebencian yang dulu ditabuh nya pada Yuki.
...****************...
*
*
*
Salah satu dialog Keven udah aku spoiler ya di story ... Sebagian pembaca yang lihat masih ingat nggak nih?😄
Oh ya, mohon maaf belum bisa balas komen semuanya satu per satu🙏🙇♀
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki meski gak stabil kapan update nya🥰