Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Sepasang Kekasih


__ADS_3

“Kenapa gak jagain Kak Alia aja?” tanya Yuki dengan tatapan kosong, memandang lurus laju kendaraan di depan yang beradu cepat dengan pergantian warna lampu dari hijau, kuning ke merah. Padatnya lalu lintas pagi itu sama sesaknya dengan kegalauan hati Yuki.


Tidak semua orang bijak dalam menghadapi cinta. Dan Yuki ialah salah satu orang lemah meski tau mana jalan yang benar dan salah namun urung untuk melangkah. Dirinya masih termenung menatap angan kosong dengan kepercayaan yang hilang timbul layaknya lumba-lumba di samudra.


“Udah ada Bibik,” singkat Keven menanggapi pertanyaan Yuki sembari merebahkan kepala di sandaran kursi. Ia tau ada kesedihan yang tersirat dari pertanyaan Yuki yang tidak dapat disembunyikan. Sorot mata lesu gadis di sampingnya cukup banyak memberikan penjelasan.


“Di mana Mas Saka? Apa dia udah tau atau ….” Mengeryitkan dahinya, Yuki merangkai sedikit pola kejadian yang terjadi dalam waktu singkat. Kehamilan Alia, percobaan bunuh diri dan ketidakhadiran Saka serta kemarahan Keven, semuanya seolah saling menjawab tanpa perlu Yuki pertanyakan. Mungkin hanya satu yang sangat ingin Yuki ketahui, yaitu alasan mengapa Saka menghilang.


“Jangan berpikir macam-macam,” tukas Keven dengan tatapan layaknya perintah agar Yuki diam.


“Kasihan Kak Alia.” Memejamkan mata rapat, Yuki meremas kepalan tangannya. Dalam benak Yuki jika benar bahwa Alia hamil, maka sangat kasihan janin yang dikandungnya. Secara tidak langsung tindakan Alia membuat Yuki menarik kesimpulan jika wujud yang masih segumpal darah yang belum sempat menyapa dunia itu tidak diinginkan.


Sakit dada Yuki membayangkan dirinya yang juga seolah terbuang. Hanya saja Yuki masih merasa beruntung bisa merasakan dekapan kasih sayang. Masih mampu bertemu orang-orang baik yang menyayanginya.


Drrt … Drrt …


Getaran ponsel yang terpasang pada phone holder di dashboard menarik atensi Yuki. Dari layar ponsel yang menyala, dapat Yuki lihat nomor tanpa nama yang familiar. Yuki ingat betul jika tiga angka terakhir dari panggilan masuk itu sama dengan nomor yang menelepon Keven kemarin malam.


Melajukan mobil yang dikendarainya dalam kecepatan rendah, Keven menggeser ikon hijau menerima panggilan masuk. Tidak ketinggalan Keven juga menyentuh ikon pengeras suara. “Halo?”


[Halo, Den. Non Alia, Den … Gimana ini Den, Non Alia tiba-tiba histeris. Pintunya dikunci … Bibik takut Non Alia ….]


Suara dari sambungan telepon itu terdengar nyaring dan juga putus asa. Bukan hanya berhasil mengusik ketenangan hati Keven yang masih gundah, namun juga Yuki.


“Bibik tenang dulu, Bik. Sekarang hubungi pak Amir. Minta pak Amir secepatnya datang ke rumah … Aku akan ke sana secepatnya setelah antar istri aku pulang," ucap Keven sambil mencengkeram erat setir kemudi. Pupil mata Keven bergerak ke sudut kiri, melirik Yuki yang tampak acuh namun diam-diam mendengarkan pembicaraan Keven.


Seperti yang Keven sebutkan di sambungan telepon itu, Yuki sudah berdiri di teras rumah berlantai 2 milik orang tua Keven. Tas jinjing berukuran sedang tertenteng di tangan kiri, sedangkan banyak kantong belanja sudah diletakkan di ruang tamu rumah itu oleh Keven.


Tersenyum getir memandang mobil yang semakin menjauh pergi, banyak tali yang menarik setiap otot di tubuh Yuki. Akibatnya bukan hanya bibir Yuki yang merekah paksa, tapi pupil matanya juga tertarik hingga perih dan panas.


Tes.


Air mata kali ini mungkin sangat egois. Yuki tidak ingin Keven kembali menemui Alia meski kondisi Alia lebih membutuhkan. Namun Yuki juga bukan wanita yang bisa terus bertahan. Seandainya keluarganya tidak kacau, saat ini juga Yuki yang akan mengurus surat perceraian. Akan tetapi dirinya yang belum bisa berdiri di kedua kakinya sendiri harus bersabar.


Meski terluka dan nyaris gila, setidaknya Yuki harus bertahan sebentar lagi. Pilihan hidupnya untuk pergi dan menapaki kisah seorang diri tidak cukup hanya bermodal nekad, ia butuh rencana dan tentunya uang.

__ADS_1


...----------------...


“Yukicoot …,” teriak Dimas dari kejauhan. Tampak laki-laki itu baru turun dari motor dengan keranjang penuh keripik singkong di bagian jok belakang. Berlari kecil memburu, Dimas menghampiri Yuki yang bersantai di teras samping rumah Ara. Pemandangan ikan nila yang terus berenang dalam bak akuaponik menjadi hiburan kecil untuk Yuki.


“Mana oleh-oleh?” Menengadahkan tangan, Dimas tersenyum tengil. Sudah tidak ada lagi urat malunya.


“Nih!”


“Gantungan kunci? Serius ini oleh-olehnya?” tanya Dimas tidak percaya. Meraih gantungan kunci berbentuk papan selancar dari tempurung kelapa, mulut Dimas melongo, terbengong tanpa kata.


Padahal di grup chat yang hanya terdiri dari Ara, Dimas dan Yuki banyak sekali Yuki pamerkan foto kantong belanja hasil jalan-jalan dadakan. Dari kantong hitam dan putih polos sampai bercorak karakter imut dan berlogo sebuah merek produksi lokal. Namun yang menjadi oleh-oleh untuk Dimas hanya sebuah gantungan kunci.


“Memang mau ini?” tanya Ara sambil menunjukkan tas anyaman berwarna coklat yang sangat feminim.


“Gak adil banget kasih oleh-olehnya, Ki. Ara dapat tas, aku kenapa gantungan kunci aja?” protes Dimas sambil memasang raut wajah memelas, pura-pura sedih.


“Kalau gak mau balikin.” Mendelik Yuki merampas gantungan kunci dari tangan Dimas.


“Bintitan loh kalau udah ngasih barang diambil lagi,” tukas Dimas sambil merebut gantungan kunci yang sudah diakui miliknya.


“Yang bintitan juga aku. Gak perlu repot,” seloroh Yuki sewot, memutar bola matanya malas.


“Siapa juga yang mau ngeluh,” sahut Yuki, suaranya lirih mirip orang bergumam.


“Yakin gak ngeluh? Nanti kalau nangis-nangis gak usah minta ditemani. Nangis noh sana sendiri malam-malam di perosotan lagi, berubah jadi kunti sekalian.” Menggeser duduk di samping Yuki, kelakuan Dimas berhasil membuat Yuki tersentak dan nyaris terjungkal ke sisi tepi kursi panjang yang didudukinya itu.


“Kamu doain aku jadi kunti?” tuduh Yuki dengan sorot mata sinis. Dorongan dan pukulan kasar mendarat sempurna di lengan atas Dimas.


“Gak didoain aja udah jadi kunti.”


“Heh ….”


“Udah-udah, mending makan aja. Jangan berisik, Rian lagi ngerjain tugas di kamarnya,” sela Ara sambil menyodorkan setoples berisi kacang telur.


Tadinya Ara memang sengaja membiarkan perdebatan rutin antara Dimas dan Yuki terjadi, lama tidak bertemu karena libur semester membuat Ara rindu adegan saling lempar argumen sahabatnya itu. Namun ternyata lama-kelamaan telinga Ara lelah sendiri mendengarnya. Alhasil lebih baik dihentikan dari pada terus berlanjut.

__ADS_1


“Gara-gara dia nih!” tuduh Dimas yang langsung dibalas mata melotot oleh Yuki.


“Bisa udahan gak?” Ara mendelikkan matanya, menatap tajam pada Dimas. Sejurus kemudian Ara kembali berkata dengan intonasi santai, “mending bahas tempat KKN masing-masing … Udah pada dapat gambaran?”


“Iya-ya, gak sampai seminggu lagi KKN … Lulus jadi langsung nikah, Ra?” tanya Dimas pada Ara, membelokkan pertanyaan. Dimas lebih tertarik menanyakan perihal rencana pernikahan Ara. Padahal tidak pernah Ara ceritakan sedikitpun tentang keinginan sang kekasih yang terus mendesak untuk meminangnya.


Bukan tanpa alasan, sebab baru saja deru mobil tidak asing berhenti tepat di pelataran rumah Ara. Tampak sosok laki-laki dewasa yang baru saja turun dari mobil melambaikan tangan. Kantong yang diduga berisi makanan diangkat tinggi-tinggi dengan senyum bangga.


“Sebentar ya,” ucap Ara pada Dimas dan Yuki, menghampiri sosok laki-laki yang tersenyum sumringah. Meski bisa dipastikan senyuman itu langsung menghilang saat menyadari kehadiran Dimas. Berganti tatapan mengintimidasi yang tertuju pada Dimas seorang.


“Pengen boleh, iri jangan,” bisik Dimas di telinga Yuki.


“Siapa juga yang iri!” ketus Yuki sewot, menolak perkataan Dimas yang memang begitulah kebenarannya.


Yuki memang sedang iri dengan hubungan manis sepasang kekasih yang tampak saling menyayangi itu. Bahkan terlihat saat Ara mendiamkan dan cuek sekalipun selalu direspon dengan gestur lembut. Sudut hati Yuki mau tidak mau tercubit, bukan hanya dengan rasa iri, namun juga miris pada kisahnya sendiri.


...****************...


*


*


*


Saat di sini ada Keven si egois, maka silakan temukan si bucin di rumah Ara (Aara Bukan Lara), atau Bintang si gagal move on somplak di rumah Lintang (Not Friends With Benefits)😄


Oh iya, novel ini aku ikutkan lomba. Jika berkenan bisa mendukung dengan cara kasih vote. Sayangnya vote ini butuh poin, jadi mohon maaf sebelumnya jika ingin mendukung maka harus merelakan poinnya🙏


Caranya?


Perhatikan langkah-langkahnya di kolase screenshot ini👇



__ADS_1


Terakhir, novel ini ada di TIM B🥰


Terima kasih sudah mendukung tulisan Hana, semoga tidak membosankan🥰


__ADS_2