
Mentari masih mengintip tipis di ufuk timur. Cahayanya remang menembus kabut. Namun belum bisa menghangatkan bumi yang Yuki pijak. Bahkan bulir embun belum sepenuhnya menghilang dari permukaan dedaunan dan bunga yang bermekaran.
“Salah nih aku,” gumam Yuki lirih dengan sebelah tangan menggosok kuat lengannya. Segera ia nyalakan ponsel yang digenggam. Berjalan hilir mudik sambil sesekali menghela nafas gusar.
“Bu Bos?”
Terperanjat kaget sampai terhuyung mundur, Yuki membolakan mata. Seketika ia memutar badan ke belakang, menoleh pada sosok yang tersenyum lebar.
Plak.
Mendaratkan pukulan ringan, Yuki mendengus sebal. “Hish, bikin kaget aja.”
“Aduh, maaf, Bu Bos.”
“Sstt! Bu Bos kentut. Gak usah aneh-aneh deh, Kak!” Memutar bola matanya malas, Yuki mencebik.
Sejurus kemudian Yuki menggeleng pelan sambil mengulas senyum ramah pada perempuan yang baru saja dipanggil ‘Kak’. Sosok yang menjadi teman saat dulu bekerja di restoran Keven.
Sekejap tanpa disadari Yuki sudah tenggelam dalam kesibukan yang sejatinya bukan tugas apalagi kewajibannya. Pertemuan singkat yang berlanjut dalam obrolan ringan itu membuat Yuki terpacu mengorek banyak informasi bagaimana Keven beberapa waktu belakangan. Alhasil kini Yuki tau jika laki-laki yang tidak banyak bercerita itu rupanya sudah jatuh bangun, bahkan tersungkur dan terperosok dalam kubangan lilitan hutang melimpah.
“Sikat-sikat biar cantik. Kentang glowing shining shimmering splendid, ho ho ho … okey, satu lagi meluncur,” celoteh Yuki sambil mengangkat kentang terakhir yang hendak dibersihkan. Menyikat bagian yang tertempel tanah kotor. Membasuh di bawah air kran mengalir hingga partikel sebesar debu pun luruh.
Tidak lupa Yuki menyelingi kegiatan itu dengan nyanyian riang yang jangan ditanya seindah apa alunan melodinya, jelas sangat sumbang. Namun tidak ada seorang pun yang berani menegur. Semua hanya pasrah dengan hiburan pagi yang mengejutkan, tapi juga sangat menyenangkan.
Saat ini dapur kecil di belakang ruang utama yang biasa diisi kesibukan dalam kebungkaman dua orang karyawan Keven itu berubah riuh. Gelombang suara Yuki berputar dan membenturkan gema yang terkadang disahuti oleh kekehan dan celetukan ringan. Beruntung tidak sampai menggema keluar kala pintu penghubung tertutup itu dibuka.
“Aku nggak ganggu kerjaan kalian, kan?”
“Nggak dong,” sahut kedua orang yang serentak menoleh ke arah Yuki.
“Jadi lebih cepat, tapi takutnya Pak Bos marah,” celetuk salah seorang mengimbuhi perkataannya.
Perlu diketahui lagi, tiga orang yang bekerja di gerai sederhana milik Keven merupakan karyawan lama Lux Fantasy yang memutuskan mengikuti Keven. Tentu mereka sempat menganggur karena tidak kunjung mendapat pekerjaan baru. Akan tetapi masih tergolong cukup beruntung karena pada akhirnya mendapat pekerjaan di bawah naungan Keven lagi, meskipun dengan penghasilan yang tidak sebesar sebelumnya.
__ADS_1
...----------------...
“Saya ulangi ya pesanannya, Mas. Original kentang tornado, dua. Corndog mozzarella matcha, satu. French fries with cheese sauce, satu. Iced matcha boba latte dan taro milk tea, satu. Sudah benar? Apa ada yang ingin ditambahkan lagi?”
“Nggak, itu aja.”
“Baik. Silakan ditunggu sebentar ya, Mas.”
Mengangguk, Yuki mengikuti langkah kaki pria yang baru saja menyelesaikan pesanan. Terlihat menghampiri seorang wanita yang bisa Yuki tebak jika keduanya adalah pasangan suami istri. Tentu bukan asal menerka, pasalnya sepasang cincin yang melingkar di jari manis satu sama lain tampak mirip dan serasi. Rasanya Yuki sedikit iri.
Menggeleng membuyarkan sentilan rasa iri yang menyergap, Yuki melirik pada jam dinding yang terpasang. Tampak waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Masih terbilang pagi, namun juga dapat dikatakan beranjak siang. Tapi yang pasti Yuki sudah tidak membantu pekerjaan ketiga karyawan Keven. Ia dilarang untuk ikut merepotkan diri.
Semua jelas atas perintah Keven yang baru saja mengetahui keberadaan Yuki, gadis yang ternyata sejak pagi buta ikut bersusah payah di gerai miliknya. Praktis Keven ingin segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Memacu kecepatan dan memperlebar ayunan langkah kaki. Mengabaikan peluh yang mengucur hingga membasahi kaos yang dikenakan.
“Sial, bau banget,” gerutu Keven setelah mengendus bau badan dari lipatan ketiaknya. Sejenak ia mengibaskan kerah kaos agar udara menelusup masuk dan mendinginkan badan yang memanas.
Sengatan terik matahari pagi itu benar-benar menggila. Cahayanya berkilau teramat terang. Membakar dengan ganas kulit mulus Keven hingga memerah dan terasa kaku nyaris kebas di beberapa bagian. Ia yang terbiasa berkendara menggunakan mobil berpendingin kini harus membiasakan diri menunggangi motor ke mana pun ia pergi untuk mengais pundi-pundi uang.
“Mas Keven ...,” teriak Yuki sambil melambaikan tangan. Gadis itu berlari kecil menghampiri Keven yang berhenti di dekat pohon rambutan, cukup jauh dan tidak terlihat jika Yuki tidak jeli mengamati keadaan sekitar.
“Ck! Lebay,” decak Yuki seraya memutar bola matanya malas.
“Aku mau ketemu Mama, tadi udah telepon. Udah ngomel karena nggak langsung mampir. Katanya rematik Papa belum sembuh,” lanjut Yuki berucap sambil menyodorkan dua helai tisu yang tidak sengaja dibawa, namun rupanya berguna untuk Keven.
“Kamu ke sini bawa motor sendiri?” tanya Keven menyelidik sambil mengelap tengkuknya dengan tisu pemberian Yuki.
“Iya. Tapi nggak minta motorku yang sama Nita. Itu pinjam motor Ara.” Tunjuk Yuki pada salah satu motor matic di antara jajaran motor yang terparkir. “Kamu sih kemarin sok bilang bisa antar jemput. Ternyata sibuk sendiri, kan? Nggak keburu juga tadi pagi kalau minta kamu jemput atau telepon Nita buat minta motor. Untung aja Ara nggak bawa motor lamanya setelah nikah. Dia juga lagi ikut suaminya. Kerja pun maunya dekat sama Ayang … so sweet banget, kan?”
“Jadi salah aku?” tanya Keven setelah meringkas seluruh isi celotehan Yuki.
“Memang kalau bukan kamu siapa yang salah? Aku?” balas Yuki sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Nggak, kamu nggak pernah salah. Tapi jangan mendadak kayak gini lagi, ngerti kan maksud aku?” balas Keven dengan kedua sudut bibir yang tertarik naik. Tatapannya yang meneduhkan mengingatkan Yuki pada kenangan yang cukup menyesakkan.
__ADS_1
Kilasan malam di tepi laut kala Keven berlutut, meminta kesempatan memperbaiki hubungan, namun justru Yuki beri harapan palsu. Tanpa alasan yang pasti tiba-tiba ingatan itu melintas secara gamblang. Seketika mencubit ulu hati Yuki.
Seandainya ia tidak terlalu terluka dan dihancurkan kenyataan, mungkinkah mereka masih bisa baik-baik saja?
“Nggak,” lirih Yuki sambil menggeleng pelan dan memejamkan mata sekilas.
Mengernyit, Keven membeo pada sepatah kata yang Yuki ucapkan. “Nggak?”
“Oh, iya? Ah, bukan-bukan … ayo, pergi ke rumah Mama. Tadi aku diminta supaya bawa kamu pulang. Kamu nakal jarang pulang, bikin Mama kepikiran,” ujar Yuki cepat. Ia yang sempat gelagapan merespon ucapan Keven telah berlalu pergi. Meninggalkan Keven yang tidak melepas pandang pada Yuki seorang.
Sedangkan Yuki sudah berlari kecil menuju gerai Keven. Memperlambat langkah saat berjalan ke balik meja ala mini bar. Berjongkok mengambil helm yang diletakkan pada salah satu rak perkakas yang kosong.
‘Apa yang kamu lamunkan, Ki?’ batin Keven sambil memandang lurus setiap pergerakkan Yuki.
Sejenak Keven diliputi kehampaan sebelum sebuah ide terlintas di benaknya. Sontak senyum miring dan mata menyipit menghiasi binar raut wajah laki-laki yang sempat lesu itu. Gegas Keven menyalakan mesin motor, memacu pelan dan memarkir di depan gerai miliknya.
"Jadi nanti aku antar kamu ke sini lagi?" tanya Yuki dengan dahi mengerut. Matanya menyorot tajam penuh curiga. "Kamu mau modus pengen boncengan, kan? Ngaku! Sama aku itu to the point aja. Gak mempan loh modusin orang yang doyan modus. Jam terbang kamu kalah banyak. Ckckck ... udah, ayo, naik!"
Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Keven hanya mampu menyengir malu. Ia lantas berusaha mengambil kendali motor yang sudah Yuki naiki. Namun sayangnya dalam sekejap ekspektasi Keven runtuh.
"Kamu ... di belakang."
Terbelalak, Keven terbengong menatap Yuki. Ia seakan berusaha mencerna arti perkataan singkat Yuki yang sejujurnya sudah dipahami.
"Lama ya kamu. Aku yang bonceng. Kamu duduk di belakang," tutur Yuki lugas dan tegas. Terdengar cukup tidak sabaran.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan semuanya yang udah menyimak kisah Yuki😘