Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Siapa dia?!


__ADS_3

1 Bulan Kemudian …


Satu hari telah berlalu, berganti hari-hari lainnya. Namun masih Yuki lewati dengan kesibukan yang sama. Menulis banyak surat lamaran kerja. Mengirim ke berbagai alamat email dan intansi. Tentunya tidak lupa untuk terus menggulir informasi-informasi baru seputar lowongan pekerjaan.


Tidak hanya berpusat pada bidang keahliannya saja, namun juga bermodal nekad melamar di bidang lain yang sangat jauh dari latar belakang pendidikannya. Semua demi sebuah harapan besar pada satu di antara puluhan surat lamaran itu semoga terlirik. Karena mau tidak mau Yuki mengakui gelar di belakang namanya tidak akan menjamin segalanya berjalan lancar.


"Aarrgghhh!!" Teriakan Yuki menggema dalam petakan sempit yang semakin pengap, efek cuaca panas dan kelembapan udara yang rendah serta ruangan yang lebih minimalis dibanding sebelumnya. Detik berikutnya ia menghempaskan diri ke atas kasur. Menendang dan meninju udara asal sambil mendengus kesal.


“Ck! Ada apa?” berdecak Ara yang menopang pipi kanan dalam posisi berbaring miring


“Ditolak lagi gara-gara belum keluar ijazah.”


“Udah lampirin surat keterangan lulus?”


“Udah, tapi tetap maunya ijazah.”


Memejamkan mata, Yuki menghembuskan nafas kasar yang dibuang lewat mulutnya. Rasanya benar-benar putus asa setiap menerima umpan balik surat lamaran kerjanya. Selalu berisi penolakan, jika bukan karena ijazah, maka riwayat pengalaman kerja yang menjadi alasan penolakan itu. Lebih gilanya lagi Yuki pernah ditolak karena bukan lulusan SMA sesuai kriteria yang dibutuhkan.


“Udahlah aku siap-siap dulu. Mikirin lamaran kerja bikin puyeng. Oya, yakin kamu pakai hoodie itu? Gak mau ganti baju aku?”


“Aku kan cuma temenin. Lagian pakai baju yang santai aja. Nanti kamu kan harus gonta-ganti gaun, Ki. Kita gak pesan jahit, yang udah jadi aja. Yang penting gaun mu seragam sama Nita.”


“Ah, iya juga ya.” Mengangguk Yuki membenarkan perkataan Ara. “Terus Nita gimana?”


“Katanya nyusul,” jawab Ara.


“Moga aja nggak ngaret. Aku gak mau jadi obat nyamuk.”


“Mas Rava ada kerjaan, jadi gak ikut.”


“Tumben banget.” Mengernyitkan dahi Yuki setengah tidak percaya. Pasalnya calon suami bucin sahabatnya itu selalu mengekor kemanapun Ara pergi. “Terus ini kan hari minggu, biasanya butik itu tutup, kok kita nggak pergi besok aja?”


“Iya tutup, tapi Mas Rava udah reservasi. Kan gaun nikahnya juga dari situ.”


“Sewa?”


Menggeleng Ara menjawab pertanyaan Yuki, “maunya gitu, tapi sama Mas Rava dibeli. Katanya buat kenang-kenangan. Padahal gak bakal aku pakai juga nantinya.”


“Ya mana tau anak mu nanti cewek. Kali aja mau dibuat warisan turun-temurun.”


“Doain aja,” sahut Ara sambil tersenyum malu-malu.


“Ciyee … Malu-malu meong … Siap-siap loh nanti di haaauumm sama Pak Rava,” goda Yuki sambil memamerkan cakaran genit dengan ekspresi gemasnya.


Memutar bola matanya malas, Ara menggeleng samar seraya merebahkan kepala di atas bantal. Gadis itu memilih menatap lurus langit-langit kamar kos Yuki dibandingkan menyaksikan sahabatnya berganti pakaian seenak jidat.

__ADS_1


“Kita naik taksi aja, Ki. Udah aku pesan, tungguin bentar. Nanti pulangnya sama Mas Rava. Barusan chat bilang mau nyusul sama Dokter Dion," ucap Ara yang sudah duduk bersama Yuki di depan kamar kos. Menghiraukan Yuki yang sibuk mengenakan ankle strap heels dengan tumit setinggi 3 sentimeter.


“Nah kan, akhirnya ngekor juga. Aku tuh udah nggak yakin Pak Rava bisa gak gatal ngekorin kamu pergi.”


“Ya kalau udah urusan kerjaan nggak mungkin ditinggal.”


“Tadi awalnya gak ngikut gara-gara kerja, terus sekarang bilang mau nyusul, memang udah gak kerja?”


“Katanya udah selesai.” Mengedikkan bahunya dan berdiri, Ara memicingkan mata pada jalan raya yang cukup ramai.


“Halah … Alasan aja tuh, Ra. Jangan percaya,” lugas Yuki dengan jari telunjuk yang bergoyang seirama kedipan lampu sein taksi yang hendak menepi.


“Mau nggak percaya juga sekarang aku harus kelihatan percaya. Bahagianya Mas Rava itu simple. Iyain aja apa yang dia bilang atau apa yang dia mau, pasti senyumnya udah ngembang.”


“Ya gitulah orang bucin,” ujar Yuki sembari mengikuti Ara beranjak dari duduknya. Kini sudah bisa keduanya lihat sebuah taksi berhenti di depan halaman kos-kosan baru Yuki.


‘Bahkan di notice dengan cara terburuk sekalipun pasti bahagia. Apa lagi kalau bisa manis-manis kayak gitu, disuruh koprol juga bakal iya aja. Dulu aku juga gitu,’ lanjut Yuki dalam hati dengan secuil nyeri yang seketika menyentil jantungnya.


Ternyata move on tidak semudah rancangan angan-angan Yuki. Meski bersama membuat Yuki sesak, namun nyatanya berpisah meninggalkan lubang besar di kehidupan Yuki.


Hidupnya yang terus berputar seolah penuh kehampaan. Mengikis asa yang perlahan memperlebar kekosongan. Mungkin karena dirinya belum terbiasa dengan status janda, begitu pikir Yuki.


Terkadang Yuki lupa dan bisa tertawa lepas. Akan tetapi beberapa saat kemudian bibirnya kelu untuk terus mempertahankan keceriaan itu. Ia ingin menangis, menumpahkan segala beban yang memenuhi relung hati.


Sayangnya semakin dihapus, bekas itu terlihat semakin nyata. Padahal Yuki sudah berlari sejauh ini. Bahkan memilih pindah dari kos-kosan lama agar tidak ada sedikitpun bayangan Keven. Tentu selain agar bisa berhemat karena tempat kos kali ini lebih murah.


Saat ini, baik Yuki maupun Ara sudah duduk manis di kursi penumpang. Keduanya kembali membahas seputar resepsi pernikahan yang akan Ara dan Rava selenggarakan, seperti undangan hingga ke menu jamuan. Berlanjut acara perghibahan yang mendadak membumbui obrolan dan diakhiri segala keluh kesah sulitnya mencari pekerjaan meski mereka sudah dipastikan bergelar Sarjana.


Sedangkan tepat di belakang taksi yang Yuki dan Ara tumpangi tanpa keduanya ketahui sebuah mobil tengah membuntuti. Menyisakan jarak aman tanpa takut kehilangan jejak atau bahkan ketahuan. Hingga Ara dan Yuki sampai tempat tujuan, mobil itu tetap tidak terdeteksi menguntit.


Sedangkan mata pengemudi itu terus fokus dengan kaki yang perlahan menginjak pedal rem, tangan yang memutar setir kemudi untuk menepi. Sejurus kemudian ditariknya tuas rem tangan dengan sebelah tangan yang masih memegang setir kemudi.


“Sayaang …,” teriak seorang laki-laki dengan setelan khas kerja. Menarik perhatian Yuki dan Ara yang spontan menoleh bersamaan.


“Kok udah di sini?” Mengerutkan alisnya, jari telunjuk Ara reflek menunjuk pada sosok di depannya. Siapa lagi kalau bukan Rava, sang calon suami.


“Surprise,” ucap Rava dengan senyum lebar sambil merentangkan tangan. Sukses membuat Yuki bergidik, merinding pada sosok gletser yang seketika menjadi hot choco lava.


“Katanya mau nyusul belakangan,” gumam Ara dengan bibir mencebik dan mata menyipit pada Rava.


“Khem!”


Belum sempat Rava menyahut, suara deheman tiba-tiba menggema. Ada sosok laki-laki lainnya yang seketika mendekat pada Yuki yang berdiri di belakang Ara. Cukup mengejutkan dan menyela obrolan di antara sepasang kekasih yang tidak lain adalah mantan pasien dan saudaranya sendiri. “Apa kabar, Ra?”


Mendongakkan sedikit wajahnya, Ara tersenyum singkat sambil menjawab, “baik, Dok. Dokter apa kabar?”

__ADS_1


“Baik, sehat dan bugar,” jawab Rava cepat, menyerobot untaian kata yang hampir saja terlontar.


Mendelik Ara ingin mencubit Rava yang kini merangkul posesif pinggangnya. “Ara nggak nanya Mas, tapi Dokter Dion.”


“Udah Mas jawab. Gak lama Dion harus balik ke rumah sakit lagi, jadi langsung masuk aja. Dia kan harus nyobain jas juga. Masih banyak yang harus kita urus, jadi nggak usah lama-lama, nanti kamu capek.”


“Bucin,” lirih Yuki dan Dion serentak. Sontak keduanya saling berpandangan, mengulum senyuman menahan gelak tawa yang nyaris pecah. Tanpa diduga keduanya kembali mengangguk bersamaan, mengiyakan dalam cibiran diam-diam kebucinan akut seorang Rava.


“Awas jadi nyamuk,” bisik Dion pada Yuki sambil terkekeh pelan.


“Aman, nyamuknya nggak solo, udah diduetin,” balas Yuki tidak kalah lirihnya sembari menunjuk dirinya dan Dion dengan gerak-gerik cepat pupil mata.


"Pfftt!! Hahaha ...." Praktis semburan tawa yang sejak tadi ditahan terlepas. Menghentikan langkah sepasang kekasih yang seketika menatap curiga pada Dion, serta Yuki yang spontan memasang raut wajah polos sambil mengangkat bahu dengan gelengan kecil. Berusaha cuci tangan agar tidak dicerca pertanyaan oleh Ara.


"Udah sana duluan!" cetus Dion dengan lambaian tangan seakan mengusir. Ia bisa melihat senyum samar di bibir Rava. Senyum penuh makna yang jelas Dion ketahui apa maksudnya. Sayangnya masih gadis yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya itu yang Dion cintai.


Berbeda dengan situasi yang terlihat hangat namun menyejukkan di teras butik itu, di dalam mobil hawanya sudah sangat panas. Nyaris bagai kawah gunung berapi.


Dibukanya dua kancing kemeja yang seakan mencekik, sehingga kini sudah tiga kancing kemeja yang terbuka. Digulungnya lengan kemeja itu sampai ke siku dengan dengusan nafas memburu. Kepalanya seolah siap meledak oleh pikiran yang berkecamuk. Spontan Keven menggeram sambil meremas setir kemudi.


"Siapa dia?!" gumam Keven dengan suara menggeram rendah. Matanya sudah berkilat cemburu, terbakar pula api amarah. Jelas pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya kecolongan pada kedekatan Yuki dengan laki-laki lain.


Masih bergelut dengan segala praduga buruk, Keven seketika dibuat terbelalak oleh pemandangan tidak biasa di depan mobil yang terparkir di sebelahnya. Spontan Keven keluar dari mobil, mengayunkan dua langkah mendekat yang langsung disadari kedua manusia berlainan usia yang sibuk menenangkan tangisan bayi.


"Ka ...."


"Kev ...."


Kedua sahabat yang pernah merenggang itu saling menyapa dengan ekspresi terperanjat. Bergantian memandang satu sama lain dengan sosok remaja yang menimang bayi mungil dalam gendongan.


"Cup, Cup-Cup Angga ... Shhuuss ... Iya-iya, Kakak nggak pergi. Lalalalaa ... Shhsss ... Shsss ...."


"Gak usah mikir aneh-aneh. Anak gue gak mau diem kalau orang tuanya gak meluk bareng," celetuk Saka dengan posisi tetap merengkuh bahu gadis remaja yang tampak kikuk karena keberadaan Keven. Tentu Saka juga ikut mendekap bayi yang semakin kencang menangis.


Sedangkan Keven hanya diam dengan sejuta sorot penuh tanya. Bahkan salah satunya seolah menghardik Saka dengan sebuah umpatan gila.


"Ini Nita, pengasuh Angga. Kan udah pernah gue kasih tau anak gue pengasuhnya masih bocil," jelas Saka tanpa Keven minta. Berhasil membolakan mata Nita yang sebal ketika dikatai 'bocil'.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Dengan amat sangat aku berterima-kasih untuk semuanya yang terus mengikuti kisah Yuki😘 Sabar banget menantinya. Padahal aku udah siap dengan kemungkinan terburuk pada unfav😁


Terima kasih banyak semuanya😍


__ADS_2