Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bayangan Cinta


__ADS_3

Semilir angin yang bertiup seketika bergemuruh. Langit cerah perlahan tertutupi awan mendung. Dinginnya lambat laun meresap, sejuk menggantikan terik mentari yang menyengat meski masih terasa udara panas yang kian menghangat. Namun ada yang tidak berubah, yaitu suara gelombang menghantam bebatuan yang terdengar masih sama kuat. Tidak bertambah apalagi berkurang deburannya.


Masih di tempat yang sama pula sepasang laki-laki dan perempuan saling menatap itu berdiri. Pancaran mata keduanya memendam kesakitan yang sama. Kehilangan yang tidak pernah diinginkan. Akan tetapi jika Keven sekuat tenaga menepis keputusasaan dan berusaha optimis mewujudkan pertalian kembali, berbeda dengan Yuki yang kukuh bertekad melupakan cintanya yang ternyata sulit untuk dihapuskan.


"A-aku ...."


Sekejap mata Keven yang berkaca-kaca membulat. Bagai mendapatkan kejutan beribu letupan kembang api di langit meredup yang dibelakangi. Dadanya ikut bergemuruh dan bersorak riang walaupun tubuh kokoh yang berdiri itu diam mematung kaku.


Perlahan tanpa diperintah jari Yuki menempel di pipi Keven. Bergerak lembut menghapus setitik bulir di sudut ekor mata. Sedangkan kedua pipi Yuki sendiri sudah basah. Lelehan air mata itu menerobos tanpa bisa ditahan.


Nyatanya Keven masih di sana. Mendiami seluruh dasar hati Yuki yang tersegel kegelapan. Namanya terukir berselimut ketakutan-ketakutan akan bayangan cinta yang menyeramkan.


Di bawah awan yang semakin menebal gelap, Keven memejamkan mata, menangkap jari Yuki yang masih menempel di wajah. Diresapi perasaan haru bercampur penyesalan yang menyesakkan dada itu dalam-dalam. Seandainya, hanya kata itu yang mampu terlintas di benak Keven.


Sayangnya semua tidak bertahan lama. Yuki yang terlalu terbawa suasana sudah mulai kembali pada kesadarannya. Meksipun terlihat ia masih nyaman membiarkan Keven menikmati sapuan halus yang telah terhenti beberapa saat lalu.


“Ada tai mata,” ucap Yuki bohong sambil mengerjap cepat dan memalingkan wajah. Ia berusaha menghalau pasokan air mata yang tersisa menerobos. Suaranya yang parau terdengar jelas memecah kebungkaman.


Tidak lupa pula Yuki menarik tangannya dari genggaman lembut Keven. Mencubit dan memelintir kecil kain baju Keven seakan sedang mengelap ujung telunjuknya yang kotor. Sepersekian detik kemudian ia tampak mengulum bibir yang berkedut, nyaris menyemburkan kekehan.


Sedangkan Keven sontak terperanjat. Tak ayal reflek mengusap mata. Menyusuri sepanjang garis kelopak mata yang ditumbuhi rambut halus dengan punggung jari. Sumpah ia ingin mengumpat karena tidak sanggup menahan malu pada Yuki.


Tai mata? Sungguh memalukan, begitu batin Keven. Bahkan sepanjang pernikahan mereka, Keven hanya menunjukkan sisi baiknya di hadapan Yuki walaupun bukan untuk menarik perhatian. Ingin rasanya Keven menenggelamkan wajah ke batu yang sedang dipijak.


"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!" perintah Keven tiba-tiba. Ia seketika teringat pada sesuatu sekaligus ingin membuyarkan tragedi tai mata yang merusak suasana.


Bergegas menuju mobil yang terparkir tidak begitu jauh, dalam sekejap Keven sudah kembali. Tangan kanan laki-laki itu menenteng kantong berukuran sedang yang tidak bisa Yuki tebak isinya. Meskipun saat ini Yuki hanya diam mengamati, namun tidak dalam beberapa saat kemudian.


“Serius ponselku rusak? Kamu bohong. Jawab Mas!! Kamu gak mungkin cuma mau manfaatin aku. Jujur ini bukan modus, kan!?" Cengkeraman di kerah baju itu mengencang, ditarik dan guncang tanpa ampun. “Bisa-bisanya kamu nggak bilang dari awal!! Sengaja disandera padahal barangnya rusak!”

__ADS_1


"Iya, maaf," sahut Keven singkat sambil memegangi pergelangan tangan Yuki. Menahan agar cengkeraman gadis itu tidak sampai mencekik. Pasalnya baru saja jakun Keven terpukul salah satu jari Yuki. Alhasil rasa nyeri menohok dan mencekat tenggorokan langsung merebak.


"Hwaaa ... gak mau pokoknya harus hidup lagi!! Kamu pem ...."


Grep.


"... bo-hong," lanjut Yuki berucap dengan mata melotot tajam. Tergagap ia terkejut oleh serangan tiba-tiba Keven.


"Udah ya, aku minta maaf. Jangan nangis ... please, aku yang salah. Aku memang modus dan pembohong seperti yang kamu bilang," kata Keven sambil mengusap lembut kepala Yuki. Sedangkan sebelah tangannya melingkar erat di punggung gadis yang seketika membeku. Lagi-lagi Keven diterpa rasa bersalah.


"Aku terlalu pengecut dan gak percaya diri untuk tetap membuat kamu ada di sisiku. Maaf karena aku udah memilih untuk berbohong. Aku udah coba perbaiki ponsel kamu, tapi udah gak bisa dan maaf ... aku nggak jujur dari awal," ucap Keven lagi seraya mengeratkan dekapan pada tubuh yang masih menegang itu.


"Bukannya ini udah terlalu banyak untuk disebut modus?! Kamu lancang! Kurang ajar! Ini pelecehan!" protes Yuki sinis. Ia berusaha mendongak, menatap tajam Keven yang menghadiahi sorot penuh kasih sayang.


"Jangan buat aku tambah marah ya! Kamu ini bener-bener bikin aku pengen makan orang. Dasar cowok paling ngeselin!!" teriak Yuki sambil memberontak liar. Mengabaikan debaran kuat di balik dada bidang yang mengusik pendengaran.


Tubuh kecil Yuki berusaha melompat bagai tupai. Tangan yang terapit dalam posisi dipeluk itu sekuat tenaga mencoba mendorong dada Keven. Namun pergerakan yang dikira sudah sangat maksimal rupanya tidak ada apa-apanya bagi Keven.


Kini ponsel dengan sedikit retakan di sudut kiri bawah itu tergeletak di atas batu besar beralas kantong kresek. Ponsel yang selama lebih dari 3 tahun terakhir menemani sudah tidak tertolong lagi. Singkat cerita begitulah penuturan Keven.


“Khem! Jangan mesum di sini!"


"M-mas Di-on?" lirih Yuki sambil membulatkan mata. Ia yang belum juga berhasil terlepas dari dekapan Keven sudah dikejutkan oleh deheman dan celetukan suara familiar.


Sontak Yuki kembali mendorong dada Keven. Berusaha terlepas dari pelukan yang justru semakin erat. Mencoba menolehkan kepala yang justru Keven tekan ke dada.


Praktis Yuki kelimpungan bagai tertangkap basah dalam aksi perselingkuhan. Meskipun dalam kenyataan hubungan ketiganya sama-sama belum ada kejelasan.


Sedangkan Keven yang sempat mendengar suara lirih Yuki menyebutkan nama Dion tentu saja sudah terbakar api cemburu. Bagaimana tidak bila mendapati wanita yang dicintai bisa menebak sosok saingannya tanpa perlu bertatap muka, melainkan hanya lewat suara yang terlontar.

__ADS_1


"Ugh!" rintih Keven tiba-tiba. Spontan melepas dekapan pada Yuki. Namun secepat kilat tangannya berganti merangkul bahu gadis yang sudah membalikkan badan itu.


Menepis tangan yang bertengger di bahunya, Yuki mendengus sebal. 'Gigiku!! Keras banget dadanya,' jerit Yuki dalam hati sembari menekan bagian atas gigi depannya dengan jari telunjuk.


Benar, baru saja Yuki menggigit dada Keven agar bisa terbebas.


“Mas Dion kenapa bisa di sini? Mau ngapain?” tanya Yuki canggung sambil memasang ekspresi sesantai mungkin. Tetap berusaha menyingkirkan tangan Keven yang merangkul. Bahkan ia seakan tidak menyadari jika tengah berdiri di antara hyena dan singa yang kelaparan.


“Dulu di sini tempat favorit aku nyari sinyal kalau ngobrol sama kamu. Sekarang … nggak ada,” jawab Dion jujur, menambah kecanggungan yang tercipta. Namun semakin mengobarkan api cemburu Keven.


"Oh gitu, ha ha ha ...," sahut Yuki dengan tawa hampa. Sangat kentara jika dipaksakan.


"Apa ini artinya 0,0001 persen itu udah hilang?"


"Ha?" Mengerutkan dahi, Yuki hanya mampu melongo tanpa bisa menjawab.


...****************...


*


*


*


Yang merasa menang GIVEAWAY dan belum dapat ayo buruan konfirmasi ke aku.. untuk yang DM lewat FB, mohon maaf.. memang gak ada notif masuk dan gak tau kenapa. Jadi silakan periksa bagian chat di aplikasi ini ya🙏 Tentu harus follow aku dulu😄



Aku nggak menghanguskan hadiahnya kalau lama diklaim, jadi silakan chat aku karena aku tungguin.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih karena terus mendukung tulisanku🥰


__ADS_2