Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pesan Mama


__ADS_3

Kepala Yuki terus menoleh ke sisi kanan. Ekspresinya sedikit muram dengan tangan yang mau tidak mau melambaikan perpisahan. Sedikit demi sedikit wujud lapak jualan Keven pun menghilang dari penglihatan meski Yuki sudah menoleh ke belakang.


Sedangkan Keven saat ini cukup lega karena akhirnya Yuki mau pulang ke kos. Terlebih pasti ada yang menjaga gadis itu untuk sementara waktu, setidaknya sampai Keven selesai berjualan malam ini.


“Langsung ke sini, tinggal check in,” ucap Mama Maria tanpa banyak penjelasan, tidak pula memberitahu jika Keven yang memesankan kamar di penginapan terdekat. Sengaja agar mantan suaminya itu tidak banyak mendramatisir keadaan.


Sesuai kesepakatan pula bahwa Mama Maria yang akan bermalam di kos Yuki. Menemani anak gadis yang sudah bergelung di balik selimut. Tampak terus menggigil dan beberapa kali mengigau. Panas di dahinya bagai mendidih, namun ujung jari kaki sedingin es batu.


Jelas Mama Maria terjaga sepanjang malam. Berulang kali mengganti handuk basah untuk mengompres. Terkadang menyibak selimut yang Yuki kenakan kala anaknya gelisah kepanasan. Lalu kembali menyelimuti saat bibir pucat Yuki mulai bergetar kedinginan.


Di waktu yang sama, tepat pukul setengah dua pagi buta Keven baru saja menginjakkan kaki di pasar. Laki-laki itu tidak sendirian, biasanya pun ditemani Yuki, namun untuk kali ini ia bersama Ringgo. Keven butuh bantuan untuk meng-handle supply stok di gerai, selebihnya tetap akan diurus seorang diri.


Saat ini, kedua orang itu sibuk berpindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya. Terakhir mengecek semua bahan yang sudah diangkut ke dalam mobil. Cukup beruntung mobil tua Papa Leigh masih bisa digunakan. Pasalnya semula Keven dan Yuki cukup kesulitan karena harus bolak-balik menggunakan motor.


“Gak mampir ke kos Yuki dulu, Bos?”


“Hm.” Keven berdehem. Matanya melirik sekilas namun awas ke arah kos Yuki yang dilewati begitu saja. Ia kembali fokus melajukan mobil, menguasai jalanan sunyi di hari yang masih gelap.


“Mulai hari ini setiap minggu kita libur,” ucap Keven memecah keheningan.


“Siap, Bos. Jadi senin sampai sabtu jualannya?”


“Ya.” Lagi-lagi Keven hanya menjawab singkat. Otaknya hanya dipenuhi kekhawatiran tentang Yuki. Berharap pagi segera menyingsing agar ia bisa bertamu di kos yang bukan hanya terisi oleh sang pujaan hati. Seandainya hanya Yuki, mungkin Keven sudah menerobos masuk sedari tadi.


...----------------...


Beberapa jam kemudian sambil menenteng dua rantang susun, Keven mengetuk ragu namun cukup kuat pintu kos Yuki. Seketika Mama Maria yang baru saja tertidur spontan terperanjat. Lantas wanita tua itu mengusap kasar wajahnya dan berjalan gontai menuju sumber suara.


“Maaf, Ma,” ucap Keven saat wajah lelah Mama Maria menyembul dari balik pintu.


“Jangan berisik ya, Kev. Yuki baru tenang,” pesan Mama Maria sambil membuka pintu lebar-lebar. “Dari kapan Yuki sakit?”


“Kemarin, Ma,” jawab Keven singkat. Ia sengaja tidak banyak bercerita tentang kondisi Yuki, takut Mama Maria bertambah khawatir.

__ADS_1


“Oya, Ma, ini ada sarapan. Keven taruh dapur ya. Ada bubur kentang juga buat Yuki,” ucap Keven sambil mengangkat kantong besar berisi rantang di kedua tangannya.


“Bubur kentang? Kamu masak sendiri?”


“Iya, Ma.” Angguk Keven.


“Pinter masak ya kamu. Pantes setiap telepon Yuki cerita gagal diet. Ternyata kamu biang keladinya. Makasih ya, Kev. Kalau kayak gini Mama tenang ninggalin Yuki sama kamu. Anak Mama gak mungkin kelaparan,” seloroh Mama Maria sedikit bercanda.


“Mama tenang aja, kalau soal makanan aku emang suka masak. Pas banget Yuki doyan makan.”


“Iya, makan banyak tapi gak gendut-gendut … ya udah, taruh dapur sana. Setengah jam lagi kamu bangunin Yuki. Suruh sarapan, makan obat. Mama mau cuci muka terus ke rumah sebelah. Mumpung di sini mau nyapa temen yang punya kos ini,” ujar Mama Maria. Wanita tua itu terlebih dahulu meninggalkan Keven. Terlihat bergerak cepat dan dalam waktu singkat sudah melesat keluar kos sambil menenteng sebuah kantong kertas bergambar lapis legit.


Sementara Keven kini menyibukkan diri dengan sapu dan kain lap. Ia juga sudah mengganti kompres Yuki dengan plester demam yang banyak dijual di pasaran. Tidak lupa membuka pintu kamar Yuki agar lebih mudah mengawasi gadis yang mulai menggeliat gelisah.


“Ma ….” Suara serak Yuki terdengar samar, namun berhasil tertangkap pendengaran Keven.


“Sayang, mau apa? Haus?” cerca Keven sesaat setelah berjongkok tepat di samping kasur. Telapak tangannya reflek bertengger di puncak kepala Yuki, tidak berhenti memberi usapan lembut.


Spontan Yuki mengernyit. Ia memicingkan mata memproses bayangan sosok yang tertangkap indera penglihatan. “By? Mama mana? Kamu kok di sini?”


“Iya … pusing.”


“Yang ini sakit?” tanya Keven sembari memijat pelan kepala Yuki. Ia meringis resah kala melihat Yuki menghembuskan nafas berat dengan mata terpejam erat.


Sejenak Keven beralih pada sebotol air mineral lengkap dengan sedotannya. Pelan-pelan ia mengarahkan ujung sedotan ke bibir Yuki. Lalu dengan sigap membantu gadis yang berusaha memuaskan dahaga itu menopang kepala dalam posisi yang masih berbaring.


“Udah, By. Yang ini, lapar,” ucap Yuki sambil menepuk lemah perutnya. Seulas senyum tipis pun terlukis dari bibir kering nan pucat itu.


“Aku udah bikin bubur kentang, mau makan sekarang?”


“Gak pengen makan, tapi lapar, By. Mau buka mata aja mager. Mau bangun apa lagi, sakit banget kepalanya.”


“Sandaran sedikit aja ya, Sayang? Biar nggak tersedak. Aku ambilin buburnya. Disuapin, mau?”

__ADS_1


‘Pakai nanya lagi. Udah tau aku lemah, lunglai, lesu nggak berdaya,’ gerutu Yuki dalam hati. Namun hanya anggukan lemah yang berhasil keluar sebagai jawaban.


Buru-buru Keven berlari ke dapur. Ia mondar-mandir dengan gesit di ruang minimalis itu menyajikan sarapan yang masih mengepulkan asap. Gegas Keven angkat nampan berisi beberapa hidangan yang menggugah selera. Sayangnya semua terasa pahit di mulut Yuki.


“Minum dulu, Sayang,” perintah Keven sambil menyodorkan segelas air putih hangat.


“Pahit.” Lidah Yuki menjulur keluar layaknya ingin memuntahkan sesuatu.


“Jangan kayak gitu. Kalau mual tahan. Kamu harus makan.”


“Baunya enak. Tapi semuanya pahit. Padahal ini favoritku, telur kukus.” Yuki mendesah panjang dengan bibir melengkung ke bawah. Ia benar-benar membenci tubuhnya yang sakit.


"Kalau gitu satu suap lagi. Bayangin rasa telur kukus yang pernah kamu makan. Kalau masih gak enak, dorong pakai air minum. Kamu harus makan yang banyak."


"Gak sanggup, By."


"Satu suap aja, aaa ...."


"Ngga-ap ... ka-mu ih, maksa, huek!!" Sekuat tenaga Yuki menahan agar sesuap bubur kentang di mulutnya tertelan. Jujur saja ia belum puas, lambungnya masih menjerit kelaparan, namun hantaman rasa mual, kerongkongan kering dan lidah pahit menghempas seluruh keinginan untuk menyantap habis kelezatan masakan Keven.


"Tahan ya, Sayang. Jangan dimuntahin," pinta Keven sambil mengusap perut Yuki. Berusaha memberikan stimulasi kenyamanan agar rasa mual tersamarkan. Akan tetapi keduanya mendadak dikejutkan oleh suara nyaring dari perut Yuki.


"Masih lapar ya? Nanti makan lagi sedikit-sedikit," ucap Keven lagi. Ia tersenyum tenang seraya meraih kantong obat dengan sebelah tangan. Sedangkan Yuki hanya mampu cemberut menutupi rasa malu.


"By, tau gak ... Papa bilang mau pertimbangkan hubungan kita. Tapi kayaknya aku mimpi, makanya tadi langsung cari Mama. Cuma kamu bilang Mama di luar. Jadi aku mimpi atau bukan?" celoteh Yuki tiba-tiba. Mencoba menerawang kilasan ingatan samar dengan mata terpejam erat. Menyusun kepingan puzzle yang masih tampak tidak masuk akal.


Berbeda dengan Keven yang terbengong dan mengerjap lambat beberapa kali mencerna maksud perkataan Yuki. Ia mematung dengan bibir mengembang lebar. Lalu tanpa basa-basi menggenggam jemari lemah Yuki dengan hati-hati.


Di tempat berbeda, Papa Gibran rupanya sudah asik bercengkrama dengan pemilik kos. Mereka semua teman lama, terkecuali Bunda Inka yang baru pertama kali bertegur sapa.


Sepasang orang tua yang sudah berpisah itu pun diam-diam melirik sekilas ke pelataran kos putrinya. Memikirkan anak gadis semata wayang yang sedang bersama seorang laki-laki dalam sepetak kamar. Namun kekhawatiran yang bergelayut di pikiran keduanya jelas sangat bertolak belakang.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih udah mengikuti kisah Yuki sampai sejauh ini😍 Semoga nggak pangling sama covernya ❤


__ADS_2