
“Makasih banget loh Om udah bolehin aku sama Mas Keven pakai tempatnya. Maaf ya jadi ngerusuh, hehe ….”
“Udah santai aja, kalau malam tutup nggak dipakai. Kalian juga buka di depan toko, bukan bengkel. Sana cek lagi berdua barang-barangnya, biasa kalau sama perempuan bisa lebih teliti.”
“Mas Keven malah lebih teliti dari aku, Om. Lagian yang paham juga Mas Keven. Aku anak bawang, cuma tim hore,” ucap Yuki sambil menoleh ke belakang sekilas. Ia mengulas senyum tipis pada Keven yang membalas dengan kerjapan lembut, penuh kasih.
“Terus yang masak Mas calon juga?”
“Seratus.” Ibu jari kanan Yuki teracung. “Udah paling bener aku itu tim hore.”
“Jangan-jangan ... rebus air masih keasinan?”
“Nggak dong. Ara tuh yang suka keasinan. Sekarang aku udah bisa masak semur ayam. Terjamin manisnya, Om Yudith pasti nggak doyan, hahaha,” sahut Yuki sambil tergelak. Sedetik kemudian sudah menyengir tanpa malu. “Biasa dihantam level hot jeletot khas Tante Liz kalau makan masakanku pasti gumoh.”
“Punya anak cewek dua sama aja. Untung dapat laki bisa masak semua. Kuat-kuat jadi objek eksperimen … oya, main ke rumah sekalian minta Jona kasih gembok sama duplikat kunci gudang yang baru.”
“Tau aja Oom ini aku udah kangen menyerbu dapur Tante Liz. Tapi kenapa ganti gembok? Kayaknya gembok yang sekarang masih baru.” Yuki mengerutkan dahinya. Memanyunkan bibir yang condong ke sudut kanan.
“Kunci gembok ini dihilangin sama Adekmu itu. Dari pada bikin duplikat bayar 15 ribu, mending ganti pakai gembok yang ada di rumah aja. Di gudang itu masih berserakan rangka sama velg motor punya Jona, mau belajar modif katanya. Tapi gak tau kapan. Kalau barang-barang bengkel udah dipindah Andi ke dalam. Udah nggak banyak.”
“Wah, bau-bau mau perluasan toko nih bengkel dikosongin. Udah beralih jadi Bos Toko onderdil ya, Om?” goda Yuki sambil memainkan kedua alisnya naik turun serentak.
“Bosokan tempe kalau kata Tante-Mu."
"Tapi kan bener udah jadi Bos, Om. Dua pintu loh tokonya, kurang apa lagi coba?"
"Tokonya punya Rava. Om jagain aja biar makin tua gak tambah pikun. Udah encok mau angkat mesin transmisi."
"Terus bengkelnya gimana?"
"Bengkel ya tetap buka. Kan ada Andi yang jaga sekalian Jona biar belajar nerusin. Anak-anak muda aja yang ngurus dari pada nganggur.”
__ADS_1
Percakapan itu masih terus berlanjut dengan Yuki berjalan lambat mengikuti laki-laki tua yang dipanggil Om Yudith, tepatnya papa Ara. Mengekor pula Keven di belakang keduanya, sibuk berkirim pesan dengan seorang kenalan. Sesekali ia mendongak sekilas memperhatikan keramahan Yuki yang tersenyum cerah.
...----------------...
Berlalu dari pertemuan singkat hari itu, kini sepasang anak manusia yang sesekali melempar senyum penyemangat sudah memulai hari baru dengan pelanggan pertama. Kobaran api dari tungku dan bau efek bakaran hidangan lezat berhasil membuat Yuki menelan ludah, bahkan sulit mengalihkan perhatian, terpesona oleh kepiawaian Keven pada kuali yang ikut membara.
Namun cepat-cepat Yuki menggeleng dan berlari kecil ke arah kumpulan pemuda yang bersenda gurau di depan bengkel Om Yudith. Berlanjut pada pejalan kaki yang kebetulan lewat. Tidak ketinggalan Yuki lagi-lagi beramah-tamah dengan para penghuni ruko di sekitar lapak jualannya.
Yuki benar-benar menjelma bagai sebuah tim meski seorang diri. Mulutnya yang cerewet didukung sifat supel dan mudah bergaul sukses menerbangkan selebaran pamflet minimalis. Menarik beberapa pelanggan yang terpancing rasa penasaran akan stand jualan ala warung tenda atau kaki lima yang baru berdiri sore hari itu juga.
“Sayang capek?” Rasa bersalah tercermin jelas dari mata sayu Keven. Tersampaikan pula lewat usapan lembut di puncak kepala Yuki.
“Nggak, ngantuk aja. Udah selesai ya, By?”
“Iya, tinggal masukin meja ini.”
“Cepet banget, By. Tadi aku ketiduran ya? Kayaknya gara-gara baru hari pertama, jadi belum terbiasa. Terus aku kebanyakan heboh sendiri deh, padahal cuma bantu lap meja doang,” ujar Yuki sambil mengangkat kepala dan menegakkan punggung. Sejenak ia menguap lebar sambil menggosok sudut matanya yang berair.
“Romantis tau kayak gini, By. Mirip cerita di novel-novel gitu," balas Yuki riang seakan tidak memiliki beban. Namun sebenarnya ingin menghibur suasana hati Keven yang memburuk. Lagi pula Yuki sangat senang bisa terlibat sejauh ini dalam hidup Keven.
“Tapi kenyataan nggak semanis cerita novel, Sayang.”
“Udah biasa kali. Rujak aja ada manis, asin, pedes, kecut sampai gurihnya, masa hidup hambar?”
“Iya, tapi ….”
"Kamu nggak lagi meragukan aku kan, By?"
Keven menggeleng. Ia memaksakan senyuman yang tertangkap netra Yuki sangat getir.
"Udah ya Sayangku jangan rendah diri.” Yuki turun dari kursinya, ikut berjongkok tepat di depan Keven. “Supaya jadi kita itu harus ada aku dan kamu. Selalu ada cara untuk kita bahagia, bersyukur aja dengan apa yang ada. Kamu terima aku yang pengangguran dan aku beruntung banget punya kamu yang pekerja keras. Kalau nanti ada yang nggak enaknya di antara kita, ya udah, pasti bisa diselesaikan. Sama-sama punya mulut kok, bisa ngomong, komunikasi."
__ADS_1
"Yakin kamu nggak kabur?" Alis kanan Keven menukik naik dengan seringai tipis di sudut bibir.
"Ck! Nyindir!?" hardik Yuki sinis. Spontan ia mencubit kedua pipi Keven dengan sebal. Bukan sekilas, tapi cukup lama disertai tarikan yang cukup kuat.
"Merah, By," ucap Yuki lagi agak panik, lalu tersenyum penuh makna dan berakhir menjulurkan lidah. "Kapok, wek!"
"Ditarik, usap terus ditabok," gumam Keven sambil menekan pipinya dengan punggung tangan. Sejurus kemudian ia beranjak ke gudang belakang bengkel Om Yudith sambil mengangkat meja dan kursi lipat terakhir.
"Tunggu di motor aja. Biar aku yang tutup gudang," ucap Keven pada Yuki yang berjalan dengan lompatan kecil di belakangnya.
“Gak mau. Aku takut,” tolak Yuki sambil mempercepat ayunan kaki. Suasana dingin tengah malam itu menambah kengerian gelapnya langit tanpa bintang.
...----------------...
“Tidur aja di sini, By.”
“Nggak baik. Kita belum nikah. Nanti kamu jadi omongan orang lagi.”
“Ya udah, ayo nikah!” Yuki bersedekap. Raut wajahnya datar, sulit ditebak ia serius atau sekadar bercanda.
Berdebar, pupil mata Keven bergetar. Ia hanya mampu terdiam. Sejenak keduanya terpaku, saling menyelami tatapan yang terkunci.
“Kamu yakin beneran mau nikah sama aku?”
“Iya. Kamu mau kan?”
Gadis yang tersenyum cerah itu mengepalkan tangan. Yuki jelas gelisah. Meskipun Keven yang selalu mengejar, bukan berarti tidak ada kemungkinan ia ditolak.
‘Kok diem?! Mana nih yang dulu sering ngajak nikah lagi? Ayolah jawab! Awas aja kalau nolak. Aku kutuk jadi tai!’ batin Yuki menjerit. Binar matanya perlahan meredup. Berbeda dengan Keven yang lambat laun tersenyum lebar.
...****************...
__ADS_1
Makasih ya udah selalu bersabar demi tau kisah selanjutnya dari Yuki 😘