
Sejenak Yuki bernostalgia, kembali menikmati hiburan sederhana seperti masa-masa KKN dulu. Bedanya, saat ini Yuki tidak pergi berombongan menggunakan motor roda tiga, namun hanya bersama seseorang yang melayaninya bagai tuan putri.
Senang? Tidak terlalu. Yuki justru sedikit canggung mendapatkan perlakuan manis dari Dion. Hubungan keduanya belum sampai ditahap yang teramat sangat dekat.
"Balon?" Kepala Yuki bergerak miring seiring kerutan halus di dahi yang semakin bertambah. Akan tetapi tangannya tetap meraih stik plastik dengan puncak balon berbentuk kartun jelmaan porifera berwarna kuning.
"Dari tadi ini udah kamu incar, kan?" celetuk Dion sambil melahap sosis goreng dari tangan Yuki.
Terperanjat dan melotot, Yuki mendengus sebal. "Rabies!" ketus Yuki sinis.
Tersenyum tengil, Dion mengganti sosis goreng yang digigit dengan setusuk kentang tornado. Tidak lupa ia angkat minuman dalam wadah plastik agar mudah untuk Yuki seruput dari sedotannya. Tentu sikap Dion ini terlihat sangat manis di mata Yuki. Namun dalam sekejap bayangan manis di pelupuk mata itu Yuki tepis dengan kerjapan cepat.
Kini keduanya sama-sama memandang lurus pada bianglala khusus anak-anak. Terus berputar pelan dengan alunan lagu yang silih bergantian. Sesekali terdengar jeritan puas dan ketakutan dari mulut anak-anak yang duduk dalam kabin kincir.
“Besok yang kerja sama kamu jadi datang?” ucap Dion tiba-tiba. Laki-laki itu menyodorkan tisu pada Yuki.
Meraih tisu pemberian Dion, Yuki membersihkan remahan kentang dan serbuk bumbu barbecue di bibir serta dagu sembari berkata, “tadi udah telepon, katanya sore baru sampai. Soalnya dia mau bawa galon, kompor sama tabung gas dari rumahnya. Jadi perlu pinjam mobil angkutan. Syukur deh kalau gitu bisa dipakai masak bersama. Biar irit nggak jajan terus.”
“Berarti mulai besok kita gak bisa pergi sesukanya,” ucap Dion sambil mengangguk pelan, seakan menimbang-nimbang sesuatu di dalam benaknya.
"Baru tiga hari di sini aja diajak keluar mulu. Lama-lama beneran jadi ajang ghibah nih," gerutu Yuki sambil mencebikkan bibir.
Memang belum ada tanda-tanda mulut nyinyir nan julid yang menyindir, namun bagi Yuki yang merupakan alumni anggota pergosipan kampus tentu sudah sangat paham poin-poin pemicu berita panas. Apalagi posisi dirinya saat ini hanyalah seorang tamu yang kebetulan bekerja untuk Desa. Ia yakin cepat atau lambat kebersamaannya bersama Dion akan menjadi boomerang.
“Kalau kamu gak masalah kita dinikahkan warga, ayo pulang ...,” ajak Dion sambil mengulurkan tangan.
“Maksudnya?”
"Dari pada pergi terus jadi bahan gosip, lebih baik dipergoki warga terus dinikahkan."
"Gak usah ngasal!” Raut wajah Yuki berubah muram. Suasana hatinya memburuk. Ia tidak suka pada perkataan Dion yang terkesan seenaknya itu.
__ADS_1
“Iya ... ayo, aku antar pulang. Udah tambah malam." Dion berdiri, merapatkan jaket yang dikenakan. Sejenak ia pandangi Yuki yang diam menunduk.
“Mas ….”
“Hm?”
Menghembuskan nafas kasar dari mulutnya, Yuki memalingkan wajah. “Kita nggak akan pernah bisa bersama.”
“Apa ….”
“Kita berdua sama-sama belum selesai dengan masa lalu kita,” sela Yuki, memotong ucapan Dion.
Seketika Dion diam, menyimak tanpa penyangkalan. Nyatanya penuturan Yuki tidak salah, dirinya sendiri juga masih belajar untuk membuka hati meski rasa nyaman semakin lama semakin bertambah.
Sedangkan Yuki, mau tidak mau masih sangat belum siap menerima cinta yang baru. Yuki tenggelam dalam kemelut ketakutan akan cinta. Figur cinta pertama yang hancur sukses membuat Yuki bagai kehilangan sandaran.
Yuki benar-benar pesimis bisa menciptakan kisah percintaan yang berbeda, tentunya tanpa berakhir dalam sebuah perpisahan. Belum lagi statusnya sebagai seorang janda ternyata sedikit banyak menggoyahkan rasa percaya diri yang biasanya limited edition.
“Apa kabur karena gak siap melihat kebahagiaan Ara dan Pak Rava bagian dari masa depan yang kamu tata? Bahkan kamu masih dihantui masa lalu,” sarkas Yuki, sudut kanan bibirnya tertarik naik. Tersungging senyum miring yang miris, namun tampak menutupi rasa iba.
Menghela nafas pelan, Dion kembali mendudukkan diri ke samping Yuki. Detik berikutnya ditatap Yuki yang memalingkan wajah dengan senyum kaku yang tetap dipertahankan.
“Kita tetap bisa melangkah maju dengan masa lalu yang terus menghantui. Semua butuh proses yang diselesaikan secara bertahap. Memang benar aku nggak siap dengan kebahagiaan mereka, tapi aku juga sedang berusaha menciptakan kebahagiaan aku sendiri.”
Yuki mendongak, memutar kepala menoleh ke sisi kanan. Seketika matanya bersirobok pandang dengan Dion. Sontak ia kembali menatap lurus ke depan, di mana bianglala sudah berhenti berputar, namun suasana ramai kendaraan dan orang-orang masih berlalu-lalang.
'Aku juga mencoba bahagia. Aku mencoba bangkit. Tapi nggak soal cinta. Aku gak mau ... sama seperti dulu.' Yuki menggigit bagian dalam bibirnya, mengepalkan tangan menahan kelu di pangkal lidah. Ia ingin sekali meneriakkan kalimat itu, namun tertahan ketidakberanian yang mendadak menyergap.
“Yuki … terkadang bukan karena kita gak mampu dan gak bisa, tapi kita terkurung oleh pikiran kita sendiri."
'Tapi aku juga tau, urusan hati gak ada yang bisa memaksa. Saat alam bawah sadar kamu sendiri masih enggan melepas dia, sejauh apa aku melewati batas, semua tetap sia-sia. Sama seperti dulu ...,' lanjut Dion dalam hati. Ia bagai prajurit terdepan di medan perang yang tau kapan akan gugur, namun tidak gentar untuk menyerah apalagi lari dari kekalahan.
__ADS_1
“Cepat atau lambat, aku harap kamu menyerah. Stop bahas tentang cinta, aku cuma butuh cuan.” Yuki beranjak dari duduknya. Berlalu terlebih dahulu menghampiri tong sampah di pinggir jalan, tepatnya di samping pohon pinang.
Sedangkan Dion jelas berlari kecil mengejar Yuki, menyamakan langkah di sisi gadis yang berkeras hati tidak ingin memikirkan cinta lagi. Ragu-ragu Dion menarik turun tangan yang telah menggenggam udara. Mengurungkan niat menahan bahu Yuki agar berhenti, sejenak kembali dalam pembicaraan serius.
“Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru, padahal aku juga masih belajar membuka hati untuk kamu. Tapi percaya atau tidak, berkomitmen mencintai kamu secara perlahan membuat aku lupa bahwa pernah ada nama perempuan lain di hatiku.”
“Nggak mungkin semudah itu.” Yuki menggeleng, mengibaskan tangan disertai kekehan sarat ketidakpercayaan. “Hanya dengan bertekad move on, kamu bisa lupa tentang Ara? Mas Dion jangan ngarang cerita! Aku sangat paham sehancur apa kamu di pernikahan Ara saat itu. Gak mungkin kamu bisa membuka lembaran baru dengan sisa-sisa perasaan yang aku yakin belum selesai.”
“Apa aku harus terpaku dengan sisa perasaan yang salah itu? Nggak.” Sekali lagi Dion meresapi perasaan kagum yang semula disangkanya sebagai cinta. Ia semakin yakin bahwa selama ini dirinya terjebak dalam sugesti dan hipotesa debaran yang salah.
Kisah tentang gadis pujaan hati sang saudara sering kali terngiang di otak Dion. Tergambar jelas pada sosok Ara yang secara kebetulan tanpa sepengetahuan Dion memang cinta pertama Rava.
“Sampai kapan kamu mau menunggu kisah kamu selesai untuk membuka lembaran baru?” tanya Dion serius. Tangannya menahan pintu mobil yang tadinya hendak dibuka.
Terdiam tidak bisa menjawab, nafas Yuki tercekat. Suaranya tertahan jarak yang seolah sedang Dion kikis habis. Saat kepalanya menatap lurus ke depan, maka pemandangan dada bidang Dion yang tertangkap lensa mata Yuki.
“Membuka lembaran baru bukan berarti ceritanya selesai. Kamu tetap bisa menulis cerita yang sama. Kuncinya ada di kamu, mau atau tidak … bahkan bisa jadi di halaman kisah baru kita, akan banyak pertanyaan yang bisa dijawab sambil mengintip halaman-halaman sebelumnya yang udah kita tutup. Jadi nggak ada salahnya kita mencoba. Jika seandainya nanti kita tetap gak bisa menemukan titik kecocokan di antara kita, ya udah … mungkin memang kita yang tidak berjodoh.”
“Udahlah, ayo antarin aku pulang. Besok aku harus mulai survei bibit lele,” ucap Yuki lirih dengan suara bergetar. Menyembunyikan pancaran sendu yang hampir meluap.
Perlahan rasa bersalah merebak di dada Dion. Ternyata benar, Yuki bukan tidak ingin move on. Gadis itu sedang mencoba tertawa di atas kekacauan corak puzzle yang tersusun rapi. Terkurung dalam mimpi buruk yang bercampur aduk dengan kenyataan.
“Kamu bisa,” ucap Dion singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Yuki. Tidak lama kemudian ia sudah berjalan memutari mobil, membuka pintu di sisi kursi kemudi dan mendudukkan diri. Sempat hening beberapa detik sampai sebotol air minum Dion sodorkan pada Yuki.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki😘