Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bos Keripik


__ADS_3

Sepasang mata itu menatap lamat gadis yang berkaca lewat spion motor. Kedua sudut bibirnya tertarik naik, mengulas senyum tipis penuh cinta. Benar, dari balik setir kemudi Keven mengamati setiap gerak-gerik Yuki. Ia seakan enggan meski hanya sepersekian detik saja berkedip.


Sedangkan Yuki fokus meneliti riasan lewat kaca spion motor. Dari polesan pink salmon tipis di bibir sampai bulu mata lentik yang tampak tebal berkat sapuan maskara. Yuki cukup puas walaupun eyeliners yang digoreskan masih tidak sama rata.


“Cantik.”


“Iya, kamu cantik.” Bagai sebuah balasan Keven menimpali gerak bibir Yuki yang terbaca. Gadis itu memang gemar memuji dirinya sendiri. Benar-benar menggemaskan rasa percaya diri Yuki itu.


Tidak berselang lama sosok Yuki pun menghilang dari pandangan. Kini tinggal Keven yang harus kembali pada kenyataan. Ia harus bekerja banting tulang demi masa depan yang lebih cemerlang, jelas dalam hal finansial. Karena hubungan percintaannya masih terlihat sangat suram.


...----------------...


“Pagi ….”


Sapaan singkat mengawali pagi di kantor yang mulai ramai. Samar-samar akan terdengar pula derap ketukan sepatu dan suara-suara gosip hangat yang beranekaragam. Memang sulit membuang sedikit saja kebiasaan pemersatu yang bisa memporak-porandakan hubungan antar manusia itu. Meskipun begitu, sebagian karyawan sudah mulai berdiskusi berat mengenai pekerjaan yang terlewat serta yang akan datang.


“Pa- … Tangannya kenapa, Bu?” Sahutan Yuki terputus, berganti tanya dengan mata membola panik. Tentu tidak benar-benar panik, hanya reflek karena terkejut.


“Ah, ini … Gak kenapa-napa, hanya terkilir.”


“Jatuh?” tanya Yuki polos dengan kepo nya.


“Iya, gara-gara bocah tengil ugal-ugalan. Hah … Inilah kenapa saya nggak suka berurusan sama laki-laki muda,” jawabnya kesal.


Spontan Yuki melipat bibir, mengulum rapat dan lebih memilih diam. Ia tidak ingin menambah rusak mood sang atasan yang dapat berimbas pada ketenangannya sepanjang hari.


“Oya, nanti ke ruangan saya. Ambil pekerjaan terakhir kamu,” perintahnya pada Yuki sebelum berlalu pergi. Sedangkan Yuki tentu saja spontan mengangguk patuh.


...----------------...


Drrt … Drrt …


Ponsel Yuki bergetar. Sedetik layarnya menyala terang, lalu redup dan akhirnya menggelap. Namun tidak langsung membuat Yuki meraih ponsel yang tergeletak di samping keyboard. Ia tetap meregangkan tangan, mengurai pegal yang menjalar di tulang. Dengan sedikit pergerakan kepala memutar dapat Yuki dengar sendi lehernya berbunyi bagai ranting patah.


Setelah merasa pegal di punggung, tangan dan tengkuk berkurang, Yuki baru meraih ponselnya. Tertera banyak notifikasi promo voucher diskon dengan berbagai syarat dan ketentuan yang sejenak Yuki singkirkan, namun hanya satu yang tidak Yuki abaikan begitu saja.


📩


Mas Dion


Kamu nggak kangen aku ya?


^^^Nggak.^^^


📩


Mas Dion


Sia-sia dong aku khawatir selama gak ada sinyal di sini.


^^^Memang Mas Dion di mana?^^^


📩


Mas Dion


Di hati kamu.

__ADS_1


^^^Huek basi.. serius di mana?^^^


📩


Mas Dion


Aku kangen kamu.


Jari-jemari Yuki membeku kaku. Ia bingung harus membalas apa ungkapan yang Dion kirimkan lewat pesan singkat itu. Entah mengapa rasanya aneh setiap kali menerima cuitan serupa.


Mungkinkah dirinya trauma pada cinta? Atau hatinya yang belum bisa berpaling? Tidak ada jawaban yang pasti, Yuki sendiri bimbang dengan isi hati dan otaknya yang kadang kala tidak sejalan.


📩


Mas Dion


Ayo balas. Jangan bengong.


^^^Aku sambil kerja ya!^^^


📩


Mas Dion


Alasan. Kamu kapan pergi? Nanti aku jemput.


“Ah, iya-ya …,” gumam Yuki ragu. Sedetik kemudian diedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Menghembuskan nafas kasar, Yuki tampak agak menyesal dengan keputusan yang diambil kurang lebih 1 bulan lalu. Walaupun ia juga tidak menampik perasaan berdebar semangat saat memikirkan akan seperti apa dirinya di masa depan. Benar, mau bagaimana lagi, semua sudah menjadi pilihan yang tidak bisa dibatalkan.


‘Hah! Lupa bilang gak usah ngasih lagi,’ gumam Yuki dalam hati.


Sedikit kikuk Yuki memasang senyum lebar dan berterima-kasih karena sudah dibawakan hingga ke mejanya. Ia lantas menopang pelipis kiri dengan tangan yang bertumpu di meja. Digigit bibir bagian bawah dengan kerutan halus di dahi yang semakin bertambah. Ragu-ragu Yuki membuka satu nama dengan ratusan notifikasi pesan yang belum dibuka. Sejenak ia menghiraukan cuitan Dion yang memberondong masuk.


Sedangkan di dua tempat berbeda, kedua laki-laki yang sibuk mengamati rentetan pesan yang dikirimkan kepada Yuki sudah terpaku dengan perasaannya masing-masing. Ada yang bahagia tidak terhingga dan ada yang sedang gelisah tidak karuan.


"Harus ganti kartu nih," ucap Dion sambil menyugar rambutnya. Merutuki sinyal data seluler yang tidak bersahabat karena sering kali di luar jangkauan.


Detik berikutnya Dion beranjak dari batu besar yang diduduki. Digosoknya perlahan lengan terbungkus kemeja panjang yang kepanasan meski tidak secara langsung disengat terik matahari. Beruntung ada pohon ketapang rindang untuk Dion berteduh.


“Cinta pertama yang terlambat itu, aku gak mau terulang lagi,” ucap Dion sambil memandangi deburan ombak yang semakin mendekat karena air laut mulai pasang. Sesalnya kembali menyeruak meski kini ia sadari bukan cinta yang tersisa untuk Ara, kakak iparnya.


Tidak berbeda dengan Dion, Keven yang mulanya bersorak girang di ruang kerja kini menunduk lemas. Ternyata pesannya hanya Yuki buka, tidak dibalas, mungkin juga tidak sampai Yuki baca. Alhasil hampir setengah jam lamanya ia hanya kelimpungan. Bahkan bernafas juga rasanya menyebalkan.


Padahal tadinya Yuki memang ingin mengirim pesan penolakan makanan yang Keven kirimkan, hanya saja panggilan masuk dari Dimas sukses membuat Yuki mengurungkan niatnya. Praktis tidak hanya Dion yang terabaikan, namun juga Keven.


“Ciiyyeee … On the way Bos Keripik Singkong nih.”


“Bos kentut,” ketus Dimas sinis, namun tidak mampu menahan kedutan lengkungan naik di sudut bibir.


“Halah, seneng kan aku panggil gitu? Gak usah munafik, Dimas Cuit! Pasti tujuan pamer barusan biar aku banggain, iya kan?!” tuduh Yuki sambil mengacungkan jari telunjuk ke wajah Dimas yang merengut.


Iya, keduanya sedang bertemu di sela waktu makan siang Yuki. Duduk berhadapan, berbincang panjang lebar sambil menyantap makan siang agar lambung tidak menjerit kelaparan. Tentu ada menu yang telah Keven kirimkan lewat kurir yang saat ini mereka makan bersama.


“Bedain antara pamer sama kasih tau. Udah lulus kuliah kok masih bloon, hish ….” Menoyor pelipis Yuki, Dimas mendesis sebal. Sedetik kemudian ditusuknya kuat batagor sebagai santapan penutup.


“Ya-ya-ya …,” balas Yuki asal, sekejap ia kembali berkata, “tapi serius nggak itu Pak Rava nawarin gitu? Belum deal, kan?”

__ADS_1


“Kalau Pak Rava main-main, tinggal ngadu ke Ara. Bayangin Pak Rava dipelototi Ara aja pasti udah kisut. Hahaha ….”


Mengangguk mengiyakan, Yuki bisa membayangkan bagaimana seramnya Ara saat marah. Selain itu, ia juga terbayang beragam bujuk rayu rengekan Rava pada Ara yang sontak membuatnya merinding.


“Kayaknya habis lulus kita jarang main bareng ya?” celetuk Yuki tiba-tiba.


"Kita kan gak sama-sama terfokus di kampus aja. Punya kesibukan masing-masing. Wajar kalau sekarang gak bisa sering ketemu," tutur Dimas tenang.


"Cuma Bos Keripik yang kayaknya luang terus," ucap Yuki bernada menyindir dengan bibir dicebikkan.


Memutar bola matanya malas, Dimas mendengus sebal. Sejurus kemudian dihembuskannya nafas perlahan sambil memasang ekspresi serius.


"Kamu udah baikan sama Bang Keven?"


"Uhuk!!" Tersedak Yuki tersentak pada pertanyaan Dimas.


"Ck ... Baru ditanya gini jantungan. Gimana kalau aku tanya apa kalian mau nikah lagi?"


Plak!


Reflek Yuki melayangkan tamparan ringan, mendarat tepat di bibir Dimas. "Mulutmu!!" ucap Yuki dengan mata melotot tajam.


"Gak usah KDRT juga kali! Astaga bibirku panas. Ini bibir gak ada asuransinya lagi ... Jadi beneran kamu mau balikan sama dia?"


"Apaan sih?! Gak jelas banget!" gerutu Yuki.


"Ya kalau gak mau balikan sama dia, dari pada bimbang nanti nikahnya sama aku aja. Tapi nggak sekarang, tungguin 5 sampai 10 tahun lagi," ucap Dimas sambil memainkan kedua alisnya naik turun serentak. Terdengar penuh candaan dan godaan iseng di telinga Yuki. Tapi percayalah ada keseriusan di balik sikap cengengesan Dimas.


"Kayaknya kebanyakan kena angin siang bikin kamu sinting," ujar Yuki seraya menggeleng jengah.


"Aku harus balik lagi ke kantor. Udah mau habis jam makan siangnya," lanjut Yuki berucap sambil memperhatikan arah jarum jam di pergelangan tangan kirinya.


"Oh, oke. Ayo ...."


Baru saja Dimas berdiri, tanpa sengaja ia menyenggol bahu seseorang yang berjalan di belakangnya. Sontak Dimas berbalik, berniat meminta maaf atas ketidaksengajaan nya. Namun bukannya langsung melontarkan permintaan maaf, Dimas justru terbelalak lebar.


“Kamu!!? Bocah ugal-ugalan?!!”


“Ibu-ibu judes?! Wah … Amit-amit moga gak ketemu lagi!" balas Dimas cepat sambil beberapa kali mengetuk pelan kepalanya sendiri.


“Kamu pikir saya mau ketemu kamu?!”


‘Ini … Kenapa?’ Membatin Yuki sambil melirik ke kanan dan kiri silih berganti. Memandang bingung kesewotan Dimas dan sang atasan.


...****************...


*


*


*


Sambil menebak-nebak dan memantau siapa jodoh Yuki, bisa nih mampir di novel temenku, Kak Aisy Arbia yang judulnya Duplikat Daddy😄



Terima kasih semuanya yang udah menanti kisah Yuki😘

__ADS_1


__ADS_2