
Yuki menulikan pendengarannya. Menutup mata pada lalu-lalang tim medis. Menghempaskan dirinya dari kenyataan jika orang-orang itu sedang bersatu padu, berjibaku di bawah instruksi darurat yang mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari.
Gadis yang kemarin meminta Mama Maria untuk bangun itu bergeming. Dirinya mencoba tegar pada sesuatu yang benar-benar tidak ingin dipertanyakan. Menepis segala bisikan-bisikan kemungkinan terburuk.
Akan tetapi, semakin kaki bergetar Yuki melangkah mundur, menjauh akibat dorongan lembut namun memaksa salah seorang perawat, Yuki justru luruh tersungkur ke lantai tepat di depan pintu yang baru saja ditutup. Ia rapuh pada kenyataan jikalau kehilangan merupakan salah satu bagian dari kehidupan.
“Nak!?” seru Papa Gibran. Laki-laki yang baru saja sampai itu panik menyaksikan Yuki dalam kondisi memelaskan. Termos sup ayam buatan sang istri seketika diletakkan asal. Ia bergegas merengkuh putrinya yang bahkan tidak menangis lagi.
“Pa …,” lirih Yuki dengan gelengan lemah seiring bibir bawah yang digigit. Ia kepalkan tangan memukul dada kiri yang nyeri. Sesak itu tidak menguap sedikit pun.
“Iya, Nak, udah-udah … gak apa-apa. Semua pasti baik-baik aja.”
Entah sudah berapa kalimat ‘baik-baik saja’ yang terus semua orang ucapkan pada Yuki. Berusaha menenangkan kekalutan gadis yang siap kapan pun menyerahkan jiwanya jika Mama Maria tidak bisa dipeluk selamanya.
“Ma-ma mau per-gi, Pa … Mama …,” racau Yuki parau, masih dengan posisi terduduk di lantai dan direngkuh Papa Gibran.
“Pasti sembuh. Mama pasti sembuh.”
“Jangan Ma-ma. A-ku mau Mama, Pa. Mama gak boleh pergi. Kenapa, ke-napa …,” gumam Yuki sambil meremas rambutnya tanpa mendengar ucapan Papa Gibran.
Percayalah hati Papa Gibran sakit, teriris kepiluan gadis kecilnya. Namun gilanya terselip kecemburuan pada sang mantan istri bersamaan dengan penyesalan telah menanam kebencian di hati Yuki.
Putri semata wayang yang selalu dilimpahi segala hal itu menyembunyikan luka di balik tawa. Materi dan materi yang selalu dikira cukup saat dirinya melepaskan diri dan pergi pada kebahagiaan yang dianggap sempurna itu benar-benar menutup mata pada kesakitan Yuki.
‘Maaf … anak Papa,’ sesal Papa Gibran.
Pada saat yang sama, Keven baru saja selesai bertransaksi. Ia telah resmi mengantongi uang ratusan juta setelah sebuah bangunan bekas restoran di atas tanah pribadi yang sempat dicuri dan akhirnya kembali menjadi miliknya kini telah berpindah tangan.
Keven sudah mempertimbangkan banyak hal. Butuh dana tidak sedikit untuk memulai membuka tiga bangunan meski secara bertahap. Lebih baik saat ini bertahan berjualan ala warung tenda. Selain itu prioritas utamanya saat ini adalah Yuki, bertanggung jawab atas biaya pengobatan Mama Maria.
Sayangnya senyum lega Keven hilang kala panggilan telepon dari Papa Gibran terhubung.
...----------------...
“Kamu kenapa lama sih Mas?!”
“Maaf, Sayang. Maaf,” ucap Keven sambil merunduk, mengusap lembut kedua bahu Yuki. Ia paham bahwa perempuan di depannya ini sangat panik. Menunggu sekian jam kedatangannya juga pasti sangat melelahkan dan menguras emosi.
“Dokter tadi bilang Mama sadar. Terus tiba-tiba minta kamu yang masuk. Padahal dari tadi aku ataupun Papa gak boleh nemuin dari awal Mama dibilang udah sadar. Kamu juga kenapa lama banget gak bisa dihubungi?! Cepetan ya ketemu Dokternya. Lihatin Mama kayak gimana. Buruan, Mas!”
__ADS_1
Yuki terus menarik Keven. Berlari kecil dengan mata mengedar gusar. Berharap bisa bertemu salah seorang tim medis yang bertanggung jawab atas Mama Maria. Ia ingin agar Keven bisa segera menemui, melihat dan memastikan langsung kondisi sang Mama.
Namun semua itu tinggal harapan semata. Keduanya harus bersabar kala diminta menunggu sampai keesokan hari. Tentu tidak serta merta membuat Yuki menurut. Gadis itu protes, marah dan mendadak melunak untuk bernegosiasi. Sayangnya semua itu tidak berguna.
“Sekarang dengarin aku. Hal baiknya Mama udah sadar meskipun kita masih belum bisa ketemu. Pasti semua ini demi kebaikan Mama. Kamu mau kan Mama cepat pulih?” ujar Keven sambil menangkup wajah Yuki. Menghentikan bibir yang sedari tadi menggerutu tidak jelas.
Sejenak Yuki memejamkan mata sambil menghembuskan udara perlahan yang dibuang lewat mulut.
“Makasih udah datang. Maaf tadi aku malah marah-marah,” lirih Yuki seraya melingkarkan tangan ke tubuh Keven.
“Aku tau. Kamu panik. Kamu gelisah. Kamu senang tapi juga takut.”
“Iya. Makasih ya, By. Kamu selalu ada buat aku dari awal sampai sekarang Mama udah sadar. Mama bangun, By,” ucap Yuki haru.
“Tapi aku gak mimpi kan, By?” tanya Yuki tiba-tiba. Seketika khawatir itu menyusup di sela senyum kecil yang lega. Perlahan menggetarkan pupil mata yang gusar.
“Ugh, Yang!”
“Sakit ya? Berarti beneran bukan mimpi?” Mata mengerjap lambat itu menanti jawaban Keven. Mukanya yang polos seolah tidak berdosa, padahal baru saja mencubit kuat sisi samping perut Keven.
“Sakit. Ini nyata. Pasti merah. Kamu mau lihat?"
"Kok mesum?"
"Pengen pamer badan terus diraba-raba, kan?"
"Ada-ada aja kamu ... pulang ya sekarang? Jangan mandi di toilet rumah sakit lagi,” ucap Keven dengan sebelah tangan mengusap bekas cubitan Yuki. Jujur, cukup perih.
Mengangguk, Yuki berpindah merangkul lengan Keven. Bergelayut sambil menyandarkan kepala.
“Iya. Aku juga mau siap-siap dandan cantik buat besok. Siapa tau bisa ketemu Mama. Gak tega kalau nanti kamu dimarahin Mama gara-gara lihat aku kucel. Ya walaupun mau kayak gimana pun aku tetap cantik paripurna.”
Keven terkekeh. Mengusap gemas puncak kepala Yuki yang kembali mampu mengontrol emosi. Sangat bersyukur Yuki terlihat sedikit lebih ceria. Meskipun sejatinya sandiwara. Semoga saja hari esok tidak ada tangis lagi.
...----------------...
Akan tetapi keesokan harinya, sekali lagi semua harapan menguap sebatas angan. Keven membeku bungkam tidak mampu menjawab runtutan tanya yang Yuki lontarkan.
"Jawab aku, By! Mama kenapa? Kenapa Dokternya masuk lagi? Mama ada ngomong apa sama kamu? Mama gak mau ya ketemu aku?"
__ADS_1
"Mama ... baik-baik aja."
Keven berbohong. Nyatanya dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tubuh Mama Maria yang mendadak kejang. Obrolan singkat yang belum sempat ia beri jawaban pun sontak terputus.
"Mama masih ada kan, By?" tanya Yuki serak. Ia jelas melihat kebohongan di mata Keven.
"Jujur, By. Jangan bohong!" imbuh Yuki menuntut.
"Mama ...."
Perkataan Keven terjeda. Sesak di dada membuatnya harus menghirup nafas panjang. Namun belum sempat meneruskan, Yuki sudah berlalu menghadang Dokter yang keluar dari ruang perawatan intensif Mama Maria.
“Mama saya gak apa-apa, kan? Mama saya udah bangun, pasti udah membaik kan, Dok?”
"Sabar, Sayang."
"Gak bisa, By! Dok, Mama saya kenapa?!"
"Mari ke ruangan saya dulu, Pak, Bu," ucap sosok Dokter tersebut.
"Gak bisa di sini aja, Dok? Tolong jelaskan sekarang!"
"Sayang ...," tegur Keven dengan gelengan kecil. Sukses membuat Yuki mendesah kasar. Gadis itu mengalah mengikuti langkah Dokter yang berjalan mendahului. Menurut pada rangkulan tangan Keven di bahunya.
“Dari hasil pemeriksaan, ada hal penting namun kurang menyenangkan yang harus saya sampaikan," kata Dokter itu.
"Maksudnya, Dok?! Dokter jangan main-main ya!"
“Sayang, bisa kita dengarkan dulu?” pinta Keven sambil menggenggam jemari Yuki yang terkepal di atas paha. “Silakan, Dok, tolong jelaskan ada apa.”
“Jadi begini Pak, Bu, ada komplikasi pasca operasi pendarahan paru-paru yang dijalani Bu Maria. Mukjizat memang setelah kondisi kritis tersebut Bu Maria sempat tersadar. Tapi kita perlu segera melakukan penanganan medis untuk mencegah Bu Maria terkena serangan jantung lagi."
"Jadi?" tanya Yuki gamang.
"Kami perlu melakukan tindakan operasi di jantung pasien."
...----------------...
Terima kasih udah baca kisah Yuki sampai sejauh ini😘 Yuk lah kita main badai dulu sedikit🥰
__ADS_1