Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Terhina


__ADS_3

“Ha ha ha … Hahaha … Brengsek!” Tawa lirih mengerikan berserta umpatan pendek terlepas dari bibir Keven. Matanya sudah berkabut amarah. Aura permusuhan menguar seakan siap berkobar menghanguskan sosok laki-laki asing yang tersenyum tipis dari dalam mobil yang baru saja melintas.


Tidak salah lagi gadis yang duduk di samping kursi kemudi, berusaha menutupi diri dengan jaket kebesaran serta memalingkan wajah adalah Yuki. Memang Keven hanya melihat sekilas, malah nyaris tidak jelas. Namun dirinya sangat hafal dengan tas selempang dan celana kulot yang Yuki kenakan saat persidangan.


“Kamu benar-benar bikin aku gila.” Menengadahkan wajah, Keven kembali tertawa, namun kali ini tanpa suara. Bibirnya melengkung naik mencemooh kebodohan yang semakin meluas. Ia terlalu fokus memohon, berharap keseriusan tersampaikan lewat permintaan maaf, mengiba dan mengemis seolah hidupnya benar-benar kehilangan arah, akan tetapi semua itu justru membuat Yuki muak.


Wajar. Keven sendiri juga muak pada segala tindakan menyedihkan yang dilakukan. Seolah hanya bermodal kalimat yang terdengar penuh dusta. Tapi percayalah semua itu bukan sebatas buaian semata.


“Haah!” Helaan nafas Keven buang kasar. Menekuk lututnya, Keven berjongkok tiba-tiba. Menunduk dengan kedua tangan menangkup wajah yang ingin diremas kuat. Kembali Keven tertawa, namun tawa kali ini disertai genangan di pelupuk mata.


Sedangkan Yuki yang sibuk menggerutu dalam hati cukup lega karena sekali lagi bisa kabur dari Keven. Benar, gadis di samping Dion itu Yuki. Dan laki-laki yang tersenyum misterius pada Keven tentu saja Dion.


“Butuh teman ngobrol?” Dion mengetukkan jari telunjuk kanannya di setir kemudi. Pandangannya tetap lurus ke depan. Hembusan nafasnya masih terdengar konstan, ia sangat santai meski tau laki-laki yang sempat ditatapnya berhasil menerima sinyal rahasia.


“Dari pada teman ngobrol, lebih butuh tukang ojek. Di depan minimarket dikit lagi, kiri ya Mas. Nanti aku mau nungguin kang ojek di situ, udah aku order.” Tangan Yuki bergerak seakan menunjuk minimarket yang dimaksud. Ia ingin cepat-cepat keluar dari mobil Dion. Selain sungkan, tentu juga ingin menghindari tawaran Dion.


Kegugupan atas tingkah memalukan membuat Yuki bagai dilucuti. Kepalsuan senyuman, tawa renyah serta guratan bahagia yang dibuat-buat jelas sangat kentara bagi seorang Dion yang sudah kenyang dengan berbagai macam emosi. Tentunya bukan emosi milik Dion sendiri, tapi milik seluruh orang-orang yang datang menemuinya dalam sebuah misi khusus yang sama.


“Serius turun di situ?” tanya Dion memastikan.


Mengangguk kuat, Yuki mengiyakan tanpa ragu. Padahal bukan tukang ojek yang ingin dinantikannya, melainkan Dimas, itupun belum juga Yuki hubungi. Dion juga tau itu, karena sedari tadi Yuki tidak sekalipun mengeluarkan ponsel.


"Makasih ya, Mas ... Eh, masih dikunci?" Mengernyit heran, Yuki menoleh pada Dion, memberi kode agar kunci otomatis pintu di sisinya dibuka.


“Dengarkan aku sebentar ... Kamu boleh lari, tapi kamu juga harus tau saat yang tepat untuk berhenti atau mungkin harus putar balik. Hidup ini penuh masalah, karena itulah kita hidup. Ada masalah yang tetap bisa kita nikmati. Ada pula yang bisa menjadi parasit untuk diri kita. Tapi kita bisa menikmati proses hidup sekaligus melawan masalah yang menghancurkan diri kita ini. Semua pilihan tentu ada di tangan kita sendiri."


Yuki termangu. Memeluk lutut yang ditekuk dengan pandangan kosong. Beberapa saat lalu Dion sudah pergi, namun kalimatnya masih terus terngiang.


Yuki akui dirinya memang sedang berlari. Bukan hanya sekedar kabur dari hadapan Keven seperti saat ini, tapi juga berlari dari masalah yang menghantui benaknya. Yuki takut kembali dalam lubang sandiwara. Takut menghadapi keindahan bunga bermekaran yang rupanya palsu. Ia takut terluka pada tempat yang sama tanpa mampu bangkit lagi.


Pletak.


Jitakan kuat mendarat mulus di kepala Yuki. Membuat tubuh yang masih terlena lamunan itu terhuyung dan nyaris jatuh.


"Woy!" bentak Yuki meninggi tidak terima.


"Ayo cepat pergi! Aku antar pulang ke kos aja. Ngerepotin banget. Tau gitu ogah aku iyain tadi." Dimas menggerutu sambil mengulurkan helm pada Yuki yang mencebik sembari mengusap bekas jitakan.


Yuki tidak banyak omong. Mencoba mengalah pada situasi duka yang harus Dimas tangani. Lagi pula Yuki juga sadar jika kesalahan memang terletak pada dirinya, sehingga tidak ingin memicu perdebatan receh.


"Kayak nggak asing, tapi siapa ya?" gumam Dion yang berpangku tangan. Pupil matanya mengekori motor Dimas yang kini sudah melintasi mobilnya di sisi kanan jalan.


Dion tidak serta merta langsung pergi ke tempat tujuannya setelah menurunkan Yuki. Ia sengaja menepi sambil memperhatikan Yuki dari jauh. Mencoba menjaga tanpa perlu mengkhawatirkan Yuki yang risih atas tindakannya. Entah kenapa ada rasa mengganjal kala ingin mengabaikan Yuki begitu saja.

__ADS_1


...----------------...


Tak.


Satu ketukan pada simbol titik mengakhiri perjuangan panjang dan melelahkan. Menghadirkan seulas senyum simpul bangga yang perlahan sirna atas kilasan kejadian yang mungkin akan terulang beberapa hari kedepannya.


Dihempaskan punggung lelah itu ke atas kasur tipis. Dihela nafas berat yang menumpuk kekesalan. Kembali Yuki harus merelakan jam perkuliahan demi menghadiri mediasi lanjutan sidang perceraian. Di usia yang baru menginjak 21 tahun, Yuki tidak menyangka jika sebentar lagi akan menyandang status janda.


Namun mungkin akan sedikit berbeda cerita karena harus dihadapi seorang diri atau mungkin hanya ditemani Mama Maria saja. Pasalnya tepat pada waktu persidangan nanti Ara sudah memiliki tanggung jawab sebagai asisten Dosen yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Dimas sudah memiliki janji dengan pembimbing untuk revisi pengajuan skripsi.


Kembali pada malam ini, semuanya masih sama. Yuki masih menghabiskan waktu dengan memandang layar laptop yang menyala. Menyibukkan jari-jemarinya yang terus mengetik lihai, merangkai kata menjadi untaian kalimat yang kini sudah sampai pada metode penelitian pengajuan skripsi.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ki ... Suami mu masih di bawah. Hujan loh, nggak kasihan tuh?" Ketukan dan suara yang terdengar samar di balik pintu melenyapkan seluruh kelegaan yang tersisa di hati Yuki.


Menyeret malas tungkai yang sejujurnya enggan digerakkan, Yuki membuka kecil daun pintu kamarnya. Diliriknya gadis yang lebih tua darinya itu mengedikan dagu pada Keven yang tersenyum sumringah di bawah penerangan lampu jalan, tepat di luar pagar.


Mendengus sebal, Yuki kemudian berterima-kasih pada perempuan yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Tampak ekspresi penasaran dan enggan pergi dari perempuan itu. Yuki sangat paham. Bahkan saat ini seluruh penghuni kos-kosan sudah tau siapa Keven. Mungkin juga sudah bergunjing ke mana-mana tentang hubungan rumah tangga mereka yang bermasalah.


Berdiri di bawah lindungan payung hitam, tepat di depan pagar yang masih tertutup rapat, Yuki cukup miris pada penampilan Keven yang kacau. Meski begitu ada sesuatu dari diri Keven yang terlihat berbeda di mata Yuki, tapi tidak pula Yuki temukan perbedaan yang diduganya itu.


"Pergilah!"


Singkat dan dingin Yuki mengucapkan sepatah kata pengusiran. Yuki tidak ingin Keven berpikir bahwa dirinya iba dan seakan memberi harapan lewat kalimat berisi perhatian. Dengan tanpa kata lagi Yuki berbalik, berlalu meninggalkan Keven yang terdiam mematung. Bahkan keacuhan Yuki tanpa diiringi pinta Keven yang biasanya selalu memohon-mohon.


Jelas sikap Keven meninggalkan setitik tanya di benak Yuki. Terkekeh Yuki pada kejadian singkat yang baru saja terjadi. Sejenak tawa lirih mengisi keheningan kamar, berlanjut dengan isakan tangis yang memilukan.


"Dia udah menyerah rupanya," bisik Yuki pada dirinya sendiri. Yuki sangat yakin jika sikap yang Keven tunjukan malam ini sebagai petunjuk bila laki-laki itu akhirnya menyerah. Tidak ada lagi perjuangan dalam kisah keduanya.


Perpisahan itu memang keinginan Yuki. Ia tidak tergoyah pada setiap bujukan Keven dan kedua mertuanya, namun mengapa saat mengetahui Keven menyerah atas dirinya malah nyeri yang mendera seluruh tubuh? Begitulah tanya Yuki di balik selimut yang menutupi tubuhnya yang meringkuk.


Yuki tidak rela, tapi juga tidak sanggup untuk bertahan. Atau lebih tepatnya tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi hubungan yang terlanjur menyakitkan itu selain perpisahan.


...----------------...


Klik.


"Aku baru tau kalau kamu hobi kabur," sindir Keven sambil membelai pipi tirus Yuki dengan jari-jemari sedingin es batu. Ia terlalu gugup, namun bertingkah acuh guna menutupi rasa malu.

__ADS_1


Keven cukup senang memandang intens dari jarak dekat wajah mempesona istrinya. Meskipun sempat merutuki tindakan konyol super beresiko yang dilakukan, tapi Keven sangat puas bisa sedekat ini dengan Yuki.


Memalingkan wajahnya, Yuki risih pada keintiman yang tercipta di antara dirinya dan Keven. Keasingan baru mendadak muncul dari sosok Keven yang pernah memperlakukannya bagai guguran daun beterbangan.


Kini, seolah sikap aneh Keven di bawah rintik hujan malam terakhir pertemuan mereka semakin menjadi-jadi. Bahkan jika Yuki ingat-ingat Keven sempat menghilang tanpa kabar 2 hari belakangan.


"Aku juga baru tau kalau kamu hobi gentayangan," balas Yuki tidak kalah menyindir Keven. Didorongnya dada Keven yang menyongsong tepat di depan wajah Yuki.


"Mau kabur lagi? Kamu ternyata gak hanya seberisik angsa, tapi juga selicin belut."


"Hahaha ... Jadi gak mau minggir? Segitu cintanya kamu sekarang sama aku?" ucap Yuki mencibir Keven.


"Iya. Aku cinta kamu. Sangat-sangat mencintai kamu," jawab Keven mantap.


"Wow ... Selamat untuk aku yang beruntung bisa kamu cintai."


"Bukan kamu yang beruntung. Aku yang beruntung bisa mencintai kamu."


"Mimpi apa aku bisa dengar semua pengakuan kamu ini?" Senyum Yuki mengembang, namun wajahnya tidak bahagia sama sekali. "Sayangnya nggak romantis dan tempatnya ... Kenapa harus di tempat sempit ini? Bisa-bisanya demi dengar itu aku harus nahan pipis. Mulia sekali tindakan anda wahai calon mantan suami!"


Sejenak Yuki menyesal tidak berguru jurus jitu melumpuhkan musuh dari Ara. Tenaga yang tidak seberapa itu hanya cukup untuk menjambak, mencakar, mencubit, menggigit dan memberikan jejak pertempuran yang tidak seberapa di tubuh Keven.


"Gosip dari tempat kos mu itu bener? Katanya cewek kelautan yang dulu mesum sama pacarnya sekarang ribut mau cerai."


"Iya, drama setiap hari. Coba aja kalian lihat sendiri. Hih, geli aku lihatnya. Gitu aja dulu gempar pamer mesum."


"Kalau dipikir-pikir cewek itu drama banget gak sih? Mau nikah atau pisah ngedrama terus."


"Kayaknya cewek kayak gitu memang tipe gak tau malu deh."


"Padahal katanya anak pinter. Jangan-jangan kedok biar gak keliatan busuknya kali ya ...."


Satu per satu hinaan terdengar langsung oleh Yuki dan Keven di balik bilik toilet. Perempuan-perempuan yang tidak Yuki kenali itu secara terus-menerus menginjak-injak harga diri Yuki. Memberi cap rendahan pada Yuki yang hanya bisa mencekal tangan dan membekap bibir Keven agar tidak berontak pada amarah yang menggebu.


Yuki jelas tidak mau tindakan Keven yang menyusup toilet wanita ketahuan semua orang dan menambah masalah baru bagi kehidupan perkuliahannya yang tinggal beberapa langkah lagi. Sedangkan Keven sebisa mungkin menahan diri untuk tidak membunuh dirinya sendiri karena menjadi penyebab utama Yuki terhina.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


typo dan alur yang aneh, silakan komen aja 😄 penulisnya lagi oleng😅


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki😘


__ADS_2