Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Takdir Kita


__ADS_3

Bagi Yuki dari pada marah menggebu-gebu sekarang ia memilih diam meski dirundung kegalauan. Diakui terkadang ia bersikap berlebihan. Namun semua karena perasaan awas yang perlahan menjadi kegelisahan. Sayangnya prinsip itu tidak akan berlaku untuk masalah yang satu ini, atau mungkin memang sudah gagal Yuki terapkan.


“Kamu ….”


“Bukan, bukan aku. Aku gak tau kalau dia masih di sini.”


“Masih? Jadi kamu tau Kak Alia di sini? Atau jangan-jangan habis aku dari rumah kamu … sumpah nggak lucu kalau kamu diam-diam masih kayak dulu. Asal kamu tau, aku takut!” cerca Yuki sambil mendorong dada Keven dengan telunjuk kanannya. Meskipun secara sadar Yuki akui bukan haknya melarang Keven bertemu dengan Alia.


“Saka yang kasih tau aku.”


“Ini hari terakhirku di sini loh. Kamu macam-macam aku tinggal!”


Pucat pasi, Keven buru-buru menghadang langkah Yuki yang hendak berbalik pergi. “Antara aku dan Alia udah selesai, bukan seperti yang kamu pikirkan!" tegas Keven sambil memegangi bahu gadis yang cemberut di depannya.


“Bener!?” Menyilangkan tangan di depan dada sambil memicing tajam, Yuki tatap lekat Keven yang mengangguk cepat berulang kali.


“Iya.”


Mundur dan menghindar dari jangkauan Keven, Yuki meraup udara sebanyak-banyaknya. “Awas kamu kalau bohong! Bukannya aku mau menghancurkan pertemanan kalian, tapi kita beda. Sekarang kamu diam di sini. Jangan menampakkan diri sedikitpun. Sampai aku lihat batang hidung kamu ngintip!?” ancam Yuki dengan mata berkilat garang, ibu jarinya bergerak perlahan menggores lehernya sendiri seolah menegaskan tebasan mematikan.


Lekas Yuki mendorong Keven ke balik pohon pucuk merah, berlalu tanpa kata meninggalkan Keven. Mau tidak mau laki-laki itu memundurkan langkah dengan mata memandang lekat punggung Yuki yang menjauh ke seberang jalan. Sekejap ia membeku khawatir, namun buru-buru memutar tubuh dan memindahkan motor yang diparkir asal, jelas karena Yuki tiba-tiba menoleh sambil memicing tajam.


‘Asem banget,’ ucap Yuki dalam hati selepas menyesap seperempat gelas es jeruk peras asli tanpa pemanis tambahan. Berlanjut menyibak helaian rambut yang jatuh menutupi pipi karena terpaan angin.


“Boleh aku kasih saran?” ucap Alia sambil mencondongkan badan seraya melipat tangan di atas meja plastik berkaki besi. “Jangan ikut campur dan pergilah diam-diam.”


“Cih,” decih Yuki geli sambil memiringkan kepala dan mengulas senyum tipis.


“Setidaknya kasih aku uang. Jangan bisanya nyuruh pergi dari Mas Keven tapi pakai biaya sendiri. Ya kali aku mau disuruh sana-sini terus miskin sendiri. Kak Alia ini aneh.” Geleng Yuki dengan tawa remeh.


“Terus kenapa? Bukan masalah besar buat kamu, kan? Kamu masih bisa mengejar laki-laki mapan lainnya, seperti yang kamu lakuin dulu ke Keven. Kamu bukan aku yang benar-benar butuh Keven,” ucap Alia datar. Ia mengulas senyum tipis sambil menjatuhkan sorot lemah pada bayi yang menatap riang ke arah Yuki.

__ADS_1


Sontak gadis yang berusaha memasang raut bengis itu sesekali tersenyum manis kala mengalihkan pandangan. Mana bisa Yuki abaikan keimutan bayi laki-laki yang mulai berceloteh tidak jelas dalam stroller-nya. Sejenak Yuki jadi merindukan Angga.


“Oh aku tau ...” Yuki mendadak bertepuk tangan singkat sebelum kembali berkata, “keriput Kak Alia bertambah, pantas jadi nggak pede. Makanya jangan suka marah-marah, kan jadi cepat tua. Ya walaupun Kak Alia memang kalah muda dari aku."


“Percuma bicara sama anak kecil kayak kamu.”


Tanpa Yuki sadari Keven sudah berhasil menyebrang jalan, berdiri diam di sebalik pohon pinus, mengintip dengan penuh kehati-hatian. Cukup lama ia berusaha menguping pembicaraan dua perempuan di bawah payung besar satu set meja kursi taman.


“Pak Bos nggak ke sana aja?” bisik seseorang yang mendadak ikut mengintip bersama Keven.


Terlonjak sambil memegangi dada, Keven tatap sinis sosok di belakangnya. “Ngapain kamu di sini? Kerja!” ketus Keven dengan intonasi rendah.


“Eh, i-iya ... mari, Pak." Mengangguk kikuk, sosok yang membawa nampan kosong itu pun berlari kecil terburu-buru kembali ke gerai.


...----------------...


“Udah marahnya?”


“Terus kenapa cemberut?”


“Memang aku cemberut?” tanya Yuki dengan dahi mengerut yang langsung diangguki Keven.


“Mas Keven nyebelin!”


‘Kenapa jadi gue salah lagi?’ batin Keven bingung sambil menggaruk pelipisnya. Sedetik kemudian diteguk air mineral dalam botol yang tinggal separuh, sisa Yuki minum.


“Aku cuma mencoba jujur. Hidup aku memang sekacau itu saat kamu memilih pergi. Lagi pula mau nggak mau memang berkat Alia aku bisa dapatin kamu. Tadi aku cuma berterima-kasih sama dia, nggak lebih. Kamu cemburu banget ya?” Keven memberanikan diri mencubit gemas pipi Yuki. Spontan menghentikan mulut menganga yang hendak melahap kerupuk udang.


“Jadi aku selamat dari disembelih kamu, kan?” cicit Keven mengimbuhi ujarannya. Sukses menarik lirikan sebal dan bibir manyun Yuki. Reflek Keven menolehkan kepala ke arah berlawanan, mengulum rapat bibirnya agar tidak bersuara lagi.


“Aku marah, sebel, kesel, pengen cekik, pengen aku remukin kamu kayak kerupuk ini.” Yuki mendesah putus asa pada kalimat yang sengaja dipenggal, “… tapi sayang.”

__ADS_1


Tersedak air liurnya, Keven menoleh spontan. Mata yang mengerjap lambat itu sontak terbelalak lebar beberapa saat.


“Apa yang aku rasakan masih sama.”


Yuki mendongak pada gumpalan awan di langit biru. Menerawang kapan matahari akan muncul setelah sebuah awan putih tebal itu bergerak lebih jauh. Sedangkan kerupuk udang di tangan kembali masuk dalam plastik, tergeletak di sisi kosong kursi panjang yang diduduki.


“Ternyata hatiku tetap berbunga-bunga. Jantungku masih berdebar lebih keras saat bertemu kamu. Tapi kadang juga sakit atau mungkin aku takut … mantan pacarku aja masih jauh lebih baik dari kamu, bahkan seribu kali lebih baik. Anehnya yang aku rasa seribu kali lebih baik bisa semudah itu diganti dengan yang seribu kali lebih baik lagi. Tapi kenapa kamu nggak bisa terganti?”


Percayalah jantung Yuki berdebar kencang. Suara lantangnya bergetar. Tangan terkepal erat di atas paha nyatanya sebagai pengendali emosi. Ia ingin menangis, bukan karena bersedih. Namun entah emosi apa yang sedang menggerogoti.


Sementara sorot teduh Keven berembun. Dadanya sesak, tapi tidak sakit. Ia tercekat, namun tidak menderita. Keven gemetaran meraih sepasang telapak tangan Yuki yang dingin. Seandainya gelak tawa tidak terbelenggu penyesalan, mungkin Yuki sudah diajak menari berputar dalam dekapan.


Tapi kini, Keven memilih menunggu pembicaraan yang tampak belum terselesaikan. Sedangkan Yuki diam tanpa perlawanan, ia mencoba menurunkan pandangan pada anak-anak yang bermain perosotan, sungguh tawa mereka sangat lucu.


“Kamu tau sesenang apa aku bisa lihat kamu di depan restoran saat itu? Ah, dia ternyata memang sebaik ini, itu yang terlintas di pikiranku. Rasanya aku mau sok kenal sok dekat. Tapi buat apa aku bilang kita pernah ketemu? Kamu bahkan kelihatan biasa aja. Nggak penting banget, kan? Karena memang aku cuma orang asing.”


Yuki terkekeh. Bibirnya mengembangkan senyuman lebar. Akan tetapi mata jernih gadis itu berkaca-kaca. Perlahan ia kembali berkata, “sayangnya orang asing untuk kamu saat itu udah jatuh cinta. Gampangan banget ya aku jatuh cinta cuma gara-gara lemon tea. Padahal banyak loh cowok yang ngejar-ngejar aku, daun muda semua lagi.”


Menelan air liurnya dengan susah payah, Keven tanpa sadar ikut terkekeh. Ia jelas sedang menertawakan keberuntungan yang sempat disia-siakan. Getir batinnya mengenang kisah lama yang sebegitu pahit.


"Karena takdir kita memang bersama," lirih Keven dengan suara serak.


"Takdir? Entahlah ... yang aku ingat dengan bodohnya aku masih ingin berjuang, berharap suatu saat kamu mau melihat aku. Nggak banyak, sedikit aja. Sampai akhirnya aku benar-benar tau, kamu nggak seberharga itu untuk aku perjuangkan. Kamu yang nggak bisa menghargai usahaku nggak pantas memiliki aku. Tapi aku terlalu berat melepas kamu. Ya sampai di titik aku ngerasain patah hati lainnya dan sulit untuk menerima semuanya."


Keven menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya geram, tentu pada dirinya sendiri. Sementara tangannya tetap menggenggam erat tangan Yuki yang perlahan berusaha membebaskan diri. Namun sungguh mengejutkan, Yuki tidak pergi. Ia justru mengusap lembut punggung Keven.


“Ciyee, melow, mau nangis ya? Hehe ... aku udah rembes. Butuh tisu. Ingusku udah mau jatuh." Suara parau Yuki tiba-tiba menyeletuk riang diselingi tarikan kuat cairan di hidung yang memerah.


Menggeleng dengan helaan nafas pelan, Keven buru-buru melepas kaosnya. "Pakai ini."


Sontak tanpa basa-basi Yuki langsung menyambar kaos Keven. Membuang cairan bening yang memenuhi rongga hidung.

__ADS_1


__ADS_2