
“Adek Leo lucu kan, Princess?” tanya Yuki dengan mata berbinar. Merendahkan tangan sebelah kiri, berusaha menunjukkan wajah terlelap Leo pada Elly.
Bibir bayi kecil itu terlihat mengecap-ngecap pelan, namun jelas tidak terusik oleh segala macam suara berisik. Bahkan hanya merespon dengan geliatan kecil sambil mendekap perut membulat sang Mama.
Mengangguk, Elly menatap Yuki sekilas lalu beralih memeluk kaki Bundanya. “Iya, yucu. Idungna kecik … gini," celoteh Elly pada Ara.
“Sama dong kayak hidung Kak Elly, kecil, segini,” balas Ara menirukan isyarat tangan mungil buah hatinya. Sedikit menggoda gadis kecil yang spontan menggeleng tegas.
“Endak, Unda. Eyi be-caaall kayak Yayah … Yah mana?” Memiringkan kepala, kedua sisi telapak tangan Elly menengadah. Bola mata jernih itu enggan menjelajah, masih menatap lamat Ara yang perlahan turun dari kursi, menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil itu.
“Itu siapa di sana?" Tunjuk Ara. "Ayah, bukan?”
“Yayaah!” seru Elly, putri kecil Ara yang melompat girang. Lantas kembali bersuara lantang sambil menunjuk balita yang baru saja datang digendongan Saka. “Unda, Gaga. Ada Gaga. Boyeh cana?”
Dengan sekali anggukan Ara, kaki mungil Elly dalam sekejap melangkah selebar mungkin menghampiri Rava. Meneriakkan dua sampai tiga kali nama Angga. Menyuguhkan pemandangan super menggemaskan di mata kedua perempuan bersahabat yang tengah sama-sama hamil di awal trisemester kedua dan ketiga.
“Sumpah gemoy kali anakmu, Ra. Fix jadi mantu aku. Jodohin yuk?"
“Kalau berjodoh, Ki. Asal anak-anak mau, bukan paksaan kita.”
“Jadi pengen maksa takdir buat garis jodoh anak-anak kita.”
“Percaya aja, jodoh mereka suatu saat nanti pasti yang terbaik. Lagi pula anak-anak masih kecil. Nyedot ingus sendiri aja masih belum lancar. Berjodoh atau nggak, mereka tetap anak-anak kita, kan?”
“Bener sih. Tapi kadang aku pengen serakah.” Angguk Yuki disertai helaan pasrah. Matanya tetap tertuju pada Elly yang bergelayut dengan tawa riang di gendongan Rava. Berceloteh khas suara cadel di tengah bapak-bapak muda serta para lelaki lanjut usia, ada Papa Leigh serta Om Yudith dan sanak saudara Ara lainnya.
"Apa aku bikin anak cewek aja ya?" celetuk Yuki seolah lupa jika dirinya kini sedang berbadan dua.
"Yang ini aja belum lahir, Ki." Geleng Ara gemas. "Memang udah keliatan di USG cowok?"
"Aku makin cantik, iya kan? Kata orang biasanya hamil cowok. Waktu Leo juga glowing banget. Kinclong, mulus, gumush, pipi tembem kenyal-kenyal kayak gummy bears. Tapi ada yang bilang kalau ibunya doyan ngambek hamil cewek. Jadi bingung cetakan yang ini cewek atau cowok lagi."
"Baru empat bulan."
"Iya." Angguk Yuki. “Ngomong-ngomong Pak Rava kelihatan banget masih gak suka sama suamiku. Matanya itu loh kadang-kadang kayak keluar pisau, silet sama setan waktu lihat Mas Keven. Bener-bener deh, orang bucin itu beda level.”
Meringis, Ara tampak serba salah pada Yuki.
“Santai aja. Salah Mas Keven juga kok. Waktu itu emang bener-bener kacau. Siapa sih yang bakal sangka ibu hamil kalem banget di depan aku ini orangnya brutal nggak karuan kalau ngamuk," ucap Yuki dengan senyum dan gelengan singkat.
"Tapi aku masih agak kaget Pak Rava dendamnya sampai bikin Mas Keven kapok. Sampai udah gak mau sok ide buka minimarket lagi." Yuki terkekeh. "Katanya lebih baik fokus bisnis kuliner aja buat tabungan anak-anak nanti."
"Kalau mau masukin cabang ke tempat Mas Rava, Ki. Punya Dimas juga lumayan rame outlet jajanannya."
"Sebelumnya makasih banget, tapi nggak deh, Ra. Mas Keven malah pengen buka model kaki lima lagi. Targetnya lebih luas," tolak Yuki halus. Sejenak menghela nafas pendek lalu kembali memperhatikan interaksi Keven dan Rava.
“Untung sekarang mereka udah bisa ngobrol bareng. Gak kebayang gimana nasib Mas Dion kalau Mas Keven aja udah segitu didendamin Pak Rava,” gumam Yuki tiba-tiba diselingi senyuman penuh makna.
“Memang Dokter Dion kenapa?”
__ADS_1
“Hm?” menoleh dengan kekehan geli tersemat di bibir, seketika Yuki tersadar bahwa sahabatnya ini tidak pekanya kelewat parah.
“Oh, nggak … itu,” jawab Yuki kelabakan, “apa itu kamu masih panggil adik ipar pak dokter? Nggak panggil dek, mas atau apalah gitu selain dokter Dion?”
“Apaan sih Ki, tiba-tiba … aneh rasanya mau panggil yang lain. Dokter Dion juga kayaknya udah terbiasa dipanggil gini ya jadi biasa aja sih.”
“Terus rencananya kapan?” Membulatkan mata dengan ekspresi super kepo, Yuki berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Nikah? Kabarnya habis aku lahiran.”
“Habis kamu lahiran berarti aku lagi hamil tua dong? Nikahnya di sini, kan?”
“Katanya gitu. Tapi kami juga belum tau pasti. Kita tunggu aja ya kabar baiknya. Semoga lancar sampai hari H nanti.”
“Semoga deh di sini. Biar aku bisa kondangan. Lagian ponakannya masih merah gak mungkin bisa dibawa pergi naik kapal. Gak nyangka banget Mas Dion akhirnya sama Kak Anna.”
“Iya-ya, kamu kan udah kenal Kak Anna lebih dulu,” sahut Ara dengan anggukan kecil. Lantas mengernyit pada Elly yang kegirangan berjalan cepat ke arahnya.
“Unda … nih.”
“Apa ini, Sayang?”
“Nyam-nyam enak. Om kacih Eyi ima beyuang. Ini oyen, meyah, unu, hijau, meyah agi.”
“Oya, Om siapa yang kasih?”
“Itu … Om itu, Unda. Om punya Gaga. Upa eyi namana.”
“Iya. Om Aka.” Seketika mata Elly berbinar. Bibir mengerucutnya tertarik membentuk senyuman lebar.
“Elly udah bilang terima kasih sama Om Saka?”
Elly mengangguk. “Udah, Unda. Ini kaya Om Aka ada jeyuk, yobeyi, ang-guuurr cama … apa ya ini? Unda?”
“Apel?”
“Iya, Unda benen, pinten. Apen ini.”
“Apel, Nak. Bukan apen. A-pel," koreksi Ara.
“Iya, a-pen.”
"Apennya enak?" tanya Yuki sambil meniru suara Elly.
“Jangan diikuti ejaan dia, Ki. Nanti tambah lama lancar ngomongnya," tegur Ara.
"Hehe, lupa." Menyengir Yuki merespon teguran Ara. "Princess lidahnya masih kepleset di L ya? Sini Mama ajarin. Kita coba panggil adek Leo, ya? Mama ajarin mau, kan?"
Menoleh pada Ara, Elly tampak menyandarkan badan di kaki sang Bunda. Mengangguk ragu kala Ara telah lebih dulu memberikan anggukan izin padanya.
__ADS_1
“Ra, gendongin jagoan sebentar,” pinta Yuki sambil mengangsurkan Leo dengan hati-hati pada Ara. Disambut dengan uluran dan dekapan lembut agar Leo tidak kaget dan terbangun.
Dalam sekejap Yuki sudah berjongkok di depan Elly. Mengusap puncak kepala gadis kecil itu dengan gemas. Menarik nafas dalam-dalam dan mulai mendikte ejaan secara jelas.
“Leee?”
“Yeee ….”
“O!”
“Oh.”
“Le-o.”
“Eyo.”
Terbelalak dengan senyum yang ditarik segaris, Yuki menahan kekehannya.
“LE-O.”
“EYO.”
“LE-O LE-O!”
“Eyo, Eyo …,” sambung Elly yang hari ini genap berusia dua tahun dengan semangat. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Sebelah kaki menghentak sebagai tanda keseriusan. Permen berwarna-warni dan beraneka rasa mendadak terlupakan meski terus digenggam erat.
“Susah ini, susah,” gumam Yuki sambil menggeleng.
“Cucah ini, cucah.”
“Eh, masih ngikutin,” gelak Yuki. Sekejap ia cubit gemas pipi Elly seraya berkata, “kok lucu banget sih kamu? Susah, ya? Kita ganti panggil Alam ya? Okay?”
“Ce, Mama.”
“Astaga gemoy kali,” ucap Yuki dengan mata membulat yang berbinar. Bibirnya merekah sumringah hingga pipi tebal efek kenaikan berat badan menyembul tinggi menyipitkan mata.
“Sekarang ikutin Mama Yuki lagi ya … A-lam? Coba bilang, A-lam!"
“A-YAM!”
Menepuk dahinya, hembusan nafas panjang terbuang kasar lewat mulut Yuki.
...****************...
Loh kok ada extra part lagi? Iya, bonus karena yang favorit dan baca nambah banyak. Sekalian mau kasih undangan di bawah ini 👇
(Bukan aku yang nikah ya 🙂)
__ADS_1
Masih ingatkan sama Lintang dan Bintang? Atau banyak yang belum pada ngikutin?
Siap-siap tanggal 1 Desember nanti.