Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Mobil Goyang


__ADS_3

Lelah mendera raga yang lebih dari 24 jam menghabiskan waktunya berkendara. Menempuh perjalanan panjang yang menyita waktu demi menemukan seseorang. Siapa lagi jika bukan Saka. Akan tetapi setelah sampai kembali ke Kota B, Keven dan Yogi harus berpisah. Mereka tidak bisa melanjutkan pencarian tanpa lokasi yang pasti. Selain itu Yogi harus melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


“Huufftt ….” Menghela nafas panjang, Keven mengacak rambutnya yang masih basah. Memandang pantulan tubuh tegap dengan raut wajah yang suram di cermin kamar mandi. Keven akui, raut wajahnya terlihat muram seakan membendung kemarahan bercampur kepenatan.


Tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu di kamar mandi, Keven segera menuju lemari, mencari setelan yang pas untuk digunakan siang hari itu. Sejenak Keven teringat bagaimana dulu biasanya Yuki yang sudah menyiapkan pakaiannya. Meski tanpa kata, tapi perhatian Yuki membekas nyata diingatan Keven.


Menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, Keven baru akan pergi ke restoran menjelang siang. Namun kali ini hanya sekedar melihat laporan penjualan, selebihnya ia ingin meninjau ulang bisnis ritel yang hampir gulung tikar padahal baru mulai digelutinya.


Persaingan ketat dengan banyaknya pengusaha yang berkecimpung hampir berhasil mendepak Keven yang masih amatiran. Tidak disangka semua perhitungannya meleset. Lawannya benar-benar tangguh.


“Keven!” teriak Mama Agni menggema. Wanita tua yang entah sejak kapan pergi itu menstandar motornya dengan terburu-buru. Keven yang sudah membuka pintu mobil spontan kembali menutupnya.


“Mama dari mana? Kenapa panik gini?” tanya Keven dengan dahi mengerut. Ia meraih kedua bahu Mama Agni yang naik turun seirama dengan deru nafas tersengal nya. Jelas sangat kentara jika Mama Agni sedang dirundung amarah.


“APA YANG UDAH KAMU LAKUIN!!??” hardik Mama Agni sambil memukuli Keven berulang kali. Suaranya meninggi tanpa mempedulikan jika ada tetangga yang menyaksikan aksinya. Bahkan kondisi isi tas yang ikut terguncang menghantam punggung Keven tidak dipedulikan oleh Mama Agni. “Keveeen … Keveeeen!! Bodohnya kamu!! Kenapa, kenapa??”


“Apaan sih Ma tiba-tiba marah-marah kayak gini?” ucap Keven sambil menahan segala serangan asal Mama Agni tanpa menangkisnya. Ia jelas semakin kebingungan dengan sikap Mama Agni, namun wajah merah padam dengan garis wajah menegang itu benar-benar menggambarkan gelora amarah yang memuncak.


Plak.


Bukan tamparan langsung dari tangan Mama Agni, namun sebuah amplop coklat terlipat yang memukul wajah Keven.


“Memohon lah dengan Yuki untuk membatalkan gugatan cerai kalian!”


Deg.


“Ma-Maksud Ma-ma apa?” Keven melotot tajam. Dadanya berdesir nyeri pada sekelebat tebakan yang membuatnya bergetar ketakutan. Amplop yang sudah digenggamnya itu teremas. Keven membeku. Tidak mampu menunduk, bahkan bernafas dan menelan air liur saja bagai dihujam belati. Sangat menyakitkan.


Tersenyum miris Mama Agni tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya pada Yuki dan Keven. Ia sudah mengalah untuk tidak campur tangan berlebihan. Pernah berada dalam posisi selalu ditekan oleh mertua dan sanak saudara karena tidak kunjung hamil padahal suaminya yang bermasalah membuat dirinya belajar bagaimana sulitnya hubungan pernikahan jika dimasuki pihak ketiga, meski masih berstatus keluarga.


Tapi kini apa yang didapat dari pernikahan anaknya yang dari awal tidak wajar? Layangan gugatan cerai dari Yuki, menantu idaman yang telah menarik perhatiannya bahkan sebelum Keven memperkenalkan.


Baru saja Mama Agni menemui Yuki setelah seorang juru sita pengadilan mengantarkan relaas, panggilan sidang perceraian dengan Keven sebagai pihak tergugat. Sempat pula wanita tua itu limbung karena syok, tapi berusaha tegar dan langsung mendatangi kos Yuki. Tidak terpikir sedikitpun di otak Mama Agni untuk langsung memberondong Keven yang nyatanya menidurkan tubuh lelahnya di kamar. Hanya Yuki, Yuki dan Yuki yang ada di kepala Mama Agni.

__ADS_1


“Ini gak mungkin kan, Ma?” tanya Keven dengan tangan gemetaran. Matanya memerah dan berkaca-kaca membaca setiap bait kalimat yang tertera.


Tanpa kata Keven meninggalkan Mama Agni yang membisu. Ia bergegas untuk menemui Yuki. Sedangkan Yuki sendiri sudah siap jika sebentar lagi Keven akan datang, mencercanya dengan berbagai pertanyaan, permohonan serta mungkin tuduhan. Entahlah, ia hanya menerka saja.


Kehadiran mendadak Mama Agni sebelumnya dengan rentetan pertanyaan dan permintaan agar Yuki mempertimbangkan lagi keputusannya cukup membuat Yuki yakin jika Keven akan mendatangi dirinya.



Gadis muda itu berdandan cantik dengan blouse rajut hitam, menggerai rambutnya dan menyiapkan senyuman lebar yang menemani tatapan sendu. Namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah datar. Ia tidak bisa menarik kedua sudut bibirnya yang kelu.


Menelungkupkan wajahnya di atas lutut yang direngkuh, pikiran Yuki penuh sesak dengan berbagai praduga. Salah satunya mungkinkah Keven datang menemuinya atau hanya akan mengabaikan begitu saja. Benar, secuil kegelisahan itu nyata.


Yuki terus bersabar. Mencoba menanti kehadiran Keven yang sejatinya tengah melaju dengan kekalutan. Laki-laki itu merapalkan banyak permohonan agar semua itu hanya mimpi. Berharap kertas berlogo sebuah instansi pengadilan berisi nama lengkap dirinya dan Yuki adalah ilusi semata.


Keven menarik dan menghembuskan nafas berulang. Memandang lurus Yuki di balik gerbang besi yang telah menantinya, berdiri terpaku membalas tatapan Keven yang menghunus tajam.


Kedua manusia itu menjalarkan luka lewat sorot mata yang berbeda. Terputus karena kilau matahari mencuat dari persembunyian di sebalik awan.


Sekali lagi Keven seakan merendahkan dirinya. Meski tidak bersimpuh memohon Yuki mencabut gugatan cerai yang didaftarkan, namun getar suara dan untaian kalimat yang diucapkan memuat pinta penuh keputusasaan.


Keven terbiasa membendung air matanya, menutupi perasaan sesungguhnya. Bersikap sok acuh meski sangat peduli. Tapi saat ini ia kehabisan akal. Tidak bisa mengendalikan diri yang perlahan tergerus penyesalan.


Jauh dari kos-kosan, jauh dari keramaian, Yuki dan Keven menepi di pinggiran jalanan sepi. Keven tidak tau harus membawa Yuki bicara ke mana lagi. Ia terlalu gusar dan tidak mampu menunda pembicaraan. Sedangkan Yuki hanya ingin tempat yang sepi tanpa perlu berlama-lama dengan Keven.


Alhasil nyanyian ilalang di semak belukar menemani keheningan keduanya. Dedaunan yang menjulur panjang bergerak serempak dikala angin berhembus. Menciptakan suara lembut dari alam yang sejatinya mampu menenangkan, namun tidak bagi Yuki dan Keven saat ini.


“Kamu gak bisa. Gak akan pernah bisa. Kita saling mencintai. Sadar Yuki … Hubungan kita masih bisa diperbaiki. Apa kamu gak bisa melihat ketulusan aku? Tatap mata aku! Aku benar-benar mencintai kamu ... Kamu gak bisa seenaknya menggugat pernikahan kita!” tegas Keven dengan sorot mata nanar, menatap Yuki yang sedikitpun enggan melirik ke arahnya.


“Batalkan gugatan kamu! Aku janji akan berubah sesuai kemauan kamu. Ayo kita perbaiki lagi. Aku yakin kamu gak serius dengan ini semua. Kamu hanya marah, kan? Jawab, Ki! Bilang aku kalau kamu gak serius dengan keputusan gila ini!” cerca Keven bertubi-tubi dengan suara meninggi yang parau.


"Di sini aku hanya minta kamu gak kembali egois,” lirih Yuki sambil menepis kasar cekalan tangan Keven. Ia menatap singkat mata Keven yang memerah. Menguatkan hati, tekad dan lidah yang kelu untuk berucap.


“Dulu kamu ikat aku sesuka hati tanpa cinta dan rasa yang pasti. Mengabaikan aku yang mulai mengikis perasaan yang teramat menyedihkan,” lanjut Yuki dengan suara serak. Menjeda kalimatnya untuk memasok udara ke paru-paru yang terhimpit sesak. “Ingatkah kamu jika ingin menunjukkan pada dunia bagaimana aku seharusnya tersiksa? Kamu berhasil. Aku kalah ... Aku harap kamu rela melepas aku.”

__ADS_1


“Nggak … Gak, Ki. Kamu gak bisa gini. Aku yang kalah. Aku jatuh cinta sama kamu. Maafkan aku … Aku memang salah. Sangat-sangat bersalah. Aku bodoh dan terlalu egois. Tapi aku mohon jangan siksa aku dengan keputusan kamu ini,” pinta Keven mengiba.


“Aku gak sanggup bertahan lebih lama lagi … Aku gak mau.” Menggeleng kuat Yuki menolak permohonan Keven.


“Setidaknya jangan mengingkari kesempatan kedua yang aku dapatkan. Aku berhak berjuang. Tapi kalau kamu bertahan dengan keputusan ini, sama aja kamu juga egois. Aku udah berusaha dan akan terus berusaha, jadi jangan pernah kamu berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini!”


“Apa kamu tau apa yang aku suka? Apa kamu pernah memperhatikan setiap hal kecil yang aku ucapkan? Kamu bahkan lupa aku pernah bilang gak suka labu. Tapi apa?” Menghela berat Yuki mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kalimat yang tiba-tiba dilontarkannya mengandung besar kekecewaan yang tidak akan pernah bisa Keven bayangkan. “Aku yakin kamu suka, itu isi chat kamu."


Benar, itu pesan yang kemarin Keven kirimkan untuk Yuki setelah meminta orang restorannya mengantarkan dessert yang baru-baru ini kembali melonjak penjualannya di salah satu cabang restoran miliknya. Mencelos Keven mengingat dengan jelas senyuman puas yang kemarin menghias bibirnya.


“Sepele bukan? Tapi hal kecil itu cukup menjelaskan kalau kamu gak mengingat sedikitpun tentang aku yang gak penting ini ... Kita? Aku benar-benar berharap bisa menyebut kata kita untuk aku dan kamu. Tapi nyatanya kata kita itu hanya berisi kehampaan. Terdengar gak pantas karena ternyata aku gak bermakna di pernikahan ini." Kembali Yuki menghela nafas berat. Melirik dari sudut ekor mata Keven yang menatap lekat dengan genangan air mata sambil menggigit bibir bawahnya.


"Pudding labu, hahaha … Aku tau dessert itu best seller di restoran kamu. Aku juga tau kalau Kak Alia-," kata Yuki tertahan. Tenggorokannya tercekat. Ia kesulitan berucap. Udara seakan menjadi racun yang membeku, membuatnya tidak ingin untuk menghirup, enggan membuka katup pernafasan guna memasok ke dalam paru-paru barang sedetikpun.


Yuki menyerongkan badannya. Mengangkat tangan dengan jari telunjuk teracung. Ia tekan berulang kali dada Keven sambil berkata, "tanpa sadar kamu selalu terbayang semua kebiasaan Kak Alia. Bukan hanya aku yang ada di sini! Hanya baru-baru ini kamu memaksa namaku terukir di hati kamu! Sadarlah kalau aku gak sepenting dan berharga itu buat kamu! Cukup … Cukup kita sudahi saja.”


Luruh air mata Keven. Ia memaksa Yuki masuk ke dalam dekapannya. Menggumamkan permohonan maaf sampai mengiba bertubi-tubi. Meski jelas gadis itu memberontak hebat hingga menciptakan atraksi mobil goyang yang membuat seorang pengendara asing mengernyit curiga.


Keven benar-benar tidak mengingat jika Yuki pernah memberitahu tidak suka labu. Ia hanya menyadari jika Yuki juga pecinta hidangan manis, sama seperti dirinya. Kini hanya sesal yang tersisa dari kejadian yang tampak sepele namun melukai perasaan Yuki untuk kesekian kalinya.


...****************...


*


*


*


Untuk yang ingin menggerebek Keven dan Yuki dipersilakan mendemo kolom komentar😄


Oh ya, ternyata setiap paragraph bisa di komen ya sekarang. Udah kayak lapak sebelah, lapak W😃


Terima kasih ya semuanya udah menanti dengan sabar kisah Yuki ini🥰

__ADS_1


__ADS_2