Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
3 Hari 11 Jam 20 Menit


__ADS_3

Yuki mengerjap cepat dengan nafas terengah. Ia baru saja bermimpi menjadi tali tambang yang ditarik kasar oleh Keven dan Dion dalam lomba peringatan hari kemerdekaan. Entah siapa yang menjadi pemenang, Yuki tidak bisa menebak. Pasalnya Dimas yang tiba-tiba hadir memutus tali tambang dengan mesin pemotong rumput berhasil menyentak Yuki dari alam mimpi.


"Aneh," gumam Yuki sambil melempar kasar selimut yang dikenakan. Ia terburu-buru berlari ke kamar mandi untuk buang hajat. Rutinitas pagi yang tidak mungkin terlewatkan meski ia sudah diburu waktu sekalipun.


Sedangkan di tempat lain di waktu yang hampir bersamaan Dion sudah duduk manis di rumah berlantai dua. Bertamu pagi-pagi buta dikala embun saja masih enggan terjatuh dan menguap dari permukaan dedaunan.


Menatap jarum jam yang terus berputar di pergelangan tangan, Dion mendengus sebal. Sudah hampir setengah jam ia menanti pasangan pengantin baru turun dari singgasana. Kini Dion benar-benar yakin janji berkunjung ke makam Ayah dan Bunda terancam diundur atau mungkin saja dibatalkan.


“Ngeteh dulu, Yon. Nanti sarapan di sini aja,” celetuk Tante Lauritz sambil menyuguhkan seteko teh manis beserta 4 cangkir di atas nampan.


“Iya, Tante,” sahut Dion cepat sambil mengangguk sopan. Ia menegakkan punggungnya yang sempat bersandar gusar.


“Panggil Mama, jangan Tante. Kamu sama Rava udah jadi anak Mama,” kata Tante Lauritz mengoreksi panggilan Dion terhadap dirinya.


“Hehe … Iya, Ma,” balas Dion kikuk. Sejenak ditolehkan wajah yang sejatinya segar bugar namun kentara bosan menanti pada suara derap langkah kaki yang menuruni anak tangga.


“Abang …,” panggil Dion spontan. Ia berdiri menghadap Rava yang masih menyampirkan handuk di bahu dengan rambut basah.


"Pagi, Ma ...," ucap Rava pada mertuanya, mengabaikan sapaan Dion yang terdengar penuh kelegaan.


“Sana ngeteh dulu sama Dion. Mama mau bangunin Papa. Masih ngorok itu Papamu,” ucap Tante Lauritz sambil menepuk dan mendorong pelan lengan Rava agar mendekat pada Dion. Sejurus kemudian wanita tua itu berlalu meninggalkan kedua kakak beradik itu di ruang keluarga.


“Kamu udah lama datang?” kata Rava sambil meneliti Dion dari ujung kaki hingga puncak kepala. Terlihat setelan kasual celana jeans biru tua dipadukan kaos hitam polos menjadi pilihan yang Dion kenakan. Tidak ketinggalan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kiri menambah tampilan sederhana Dion tampak mewah.


Iya, benar-benar mewah karena semua yang menempel di tubuh Dion bukan barang murahan.


“Belum, Bang. Ini baru bayangan aku aja yang datang … Padahal tadi lewat habis mandi juga ada aku,” jawab Dion asal dilanjutkan gerutuan kesal. Mendongak menatap ujung anak tangga, Dion kembali berkata, "kakak ipar aku mana?”


Sontak pertanyaan dan raut wajah penasaran Dion memicu kerutan halus di dahi dan kedua alis Rava.


“Aku cuma tanya, Bang." Dengus Dion sambil menggeleng jengah.


‘Level cemburunya makin gila,’ lanjut Dion menggerutu dalam hati.


"Kamu libur kan hari ini?" celetuk Rava mengalihkan pembicaraan.


"Setengah hari aja. Aku ada pasien jam 2 siang nanti."


“Udah lama kita nggak ke tempat Ayah, Bunda. Kamu yakin waktunya cukup?”

__ADS_1


“Kalau kita berangkat pagi ini pasti cukup … Ara masih tidur?”


“Iya …,” jawab Rava singkat, terjeda oleh seulas senyum yang seketika merekah, “Ara masih tidur.”


“Udah gol ya?” bisik Dion yang langsung mendapat lirikan tajam Rava.


Menyipitkan matanya, Dion berdecak sok sebal sambil berkata, “ckckck … Abang parah. Udah tau hari ini ada perjalanan jauh malah di gas pol. Tahan dulu kenapa Bang sampai di rumah baru.”


“Berisik!” ketus Rava sambil menyentak bahu Dion. Dapat Dion lihat daun telinga saudaranya itu bersemu merah, ditambah lagi gestur salah tingkah yang jelas tidak bisa disembunyikan.


“Jadi ini pergi atau batal?” tanya Dion nyaring pada Rava yang berlalu meninggalkannya. Bahkan laki-laki yang lebih tua 4 tahun dari Dion itu hampir sampai di ujung anak tangga teratas.


Terpaku tanpa jawaban, Dion hanya bisa menyugar rambutnya sambil mengulas senyum lebar. Sejenak ia terkekeh pada kekosongan yang tiba-tiba menyeruak di dada. Kembali Dion mendongak, menatap lantai dua yang hening. Dion tau perasaannya masih terusik bayangan sang kakak ipar.


'Benar, urutannya salah. Harusnya aku yakin dengan hati aku dulu.' Membatin Dion merutuki kecerobohan yang sudah ia lakukan terhadap Yuki.


...----------------...


2 Hari kemudian …


Ponsel Yuki bergetar tepat pada pukul 3 lewat 20 menit di pagi buta. Tentu tidak Yuki sadari. Gadis itu terlelap dalam mimpi indah meski sempat kelimpungan memikirkan perkataan Dion yang akan menanti jawaban. Entah ungkapan itu serius atau hanya sekedar bualan, namun jelas berhasil mengganggu pikiran Yuki.


📩


Mas Dion


Waktu habis.


“Maksudnya?” gumam Yuki dengan sebelah alis dinaikkan saat melihat sepenggal pesan singkat Dion yang muncul di notifikasi layar kunci.


Mengabaikan pesan Dion, Yuki bergegas menyiapkan dirinya untuk bekerja. Ia butuh bergerak cepat agar tidak terlambat, memburu waktu sarapan dan tentunya agar tidak terjebak macet. Dalam sekejap gadis itu sudah berdiri di depan pintu kamar kos yang baru saja dikuncinya.


“Pagi ….”


Klontang …


Terperanjat menjatuhkan kunci motor dari genggaman yang membentur knop pintu, Yuki bengjengit dengan mata terbelalak. Suara bariton yang terdengar riang menyapa bagai dentuman klakson truk gandeng. Sontak Yuki membalikkan badan, melebarkan kelopak mata pada sosok yang berdiri tegap di hadapannya.


“Mas Dion ngapain pagi-pagi ke sini?” ucap Yuki dengan suara meninggi, jelas menyiratkan kekesalan atas rasa terkejut yang dialami.

__ADS_1


Sedangkan Dion sengaja mengetuk permukaan jam tangan dengan telunjuk kanan, bergerak pelan menimbulkan bunyi konstan. Ia terus melakukan hal itu seraya berkata, “waktu kamu udah habis. Udah lewat dari 3 hari 11 jam 20 menit yang aku kasih.”


‘Wh-what?’ ucap Yuki dalam hati. Ia yang sudah terperanjat kaget atas kehadiran Dion di depan kamar kosnya kini bertambah terkejut dengan penuturan Dion.


“Kamu gak mau pura-pura lupa, kan?” tanya Dion dengan tatapan penuh makna. Menyorot curiga sambil bersedekap dan memicingkan mata pada Yuki yang terbengong bingung.


Meski sempat bergelut dengan kegalauan baru, di sini lah Dion berdiri saat ini. Bukan karena tidak ingin menjilat ludahnya sendiri, namun 2 hari belakangan ia sudah berpikir matang-matang dan mantap pada keputusan ingin membuka lembaran baru sesuai ajakannya pada Yuki.


Jika bukan karena Yuki, Dion yakin keinginannya untuk move on tidak akan pernah terwujud. Maka dari itu tidak akan ia sia-siakan percikan rasa yang perlahan timbul. Karena hanya akan ada dua pilihan, menjaganya menjadi kobaran yang lebih besar nan menghangatkan atau mengabaikannya hingga padam dan berakhir membeku seorang diri.


“Hufft ….” Menghembuskan nafas pelan namun penuh beban, sekejap Yuki memejamkan matanya. Detik berikutnya ditatap Dion yang tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi sehat yang nyaris membuat Yuki gagal fokus. “To the point aja ya, aku gak bisa.”


Mengangguk beberapa kali, tidak ada raut kecewa, Dion tetap bersikap tenang. Ia seakan sudah memprediksi dan mengerti jalan pikiran Yuki.


“Bukan gak bisa, tapi kamu gak mau. Aku juga sadar kalau aku terlalu terburu-buru.”


“Satu hal lagi yang perlu Mas Dion ingat, aku ini janda. Jadi lebih baik cari perempuan lain yang belum pernah menikah. Aku yakin banyak perempuan yang lebih matang dari aku udah ngejar-ngejar kamu.”


“Penolakan kamu terlalu klise. Kenapa juga kamu harus menekan status janda? Nggak ada salahnya menjadi janda. Jadi jangan merendahkan diri karena status janda kamu itu. Mungkin memang belum saatnya kamu ingin membuka lembaran baru dengan orang baru pula, tapi kamu gak boleh merasa rendah diri kayak gitu.”


“Aku nggak merasa rendah diri, cuma berpikir lebih realistis aja," balas Yuki cepat. “Udah ya, aku harus berangkat sekarang. Keburu telat nih.”


“Kamu mau dorong motor sampai tempat kerja? Kuncinya masih di lantai itu,” ucap Dion menghentikan langkah Yuki yang terburu-buru menuju motornya.


“Eh, iya … Mas Dion sih bikin aku lupa!” sungut Yuki menyalahkan Dion. Gadis itu kembali menghentakkan langkah kaki dengan kasar dan lebar, menghampiri kunci motor yang terjatuh. Diraihnya sambil merundukkan badan. Tentu dalam sekejap saja kunci itu sudah dalam genggaman Yuki yang kini menegakkan punggung, berjalan melewati Dion dengan kepala tetap menunduk canggung.


“Makan siang nanti aku jemput," celetuk Dion sambil berjalan mengekori Yuki.


“Ng-”


“Gak ada penolakan,” sela Dion memotong kata di ujung lidah Yuki. “Aku kasih kamu kesempatan sekali lagi untuk berpikir. Gak masalah kalau kamu tolak sekali lagi. Tapi lebih baik kamu terima aku. Aku yakin kita bisa mulai semua ini dari rasa nyaman.”


“Mas Dion resek, ya?!" cibir Yuki kesal dengan bibir mencebik. Gadis itu menatap sinis Dion yang tersenyum tipis. Kesabarannya mendadak menguap begitu saja.


Sontak pagi indah Yuki seakan dipenuhi gelegar halilintar akan bayangan dirinya terjebak macet. Waktunya yang mepet sudah banyak tersita atas kehadiran Dion yang jelas tidak menanti sebuah penolakan.


"Sayang banget waktu deketin Ara kenapa nggak seagresif ini, jadi ketikung, kan," gerutu Yuki sembari menaikkan standar motornya.


“Takdirnya bukan sama Ara, mungkin memang untuk ketemu kamu,” sahut Dion santai. Spontan membuat Yuki kembali menghadiahkan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2