
Kesal dan tawa yang sempat menemani Yuki sedetik kemudian lenyap. Beberapa saat setelah perutnya terisi sepotong roti langsung bergejolak perih, nyeri dan mual. Menahan rasa asam sedikit pahit di pangkal lidah, Yuki menelan paksa saliva nya.
Sempat terpikir apa mungkin roti itu kadaluarsa, namun deretan angka berwarna hitam yang samar dan tekstur roti yang masih lembut cukup menjelaskan roti itu baru 2 hari yang lalu dipasarkan.
“Udah yuk ke kelas, bentar lagi mulai.” Suara Ara membuyarkan fokus Yuki pada sensasi kurang mengenakkan di dalam rongga mulutnya.
“Kalian duluan aja, aku mau ke toilet.” Ucap Yuki sambil meraup tas nya terburu-buru, mendekap erat sambil membekap bibir yang sengaja dilipat masuk. Rasanya ada sesuatu yang mendobrak keluar dari kerongkongannya.
“Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Ara khawatir.
“Mual banget, hoek..” Jawab Yuki cepat tanpa menoleh ke belakang, menahan rasa mual yang bergejolak hebat. Tidak lagi bisa menggubris ucapan Dimas yang masih terdengar di telinganya perihal ‘anak pre-order’.
Brak.
Berlari sekuat tenaga, Yuki mendorong kasar daun pintu toilet hingga menimbulkan benturan, berbunyi nyaring dan mengejutkan seseorang yang diam-diam sedang melakukan penyetoran dadakan di balik bilik yang terkunci.
Hoek.. Hoek..
“Pahit..” Keluh Yuki lirih, menatap cairan bening yang keluar dari mulutnya bercampur gumpalan roti yang tidak terkunyah sempurna.
“Sakit banget perut ini. Kapok deh telat makan, gak lagi-lagi pokoknya.” Ucap Yuki sembari menggeleng pelan, berkumur dengan air kran mengalir disertai mengusap bibirnya dengan tangan yang basah.
“Kangen rumah. Kangen masakan Bibi. Kangen kamar ku sendiri. Hiks.. Hiks..” Tubuh Yuki luruh ke lantai dalam posisi berjongkok, menenggelamkan wajah di atas tangan yang terlipat.
Setegar apapun dirinya terlihat, semua hanya sebuah kamuflase. Ada titik terendah yang hanya Yuki ketahui seorang diri. Ia tidak ingin berbagi kisah yang hanya menggerus ketegarannya.
Dulu Yuki berpikir dipaksa tinggal seorang diri semenjak mengenakan seragam putih abu-abu adalah masa tersulit dalam hidupnya. Namun kini Yuki lebih baik memilih tinggal seorang diri tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Ia seakan dititipkan pada orang yang tidak tepat, meski Papa Leigh dan Mama Agni menyayanginya layaknya anak sendiri.
Entah akan seperti apa rumah tangga dari hubungan yang dipaksakan bila harus tinggal terpisah dari mertuanya, bahkan tidur di kamar yang sama saja mereka layaknya orang asing. Perdebatan dan perlawanan sengit satu sama lain yang membumbui hubungan mereka benar-benar tidak sehat.
...----------------...
“Kamu sakit?”
“Hm.” Dehem Yuki singkat, membaringkan tubuh menyamping dengan tas yang tergeletak asal di bawah ranjang.
__ADS_1
Sudah hampir seminggu Yuki sakit dan baru hari ini sang suami menyadarinya. Mungkin juga karena hari-hari sebelumnya Yuki tidak terlihat sepucat hari ini.
“Obat?”
“Belum.” Jawab Yuki lemah dengan mata terpejam.
“Siap-siap, kita ke Dokter!” Kata-kata penuh perintah itu Yuki abaikan, telinganya memang mendengar, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk merespon.
"Jangan tidur dulu, kita berangkat sekarang!"
“Gak perlu. Aku mau tidur aja setelah ini.” Tolak Yuki lirih, kepalanya berdenyut dan tubuhnya seakan diputar ke udara.
“Jangan membantah!” Suara meninggi menyentak kesadaran Yuki yang nyaris melayang.
“Huuh..!” Menghembuskan nafas berat, bibir Yuki bergetar lemah. Ia memaksa membuka matanya dengan tatapan sayu. “Kepala aku udah cukup pusing, bisa kan kamu diam dan jangan ganggu aku!?”
“Ck! Lama!”
Sebuah tarikan kuat membuat tubuh terbaring Yuki tersentak. Denyutan yang sempat mereda kini semakin menjadi-jadi seakan marah pada tubuh yang mendadak terduduk.
“Lep-..” Belum habis keluhan Yuki terucap, sebuah tarikan kuat kembali memaksa Yuki untuk beranjak dari duduknya.
“HEH!! LEPASIN!!” Teriak Yuki sekuat tenaga, mengibaskan genggaman di pergelangan tangannya yang lebih layak disebut cengkraman burung bangkai kelaparan.
“Diam!!” Satu kata perintah terucap dingin dari wajah datar dan sorot mata menajam. Menarik paksa Yuki dengan langkah lebarnya keluar dari kamar.
“Lepas..!! Sakit!!” Keluh Yuki lemah sambil sesekali memejamkan matanya. Menuruni anak tangga mengandalkan insting dan pasrah bila ia akan jatuh terguling.
“Maaf..” Terbelalak Yuki menatap sosok yang mulai mengendurkan genggamannya. Meski pandangannya mengabur, Yuki dapat melihat tatapan menyesal yang tersirat dari bola mata yang memandang sendu ke arahnya.
Dan apa tadi katanya, ‘maaf’? Yuki merasa komplotan rasa sakit di kepala dan perut mulai membuat dirinya berhalusinasi. Mana mungkin laki-laki arogan yang menjebaknya dalam pernikahan gila mempunyai belas kasih dan mau berkata maaf, begitu pikir Yuki.
“Mas..!! Kenapa kamu tarik istri mu kayak gitu!?” Teriakan Mama Agni menggema di lantai dasar, berkacak pinggang melotot galak pada pasangan suami istri yang baru meniti 7 turunan anak tangga.
“Dia sakit Ma, tapi bandel gak mau diperiksa ke Dokter.” Adu nya pada Mama Agni.
__ADS_1
“Bisa kan kamu gendong atau bujuk baik-baik!?” Ucap Mama Agni kesal, ia khawatir bila anak dan menantunya terjatuh dalam perang tarik-menarik yang terlihat memanas. Bisa gawat bila sudah ada calon cucu yang dititipkan dalam rahim Yuki, begitu pikir Mama Agni.
“Udah, Ma. Dia aja yang terus-terusan membantah.” Keluhnya lagi, sedangkan Yuki hanya mampu terdiam, bergeming meresapi rasa sakit yang membuat tubuhnya semakin lemah.
“Yuki, nurut aja sama suami kamu. Sakit kan gak enak, Nak. Bukannya Mama juga udah kasih tau buat kamu istirahat gak usah kuliah dulu hari ini? Udah beberapa hari kamu lemas gak selera makan.” Tutur Mama Agni lembut, mengusap kepala belakang Yuki dengan penuh kasih.
Jelas pernyataan Mama Agni mengejutkan satu sosok yang baru menyadari bahwa dirinya tidak becus menjadi seorang suami. Dirinya terlalu acuh dan merasa Yuki baik-baik saja karena masih bisa membantah dalam setiap perdebatan mereka.
“Tapi Yuki mau tidur aja, Ma. Paling kecapekan biasa. Cukup minum obat sakit kepala sama istirahat juga sembuh.” Rengek Yuki manja, biasanya saat dirinya sakit hanya ada Bibi asisten rumah yang ditugaskan sang Mama untuk mengurusnya.
Hal itu juga akan terjadi bila Yuki meminta sang Bibi menemani atau jika Yuki sempat mengabari Mama nya yang tinggal di luar Kota mengikuti sang Papa bertugas. Maklum saja Bibi asisten tidak bekerja 24 jam per 7 hari atau hanya datang dari pagi hingga menjelang sore. Apalagi ada keluarga dan anak kecil di rumahnya sendiri yang harus diurus.
Selain itu, Yuki cukup bersyukur selalu ada Dimas dan Ara yang selalu mendukungnya. Terkadang kedua temannya itu diam-diam sudah membantu Yuki mengerjakan tugas kuliah yang keteteran karena dirinya sakit.
“Udah bawa aja, Mas. Mungkin udah ada tanda-tanda cucu Mama on the way jadi Yuki lemas.”
“Gak mungkin, Ma.. Kit-..” Ucapan itu terhenti dari bibir yang terlipat masuk. Mengulum rapat bibirnya yang nyaris keceplosan, ia mendapati Yuki melirik sinis lewat sorot mata yang menyipit sayu.
“Ya siapa tau aja mungkin, kalian nikah udah hampir 4 minggu. Semoga aja manjur dan mantul ritual yang kamu lakuin Mas.” Ucap Mama Agni penuh harap, ia sudah tidak sabar menantikan hadirnya tangisan bayi.
Selain itu ada ego yang ingin Mama Agni tunjukkan pada para tetangga bahwa putra nya bukanlah seorang pebinor. Putra nya menikah atas dasar cinta hingga menghadirkan buah hati di tengah rumah tangganya. Bahkan seorang gadis yang dinikahi alias Yuki lebih muda 8 tahun dari 'istri orang' yang disebut-sebut sebagai wanita yang putra nya dekati.
“YUKII..!!!????” Jerit kedua Ibu dan anak itu serentak, meraup Yuki yang tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Terjatuh dalam dekapan sang suami untuk kedua kalinya setelah peristiwa penjebakan sialan.
...****************...
*
*
*
Udah bisa menarik benang merah kusut di kisah Yuki?😃
__ADS_1