
“Ara, tolong udah, jangan..” Ucapnya yang dengan terpaksa meraup tubuh Ara, mendekap dan mengangkat paksa. Menyentak kasar hingga jambakan Ara terlepas dari rambut Alia dengan beberapa helai rambut Alia yang patah menyangkut di sela jari Ara.
“Mbak tolong jangan buat keributan di sini.”
“Tolong bantu dilerai.”
"Bubar-bubar.."
"Mbak gak apa-apa?"
Suara-suara itu terus terucap dan terulang dari beberapa sosok berseragam. Tentunya petugas keamanan yang turun tangan. Mereka saling merentangkan tangan membubarkan masa yang sedikit berkumpul karena penasaran dengan apa yang terjadi.
Meski tubuh Ara sudah diangkat paksa dan dijauhkan dari Alia, tapi dirinya masih terus berontak dalam dekapan seseorang hingga sebuah sentakan kasar membebaskannya. Dirinya tidak terjatuh, namun tenggelam dalam dada bidang yang ia kenali.
“Menjauhlah!” Geram suara yang terdengar dingin sangat familiar di telinga Ara.
“Mas Rava?” Ucap Ara sambil mendongak menatap laki-laki bernama Rava yang menenggelamkannya dalam dekapan dada bidang.
Menundukkan pandangan, sorot mata tajam itu berubah teduh. “Sayang kamu gak apa-apa? Ada yang luka?” Tanya Rava dengan raut khawatir, kemudian matanya terbelalak saat mendapati beberapa goresan memerah di pipi gembul Ara. Mengelus singkat dengan kernyitan seolah ikut menahan sakit, bulir-bulir keringat tampak menghiasi dahi Rava.
“Maaf Pak, bisa ikut kami ke pos keamanan terlebih dahulu bersama Mbak nya?” Pertanyaan itu terucap seakan meminta kesediaan Rava dan Ara, namun jelas tidak ada toleransi jika ditolak.
“Ayo kita selesaikan, Mas temani.” Meraih jemari Ara dalam genggamannya, Rava menatap sinis laki-laki yang sempat mendekap Ara, siapa lagi jika bukan suami Yuki yang saat ini sibuk membantu Alia yang berjalan tertatih.
“Kamu terluka.. Sakit?” Ucap Rava sembari meniup pelan pipi Ara yang terluka.
Mengernyit akibat rasa pedih yang tiba-tiba terasa, namun Ara mengabaikan pertanyaan Rava. “Yuki?” Gumam Ara saat mendapati Yuki tersenyum menatapnya. Namun jelas bukan senyum bahagia. Sejurus kemudian datang Dimas dengan kaki polos tanpa pelindung mengekori Yuki.
“Kamu kan yang suruh dia bikin aku kayak gini!!? Pecun-..”
“Alia, stop!!” Bentakan itu menyela dan menghentikan ucapan Alia. Baru juga Yuki hendak menyapa Ara, suara Alia langsung menyergapnya.
“Sampah!” Gumam Alia ketus yang masih terdengar oleh semua orang. Seakan dirinya yang paling benar dan tersakiti, sedangkan Yuki adalah si pendosa yang merupakan dalang kejahatan.
Yuki merasa malu pada pandangan semua orang yang menatap miris pada dirinya. Jika saja Alia tidak menyembur amarah pada Yuki, mungkin orang lain tidak akan tau jika Yuki adalah salah satu pemeran tersembunyi dalam keributan itu.
Rencana Ara dan Dimas gagal total untuk menghalau Yuki bertemu pasangan laknat dengan mata kepalanya sendiri. Nyatanya Ara yang ditarik ke pos keamanan memaksa Dimas dan Yuki turun tangan membebaskannya. Meski sudah ada Rava yang berstatus pacar Ara, namun keributan yang Ara lakukan akhirnya sampai ke telinga Yuki, siapa lagi kalau bukan Nita yang melaporkan.
__ADS_1
Jelas di pos keamanan terjadilah pertemuan Yuki dengan sang suami beserta makhluk halus yang dulunya berstatus atasannya saat menjadi pramusaji merangkap tukang pel saat ingin melancarkan modus mengintip sosok yang mendebarkan jiwanya di restoran.
Beruntung tidak ada serangan balasan dari laki-laki yang dihakimi Ara, jika tidak maka habislah dia karena akan dituduh balik melakukan tindak kekerasan pada perempuan.
...----------------...
“Teman kamu itu perempuan siluman ya?” Ujaran penuh kesal itu tidak Yuki tanggapi, dirinya masih asik melipat tangan, membuang pandangan dan membungkam bibir.
“Kamu kenapa gak bilang mau ke mall?”
Memutar bola matanya malas, Yuki tetap pada posisinya dan memilih diam. Sejujurnya ia enggan harus memilih pulang bersama sang suami, apa lagi baru saja keduanya mengantar Alia hingga tepat di pelataran rumahnya. Mengesalkan, tau begitu kenapa harus memaksa Yuki untuk ikut pulang bersama.
“Hm..” Deheman yang mengiringi uluran tangan menarik perhatian Yuki, sebuah kantong kertas berwarna putih diletakkan di atas paha Yuki.
“Apa ini?” Tanya Yuki yang akhirnya menolehkan kepalanya.
“Buka.” Jawabnya datar, memacu lagi mesin mobil hingga keempat roda itu bergerak menjauh dari rumah Alia.
“Aku gak suka.” Mengintip sedikit, Yuki tersenyum kecut. Dari kantong kertasnya saja Yuki sudah merasa familiar, itu adalah kantong yang sedari tadi Alia pegang. Pantas saja air muka Alia langsung merubah tidak suka saat harus meninggalkan barang itu.
“Harusnya kamu kasih ke Kak Alia aja.” Ucap Yuki datar, perasaannya hampa dan menyakini bahwa tas itu hanya sebuah sogokan yang aslinya bukan untuk Yuki miliki.
“Ck! Harusnya kamu bersyukur dan berterima kasih aku kasih tas ini.”
“Maaf, tapi aku gak suka.” Ucap Yuki sekali lagi dalam intonasi rendah, menghela nafas berat penuh beban yang tidak bisa ia lepaskan.
“Apa yang kamu gak suka? Karena Alia yang pilih? Jangan baper.. Aku minta dia pilih karena aku gak tau selera yang cocok buat kamu!”
Tersenyum miring, Yuki cukup senang jika yang diucapkan suaminya adalah kebenaran. Bisa Yuki bayangkan bagaimana kesalnya Alia sudah melambung tinggi karena sebuah hadiah yang rupanya diperuntukan untuk Yuki.
“Lagian dibandingkan tas murahan kamu itu, jelas lebih bagus tas ini! Apa kamu gak punya malu pakai barang kayak gitu?”
Dada Yuki tiba-tiba sesak, nyeri dan sakit. Entah sejak kapan kata ‘murahan’ menjadi sebilah pisau yang mampu menggoresnya.
“Tas murahan?” Gumam Yuki dengan senyum hampa.
Memang benar miliknya itu murah, tapi menurut Yuki tidak murahan. Tas yang sering dirinya borong paling mahal hanya seharga 200 ribu, itu juga tidak sampai 5 buah, hanya 3, berwarna krem, hitam dan hijau tosca. Sisanya merupakan hasil berburu diskon di platform belanja online dengan iming-iming gratisan, contohnya tas selempang yang Yuki kenakan saat ini adalah hadiah karena membeli di atas batas pembelian minimum.
__ADS_1
“Hahaha.. Cocok dong sama aku yang sering kamu katai murahan.” Ucap Yuki santai dalam tawa yang dibuat sangat riang.
“Untuk itu aku minta maaf.”
“Gampang ya minta maaf kayak gitu.” Sindir Yuki sambil melempar kantong kertas berisi tas seharga 900 ribuan itu.
“Mau kamu apa sih?” Membanting setir kemudi menepi di pinggir jalan, suasana di dalam mobil itu terasa dingin mencekam.
“Kenapa kita berhenti?” Tanya Yuki kesal sambil melotot tidak suka, namun tidak menatap lawan bicaranya.
“Lihat aku kalau lagi ngomong!!”
“Udahlah cepat lanjut lagi. aku mau pulang.” Mendengus sebal, Yuki kembali melipat tangan dan membuang pandangannya keluar jendela.
“Kita harus bicara tentang masalah tadi. Aku gak suka ya kamu malah seolah membenarkan aku selingkuh sama Alia.”
Menyandarkan punggungnya, Yuki menolehkan kepala, menatap remeh sosok yang masih mengisi hatinya. “Kenyataannya memang gitu, kenapa kamu gak suka?”
“Ah, aku tau, kamu malu kan? Masih punya malu?” Imbuh Yuki sambil menganggukkan kepala, menyetujui ucapannya sendiri.
...****************...
*
*
*
Siapkan tisu untuk bab yang meluncur besok. Itu juga kalau berhasil bikin mewek sih.
Kalau bisa siapkan juga lagu dari Rixton - Me and My Broken Heart😎
Spoilernya.. Detik-detik Yuki menyerah dan satu lagi, yang baca novel Yuki dulu baru novel Ara pasti udah jelas kena spoiler apa.🙂
Seru gak sih dikasih spoiler gini? Kalau gak besok pensiun kasih spoiler, kalau ingat.🤭
__ADS_1