
“Is … Is?” lirih Yuki. Dibenaknya ia sudah melambaikan tangan memanggil Ismi yang berdiri cukup jauh dari posisinya.
“Udah sadar?”
“Pu-sing banget … Apa ini?”
“Infus,” jawab Ismi singkat, tanpa penjelasan lainnya. Padahal jelas-jelas yang terlihat oleh Yuki adalah plester bulat transparan yang menutupi pergelangan tangan bagian dalam.
‘Infus?’ Menaikkan sebelah alisnya, Yuki mengernyit heran seraya melirik aneh ke arah Ismi.
“Di rumah sama Nek Iyut udah dibuatin bubur. Tinggal nunggu kamu sadar terus kita pulang.” Menolehkan kepala ke belakang, Ismi menjeda kalimatnya. Tampak ada sesuatu yang sedang Ismi sembunyikan. Sedetik kemudian dengan berbisik Ismi melanjutkan perkataannya, “nanti minta antar sama aku aja ya … Aku mau kabur gak bantu-bantu. Capek banget dari tadi anak-anak cowok itu kebanyakan santai.”
Spontan Yuki mendelik sambil mencebik dan menghela nafas pendek dengan kasar. Dikiranya dulu Ismi sedikit berbeda dengan tipe teman kampusnya yang familiar dengan sebutan ‘menye-menye’, namun nyatanya sama saja. Hanya Ara satu-satunya teman perempuan yang Yuki yakini kalem. Bukan kalem yang didefinisikan sebagai lemah lembut, tapi kalem karena tidak banyak omong dan mengedepankan aksi dari pada reaksi.
‘Astaga … Karakter setiap orang beda-beda Yuki. Jangan baper,’ gumam Yuki dalam hati dengan mata kembali terpejam meratapi gusi berdenyut efek sakit kepala yang menjadi-jadi.
...----------------...
“Loh … Mobil siapa?” tanya Yuki saat Ismi justru menuntun dirinya menuju sebuah mobil asing yang sudah terparkir cukup dekat di depan tenda.
“Mobil Pak Dokter. Barusan orangnya ada, tapi sekarang gak tau ke mana.” Mengedikkan bahunya, Ismi mengedarkan pandangannya. Matanya memicing meneliti setiap sisi hingga ke sudut paling jauh.
“Oke, nanti aku kabari lagi kalau ada sinyal … Siap. Aman-aman. Beres lah kalau itu ... Oke.” Derap langkah kaki yang diiringi suara mengakhiri percakapan mengejutkan Yuki dan Ismi yang masih setia berdiri mematung.
Keduanya sama-sama terbengong. Menatap lamat setiap pergerakan laki-laki itu, dari mematikan sambungan telepon, memasukan ponsel ke saku celana bagian depan hingga mengulas senyum menawan yang berhasil menjatuhkan ribuan tetesan air beraroma mint menyegarkan di jantung seseorang. Bukan Yuki, akan tetapi yang berdebar kencang jantung Ismi. Sudah sejak pertama kali Ismi tidak sengaja melihat profil Dion dirinya sudah jatuh hati.
Sedangkan Yuki mulai merangkai kilasan peristiwa yang dikiranya mimpi. Mengerjap beberapa kali, Yuki merasa kerjapan kelopak matanya gagal menghapus bayangan Dion.
“Ayo, masuk!” Membukakan pintu, Dion mempersilakan Yuki dan Ismi yang baru dikenalnya. Di bibirnya masih tersungging senyum tipis.
“Jalan, Ki!” bisik Ismi menuntut pada Yuki. Pasalnya kaki Yuki masih terpaku di tempatnya meski badannya tersentak oleh dorongan lengan Ismi yang sudah tidak sabaran.
“Masuk, Ki. Gak usah kaget gitu liat aku.” Terkekeh Dion memperhatikan raut wajah Yuki yang terkaget-kaget itu.
“Kok Dokter ada di sini?”
“Kok Dokter?”
“Eh, iya, Mas Dion ngapain di sini?” tanya Yuki lagi setelah mengoreksi panggilannya terhadap Dion.
__ADS_1
“Ngesot. Ya kerja lah … Gimana sih kamu, ck! Cepat masuk!” decak Dion disertai gelengan pelan. Tangannya mengisyaratkan panggilan agar Yuki dan Ismi cepat masuk ke dalam mobilnya.
Interaksi akrab Yuki dan Dion menyisakan gejolak pertanyaan yang membuat Ismi penasaran setengah mati. Namun mau tidak mau sementara dipendamnya.
Kini ketiga manusia berlainan jenis kelamin itu sudah duduk di dalam mobil. Dari pengaturan duduknya sekilas Dion mirip seorang sopir akibat ulah kedua gadis yang memilih duduk bersama di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan Dion banyak melontarkan pertanyaan seputar wilayah yang sedang dikunjunginya. Meskipun sama-sama pendatang, bagi Dion tentu saja baik Yuki maupun Ismi lebih memahami seluk beluk tempat baru itu dibandingkan dirinya. Oleh karena itu tidak heran Dion tertarik untuk menanyakannya sekaligus menghidupkan suasana yang bisa saja menjadi hening dan canggung.
Sikap Dion sendiri memang terkenal sangat ramah. Selain karena tuntutan pekerjaan, Dion juga merupakan individu dengan karakter extrovert. Jadi tidak heran jika dirinya mudah sekali bergaul. Sangat berbanding terbalik dengan seseorang yang sangat Yuki kenal.
“Ternyata di sini gak susah sinyal. Jauh banget dari perkiraan aku yang tadinya mikir bakal gak ada sinyal.”
“Iya, Dok. Di sini sinyal masih lancar, tapi cuma untuk 1 provider aja. Kalau pakai kartu lain juga gak keluar balok sinyalnya.” Mengangguk setuju Ismi membalas ucapan Dion.
“Oh ya, Ki … Ini obat buat kamu. Nanti sebelum turun jangan lupa dibawa.” Telunjuk kiri Dion menunjuk kantong kresek putih berisi obat penurun panas dalam plastik klip biru yang tergeletak di kursi sampingnya. “Karena kebetulan aku ada di sini, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Mungkin aja aku bisa bantu.”
“Oke, makasih banyak, Mas.” Angguk Yuki cepat, menatap pantulan sorot mata Dion dari kaca spion dalam yang tanpa sengaja bersirobok dengannya. Hanya sekejap karena aksi saling menatap itu Dion akhiri terlebih dahulu. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan lurus nan lenggang di depannya.
“Pak Dokter gak mau duduk dulu?” tawar Ismi seraya mengarahkan telapak tangan terbukanya menunjuk kursi rotan di teras depan rumah Nek Iyut.
Menggeleng dan tersenyum, Dion menolak halus tawaran Ismi. Ia lebih memilih melanjutkan perjalanannya ke Kecamatan sebelah. Berkumpul bersama teman-teman seprofesinya dibandingkan melayani gelagat gadis muda yang sudah terbaca sepenuhnya oleh Dion.
Antara cinta, persaudaraan dan kode etik sebagai janjinya atas profesi yang diemban, Dion mundur akan cinta yang perlahan terpupuk pada sosok pasiennya. Bahkan keputusannya mendaftarkan diri sebagai relawan terdapat andil besar atas hatinya yang patah.
Dion tidak sanggup melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Rava, saudara kandungnya. Mungkin belum untuk saat ini di mana Dion baru belajar melepaskan sesuatu yang belum sempat digenggam. Bohong jika Dion baik-baik saja saat perempuan yang perlahan masuk ke dalam hatinya justru cinta pertama yang sedang diperjuangkan Rava.
Karena sejatinya Dion juga sangat paham bagaimana perjuangan Rava selama ini dalam mencari Ara, gadis kecil yang selalu dibanggakan dalam setiap kisah tanpa disebutkan namanya. Gadis yang mampu menjadikan Rava layaknya penguntit yang mampu tersenyum bodoh setiap melihat potret yang tidak pernah dibagikan kepada Dion.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Dion mendengus sebal karena kembali berandai-andai jika Rava tidak pernah jujur kepada dirinya jika mereka mencintai perempuan yang sama. Bisa saja Dion tetap meneruskan aksinya mengakui perasaan dengan melepas Ara sebagai pasiennya. Karena nyatanya menjalin hubungan dengan seorang pasien yang sedang menerima konseling psikologi darinya sudah menyalahi kode etik.
...----------------...
Hari mulai berganti. Bulan yang muncul diantara kegelapan sudah menghilang, berubah menjadi terik mentari. Desa itu memang banyak ditumbuhi pepohonan, namun panas yang menggigit tidak bisa sepenuhnya tersamarkan oleh hembusan dedaunan.
“Yuuukkiiii … Bunyi lagi ponsel mu!!” pekik Aron kuat di balik pintu toilet. Ini bukan kali pertama teriakan itu menggema, namun sudah yang kesekian kalinya. Meski berulang kali pula Yuki membalas agar bunyi berisik ponselnya diabaikan saja.
“Mau buang air aja keganggu! Mana masih mules lagi!” sungut Yuki kesal. Tangannya meraih gayung dari ember hijau berisi air yang sudah ditampung untuk menyiram lubang kloset dengan posisi dirinya yang masih berjongkok.
Menyudahi kegiatannya yang terganggu dengan menahan sedikit rasa melilit, Yuki keluar dari bilik toilet umum. Dapat dilihatnya wajah menyengir Aron yang melambaikan ponsel ke arah Yuki.
__ADS_1
“Nih … Mas Keven namanya yang dari tadi telepon. Meraung gak ada habis-habisnya,” celetuk Aron sambil menyodorkan ponsel Yuki yang kembali mengeluarkan suara nyanyian musik pop.
‘Nyesal aku buka blokiran nya kemarin! Pengen rasanya aku blokir lagi nomor Demit ini!’ gerutu Yuki kesal yang hanya mampu terucap di dalam hati.
“Halo!” ketus Yuki seraya menghentakkan kakinya menjauh dari kerumunan teman-temannya yang asik bermain dengan anak-anak penduduk setempat.
Matanya yang mendelik ke segala penjuru sudah menanti jawaban dari orang di seberang panggilan telepon.
Sedangkan yang di seberang sana masih mengatur nafasnya. Kegugupan melanda begitu saja bersamaan dengan jantungnya berdebar 2 kali lebih cepat. Tadinya ia hanya iseng. Beranggapan kali ini juga berakhir dengan sapaan suara operator. Namun siapa sangka suara ketus yang menyambut panggilan itu berhasil membuat Keven membeku.
Lagi pula siapa yang bisa bertahan dengan beribu panggilan masuk yang mengalahkan gencatan tagihan pinjaman online. Jelas saja akhirnya Yuki mengangkat panggilan itu sebelum berniat untuk memblokirnya lagi.
“Aku matikan kalau gak ngomong!” ancam Yuki garang. Sudah hampir 5 detik panggilan itu hening.
[Kamu … Apa kabar?] Helaan nafas terputus-putus terdengar samar di telinga Yuki.
[Mama kangen kamu.]
Mengucek sebelah matanya yang kemudian dibulatkan pada layar ponsel yang menyala, Yuki nyaris tidak percaya pada kalimat tidak kreatif Keven. Selain itu baru pertama kalinya Keven menelepon menanyakan hal remeh-temeh, biasanya semua serba to the point berisi perintah.
Cukup lama mereka saling berbalas obrolan yang diwarnai kecanggungan. Selebihnya banyak menghabiskan waktu terdiam. Namun Yuki cukup sabar meladeninya.
[Keven ....]
[Ngapain kamu?]
“Hah? Hahaha … Gila.” Menatap layar ponselnya yang menyala sambil terkekeh Yuki tersenyum miring. Suara sapaan yang terdengar samar serta suara Keven yang cukup jelas sudah membuat sebuah bayangan menari-nari di kepala Yuki.
"Ulet bulu kesurupan belut listrik ngapain lagi di sana?!" sungut Yuki lirih. Rasanya ingin menonjok, menggigit dan memiting boneka tiruan Alia.
...****************...
*
*
*
Note : Penjelasan larangan seorang Psikolog memiliki ‘hubungan’ dengan klien/pasiennya bisa ditemukan di Kode Etik Psikologi Pasal 16 dan Pasal 77.
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki😘