Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Perang Pasta


__ADS_3

Keesokan harinya …


“Yuki …,” panggil seorang wanita yang berdiri di ambang pintu. Mengangkat tinggi kantong berukuran sedang, ia berhasil membuat Yuki mengernyit heran. Serta tidak terhindar menarik perhatian pekerja lain yang sejenak teralihkan dari kesibukan masing-masing.


Namun tidak berakhir di situ saja, hingga 2 minggu berselang masih terus terdengar panggilan serupa di jam yang sama lewat mulut orang-orang berbeda. Imbasnya Yuki menjadi pembicaraan hangat di kalangan rekan kerja selantai. Samar-samar terdengar pula bisikan halus bersambung ke divisi lain di kantor yang tidak terlalu besar itu.


“Datang lagi ini … Yuki ikut rapat di luar, jadi gimana?” ucap perempuan yang menenteng kantong box makanan berlabel restoran cukup terkenal, Lux Fantasy.


“Lagi? Enak banget yang punya pacar perhatian. Sayang banget jarang dia makan …,” ucap rekan kerja Yuki pelan, sejenak perempuan sepantaran Yuki itu berbisik, “baik juga ya pacarnya, padahal sempat ribut heboh.”


Entah siapa sosok misterius yang diklaim sebagai pacar Yuki, namun yang pasti bagi semua orang dia lah yang terus mengirim makan siang spesial ke kantor.


Sedangkan Yuki sendiri saat ini mematung enggan melanjutkan ayunan tungkai. Ia malas memasuki bangunan familiar yang menjadi awal semua masalahnya bermula. Meski di depan teras yang digunakan untuk berteduh kala itu bukan pertemuan pertama, namun dari situlah ide gila Yuki tercetus.


“Yuki, ayo!” ucap wanita dengan setelan blazer maroon dipadukan celana bahan kain senada. Kedua alisnya bergerak naik serentak seakan memberi sinyal perintah agar Yuki bergerak cepat mengikuti.


“I-iya, Bu …,” sahut Yuki terbata. Tergopoh ia sedikit terhuyung karena tersandung kaki miliknya sendiri.


Di dalam bangunan yang Yuki masuki, di sudut ruangan lain Keven berdiri membelakangi sosok wanita masa lalu yang pernah dicintai, siapa lagi kalau bukan Alia. Tamu yang memaksa menemui meski sudah diusir itu duduk pongah tanpa malu.


“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Keven sinis. Ia membuang pandangan keluar jendela kaca, menatap aneka bonsai yang sengaja disusun sedemikian rupa.


Terkekeh dengan tangan kanan menangkup bibirnya, Alia berkata, “kamu marah aku pergi tanpa kabar? Kamu kan tau aku juga nggak bisa kabur dari orang tuaku. Mereka yang selalu sibuk jadi sok peduli.”


Keven memilih diam, malas menyahuti penuturan Alia. Ia menyilangkan tangan di depan dada seraya menghembuskan nafas kasar lewat mulut. Sungguh harinya yang suram bertambah kacau karena kedatangan Alia yang sulit dihalau. Pasalnya wanita itu sempat bertindak di luar batas, berteriak histeris yang jelas mengganggu ketenangan pelanggan.


“Harusnya kamu nyusul aku … Kamu tau, aku sendirian. Seandainya dia gak pernah muncul, kamu pasti tetap perhatian sama aku,” gerutu Alia seiring derap ketukan heels terdengar mendekat. Dalam sekejap tangannya terulur mengusap lembut lengan Keven. Menyusup perlahan ke dalam belitan tangan Keven yang bersilang.


Plak!


Keven sempat mundur selangkah, menepis rangkulan Alia dengan mata melotot tajam. Namun ia tidak tega untuk mendorong sosok yang telah lama dikenalnya itu. Alhasil kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


“Kenapa?” tanya Alia sendu, tapi bibirnya menyeringai tipis. Hanya sekilas hingga tidak sempat Keven sadari.


“Di mana Rezvan?” Lagi-lagi Keven memundurkan langkah. Melontarkan tanya guna mengalihkan pembicaraan. Ia juga enggan membalas tatapan Alia yang kini sangat berbeda.


“Rezvan? Hmm … Bayi itu?” Alia memiringkan kepala, membolakan mata dengan pancaran sisi polos yang dibuat-buat. Sejurus kemudian senyum lebar merekah di bibir.

__ADS_1


“Entahlah, aku belum pernah lihat dia lagi. Aku juga penasaran …,” ucap Alia menimpali perkataannya.


Dalam sekejap lengkungan senyuman di bibir Alia turun, berubah menjadi cemberut. Sejenak pikiran wanita itu berkelana, menerawang jauh namun tampak santai dan kentara tidak peduli.


“Penasaran? Bukan untuk kamu bunuh?” cerca Keven sinis.


“Hahahaha ….” Tawa Alia pecah, menggema hampa tanpa emosi. Tidak ada yang bisa Keven simpulkan dari gelegar suara tawa, hanya kekosongan yang terlihat dari kedua bola mata Alia saat ini.


Benar, wanita itu tertawa dengan kelopak mata terbuka, tampak menyeramkan bagai penyihir jahat di buku dongeng. Detik berikutnya Alia kembali berujar, “aneh … Padahal waktu itu aku cuma mau lihat dia masih hidup atau nggak. Kenapa semua orang bilang aku mau bunuh anak aku sendiri? Susah payah dia buat aku menderita, kenapa harus aku bunuh semudah itu? Dia kan harus berterima-kasih sama aku ... Apa kamu juga ngira aku gila?”


Reflek pupil mata Keven membesar takjub pada penuturan wanita yang sedang dihadapi. Sosok lemah lembut dan rapuh yang dikenalnya telah lenyap, berganti wanita bengis memuakkan.


“Kamu memang gila, Al,” gumam Keven tidak percaya.


Rezvan, bayi malang yang hampir Alia cekik kala itu beruntung bisa diselamatkan. Masih Keven ingat tangannya yang gemetaran mendekap tubuh mungil yang menangis nyaring. Jika bukan karena Saka, ingin Keven menampar kesadaran Alia di malam ketujuh kelahiran bayi yang saat itu juga belum memiliki nama.


“Keluar kamu dari sini!” perintah Keven dingin. Tangannya menunjuk lurus pintu yang sedari tadi dibiarkan terbuka. Sengaja agar tidak kembali bermunculan gosip romantis murahan antara dirinya dan Alia yang beredar.


Jelas Keven tau secuil fakta yang terlalu banyak diberi bumbu penyedap akan berubah menjadi senjata mematikan. Mungkin sudah saatnya Keven membuat larangan perghibahan di lingkungan restoran. Mencegah selentingan tidak masuk akal menyeruak pendengaran gadis yang kini menetap di hati. Meskipun Keven juga sangat tau harapan atas hadirnya Yuki tidak lebih tipis dari tumpukan debu di meja yang setiap hari dibersihkan.


Tanpa Keven sadari kini mereka tengah bernaung dalam satu atap yang sama. Tentu bersama kegundahan yang berbeda.


Byur ...


"Yuki!!" jerit rekan kerja Yuki bersamaan. Semuanya spontan berdiri sambil melotot tajam. Tidak terhindar dencitan kursi yang terdorong kasar serta jeritan melengking menarik perhatian pengunjung lain dalam restoran.


Sedangkan Yuki masih gelagapan merasai manis, dingin dan lengket yang terus mengalir hingga merembes ke pakaian dalamnya. Sepintas ia mematung bingung, kesal dan marah.


"Sorry ...," ucap remeh sosok yang menumpahkan segelas orange juice ke atas kepala Yuki.


Mendongak dengan dahi mengerut, Yuki memicingkan matanya. Sepersekian detik berikutnya Yuki berdecih jengah.


"Nggak sengaja," lanjutnya santai sambil menggoyang gelas kaca yang kosong.


"Heh!! Maksud kamu apa bilang gak sengaja?! Kita gak buta ya!!" ucap nyolot salah satu rekan kerja Yuki.


“Minta maaf dengan benar, sekarang!” tegas atasan Yuki yang sudah menormalkan keterkejutannya.

__ADS_1


"Udah, Kak, Bu, biarin aja," ucap Yuki sambil mengibaskan tangannya. “Saya ke toilet sebentar.”


Jujur saja Yuki tidak ingin memperbesar masalah, apa lagi berurusan dengan Alia. Mirisnya bukan itu yang Alia inginkan. Ia justru menjegal Yuki hingga hampir saja menabrak meja pelanggan lain.


“Setan!” umpat Yuki nyalang. Ditolehkan wajahnya menatap Alia yang hendak berlalu pergi. Dalam sekejap jiwa pemaafnya berubah menjadi pemangsa.


Bagai predator kelaparan Yuki menarik rambut Alia sambil meraup pasta milik orang lain dengan tangan kosong. Digosoknya kuat-kuat segenggam pasta itu ke muka Alia. Praktis perang pasta pun pecah di restoran mewah Keven.


Menjerit, meronta dan berusaha meraih rambut Yuki adalah wujud perlawanan Alia. Naas, bukannya mendapat pengampunan dan berhasil membalas, kini Alia malah Yuki tunggangi dengan brutal.


Tamparan dan jambakan yang tidak bisa dilerai Yuki loloskan seiring amarah lama yang meluap. Ia tidak peduli menjadi tontonan banyak orang. Sudah terlanjur emosi terhadap Alia yang sempat diabaikannya.


“APA YANG KAMU LAKUIN?!” teriak Alia kuat sambil mencakar pipi Yuki. Ia seolah dejavu pada kejadian serupa.


Kini keduanya bergulat, bergumul hebat di atas lantai lengket akibat tumbahan aneka makanan yang terhambur. Saling mencakar, menampar, mencekik, mejambak dan tentunya menjerit dengan segala kutukan mengumpat.


Grep.


"LEPAS!!" teriak Yuki marah.


"Tenangin diri kamu, Yuki!" ucap Keven lembut sambil terus mendekap Yuki. Tidak peduli pakaiannya kotor karena noda yang menempel di tubuh Yuki.


"APA YANG KAMU LAKUIN, KEV?!! DIA YANG UDAH BIKIN AKU KAYAK GINI!!" jerit Alia tidak kalah lantang. Ia memberontak dari cekalan para pekerja yang dulu pernah menjadi bawahannya.


Mendorong kuat tubuh Keven yang mendekap erat, mata Yuki memerah berkaca-kaca. Dibuangnya nafas kasar lewat mulut sambil mengusap pipi yang tiba-tiba terasa gatal.


“Kamu nggak seharusnya mengejar kelopak bunga, karena sampah lebih cocok untuk kamu yang seekor lalat,” ketus Yuki sebelum akhirnya berlalu, melanjutkan langkah beratnya dengan perasaan tidak karuan.


Sedangkan Keven hanya mampu terdiam. Diremasnya perlahan dada kiri yang seketika nyeri, meninggalkan jejak kusut yang tidak sebanding dengan hatinya yang hancur. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Yuki.


Gadis pengganggu yang selalu ingin disingkirkan kini jelas mencampakkannya. Kalimat singkat yang sangat kejam berhasil membuat semua orang yang mendengarnya terperanjat, namun tidak dengan Alia yang tertawa penuh makna.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih udah setia membaca dan untuk like/komen/gift/vote yang ditinggalkan di kisah Yuki ini😘


__ADS_2