
Perempuan mungil di balik selimut itu menggeliat. Sekejap membaui aroma selimut dan bantal yang telah lama tidak dihidu. Tersenyum manis dalam mimpi, meresapi keindahan dunia fantasi yang masih belum disadari kefanaannya. Meski begitu ia cukup sadar beberapa titik di bagian tubuh telah menghangat karena tempelan koyo.
Akan tetapi senyum manis itu seketika luntur, berubah menjadi raut wajah datar nan kaku. Otak yang tidak henti bekerja meski sang pemilik raga berkelana dalam mimpi seketika memproses rangkaian praduga yang berujung mata terbelalak tiba-tiba.
‘Bisa-bisanya ketiduran. Udah jam berapa sekarang? Tunggu … ini kamar Mas Keven?! Gila-gila, gila!!’
Terlonjak duduk, Yuki menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Menurunkan kaki dan berjalan sempoyongan dengan linglung. Penglihatannya seketika memburam, berkunang-kunang dan berakhir gelap. Ajaibnya bahkan secercah cahaya tidak mampu menembus bola mata Yuki yang terbuka lebar.
Sontak kelopak mata yang mengerjap cepat beberapa kali itu terpejam rapat. Yuki berhenti melangkah sambil menunduk dan menggelengkan kepala. Reflek tangan kirinya memegangi dahi yang berdenyut. Mendadak rasa mual menyerang. Asam lambung seakan bergejolak dan pecah menghantam kerongkongan.
Perlahan, Yuki meraup udara dalam-dalam untuk menyuplai otak yang seolah membeku. Ia juga membutuhkan pegangan untuk menopang bobot tubuh di atas tungkai yang limbung.
Grep.
“Duduk dulu. Jangan dongakkan kepala kamu!” perintah Keven sambil memegangi kedua lengan Yuki.
Sejurus kemudian Keven rangkul bahu Yuki yang menunduk sambil memijit pelipis. Diarahkan gadis itu untuk duduk di tepi ranjang. Sedangkan Keven berjongkok di depan Yuki sembari mengamati perubahan ekspresi yang berganti cepat bagai kilatan di langit.
“Pusing,” lirih Yuki sambil menghembuskan nafas kasar.
“Wajar. Kamu baru bangun langsung lari.”
“Jam berapa? Kayaknya udah siang banget. Padahal kemarin aku udah janjian sama Dimas mau ketemu jam delapan malam.”
Merengut kesal, Keven mendelik pada penuturan Yuki. Pantas gadis itu terbangun seperti orang kesurupan, terburu-buru beranjak kabur padahal kesadaran baru setengah terkumpul. Reflek genggaman Keven menguat seiring rahang tegas yang mengeras.
“Cemburu?” celetuk Yuki tiba-tiba sambil menurunkan pandangan pada tangannya yang digenggam kuat oleh Keven. Berusaha dihempas sambil berkata, “jangan diremas tanganku! Kalau patah aku tuntut kamu!”
__ADS_1
“Harus ya kamu ketemu dia?” gumam Keven seraya berdiri, ia selangkah menjauh dari Yuki.
Mendongak, Yuki yang samar-samar mendengar perkataan Keven memilih tidak menjawab. Hanya mengulas senyum tipis dari sudut kanan bibir yang tertarik sekilas. Lantas ia justru mengalihkan pandangan, celingukan mencari keberadaan tas miliknya.
Sekejap mata Yuki terpaku pada keberadaan meja rias yang dulu Keven beli khusus untuknya. Tampak perabotan itu tetap terawat dan tidak bergeser sedikit pun dari terakhir kali Yuki lihat.
Kamar Keven masih sama, tidak ada yang berubah. Hanya penghuninya yang kembali bergelung di atas ranjang besar seorang diri, tidak berbagi atau saling memunggungi lagi. Sayangnya Keven justru berteman mimpi manis berujung kesepian dalam penyesalan.
“Aku harus pulang. Tante Liz pasti panik gara-gara semalaman aku nggak pulang.” Berdiri dan berjalan melewati Keven, Yuki menghampiri tas yang tergeletak di atas meja rias. Sejenak tanpa disadari tangannya terulur mengusap pinggiran meja dan kusen cermin mengkilap tanpa debu itu.
‘Perasaan ini … kacau,’ batin Yuki dengan perasaan campur aduk yang tidak seenak gado-gado apalagi es campur.
Sebaliknya, Keven hanya berdiri diam mengamati Yuki. Sosoknya yang tegap, tampak kokoh namun bisa rapuh terpantul jelas dari cermin yang Yuki tatap lurus.
“Jangan pulang sekarang. Mama pasti sedih kalau kamu nggak ikut makan malam di rumah.”
“Kalau kamu?” Berbalik, Yuki tatap tepat pada sepasang bola mata Keven. Tentu dibalas dengan sorot tajam yang menatap tidak kalah serius.
Mengangguk, Yuki mengedarkan pandangannya, lalu melirik Keven sekilas. Lantas diayunkan langkah kaki ramping itu keluar dari kamar Keven. Menghindar dari suasana canggung yang bisa saja tercipta kala dirinya bungkam.
Sedangkan di lantai bawah, terlihat Mama Agni yang berbinar bahagia. Ia amati sepasang anak manusia yang menuruni undakan tangga bergantian. Sejenak wanita tua itu melambungkan permohonan dalam hati agar ikatan yang putus bisa disambung kembali. Berharap dengan penuh keyakinan walaupun masa depan bisa saja tidak sesuai harapan.
“Katanya mau ambil ponsel, kenapa kamu bangunin Yuki?”
“Yuki bangun sendiri, Ma,” jawab Yuki pada pertanyaan Mama Agni yang jelas ditujukan untuk Keven.
“Oya, Yuki pamit pulang ya, Ma,” lanjut Yuki berucap sambil merangkul lembut lengan Mama Agni. Bersandar manja di bahu wanita senja yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.
__ADS_1
“Loh kok pulang? Padahal Mama mau ajak masak buat makan malam nanti,” ucap Mama Agni sedih, tidak rela melepas Yuki pergi.
‘Pagi-pagi makan malam apaan? Udah jam berapa sih ini?’ batin Yuki dengan kernyitan sekilas.
Yuki memang belum sempat melihat waktu saat ini. Bahkan jam persegi yang tergantung nyata di dinding belum juga diamatinya. Namun Yuki cukup cepat menanggapi perkataan Mama Agni dengan berkata, “kalau nggak pulang-pulang ke rumah orang tua Ara, pasti Tante Liz nyariin. Bisa-bisa telinga Yuki berubah jadi kulit martabak telur, ditarik sana-sini sampai melar.”
"Biar Mama aja yang bilang supaya kamu bisa nginap di sini juga. Nanti tidur sama Mama. Sekarang telepon dulu, Mama mau ngomong.”
“Bukannya aku udah nginap di sini ya, Ma? Aku baru bangun tidur loh … udah dua hari, kan? Gak sempat izin pula sama Tante Liz kalau tidur di sini,” ucap Yuki dengan ekspresi bingung sambil menatap Mama Agni dan Keven silih berganti.
Tentu pertanyaan Yuki mendapatkan reaksi yang tidak terduga. Bahkan Keven memalingkan wajah sambil menutup bibir berkedut yang digigit guna menahan tawa. Sejak awal Keven tau jika Yuki salah mengira terlelap terlalu lama dan terbangun keesokan hari.
Berbeda dengan Mama Agni yang langsung menangkup wajah mungil mantan menantunya itu. Dicubit gemas pipi yang terlihat semakin tirus, lalu dihimpit kedua telapak tangan seolah mengembalikan lemak pipi yang tertarik keluar. “Nginap dari kapan? Kamu baru tidur sejam di kursi depan. Baru juga Mama suruh Keven pindahin ke kamar.”
“Masa? Serius, Ma … Mas?”
Mengangguk, spontan Mama Agni tergelitik menertawai Yuki. Bahkan Papa Leigh yang mengintip juga ikut mengangguk dalam diam.
"Kamu Mas ... sengaja banget dari tadi nggak kasih tau!" omel Yuki nyaring, bibirnya mencebik cemberut sembari mendengus sebal pada Keven yang mengangkat bahu acuh.
Tanpa Yuki sadari matahari tidak condong di ufuk timur. Sinarnya bertahta di ufuk barat, bersiap memamerkan bias jingga kala meninggalkan hari yang belum juga berganti. Sore itu waktu masih menunjukkan pukul lima kurang 15 menit.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih udah setia menyimak kisah Yuki🥰