Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pesona Keven Ezequiel


__ADS_3

“Duduk!”Perintah Keven tegas pada Yuki yang baru saja membuat kekacauan. Nampan terlempar dan kaki Keven terendam ember berisi air yang seharusnya untuk mengepel. Entah kesambet setan ngesot dari mana hingga Yuki kecanduan mengepel lantai restoran.


“Ugh..!” Desis Yuki menahan sakit di pergelangan kakinya. Meringis dengan sebelah mata terpejam dan satu lagi justru terbelalak lebar, kerutan di dahi Yuki terlihat semakin dalam.


“Ck! Nyusahin!” Decak kesal Keven pada Yuki yang kesulitan mendudukkan dirinya.


“Kalau tau gak mampu kenapa ngotot kerja? Jangan keras kepala dan justru jadi beban!” Ucap Keven pedas dan ketus. Namun tidak sejalan dengan sikapnya yang kini malah berjongkok di hadapan Yuki, meraih lembut kaki Yuki, membuka sepatu yang Yuki kenakan dan mengurut perlahan pergelangan kaki Yuki yang terkilir.


Mengulum senyuman dengan jantung berdebar tidak karuan, Yuki seakan sedang diajak melayang hingga menyentuh awan yang terasa manis layaknya permen kapas dengan karpet bulu sintetis. Rasanya benar-benar menyenangkan, namun sulit didefinisikan.


Sungguh sikap manis Keven seperti inilah yang membuat Yuki jatuh pada pesonanya. Bukannya Yuki tidak mencintai sisi lain dari diri Keven, tapi bukan salah Yuki pula yang jatuh cinta pada Keven dengan alasan sikap manis dan penyayang nya itu.


“Hehe.. Hehehe.. Hihi..” Kekehan Yuki menarik perhatian Keven yang sempat terfokus pada kaki Yuki. Sedangkan Yuki yang masih setia dengan khayalannya tanpa sadar mengeluarkan suara aneh, tersenyum sumringah dengan ekspresi konyol dan badan yang beberapa kali berguncang seirama dengan kekehannya.


“AAAAA..!!”Jerit Yuki kencang saat usapan dan pijatan lembut jemari Keven berhasil berubah menjadi remasan kasar. Buyar dan ambyar semua bayangan indah yang Yuki rangkai dalam angannya.


“Kamu udah gila?!” Bukan Yuki yang marah, justru Keven si pelaku penyebab teriakkan Yuki lah yang bersungut marah. Tentu saja semua karena respon spontan Yuki yang tanpa sengaja menendang Keven hingga terjungkal ke belakang.


“Salahnya Mas Keven pakai tekan-tekan gak berperi keperasaan! Sakit tau.” Gerutu Yuki membela diri, tadinya ia ingin langsung meminta maaf, namun bentak kan Keven membuat Yuki malas meminta maaf.


“Bicara apa sih kamu?” Tanya Keven jengah, melirik sinis pada Yuki yang sudah cemberut terlebih dahulu. Kesal Keven dibuat Yuki, niatnya ingin membantu malah berakhir naik darah.


Mendorong kasar betis Yuki yang tertumpu di paha nya, Keven beranjak berdiri begitu saja. Tanpa merasa bersalah ia memandang kaki Yuki yang mau tidak mau langsung membentur lantai.


“Aduh, sakit woi..!!” Jerit Yuki sekali lagi dengan suara yang menggeram namun juga melengking nyaring.

__ADS_1


“Kalau gak ikhlas mending gak usah dari tadi.” Keluh Yuki sambil mengusap punggung kaki kanannya. Ia tidak habis pikir mengapa jatuh cinta dan tertipu pesona sesaat seorang Keven Ezequiel.


“Mas Keven dulu manis banget, kenapa sekarang jadi gak punya hati? Udah dikasih Kak Alia ya buat menu terbaru restoran ini??” Seloroh Yuki asal, ia masih mengusap punggung kakinya yang tidak sakit. Berharap denyutan memberondong pada tulang dan ligamen yang membengkak bisa berkurang.


“Ngaco!” Ucap Keven lirih, membalas kalimat panjang Yuki dengan satu kata menyiratkan penyangkalan. Namun bagi Yuki yang sudah mengetahui salah satu rahasia Keven bisa apa jika ia justru merasa patah hati karena ucapan nya sendiri.


“Kompres kaki kamu pakai air dingin. Jangan bertingkah polah. Diam dan cepat pulang!” Tutur Keven lagi, berlalu dengan sisi kiri celananya yang basah bekas terendam air di ember.


“Padahal dulu waktu bantu anak kecil yang jatuh di mall baik, penyayang banget. Kenapa sekarang kayak setan sih sikapnya? Tapi kenapa juga aku malah makin suka?” Gumam Yuki sambil memerhatikan punggung Keven yang semakin menjauh dan hilang dari pandangan Yuki.


Menyandarkan punggungnya pada dinding bata, Yuki tersenyum mengingat perlakuan manis Keven padanya. Mungkin Keven terpaksa membantu Yuki karena pekerja lain sibuk pada posisinya masing-masing, namun boleh kan Yuki merasa spesial karena sudah diperhatikan?


“Bisa sakit juga kamu, Ki?” Celetuk suara familiar yang tentunya bukan milik Keven. Saka berdiri di samping Yuki yang nikmat duduk di kursi yang biasanya digunakan para pekerja restoran menikmati jatah istirahat atau sekedar melepas penat sesaat.


“Mas Saka gak mojok?” Tanya Yuki santai tanpa basa-basi. Dirinya sudah cukup hafal kebiasaan Saka yang suka curi-curi waktu mengusik Alia yang berkutat dengan berbagai menu pesanan pelanggan.


“Lagi ramai. Gak bisa diajak ngobrol.” Jawab Saka lesu.


“Lagian Mas Saka aneh, kan Kak Alia sibuk. Masih aja gak kapok mepet.” Ucap Yuki, mencibir saka tepat sasaran.


“Upah ku hari ini dipotong gak Mas?” Tanya Yuki tiba-tiba, ia baru sadar jika dirinya tidak bekerja maka calon gaji bulanannya akan mendapat potongan.


“Nggak. Nggak salah lagi pasti dipotong. Kamu bolos kerja.” Ucap Saka sambil terkekeh puas mendapati raut wajah muram Yuki.


“Aku gak bolos loh. Udah datang ini. Tapi gak dibolehin kerja.” Tukas Yuki sewot.

__ADS_1


“Kamu bukannya bantu tapi bikin Keven langsung sial sih. Beruntung gak di depan pelanggan. Lebih baik kamu pulang.”


“Ya mana aku tau Mas kalau Mas Keven ada di belakang aku. Dia yang udah tau juga gak menghindar. Jadi jangan salahkan aku nampan tadi melayang terus jatuh di kepalanya. Jangan salahkan aku juga tentang kaki dia yang berendam, kan Mas Keven sendiri yang melangkah terus masuk ember gitu. Bukan salah aku.” Celoteh panjang Yuki menyeruak indera pendengaran Saka yang masih setia mendengarkan. Ingin menyela pun tidak akan bisa melawan laju ujaran Yuki.


“Masalah pulang, aku belum pesan ojek online. Tadi aku udah maksa temen untuk pulang aja. Gak enak minta jemput lagi.” Imbuh Yuki lagi. Kini ia menyesal tidak mendengarkan ucapan Ara agar izin tidak masuk kerja sama. Kakinya yang terus berdenyut benar-benar mengganggu.


“Oh yang cewek pakai motor pink tadi itu ya?” Celetuk Saka, melebarkan kelopak mata dan mulut bersamaan.


“Kok Mas Saka tau?”


“Tadi gak sengaja lihat, Keven juga lihat, makanya dia mau menghampiri kamu. Niatnya suruh kamu istirahat aja atau langsung pulang, tapi malah dia zonk duluan.” Jelas Saka yang semakin membuat Yuki senang karena bisa menarik perhatian Keven. Biarlah kakinya sakit sejenak, yang penting dirinya sudah terlihat di mata Keven.


‘Rupanya Mas Keven bisa perhatian juga, gak cuma penyayang ke bocah doang.’ Gumam Yuki dalam hati.


Khem..


Kali ini deheman keras yang mengusik Yuki memasuki dunia fantasi lewat lamunan panjang. Mendongak menatap sepasang sepatu tidak asing namun celana yang dikenakan baru pertama kali Yuki lihat. Saat ini Keven sudah kembali setelah mengganti celana dan meminta air dingin lengkap dengan es batu serta handuk kecil untuk mengompres pergelangan kaki Yuki.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Masih belum ada badai🙂


__ADS_2