Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kemarin, Saat Ini dan Esok


__ADS_3

Terik matahari yang beranjak naik tidak terasa menyengat sedikitpun. Ditambah lagi angin yang bertiup membawa udara segar nan dingin, sukses menyamarkan rasa panas yang membakar kulit, namun tidak mampu menghalangi ruam-ruam memerah atau bekas menggelap di kulit yang terekspos.


"Kak Irma tunggu sebentar di sini ya, aku mau ganti baju biasa dulu," ucap remaja yang masih mengenakan tas punggung dengan seragam sekolahnya. Ia tergesa-gesa melepas sepasang sepatu yang melindungi kakinya dengan mata menatap lurus wanita yang melintas di depan rumah. Sejenak diusapnya rambut yang dikuncir menyerupai ekor kuda, masih tampak rapi dan klimis meski hampir setengah harian terguncang aktifitas yang padat.


"Kamu nyusul aja kalau mau ikutan. Baru pulang sekolah makan, istirahat sana!" ucap wanita bernama Irma sambil mengelus perut membulat besarnya. Ia secara perlahan merendahkan badan, meletakkan keranjang sedang berisi perlengkapan untuk berjualan gorengan.


"Ya udah habis makan aku nyusul ya, Kak … Di tempat kemarin aja nunggunya, jangan jauh-jauh."


"Iya-iya … Istirahat atau tidur siang gih, Nit."


"Gak biasa, Kak. Di rumah juga Nenek lagi gak ada pesanan, jadi gak ada kegiatan ... Nita tinggal masuk dulu ya, Kak," pamit Nita. Remaja itu melesat ke balik pintu yang terbuka, menyisakan seorang anak laki-laki berseragam putih biru yang baru saja ingin berangkat sekolah karena jadwal masuk siang.


“Kak Irma bisa bawa?” celetuk anak laki-laki itu kala melihat sosok Irma yang kesulitan meraih pegangan keranjang.


“Bisa kok, Yo.”


“Biar aku bantu sampai depan Kak. Naik motor pelan-pelan lebih baik dari pada Kakak jalan kaki,” tegas anak laki-laki itu, ia mengambil alih keranjang yang ternyata cukup berat dari tangan Irma. Membantu wanita hamil tua itu untuk duduk di jok belakang dan meletakkan keranjang di pijakan depan motor matic yang diapit oleh kedua kakinya.


“Hati-hati bawa motornya, Yo.” Suara nyaring menyela, bukan milik Irma, melainkan Nita yang sudah berganti kemeja sekolah dengan kaos lengan pendek polos. Gadis itu menatap adiknya yang mengangguk pelan dan Irma yang tersenyum ramah kepadanya.


Sedetik kemudian, sosok yang akrab dipanggil Yoyo itu melajukan motor dengan perlahan. Tentu saja itu bukan motor baru, tapi motor bekas yang masih dicicil oleh Dimas dan masih sangat layak meski awalnya cukup boros bahan bakar. Namun kini sudah lebih baik atas bantuan Om Yudith, Papa dari Ara, pemilik bengkel mobil yang namanya cukup terkenal di kalangan supir truk.


“Gorengannya 20 ribu campur ya … Gak usah pakai bakwan.”


“Loh, Om Saka? Masih di sini?"


“Jangan panggil Om, bikin malu aja,” gerutu Saka. Benar, Saka sahabat Keven yang sejak sekian lama sedang Keven cari-cari keberadaannya.


“Hehe … Iya, Paklik.” Menyengir Nita yang asik meneruskan gorengannya mendapat pelototan Saka.


“Jangan protes, Mas. Udah tua masa gak mau ngalah sama anak kecil … Ini gorengannya,” ucap Irma sambil menyerahkan pesanan Saka. Ia yang awalnya canggung dengan pembelinya itu kini sudah bisa sekedar berbasa-basi, pasalnya hampir setiap hari dalam beberapa waktu belakangan Saka selalu mampir ke gerobak sederhana yang digunakannya untuk berjualan.


“Aargh …,” desis Irma tiba-tiba sembari memegangi perut bagian bawahnya.

__ADS_1


“Kak Irma kenapa?” tanya Nita panik. Secepatnya Nita meniriskan gorengan yang baru diangkat, mematikan api kompor dan mendekati Irma yang meringis kesakitan.


“Sakit, Nit,” lirih Irma seraya memejamkan mata, ia juga secara tidak sadar menggigit bibir bawahnya.


Sejenak suasana ramai pembeli yang baru saja hendak mengantri teratur berubah menjadi keributan. Semuanya ikut panik kala melihat darah mengalir di betis Irma. Saka yang juga melihat hal itu langsung membopong Irma ke mobilnya. Ia meminta Nita agar tidak semakin panik dan fokus menutup lapak jualan. Tidak lupa Saka meninggalkan lembaran uang biru dalam jumlah banyak ke tangan Nita, berpesan agar gadis muda itu menyusul menggunakan taksi setelah mengemas tempat Irma berjualan.


Di lain tempat, di waktu yang sama kepanikan juga melanda pasangan senja yang baru saja mendapat panggilan telepon. Keduanya bergegas menuju rumah sakit. Sedangkan Keven tentu kembali mendekati Yuki dalam kesempatan yang ada.


“Kamu mau ke kos? Atau ke kampus? Aku antar ya?” Keven membuntuti Yuki dengan kalimat beruntunnya, berharap mendapat balasan selain lirikan tajam yang tampak risih.


Menghela nafas berat secara perlahan, Keven memberanikan diri meraih pergelangan tangan Yuki. Sontak aksi Keven tersebut membuat Yuki terbelalak kaget dengan tubuh terhuyung yang langsung memutar, menghadap ke Keven yang menyorot sendu.


“Lepas!” perintah Yuki dengan intonasi menggeram rendah. Wajahnya yang dipalingkan masih sangat kentara menyiratkan kemarahan.


"Aku bilang lepas!" ucap Yuki lagi, masih enggan membalas tatapan mata Keven yang sejujurnya sempat membuatnya iba.


“Aku akan antar ke semua tempat yang kamu mau ... Saat ini kamu masih istri aku." Mantap Keven menegaskan hubungan keduanya. Ia ingin memanfaatkan status legal mereka untuk menahan Yuki. Jika tidak bisa selamanya, cukup hanya untuk beberapa saat yang tersisa kini, begitulah sekelebat pikiran Keven.


“Nggak akan ada perpisahan. Sampai kapanpun aku akan berjuang demi rumah tangga kita.”


“Terserah! Kalau itu yang kamu mau, lakukanlah! Tapi jangan harap tujuan kamu dan aku sama. Karena perpisahan ini adalah hal terbaik untuk kita berdua.” Nyalang Yuki menyorot sinis wajah kuyu Keven. Mengibaskan tangannya hingga sakit, namun tidak mampu melepas genggaman Keven yang mengerat.


Selama persidangan dalam proses mediasi, keduanya sama-sama bersikeras dengan keteguhan hati masing-masing. Saling memberi pengakuan dalam setiap upaya perdamaian yang berujung perdebatan. Tidak terelakkan mediasi ke-2 terpaksa harus dilaksanakan 10 hari mendatang.


Yuki yang tetap ngotot ingin berpisah, menekan kalimat cintanya yang pudar, tidak ada nafkah batin, fakta buruknya pernikahan mereka hingga pengakuan Yuki yang stres terhadap hubungan keduanya yang tidak sehat. Jelas banyak pengakuan Yuki yang memberatkan Keven. Semuanya fakta yang sulit Keven tampik selain dengan pengakuan dirinya sedang berusaha memperbaiki diri, membangun pondasi awal pernikahan mereka dengan cinta dan ketulusan.


"Jika kemarin aku menapaki kesalahan yang kamu buat, bertahan dengan luka yang hanya aku sendiri yang tau, maka saat ini aku ingin mengakhiri semuanya agar hari esok tidak ada luka yang sama lagi. Begitulah mau ku ... Tolong kali ini biarkan aku menentukan jalan terbaik untuk kita berdua."


Tidak ada sorot sinis yang mengiringi ucapan Yuki. Keputusasaan justru terlukis nyata di garis wajah yang tirus. Baru Keven sadari Yuki semakin kurus. Bahkan pergelangan tangan gadis yang digenggamnya lemah dengan tulang yang seakan menonjol, menjalarkan ngilu dan nyeri atas rasa bersalah yang kini bersemayam di hati Keven.


Perlahan genggaman tangan Keven merenggang, lemas tidak bertenaga. Tangannya benar-benar ngilu dan kebas tanpa sebab. Ia menunduk dengan segala beban berkecamuk. Tengkuknya seakan tertimpa sejuta kesalahan yang tidak bisa dihapuskan.


Keven tidak sanggup menatap Yuki yang saat ini tampak memilukan. Laki-laki itu menahan sesak di dada. Memaksa lidah kelu berucap dengan getar yang tanpa disadarinya mencekat saluran pernafasan Yuki.

__ADS_1


"Bisakah kamu wujudkan keinginan itu tanpa perceraian kita?"


"Haah ... Maaf ... Aku bukan perempuan kuat. Aku gak mampu untuk tetap bertahan." Menggeleng pelan, Yuki meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Diturunkan perlahan tangan itu disertai hembusan berat. "Kamu menikahi aku tanpa cinta, tapi maaf, meski katanya kamu saat ini mencintai aku, aku ingin melepas kamu."


"Aku benar-benar mencintai kamu, Ki. Tolong tatap mata aku ... Ak-aku gak siap. Aku gak bisa menerima keputusan kamu. Kita masih bisa membangun rumah tangga ini. Benar-benar rumah untuk kita berdua pulang. Rumah untuk kamu, aku dan anak-anak kita. Ini bukan kamuflase atau permainan gila yang aku buat, bukan ... Aku serius. Aku mohon ... Kasih aku kesempatan untuk membahagiakan kamu dengan kisah-kisah kita yang baru."


"Siap atau tidak itu konsekuensi yang harus kamu tanggung ... Aku udah gak mampu meneruskan perjuangan yang sama untuk bertahan di sisi kamu."


"Aku bakal kasih kamu waktu untuk menyendiri. Aku gak akan ganggu kamu. Aku janji." Kelingking kanan Keven tersodor ke hadapan Yuki. Sepersekian detik kemudian menaut tanpa permisi pada kelingking kanan Yuki yang diraih tangan kiri Keven. "Tapi tidak dengan perceraian ini. Aku gak mau, sampai kapanpun aku gak akan mau! Kamu setuju kan dengan ucapan aku? Kita gak akan pernah bercerai."


Yuki bergeming, menelisik di kedalaman sorot frustasi Keven yang sendu. Wajah tegas itu mengiba dengan sebuah ekspresi yang tidak pernah Yuki sangka. Namun Yuki hanya mampu terdiam, menata debaran yang tidak karuan. Sedih dan senang, keduanya bercampur menjadi kecewa di atas kemenangan yang entah nyata atau fana.


"Aku pikir udah cukup kita biarin Yuki di sana, Ra." Gegas Dimas berusaha menghampiri Yuki dan Keven yang tampak mematung.


"Dim ...." Suara rendah Ara menggantung, memanggil Dimas dengan penekanan yang terasa membelenggu. Sontak Dimas terpaku, ia sadar jika sahabatnya itu sedang berusaha mencegahnya.


Laki-laki yang diam-diam menyimpan rasa untuk Yuki itu menyugar rambutnya, meninju udara melimpahkan kekesalan. Ia ingin menarik Yuki menjauh. Marah pada Keven yang tidak tau diri menyakiti Yuki berulang kali.


Baru saja Dimas membawa kakinya melangkah, mengabaikan teguran Ara, namun suara gadis yang terlihat tenang tapi gelisah itu kembali terdengar.


“Kayak aku yang sedang mencoba berdamai dengan orang-orang dari masa lalu aku. Kamu yang mencari ibu mu meski rasanya sakit setiap mengingatnya. Jadi biarkan Yuki menghadapi laki-laki yang masih suaminya itu ... Terkadang kita hanya perlu mengikuti arus yang mengalir, berputar di teluk untuk menghadapi kenyataan meski saling menyakiti. Memang kisah setiap orang tidak sama, tapi setidaknya kita sama-sama harus menghadapinya. Bukan untuk orang lain, tapi diri kita sendiri. Terkadang hidup memang seegois itu.”


...****************...


*


*


*


Di awal ada yang sempat bingung gak karena tambahan tokoh?🤭


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki 😍

__ADS_1


__ADS_2