
Yuki seakan membeku akibat udara dingin menusuk. Entah apa yang terjadi pada hari itu, namun yang pasti banyak hal yang telah Yuki lalui. Bahkan sulit untuk dicerna otaknya yang penuh sesak.
“Haaah ….” Menghela nafas berat tertahan, Yuki masih termenung pada kilasan yang sulit untuk dilupakan. Antara malu dan ketagihan, semuanya bercampur aduk. Jika diperbolehkan tangan nakalnya ingin berkelana lebih lama lagi, tapi di lain sisi Yuki juga gengsi untuk mengakuinya.
“Ki, ini pakai metode apa?” tanya Dimas sambil menunjuk lembaran kertas penuh coretan hasil analisis Yuki. Ia terlihat sangat penasaran dengan metode asing yang baru diketahuinya dari laporan skripsi dan hasil analisis yang Yuki kerjakan.
Menolehkan kepala, Dimas ingin kembali melontarkan tanya, namun justru mendapati Yuki dengan tatapan lurus yang kosong. Memandang lalu-lalang kendaraan di parkiran, tapi pupil matanya tidak bereaksi sedikitpun.
Sontak Dimas mengelus pelan dadanya, menarik ujung kemeja Ara. Kedua manusia berlainan jenis itu saling pandang sejenak, kemudian sama-sama mengernyit heran pada Yuki yang seharian bertingkah aneh.
Menyentak bahu Yuki yang betah menikmati lamunan, Dimas berucap dengan intonasi meninggi, “Yukii!! Metode apa?!”
“Roti sobek,” latah Yuki, reflek menjawab sembarangan sesuai yang terproses otaknya. Ia terperanjat kaget dengan tubuh tersentak. Sedetik kemudian menatap linglung Dimas dan Ara bergantian seolah nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
“Hah?” Terbengong Dimas pada jawaban cepat Yuki. Benar-benar di luar ekspektasi. “Roti sobek apaan? Kantin sana kalau lapar!”
“Ap-apaan sih?! Ganggu aja orang lagi ngayal roti sobek limited edition!” sungut Yuki berlagak marah, padahal ia sedang berusaha menutupi rasa malu yang menjalarkan semu merah di daun telinganya.
“Resek ya kalau laper. Sono pergi! Hus … Hus ….” Dimas mengibaskan tangannya, mengusir Yuki yang berada di sisi kanannya.
“Mau ini nggak?” celetuk Ara tiba-tiba sambil menyodorkan wafer keju 3 ribuan yang masih tersegel dalam kemasan plastik berwarna kuning.
“Yuki kan kaum yang gak makan kalau bukan nasi, Ra. Sampai bayangin roti sobek pasti udah kelaparan,” ucap Dimas sekenanya, tapi fakta.
“Atau mungkin kurang belaian ya? Jangan-jangan roti sobek yang itu lagi, ngaku!!”
Skakmat.
Menelan paksa air liurnya, Yuki tergagap pada kalimat tepat sasaran yang Dimas ucapkan. Gadis itu sok sibuk merapikan ikatan rambutnya sembari memanyunkan bibir.
"Ngaku!!" seru Dimas menuntut. Lagi-lagi Dimas mengguncang bahu Yuki.
“Apaan sih!!” pekik Yuki salah tingkah sambil mencubit asal lengan Dimas. Ia mendengus kesal pada Dimas yang bisa saja menebak isi pikirannya.
“Aduduuh beneran temen ku minta disayang ya sampai ngebayangin roti sobek? Sini biar Abang sayang,” goda Dimas tiba-tiba sambil memainkan kedua alisnya naik-turun bersamaan. Tidak lupa diusapnya secuil bagian lengan yang nyeri, efek cubitan ganas Yuki.
“Gaje! Minggir-minggir! Aku mau beli gado-gado,” ketus Yuki sewot. Ia menyenggol kasar punggung Dimas dengan sikunya. Meninggalkan nyeri lainnya pada daging punggung tipis yang dihujam tulang siku setajam kapak.
“Anjir! Sakit bele!” umpat Dimas sambil berusaha menjangkau bekas sikutan Yuki. Pemuda itu menaikan sudut kiri atas bibirnya, tentu bukan tersenyum, tapi mencebik kesal pada Yuki yang menjulurkan lidah mengejek.
Sedangkan Ara sudah merotasi bola matanya. Menanggapi malas kejadian yang baru saja berlangsung di depan mata. Gadis itu justru memasukan wafer keju 3 ribuan ke dalam tas serta mengemas lembaran hvs berisi data yang baru saja dipelajari untuk dianalisis. Ara ingin kembali lembur, tapi tidak di laboratorium, melainkan di kamarnya sendiri sembari rebahan.
__ADS_1
Di sisi lain, Yuki menggerutu kesal, merutuki konsentrasinya yang ambyar. Berulang kali berusaha fokus, memusatkan diri pada data mencengangkan, namun berulang kali pula konsentrasi itu buyar. Tergantikan bayangan roti sobek yang bahkan belum sempat dilihatnya tadi pagi.
Bahkan saking gilanya roti sobek itu tervisualisasi pada spesies moluska yang diperoleh sebagai salah satu sample penelitian. Siput yang bergerak lambat, terblokade dalam transek kuadrat hingga berhasil ditangkap mendadak menjadi siput kekar, berotot dengan pahatan roti sobek berbagai ukuran.
“Kenapa mendadak bayangin roti sobek sih?” rutuk Yuki pada pikirannya yang masih berkelana.
Pelupuk mata gadis itu bahkan tampak penuh dengan cetakan roti sobek di balik sehelai kain hitam tipis. Padahal jika diingat lagi Yuki bahkan pernah melihat dalam versi polosan, hanya baru kali ini dirinya berhasil meraba-raba.
“Kenapa masih kerasa otot perut … Aarrgghh!! Apa ini namanya keventok roti sobek? Astoge Yuki sadar!! Kayak baru kali ini aja,” rengek Yuki sambil mengacak kasar rambutnya. Kemanapun mata Yuki memandang pasti dipenuhi bayang-bayang roti sobek.
“Tapi emang baru kali ini. Hiish …," lirih Yuki miris, namun juga menyiratkan kekesalan.
Plak.
Bunyi nyaring tamparan ringan yang mempertemukan kulit dahi dengan telapak tangan tidak membuat Yuki teralih pada rasa berdenyut panas. Gadis itu menggertakkan gigi seakan sedang mencacah jerami. “Pikir Yuki! Moluska dominan apa yang bisa jadi bioindikator kualitas perairan??”
“Aargh … Gak bisa mikir.” Kembali Yuki mengacak rambutnya.
“Nah iyaa … Siapa cogan yang bisa menginvasi otak mu?! Pak Rava? Amit-amit kanebo itu udah ada pawang. Hmm … Dokter Dion, iya, Dokter Dion,” bagai kilat yang menyambar Yuki seketika girang. Gadis itu mengangguk-angguk beberapa kali dengan semangat. “Adek beradek itu kenapa good looking semua? Tapi memang paling manjur jadi obat mata. Senyum terus jangan sampai ngomong ya Pak Dokter halu."
Tingkah Yuki yang berdialog seorang diri, menggerutu dan tersenyum berulang kali sukses seperti orang gila bagi mahasiswa lain yang berseliweran. Bahkan sebagian mengira Yuki kerasukan atau tertekan pada statusnya sebagai senior tingkat akhir. Tapi Yuki jelas tidak mempedulikan. Ia malah tidak sadar pada setiap pasang mata yang menyorot ngeri.
Mengucek matanya perlahan, Yuki terkekeh pada imajinasinya. "Naik level rupanya. Heh ... Sekarang sebadan utuh yang aku bayangin. Ckckck ...." Menundukkan wajahnya, Yuki berjalan menuju kantin. Mungkin memang efek lapar yang membuat dirinya tidak bisa melupakan kejadian tadi pagi.
"Kamu masih marah tentang tadi pagi? Maaf ... Aku memang gak minta izin untuk bawa kamu ke rumah. Apa lagi tanpa sadar peluk kamu. Aku gak bisa masuk ke kos kamu dan kamu juga nyenyak banget. Sumpah aku gak berbuat jahat selain pelukan tadi pagi."
'Yang ini nyata,' gumam Yuki dalam hati tanpa menunjukkan raut terkejut, tepatnya berjuang bersikap sesantai mungkin. Padahal jika boleh Yuki ingin melarikan diri karena terlalu malu menatap Keven. Terbongkar sudah rahasianya yang sering membayangkan roti sobek Keven.
Flashback On.
“Hehe … Hehehe … Kamu datang lagi. Kenapa kamu datang terus?"
Suara serak khas baru bangun tidur disertai kerjapan lemah yang malas menghipnotis Keven. Namun juga berhasil membuat Keven kikuk karena terpergok membelai lembut pipi tirus yang menggembung lucu kala mengomel.
"Aku datang terus ya?" celetuk Keven seraya melebarkan senyumannya. Hatinya berbunga-bunga saat menyadari makna kata 'datang' yang Yuki gumamkan.
Sayangnya euphoria kebahagiaan Keven berlalu terlalu singkat. Senyuman itu sirna, berganti kelu yang merebak.
"Aku sakit ... Di sini sakit gara-gara kamu," lirih Yuki pada Keven yang masih dikiranya sebatas ilusi. Matanya memang terpejam, tapi lidahnya terus merangkai kata.
Sejurus kemudian ujung jari telunjuk gadis itu membuat pola melingkar di dada Keven. Terkekeh pilu seolah menyamarkan isakan. Detik berikutnya dengan tidak sopannya tangan ringkih itu menelusup di balik kaos hitam tipis Keven. Bergerak perlahan, mengabsen setiap lekukan keras yang terpahat sempurna.
__ADS_1
Sontak Keven terkesiap. Terbelalak mengamati senyuman geli yang menghiasi wajah mungil Yuki.
"Roti sobek ...."
Pecah pertahanan Keven. Gelayar meremang di sekujur tubuh membuat otaknya menginginkan lebih di pagi yang dingin itu, namun juga berharap segera berakhir kala mengingat hubungannya dengan Yuki yang tidak baik-baik saja.
Ditariknya tangan Yuki keluar. Dicekal lembut agar tetap berada di luar kaosnya. Tapi apalah arti kaos tipis Keven jika tangan Yuki kembali menggerayangi ke mana-mana meski dalam lingkup yang lebih terbatas.
"Hehe ... Roti sobek ...."
Pasrah Keven membiarkan Yuki meneruskan aksinya. Kini ia justru memeluk erat Yuki. Mendekap posesif di atas ranjang yang dulunya selalu dingin. Menyalurkan cinta dan kasih sayang yang berbalut kerinduan serta penyesalan.
Dibelainya pipi tirus Yuki dengan jari. Dikecupnya perlahan dahi gadis yang masih terus terlelap dengan nyenyak dalam dekapannya. Berbisik banyak pengakuan dosa hingga ia mengikuti Yuki menyusuri alam mimpi dalam kedamaian yang baru pertama kali dirasakannya.
...----------------...
Detik demi detik jarum jam terus berputar. Matahari yang tadinya menyembul malu-malu sudah memamerkan keceriaan pada banyak manusia yang asik pada kesibukan masing-masing. Begitu pula pada mereka yang bersembunyi di balik selimut.
Sama halnya yang terjadi di dalam ruangan persegi yang sudah lama jarang dihuni. Seberkas cahaya masuk melalui celah gorden, mengantarkan sensasi hangat menjalar. Silaunya mengusik indera penglihatan seorang gadis yang mendadak melotot tajam, bukan pada sang mentari, tapi wujud nyata di depan mata.
'Aaaaaaaaa ...,' teriak Yuki tanpa suara. Ia panik dalam posisi terkurung dekapan lengan kokoh Keven.
"Ssshh." Mendadak Keven mendesis, menggeliat dengan tetap mendekap Yuki.
"Pagi," sapa Keven tanpa canggung pada Yuki yang terbengong bingung. Entah sadar atau tidak laki-laki itu membelitkan lengan di pinggang Yuki.
Sejurus kemudian Yuki menurunkan pandangan, merasa aneh pada sesuatu yang tersapu telapak tangan. Spontan Yuki tercengang pada tangan nakal yang menelusup masuk dan meremas perut berotot Keven.
"A-Ak ... Aku bisa jelasin," terbata Yuki berucap pada Keven, namun tidak memindahkan atau menggeser sedikit saja tangannya dari perut Keven. Ia justru tanpa ampun mengirim hasil pindaian telapak tangan ke saraf otak.
"Geli, Ki," bisik Keven menyergap kesadaran Yuki yang sempat mengambang.
"Dasar kurang ajar!!" pekik Yuki garang seraya mendorong kasar dada Keven.
Flashback Off.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki, semoga tidak membosankan🥰