Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
YK154


__ADS_3

Langit cerah dalam sekejap seolah berubah murung, tertutupi awan tebal menghitam. Bunyi guntur mulai menggelegar meski rintik hujan belum kunjung jatuh. Hanya semilir angin berhembus semakin kencang, menerbangkan guguran daun-daun kering serta debu ke udara.


Kaki tua Papa Leigh melangkah cepat. Menembus hamburan debu yang ditangkis punggung tangan. Melindungi mata agar tidak kelilipan. Sejujurnya cukup kurang nyaman berjalan secepat itu karena baru pulih dari rematik. Namun ada kabar besar yang harus segera dibagikan kepada istrinya.


Brak.


Membuka pintu dengan kasar, Papa Leigh sampai di rumah. Ia langsung berteriak, “Ma?! Mama … Ma?!”


Kaki dan kepala Papa Leigh bergerak serentak, bolak-balik mengedar ke sekeliling ruangan. Ia tidak sabaran untuk segera menemukan Mama Agni. Hingga sedetik setelah derap langkah kaki terdengar dari ujung anak tangga, Papa Leigh terbelalak kaget.


“Darah? Loh Mama kenapa?” Suara Papa Leigh kembali terdengar panik, matanya meneliti noda darah di kapas bekas pakai yang sangat banyak. Diraih tangan ringkih yang mulai penuh keriput dengan kulit mengendur. Diamati dari ujung jari sampai lengan, tidak ada goresan secuilpun.


“Ssstt! Keven,” bisik Mama Agni sambil melotot sekilas.


“Kenapa?”


“Ninju cermin.”


“Jadi udah tau?” Melotot Papa Leigh berbisik pada Mama Agni.


Menghembuskan nafas kasar serentak dengan bahu menurun murung, Mama Agni lantas berlalu untuk membuang yang dibawa ke tempat sampah sekaligus mencuci tangan di wastafel dapur. Sedangkan Papa Leigh sontak mematung syok.


“Jadi beneran Yuki?” gumam Papa Leigh. Tubuh renta itu seketika limbung, bertumpu di pegangan anak tangga.


Sontak wajah keriputnya pucat pasi. Video amatir dengan suara berisik berisi penjelasan kapal tenggelam kembali terputar di pelupuk mata Papa Leigh. Diremas dada kirinya dengan nafas terengah.


Sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya Papa Leigh sadar dan bergegas menghampiri Keven. Tidak bisa ia biarkan dirinya maupun Keven hanya berdiam diri serta murung meratapi nasib Yuki.


“Kamu nyakitin diri kamu sendiri gak akan bisa mengembalikan Yuki. Ayo kita ke Pelabuhan! Kita tunggu kabar Yuki di sana.”


Plak.


Plak.


“Sadar, Keven! Masih ada harapan Yuki selamat.” Suara Papa Leigh terdengar tegas seiring tamparan ringan di pipi Keven.


"Maksud Papa apa?" Kedua alis Keven nyaris tertaut, tatapannya sinis bagai singa terusik dikala tidur. Ia yang sempat mengabaikan akhirnya terpancing oleh perkataan Papa Leigh.


“Apa lagi kamu ini … kamu kayak gini karena ini, kan?” Disodorkan ponsel yang memutar video super berisik ke tangan Keven


Dalam sekejap Keven membeku, matanya melotot tajam. Hampir saja ponsel Papa Leigh terjatuh dari genggamannya. Digerakkan kepalanya secara paksa, menatap sang Papa yang memasang ekspresi serius.


Tidak menunggu lama, dalam kepanikan yang nyata, ketiga manusia itu menanti kabar berbalut harapan. Semoga apa yang ditakutkan tidak pernah terjadi. Namun bukannya mendapati kejelasan, informasi yang datang justru memperkeruh keadaan.

__ADS_1


“Ini sudah kedua kalinya kami periksa, Pak. Tidak ada saudari Yuki dalam daftar penumpang kapal YK154 yang mengalami laka laut. Tapi ….”


“Tolong periksa lagi, Pak!” perintah Keven penuh penekanan, memotong ucapan staf yang sedang bertugas. Matanya memerah berkaca-kaca, sedangkan Mama Agni sendiri sudah menangis. Berbeda dengan Papa Leigh yang berusaha tegar sambil mencoba menghubungi orang tua Yuki.


“Begini, Pak … memang tidak ada nama Yuki Yulika Abian di kapal jenis speedboat YK154. Tapi ada di kapal lainnya yang kebetulan berlayar kurang lebih 4 jam yang lalu. Jadi mohon bersabar untuk ditunggu lagi. Kami perlu mengkonfirmasikan dengan Kapten kapal ro-ro yang sedang berlayar.”


Berbaur dengan kepanikan dan tangisan orang-orang, Keven berharap semua itu nyata. Yuki tidak termasuk penumpang di kapal yang tenggelam. Namun dengan bukti kartu identitas yang ditemukan, bahkan kini sudah berada di tangan Keven, jelas tidak menyurutkan ketakutan Keven begitu saja.


...----------------...


Sehari kemudian.


Di tengah lautan, terombang-ambing oleh badai besar, Yuki menangis. Ingin dirinya berteriak meminta pertolongan. Namun semua seolah terlambat dan memang benar-benar kesalahannya.


“Aku miskin …,” gumam Yuki diselingi isak tangis. Tas selempang yang dikenakannya terkoyak, berlubang besar bekas sayatan benda tajam.


Dompet dan ponselnya raib. Baru disadari saat ingin membeli mie rebus. Kini hanya dua koin seribuan yang ada di tangan Yuki, sisa dari membeli sebotol air minum pengganjal perut.


Kruuk …


“Hah … lapar.” Menunduk dalam-dalam, Yuki memeluk perutnya yang keroncongan. Keripik singkong dari Dimas berubah menjadi hidangan utama, bahkan sudah habis beberapa saat lalu. Sayangnya lambung Yuki yang besar tidak puas hanya disuplai kunyahan keripik. Sudahlah badai besar mengguncang kapal, kini harus menahan gejolak perut tiada henti.


‘Untung cuma 300 ribu isinya. Tapi banyak kartu penting di situ, sama aja apes,’ batin Yuki resah.


Jelas sama resah dengan kegaduhan yang Keven timbulkan di Pelabuhan Kota B. Kedua tangannya ditahan oleh petugas pelabuhan. Tubuhnya dijauhkan dari sasaran yang tersungkur di lantai dingin.


“Cukup, Keven! Jangan buang tenaga kamu sia-sia. Lebih baik kita berdoa semoga Yuki baik-baik aja.” Papa Leigh mencengkeram bahu Keven. Suaranya lantang menggema ke penjuru ruangan. Di sana keluarga Keven dan orang tua Yuki pertama kalinya bertemu seorang penumpang kapal YK154 yang selamat.


"Yuki pasti baik-baik aja," timpal Papa Gibran dari belakang Papa Leigh. Wajah tua orang tua kandung Yuki itu sangat jelas menyembunyikan kepanikannya. Berbeda dengan sang mantan istri yang sudah berkolaborasi tangisan dengan Mama Agni.


Kedua wanita tua yang mulanya saling menenangkan justru tidak mampu menahan luapan tangis. Cerita sedih berisi penyesalan Mama Maria mengalir begitu saja. Anaknya yang malang selalu terlihat ceria, namun rupanya menyimpan dahaga akan kasih sayang. Sedangkan Ibu tiri Yuki yang sengaja ikut hanya mampu berdiri sedikit menjauh dengan kepala tertunduk.


...----------------...


Menyeret lesu kopernya, Yuki sudah tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sejenak ia menghentikan langkah. Duduk memeluk lutut sambil memejamkan mata. Terik matahari yang seolah memancarkan keriangannya jelas memperburuk kondisi Yuki.


Semenit ... dua menit, Yuki masih setia dengan posisinya. Bahkan tidak terganggu oleh lalu-lalang penumpang kapal serta para porter.


"Dek ... Dek?" Bahu Yuki diguncang, sontak ia mendongak. Menyipitkan mata agar bisa melihat sosok yang sedang berdiri merunduk di sampingnya.


"Oalah, sakit ... sini ikut Bapak aja, naik ini," ucap laki-laki berperawakan tambun dengan kulit hitam mengkilap akibat terlalu sering terpapar sinar matahari. Ditarik mendekat gerobak angkut barang miliknya. Pelan-pelan membantu meletakkan koper dan tas besar Yuki di atas gerobak persegi hasil modifikasi itu.


"Saya gak ada uang, Pak. Gak usah ...," lirih Yuki menolak dengan jujur.

__ADS_1


"Gratis. Udah naik aja. Nanti kamu malah ambruk di sini."


"Kuat kok, Pak. Saya jalan aja," sahut Yuki lagi, segan mengiyakan penawaran gratis seorang porter Pelabuhan itu.


Namun entah bagaimana, kini gadis itu sudah duduk memeluk tas besarnya di atas gerobak yang didorong sang porter. Masih pula mengenakan tas selempang yang sudah saatnya dibuang. Cukup lebih nyaman dibandingkan harus berjalan kaki sepanjang jalur menuju pintu keluar kedatangan penumpang.


"Di sini ada pemeriksaan, Dek. Ada orang yang nyariin keluarganya," celetuk Bapak porter itu.


"Ada masalah apa, Pak?" sahut Yuki.


"Itu di B ada speedboat karam. Bukan ke sini, tapi semuanya diperiksa. Nyariin orang namanya Juki-Juki gitu kayaknya."


"Juki?" membeo Yuki menaikkan sebelas alisnya. Sejenak ia memicingkan mata, mengamati penumpang wanita yang diperiksa, padahal sosok yang dicari bernama 'Juki'.


Sampai tiba saatnya Yuki diperiksa, jelas ia tidak bisa menunjukkan kartu identitas yang ikut raib digondol copet.


"Dompet saya hilang, Pak. Ini lihat tas saya udah koyak. Saya gak bisa kasih bukti identitas, tapi saya bukan penumpang gelap. Buktinya saya udah kayak zombie kurang otak gara-gara kelaparan gak bisa beli mie ayam, eh mie rebus deh. Pokoknya Bapak bisa percaya, kan?" cerocos Yuki tanpa jeda, tidak memberikan kesempatan petugas pengecekan menyela. Suaranya yang lemah tidak menyulitkan kelincahan lidah merangkai kata.


"Saudari Yuki Yulika Abian?"


"Loh kok Bapak tau nama saya?" Mengerutkan dahi, Yuki menatap takjub pada sosok di hadapannya.


"Mohon maaf, Bu. Silakan ikut kami ke bagian kantor terlebih dahulu."


'Bu? Aku, Ibu?' ucap Yuki di dalam hati tidak terima. Walaupun begitu ia tetap mengekor patuh. Namun sebelumnya sempat mengucapkan banyak terima kasih kepada porter sang penolongnya itu.


"Sama kamu?! Syukurlah ... terus uangku? Kartu kredit? Ponsel?" ucap Yuki nyaring. Perutnya yang terisi dua potong roti bantal tidak meraung lagi.


[Iya, kamu ... jaga diri di sana. Tunggu aku.]


"A-aku ... maaf dan makasih."


Panggilan itu terputus, menyisakan kelegaan dan sebuah rasa menyesakkan. Sedang di seberang sana Keven memiliki semangat baru.


'Makasih udah biarin diri kamu kecopetan.' Bagai orang gila Keven justru bersyukur atas keteledoran Yuki. Tidak tau saja jika sang pujaan hati baru menyantap rakus tanpa gengsi roti pemberian petugas Pelabuhan.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu ngikutin kisah Yuki😘


by the way, sebentar lagi ... nanti aja deh🤭


__ADS_2