Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Konspirasi


__ADS_3

“Kenapa Mama kerjain sendiri? Aku kan sengaja bayar orang supaya Mama nggak capek-capek. Apa Mama udah gak cocok sama Bibi yang ini? Perlu aku cari orang lain?” ucap Keven yang berdiri di ambang pintu, melontarkan protes pada Mama Agni. Maklum saja, Keven tentu merasa khawatir pada orang tuanya yang terkadang sering mengeluh sakit pinggang.


“Gak usah. Kan udah kamu bayar upahnya. Cuma hari ini Mama suruh libur.”


Seketika wanita tua yang menumpuk bantal di satu sisi kasur itu menoleh. Hanya sekilas, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. Sejurus kemudian dicolek Papa Leigh agar duduk setengah berbaring di tepi ranjang dengan sandaran bantal.


“Jadi Mama sengaja minta Yuki datang untuk bersih-bersih?” ucap Keven dengan sedikit menekan suaranya, namun sarat akan nada ketidaksukaan. Sepersekian detik kemudian ia melangkah masuk ke kamar orang tuanya seraya berkata, “Papa juga udah sembuh, kenapa Mama bilang masih sakit?”


“Memang kamu bisa bawa Yuki ke rumah?” Berbalik, Mama Agni memicing dengan bibir mencebik sewot. Sejenak dihela nafas perlahan, menahan suara yang hampir saja meninggi. Lantas Mama Agni pun kembali berkata, “kalaupun bisa, pasti lama. Udah sana kamu bantu Yuki. Jangan sampai Yuki kerjain semuanya sendiri. Bilang kalau rematik Papa kumat lagi, jadi Mama nggak bisa temenin kalian. Papa juga … awas kalau nggak nurut!”


“Iya-iya, Ma … sana, Kev, nurut! Biar cepat bawa menantu Papa pulang,” imbuh Papa Leigh pada perkataan Mama Agni. Bahkan secara halus mengusir dengan kibasan tangannya agar Keven segera menemani Yuki.


Pasangan paruh baya itu sudah benar-benar jatuh cinta pada Yuki. Ditambah keduanya yang kesulitan dan tidak bisa memiliki anak lagi memang mengidamkan hadirnya sosok anak perempuan.


Mengalah dengan gelengan pasrah, Keven akhirnya berlalu meninggalkan Papa Leigh dan Mama Agni yang tiba-tiba berubah bagai cheerleaders. Keduanya menyemangati Keven dengan penuh tekad. Berharap suatu saat nanti Yuki bisa kembali menjadi bagian dari keluarga mereka seutuhnya. Bahkan sangat berharap bisa segera menimang cucu sebelum terpisah karena umur yang tidak muda lagi.


Klontang.


“Aduh, mati aku. Rusak nggak nih?” Berjongkok membolak-balik rantang stainless, Yuki amati dengan teliti pinggiran rantang yang baru saja membentur lantai. Tidak sengaja tersenggol saat hendak menyusun perkakas makan yang sudah dikeringkan ke dalam rak piring.


“Aman-aman,” lirih Yuki dengan hembusan nafas lega sambil mendekap erat rantang itu di depan dada.


“Kamu kenapa?” celetuk Keven seiring derap langkah mendekat cepat.


Sekejap Keven sudah ikut berjongkok di hadapan Yuki. Menatap lamat lengan dan siku hingga sampai ke jari-jari kaki Yuki. Memastikan setiap inci dari bagian tubuh gadis yang menyengir itu tidak ada yang terluka.


“Hehe, rantangnya jatuh. Tapi aman, nggak ada lecet. Jangan bilang Mama, ya! Awas kalau ngadu!” ucap Yuki berbisik sambil mengacungkan telunjuk mengancam selaras dengan mata yang melotot garang.


“Iya.” Angguk Keven sembari mengusak puncak kepala Yuki. Beranjak berdiri dan ikut membantu mengemas piring-piring bekas makan siang yang sudah Yuki bersihkan.


“Apaan sih?! Acak-acakan nih rambutku,” keluh Yuki sambil meletakkan rantang yang dibawa berdampingan dengan gelas dan piring yang baru saja dicuci.


“Tetap cantik.”

__ADS_1


Mengibaskan rambut, Yuki menyerongkan badan, berkacak pinggang menghadap pada Keven. “Jelas. Yuki gitu loh. Dari dulu juga cantik. Mau kecebur got sekalian juga nggak akan melunturkan cantiknya aku,” ujar Yuki penuh percaya diri.


“Iya-ya, kamu cantik banget.” Angguk Keven mengiyakan. Lagi pula ia juga menyetujui pernyataan yang Yuki lontarkan. Yuki memang cantik, sekalipun diintip lewat lubang sedotan.


“Baru tau kalau aku cantik paripurna? Ck … kayaknya mata kamu bermasalah. Pantas aja dulu nggak tergoda sedikit pun, ternyata kamu butuh kacamata.”


“Salah lagi ya aku?” tanya Keven dengan nada bercanda sambil terkekeh. Tangannya tetap sibuk menyusun piring-piring dan gelas hingga selesai.


“Nggak! Ya iyalah,” sungut Yuki seraya berlalu ke arah pintu belakang dapur, meninggalkan Keven di dapur yang sudah mengkilap tanpa noda. Berjalan beberapa langkah di lorong pendek dan memasuki sebuah bilik kecil.


Namun seketika tubuh Yuki mematung. Langkah ringan gadis itu terhenti di ambang pintu. Perlahan namun pasti Yuki melongo dengan rahang bawah bagai meluncur jatuh dari tempatnya.


“Ini bukan pasar loak, kan?!” Spontan kedua tangan Yuki mencengkeram rambutnya, menjambak helaian yang mulanya hanya menyembul sedikit hingga mengembang bagai rambut singa.


‘Mama!!’ pekik Keven dalam hati, ikut membeku di belakang Yuki. Sejenak ia mendesis pelan seraya membatin, ‘kenapa baju bersih juga dilempar ke keranjang cucian kotor?!’


Berbalik dan menatap lurus Keven, Yuki menunjuk ke arah belakang, tepatnya pada tumpukan baju yang harus dicuci sambil tergagap, “M-mas, u-udah berapa hari nggak nyuci? Gila banyak banget. Tega kamu biarin Mama yang udah tua ngerjain ini semua sendiri?!”


Plak.


Plak.


“Aduh! Udah, Ki … ugh, ampun,” rengek Keven seakan pukulan Yuki terasa menyakitkan. Nyatanya hanya cukup panas meski bekasnya sedikit berdenyut kebas.


“Anak durhaka!” hardik Yuki sinis. Lubang hidungnya kembang-kempis menahan luapan kekesalan pada Keven yang Mama Agni katakan jarang pulang.


“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Please, percaya aku!” ucap Keven sambil mencekal pergelangan tangan Yuki, menghentikan pukulan dan tinjuan geram gadis yang siap memberontak kapan saja.


Sementara di balik pintu penghubung antara dapur dan lorong menuju bilik cucian baju itu ada Mama Agni yang entah sejak kapan sudah mengintip. Wanita tua itu sekuat tenaga mengulum rapat bibirnya, menahan tawa sambil berjalan mengendap-ngendap.


Kini tujuan terakhir Mama Agni adalah menyiapkan bangku terdepan di sudut jendela lantai dua yang tertutup tirai. Ia akan memantau kerjasama manis antara anak dan mantan menantunya dari celah tirai yang sengaja disingkap tipis.


“Kalau kamu setiap hari masak di rumah, pasti setiap hari pulang, kan?” tanya Yuki tiba-tiba sambil memeras sarung guling yang akan dijemur. Mengurangi air yang meresap ke serat kain karena tidak dimasukkan ke dalam pengering serta dicuci secara manual alias tanpa mesin cuci.

__ADS_1


“Iya,” jawab Keven singkat sambil menatap lamat Yuki yang tampak berpikir serius. Gadis itu terlihat mendelikkan pupil mata ke sisi kiri atas, sekejap berubah memicing dan mengangguk pelan.


“Tapi kata Mama kamu jarang pulang. Jadi sebenarnya aku ditipu kamu atau Mama?” ucap Yuki sedikit berbisik seraya menggeser langkah kakinya mendekati Keven. Menyisakan jarak hanya seruas jari di antara lengan yang nyaris saling bersentuhan.


Sontak jantung Keven berdebar gugup. Sekejap ia menahan nafas dengan tubuh membeku, lalu sedetik kemudian berkata jujur, “Mama … aku setiap hari pulang."


“Padahal aku bilang nggak mempan modusin orang yang doyan modus. Tapi ternyata di atas langit masih ada langit lagi."


Berbalik, Yuki berjalan menuju bilik cuci dengan pintu terbuka lebar menghadap halaman belakang. Gegas ia angkat ember hitam berisi pakaian dalam yang menunggu giliran dijemur. Tidak lupa dibawa pula hanger melingkar khusus untuk menjemur pakaian dalam atau kain-kain kecil lainnya.


“Udah duduk aja, biar aku yang jemur," ucap Keven sembari mengambil ember kecil yang Yuki angkat. Wajahnya mendadak bersemu merah. Malu karena boxer berbahan lentur, elastis dan lembut yang mendominasi isi ember itu.


Benar-benar tidak Keven sangka jika Mama Agni sengaja menyisihkan penutup aset miliknya seorang, bahkan menyuruh Yuki untuk mencucinya.


“Aku aja. Gak usah malu-malu gitu. Kayak aku gak pernah pegang kolor kamu aja. Lebih baik kamu cari tali buat bikin jemuran baru. Seprainya gak tau mau dijemur di mana lagi," balas Yuki sambil mengedikan dagu ke arah ember lainnya berisi seprai.


“Hah … Mama aneh-aneh juga. Semuanya yang udah kering dibasahin lagi," celetuk Keven agak kesal.


“Lagi?” Memicing, Yuki menatap tajam Keven yang salah tingkah. Ember yang diangkat bahkan langsung diturunkan.


“Jangan bilang kalau Mama ... ini ide kamu, kan?! Jujur!!" tuduh Yuki sengit sambil menghentakkan kaki geram. Namun sekelebat dapat ia tangkap sosok yang mengintip dari lantai dua.


Terbelalak sambil tertawa hampa, Yuki reflek meraih celana dalaman Keven dan meremasnya dengan kasar. Gigi yang mengatup rapat bergemeretak kuat. Sejurus kemudian dilirik gemas Keven yang bergidik ngeri.


"Konspirasi sukses," bisik Yuki penuh penekanan pada Keven.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih udah setia nungguin kisah Yuki😍


__ADS_2