Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bahagia?


__ADS_3

Beberapa puluh menit berlalu dari pesta pernikahan Ara yang usai, Yuki masih berdiri di lobi hotel. Entah apa yang dipikirkan, ia hanya beralasan ada pekerjaan yang mendadak harus diselesaikan. Praktis Yuki tidak ikut rombongan Ara maupun Dimas untuk pulang.


Kini kaki ramping yang tersembunyi dalam balutan gaun terusan panjang itu melangkah pelan, namun dengan penuh keyakinan. Dihampirinya seorang laki-laki dewasa yang beberapa saat lalu menjadi topik perghibahan hangat para gadis lajang dan ajaibnya juga beberapa wanita yang telah bersuami. Tentu karena wajahnya yang kelewat rupawan, pekerjaannya yang menjanjikan serta label sebagai adik sang mempelai pria yang statusnya masih single.


Benar, laki-laki yang termenung di sofa empuk lobi hotel, menatap lurus pantulan senja di balik dinding kaca itu tidak lain adalah Dion.


“Lagi patah hati? Kusut banget itu muka yang habis tebar pesona …,” ujar Yuki terkekeh geli. Ia berdiri tiga langkah dari hadapan Dion. Melipat tangan sambil menundukkan pandangan ke arah Dion yang duduk.


"Bener, kan?" ucap Yuki lagi. Ia menganggukkan kepala ke kiri dan kanan seritme ucapannya.


Detik berikutnya Yuki ikut duduk di samping Dion, tentu pada kursi sofa yang berbeda. Semua pergerakkan Yuki jelas diamati Dion dalam diam.


Mengulas senyum tipis, Dion menerawang pada binar kebahagiaan yang terpancar di mata Rava dan Ara. “Buat apa patah hati kalau dua orang yang kita sayangi bahagia?” ujar Dion membalas lemparan tanya Yuki dengan pertanyaan lainnya.


“Mas Dion bahagia?”


“Nggak ada alasan untuk aku nggak bahagia, Ki. Lagi pula sebenarnya masalah utama kita bukan menjadi tidak bahagia, tapi kapan terakhir kali kita merasa bahagia.”


“Benar sih.” Angguk Yuki membenarkan.


“Jadi kenapa muka Mas Dion kusut kalau bukan patah hati? Atau jangan-jangan galau ya kebanyakan dikasih kartu nama sama ciwi-ciwi tadi?” Menopang dagu dengan sebelah tangan bertumpu di atas lutut, serta kepala dimiringkan, Yuki dengan berani menatap sepasang bola mata Dion yang mengerjap pelan ke arahnya. Sontak pandangan keduanya bersirobok, terkunci cukup lama dalam keheningan dengan perasaan satu sama lain yang berbeda.


“Cuma mikir kalau hidup ini lucu. Padahal kita hanya perlu bersyukur, menikmati setiap alur kehidupan yang sebenarnya udah kita ketahui gak akan mulus selamanya. Bahkan kadang batu sandungan yang ada itu udah kita tau keberadaannya. Kalau kamu bilang aku galau, benar … Tapi itu dulu. Jujur aja dulu aku galau. Terlalu meratapi keputusan mengalah sebelum akhirnya aku sadar untuk kembali bahagia dengan pilihan aku sendiri.”


Menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, kepala Dion menoleh menghadap Yuki. “Bahkan aku yang sering bilang ke orang lain untuk terus bahagia juga bisa lupa untuk bahagia ... Lupa bahagia? Ya mungkin gitulah istilahnya,” lanjut Dion berucap.


Tersenyum kecut, sudut bibir Yuki yang tertarik ke atas terasa berkedut nyeri. “Aku nggak pernah lupa untuk bahagia. Tapi bahagia aja yang suka lupa sama aku. Dia bahkan selingkuh, yang setia itu cuma rasa sedih.” Yuki mendongakkan wajahnya, menatap kilau mentari yang condong ke barat di balik dinding kaca .


“Bukan bahagia yang selingkuh, tapi kamu … Kamu terlalu setia dengan kesedihan. Nyatanya bahagia mu udah menanti dijemput. Kalau bukan di tempat ini, pasti ada di tempat lainnya. Di setiap pemberhentian itu punya kadar kebahagiaan masing-masing. Jadi, jangan mudah menyerah dan gampang menjustifikasi keadaan dari sudut pandang subjektif.”


“Dalam banget kalimatnya, Mas,” gumam Yuki pelan, namun masih bisa Dion dengarkan.


Sejenak hening melanda keduanya. Tidak ada pembicaraan yang menyelingi helaan nafas konstan yang terhembus dari sepasang lubang hidung Yuki dan Dion.


Sepersekian detik kemudian Yuki menoleh, mengulas senyum pada Dion yang sudah lebih dahulu memandanginya. “Bau-baunya ada yang udah move on nih,” ucap Yuki sengaja menggoda Dion.


Laki-laki yang sedang duduk bersama Yuki ini sudah sejak pertemuan awal ketahuan oleh sinyal peka Yuki jika menyimpan rasa pada Ara, sahabat Yuki yang kini resmi menjadi kakak ipar Dion.


“Menurut kamu?”


“Mungkin udah, tapi mungkin juga belum. Bilang move on kan simple, tapi jalaninnya lebih ribet dari rumus fisika turunan.”


Sekejap Dion menegakkan punggung sambil menyerongkan duduknya, menyatukan kedua telapak tangan di atas paha dengan jari-jemari saling tertaut. Raut wajahnya seketika berubah serius. Ia menyorot dalam sisi samping wajah Yuki.

__ADS_1


“Kayaknya aku mulai move on karena kamu,” ucap Dion tiba-tiba masih dengan raut wajah serius, meski intonasi suaranya terdengar santai.


"Pfft! Gak lucu," balas Yuki dengan semburan tawa dan sekali kibasan telapak tangan di depan wajahnya sendiri.


"Aku serius."


“Hm,” dehem Yuki acuh. Namun percayalah jantungnya ingin meloncat keluar karena debaran kencang yang bergenderang.


Menyodorkan tisu yang dipelintir dan dirangkai melingkar sebesar jari kelingkingnya, Dion berkata, “ayo kita belajar serius berdua, mau?”


“Mak-maksudnya? Ha ha ha, lu-cu …,” sahut Yuki gelagapan. Tangannya kembali mengibas berulang kali di depan wajah yang memanas. Bersemu bagai tomat kelewat matang di pohon. “Ng-nggak, nggak usah banyak becanda, ya! Sumpah gak lucu.”


“Kenapa gak percaya? Butuh 5 menit untuk kasih jawaban?” Dion tidak gentar pada penyangkalan Yuki. Ia masih bersikap tenang. Bahkan cincin dari tisu itu masih disodorkannya pada Yuki. “Atau perlu 50 menit? Ini aku serius, bukan bercanda. Kamu tau kan urusan hati gak bisa dibuat candaan?”


Tubuh Yuki mematung canggung. Engsel lehernya seolah karatan, tidak bisa lagi untuk digerakkan. Bahkan untuk menelan air liur saja ia kesulitan. Pangkal lidahnya kelu, kerongkongan bagai diblokade dengan sekat tebal. Tidak pernah Yuki sangka akan berada dalam situasi canggung seperti ini.


“Kamu juga harus move on, kan? Takdir aja udah merestui, kenapa kamu kaget gitu? Ayo kita sama-sama move on."


Dion membuka telapak tangan Yuki, meletakkan cincin tisu buatannya ke dalam genggaman tangan gadis yang melotot dan melongo. Sejenak Yuki menatap gusar dengan dahi mengernyit dalam pada gulungan tisu berdiameter sebesar jari manisnya. Detik berikutnya diletakkannya cincin rapuh itu ke sofa, tepat di sisi paha Yuki.


“Haduh kepala aku … Berat-berat!! Gak bisa aku tuh diginiin,” rengek Yuki kesal. Tangan kirinya meremas rambut, sedangkan kelima kuku jari tangan kanannya bagai mematuk pelipis yang berdenyut.


“Oke … Kalau 5 menit bahkan 50 menit nggak cukup untuk kamu berpikir, aku kasih kamu waktu 5 ribu menit dari sekarang untuk berpikir matang-matang. Jadi dalam 3 hari 11 jam 20 menit kedepannya kamu harus udah punya jawaban buat aku. Sekarang, ayo ….” Telapak tangan Dion terbuka, terulur menggantung di hadapan Yuki yang kebingungan.


Memutar bola matanya malas, Yuki menatap sinis Dion sambil berkata, “apakah ada kemodusan di sini? Wah parah … Masih digantungin aja udah berani pegang-pegang.”


Yuki berdiri, menepis genggaman Dion sambil menggeleng tidak percaya. Sedangkan Dion hanya tersenyum santai karena Yuki tidak melamun lagi.


“Kadang terlalu percaya diri itu gak bagus,” bisik Yuki sambil menyeringai. Berlalu meninggalkan Dion dengan perasaan campur aduk. Sekali lagi Yuki mengibaskan tangan di udara seakan banyak asap mengepul dari kepala yang harus segera disingkirkan.


Iya, Yuki sedang belajar jual mahal. Namun ia juga benar-benar tidak percaya pada kalimat yang baru saja Dion lontarkan.


Belajar dari pengalaman, cintanya tidak pernah buta, hanya super bodoh saja. Yuki selalu tau kapan dirinya harus berhenti, namun selalu saja sisi bodohnya memilih bertahan. Maka dari itu kini Yuki ingin lebih berpikir cerdas dan logis agar tidak kembali meringis meratapi nasib.


“Berjuang itu terlalu mengesalkan kalau cuma separuh jalan. Bisa gagal sebelum berjuang sepenuhnya. Kamu kan tau sendiri," celetuk Dion yang kini sudah menyamakan langkah di sisi kanan Yuki. Laki-laki itu terlambat mengejar Yuki karena mencari cincin kusut yang terjatuh ke bawah sofa.


"Menyesal aku malah nemuin orang galau. Tau gini mending aku ikut Ara pulang," gerutu Yuki sengaja mengeraskan suaranya agar Dion dengar.


"Tanpa ketertarikan, kamu gak akan mungkin lebih milih temani aku yang katanya keliatan galau."


Skakmat. Apa yang Dion katakan tidak bisa Yuki sangkal, namun tidak sepenuhnya benar. Yuki hanya merasa mengerti bagaimana sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Bahkan Yuki kasihan pada Dion yang mulanya harus bersaing dengan saudara kandungnya sendiri hingga harus menjadi saksi di hari bersejarah belum lama ini.


"Kamu gak ke rumah Ara? Kita sama-sama aja ke sana," celetuk Dion.

__ADS_1


"Aku tadi udah bilang ada kerjaan."


"Pasti gara-gara aku, kan? Ternyata kamu bisa bersikap manis juga, selain bawel tentunya."


"Sok tau!" ketus Yuki.


"Makanya kamu terima aku aja supaya aku gak sok tau lagi," balas Dion dengan kerlingan mata.


"Mas Dion kok jadi genit sih?! Aku takut tau!" keluh Yuki sambil bergidik ngeri.


"Hahahahaha ...." Tawa Dion pecah mendapati wajah Yuki yang merengut sebal.


"Udah, ayo, aku antar pulang. Atau mau jalan-jalan? Mumpung masih cantik tuh," ucap Dion sambil merogoh kunci mobil dari saku celananya.


"Nggak lah, ribet jalan pakai gaun. Pulang aja, besok harus kerja."


...----------------...


Tiin ...


Suara klakson panjang tidak sengaja Dion bunyikan. Terpencet tangannya yang hendak memukul dahi dari kepala yang menunduk.


"Apa yang udah kamu lakuin, Yon?" tanya Dion pada dirinya sendiri.


"Bisa-bisanya spontan ngajak move on bareng. Dimana otak mu?! Dia pasti ngerasa aku jadiin pelampiasan. Padahal dirimu sendiri ... Argh ... Brengsek!" Dion mengumpati dirinya sendiri. Merasa bersalah karena sikap lancangnya terhadap Yuki, namun juga tidak menampik kelegaan yang perlahan mengisi kekosongan di dada.


Sejenak seulas senyum tipis menghiasi wajah kusut Dion. "Apa benar aku udah jatuh cinta lagi? Secepat ini? Gila!"


Dion menghembuskan nafas kasar, menyugar rambutnya ke belakang. Diliriknya ponsel yang bergetar, tertera nama 'Bang Rava' yang memanggil. Digesernya ikon hijau di layar guna menerima panggilan itu sambil kembali memacu mobil yang sengaja menepi di jalanan sepi. Samar-samar bisa Dion dengar suara perempuan yang sempat terpatri dihatinya sedang mengucapkan untaian kata perhatian pada Rava.


Cemburu? Tentu saja cemburu itu masih menghampiri, walaupun tidak memberi noda menyakitkan, hanya senyum kecut yang masih tersisa. Dan inilah yang tadi sempat Dion kesalkan akan dirinya sendiri, ternyata ia masih menyimpan nama Ara di hatinya, meski Dion yakin bukan dalam makna cinta.


Kini, entah harus bersyukur atau kembali mengumpati kecerobohannya yang terlalu terbawa suasana, Dion seakan menemukan sesuatu yang kembali menggelorakan hidupnya. Jelas bisa Dion tebak ada nama Yuki kali ini di ceritanya yang akan datang.


...****************...


*


*


*


Kira-kira Yuki terima atau nggak tawaran Dion? 🤔

__ADS_1


Terima kasih sudah mendukung tulisanku dan masih setia mengikuti kisah Yuki😘


__ADS_2