Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Xiao Sayangku


__ADS_3

Srot ...


"Jangan baper kamu. Aku nolak Mas Dion bukan berarti aku terima kamu lagi. Oya, buang di mana bekas ingusku ini?"


“Sini, di luar ada tempat sampah,” pinta Keven sambil menengadahkan tangannya. Jujur saja ia tidak terima atas penyataan Yuki, namun Keven sadar jika harus lebih berjuang lagi. Semua karena ulahnya sendiri hingga Yuki bukan miliknya lagi.


“Makasih,” ucap Yuki sambil menyerahkan tisu bekas ingusnya tanpa dosa. Ia lantas menarik helaian tisu baru untuk menghapus sudut ekor mata yang basah. Menghapus sedikit eyeliner yang belepotan, padahal ia tidak berlinang air mata.


Sedangkan Keven belum juga beranjak keluar mobil. Ia menunggu Yuki benar-benar selesai dengan drama tangisan yang sepanjang jalan sudah ditahan, namun terlihat bulir air mata dan ingus yang nyaris tidak bisa terbendung.


“Udah?”


"Belum. Aku masih sedih. Kesal juga sama kamu!"


"Mau nangis lagi?"


"Nggak. Capek nangis. Sekarang jadi lapar lagi."


"Tapi barusan kamu ...."


"Lambung aku besar dan aku juga nggak minta kamu beliin makanan. Argh … tiba-tiba tambah kesal aku ingat masakan kamu enak. Kenapa kamu jago masak juga sih?!” ketus Yuki sembari melirik sinis.


“Kamu suka? Ada makanan yang kamu mau? Nanti aku masakin," ucap Keven bersemangat. Bibirnya melengkung naik dengan kelopak mata melebar girang.


"Tapi sekarang jangan makan lagi ya ... aku takut kamu sakit perut,” lanjut Keven berucap. Berusaha memberi penjelas dengan lembut agar Yuki tidak merajuk.


Sedetik berikutnya tangan Keven kembali menengadah, diambil bekas tisu yang Yuki sodorkan.


“Gak perlu. Aku bisa masak sendiri. Beli makanan juga lebih gampang.”


Sejenak Keven keluar dari mobil. Menghampiri tong sampah dari potongan drum plastik berwarna biru. Sekejap matanya mengedar, berhenti pada sebuah warung sederhana yang terlihat sepi. Gegas Keven melangkah pergi. Membeli beberapa camilan dan tiga botol minuman beraneka rasa.

__ADS_1


"Lemah banget sih udah terjatuh, terpental, terinjak, tergeprek, kenapa cuma terendam malah mati?" lirih Yuki layaknya bergumam sambil menangkup wajah.


“Sampai kamu menangis darah sekalipun ponsel itu tetap gak akan pernah bisa dipakai lagi,” celetuk Keven sesaat setelah kembali ke mobil.


‘Berisik,’ batin Yuki kesal.


Bukan karena kecanggihan atau harga ponsel yang tentu saja mahal. Bukan pula karena seberapa penting isi ponselnya. Sesal dan tangis tanpa derai air mata Yuki tidak lain karena ponsel itu adalah hadiah ulang tahun dari Papa Gibran dan Mama Maria.


Suatu pengingat jika keluarganya masih bisa tertawa bersama, meski dalam sandiwara. Suatu kenangan manis yang ingin Yuki jaga lewat sebuah ponsel usang. Sayangnya, baik keluarga ataupun ponsel milik Yuki kini sudah sama-sama rusak. Tidak bisa dikembalikan seperti semula.


“Xiao-Xiao Sayangku, maafin Mami yang nggak bisa jaga kamu,” gumam Yuki tiba-tiba, sangat berlebih-lebihan dengan suara mendayu bak anak kecil merengek.


“Xiao?” gumam Keven dengan sebelah kanan alis yang menukik naik serta pupil mata melebar. Ada rasa cemburu yang kembali menyelinap. Namun sesaat kemudian ia paham siapa 'Xiao' yang Yuki maksud.


“Ada lagi yang mau kamu lakuin di sini? Mobil kita terlalu makan jalan,” ucap Keven sambil memperhatikan kendaraan yang melewati mobilnya.


“Nggak. Antarin aku pulang.”


Meskipun Keven berulang kali menawarkan agar Yuki menggunakan uang tunai yang ia bawa, tapi Yuki kukuh ingin menggunakan uangnya sendiri. Bahkan gadis itu memaksa Keven untuk menyebutkan nomor rekening guna mengembalikan uang yang dirasa bukan miliknya sendiri. Tentu saja tidak Keven turuti.


...----------------...


Menjejaki pasir putih di bawah malam berbintang dengan suara deburan ombak. Pekatnya langit terpampang nyata di mata Dion. Ditendang daun ketapang kering yang tiba-tiba tertiup ke kaki.


“Ternyata ditolak itu begini rasanya ... karma, kenapa datang terus-terusan? Apa ini peringatan buat aku yang belum siap punya hubungan? Tapi udah mau kepala tiga, ke mana-mana ditanya kapan nikah."


Menghela nafas panjang, Dion menurunkan pandangan pada lautan yang sama sekali tidak terlihat. Gelap dan hampa seperti kondisi hatinya saat ini.


Jauh di belakang Dion berjejer banyak lentera yang sebagian apinya padam, tidak berpenutup dan bebas tertiup hembusan angin laut. Sedangkan sebagian lagi masih bersinar terang di dalam pelindung transparan. Di sana pula berdiri Keven yang celingukan mencari keberadaan Dion.


Pertemuan malam ini adalah sebuah kesengajaan yang Keven inginkan. Ia yang menghubungi Dion terlebih dahulu. Keven juga yang meminta Dion untuk bertemu. Namun apa yang ingin disampaikan, sedikit banyak sudah bisa Dion tebak.

__ADS_1


Tak.


Suara benda keras yang terbentur ringan di atas meja kayu menggema.


“Jangan dekati Yuki lagi. Hubungan sebatas kakak adik … omong kosong. Kalian tetap dua orang asing.”


“Masuk akal. Tapi bukan salah kami jika suatu saat bertemu. Banyak kesempatan di mana aku dan Yuki bisa bertemu kapan aja.” Mengulas senyum tipis, Dion menjeda kalimatnya. Ia menyesap lemon tea hangat sebelum kembali berkata, “saranku jangan sia-siakan Yuki lagi kalau memang kamu pilihan terakhirnya. Karena selain aku, masih banyak laki-laki lain yang menunggu dia.”


Diam mengepalkan tangan, Keven rupanya membenarkan perkataan Dion. Yuki yang dulu dianggap menyebalkan, ternyata memiliki magnet kuat menarik perhatian lawan jenis. Beruntung ia menyadari lebih cepat, walaupun tetap terlambat.


Drak.


Menggeser kursi yang diduduki ke belakang, Keven beranjak berdiri. Ia raih ponsel miliknya sendiri. Meninggalkan ponsel pemberian Dion pada Yuki yang dikembalikan pada si pemberi. Tentu keberadaan ponsel itu hasil perampasan paksa.


Keven menukar ponsel yang Yuki gunakan dengan sangat memaksa. Bahkan Keven cukup bangga karena ponsel yang dibeli dari Kota B untuk Yuki jauh lebih baik dari pemberian Dion.


Tidak sia-sia Keven mengusik kedamaian Dimas dua hari belakangan sebelum berlayar pergi. Mencerca segala hal dengan dalih menunjang kebutuhan Yuki. Mengisi daftar nomor ponsel seluruh teman-teman dan keluarga Yuki dari yang diketahuinya sendiri sampai meminta bantuan Dimas. Tentu penuh perjuangan membujuk pemuda itu berada di pihaknya.


“Semoga ini pertemuan terakhir kita.” Mengulurkan tangan, Keven mencoba berdamai, meski aura permusuhan masih kentara berkobar. Tapi ia tetap berharap tidak akan pernah bertemu Dion lagi di masa depan.


“Semoga suatu saat kita bertemu tanpa ada amarah lagi,” balas Dion santai sambil menjabat uluran tangan Keven.


“Aku tunggu kabar baiknya," ucap Dion lagi kala Keven sudah berbalik hendak melangkah pergi.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰


__ADS_2