
“Aku sumpahin jadi jomblo seumur hidup biar gak bisa ngerasain bucin!” seru Yuki nyalang. Terlontar lantang seiring gemuruh ombak serta daun-daun dan ranting yang saling bergesekan.
“Ayo, By, pergi. Kita pindah tempat berkarang. Di sini ada kutu air,” ujar Yuki sambil mengeluarkan salah satu cup es campur dari kantong kresek yang Keven bawa. Menyedot brutal sampai tersedak cendol.
“Woy, jangan. Justru sekarang bantuin aku,” pinta Dimas tiba-tiba, menghadang dengan berani tepat di hadapan Keven. “Bang Ke jangan galak-galak ya. Ini demi ketenangan hati kita bersama.”
“Mau apa?” tanya Keven menurunkan ego. Mau bagaimana pun Dimas memegang peran penting di balik sebagian informasi tentang Yuki yang berguna kala itu. Masa-masa pendekatan ulang yang penuh rintangan.
“Inggita Rianti … atasan Yuki dulu,” ucap Dimas sendu. Mendadak sosok tengilnya berubah galau. Helaan nafas berat seakan menegaskan seberapa putus asa pemuda banyak tingkah itu.
"Apaan lagi, gak jelas." Merotasi bola matanya malas, Yuki berdecak keras lalu berkata, “terus?”
“Ya gitu …,” sahut Dimas ragu sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Hanya dalam tiga detik Yuki sudah membulatkan mata dengan mulut menganga. “Jangan bilang brondongnya tante?! Aaa ….” Yuki membungkam mulut dengan kedua telapak tangan sebagai alibi. Nyatanya ia tetap meneruskan jeritan heboh di dalam hati. Sebuah dugaan besar tengah berputar di otak.
Sekejap Yuki menghembuskan nafas panjang. Menggeleng cepat seraya berucap, “gak-gak, ini terlalu gak masuk akal. What? Kok bisa?”
“Cintaku kepentok stang motor, kecebur selokan sampai encok. Puas?”
“Pfftt! Gak. Bu Inggit loh Dim … serius? Kok bisa sih? Tau dari mana dia atasanku? Beda orang gak sih? Gak mungkin banget orang sehebat Bu Inggit sama burung wikwik model ginian.” Yuki memicing, memindai Dimas yang hanya mengenakan sandal jepit, celana jeans setengah tiang dan kaos oblong hijau lumut.
“Matanya santai bisa kan? Emang atasanmu. Titi yang bilang.”
“Huek, Titi? Gak sopan banget bocah kemarin sore sama orang yang lebih tua.”
“Tua Bang Ke kali. Cuma beda lima tahun juga. Mending panggilan sayangku Titi, dari pada ba-bi ba-bi," balas Dimas sengit tidak terima.
“BABY!!” tukas Yuki lantang sambil menoyor pelipis Dimas. Sekilas suaranya terdengar maskulin dengan percikan air liur menyembur.
"Sayang, udah. Makan ini sebelum dingin. Jadi maksudmu apa, Dim?" ucap Keven menengahi.
Sengaja Keven sodorkan semangkok bakso yang belum sempat tersentuh agar Yuki berpindah tempat dan duduk tenang. Cukup pusing serta kesal melihat interaksi akrab Yuki dan Dimas. Meskipun terlihat bagai ular dan macan kelaparan.
"Coba jelasin ke Titi kita bestie. Bilangin juga foto itu cuma iseng. Sama kalau ada simpan foto bareng Ara yang agak aneh tunjukkin sekalian. Biar dia gak curiga. Masa aku gagal PDKT. Udah habis banyak purnama akhirnya berdebar-debar, masa kandas gitu aja. Kasihanilah yang lagi mau move on ini."
__ADS_1
"Ponselku udah tamat, Cuit. Udah dicolong malah tenggelam di laut sama si maling. Lagian mau move on dari siapa? Jones ngaku-ngaku."
"Ya a-ada lah. Aku normal ya!" balas Dimas terbata, melirik sekilas dari sudut ekor mata ke arah Keven. Laki-laki yang sedetik lalu bersirobok pandang dengannya.
"Foto apa?" tanya Keven setelah beberapa saat menyimpan rasa penasaran.
"Oh itu, sebentar ... ini Bang."
Bagai petir di siang bolong. Kini ada hati lain yang bertambah terbakar. Namun tidak untuk Yuki yang terbahak-bahak. Pasalnya foto saling mencolok hingga sebelah mata juling itu terlihat sangat aneh, bahkan lebih aneh lagi bila harus dicemburui.
"Lucu?" tanya Keven dengan intonasi rendah pada Yuki. Melempar kilatan menghunus berbau aura permusuhan pada Dimas yang bergidik ngeri.
Memiliki dua sahabat perempuan sepertinya cukup melatih Dimas agar tahan banting, lebih tepatnya tahan jika harus dibanting orang yang cemburu buta.
"Banget, By. Jelek banget muka dia."
"Banyak ya foto kalian yang kayak gini," ujar Keven sambil menyeringai seram. Jemarinya terus menggeser puluhan foto yang nyaris serupa, maksudnya sama aneh namun tetap intim.
"Sama apanya? Beda, By. Ini gaya bebek. Terus ini main jambak. Nah ini dia sebenernya nyontek tapi sok ngajak selfie. Terus ini waktu di pantai mau foto cantik bertiga tapi kursinya patah. Ya ampun dia nyempil kayak orang ketiga-"
"Bang, udah ya, Bang. Balikin. Jangan diremukin. Dia yang gak peka, jangan ponselku yang kena petaka," sela Dimas memelas, sadar pada fokus sorot menghunus tajam Keven. Jepretan absurd nan nyeleneh itu rupanya selalu menyajikan sebelah tangan saling merangkul bergantian.
"Bisa gak kamu gantengnya kurangin dikit?” celetuk Yuki menggoda seraya berjalan mundur mendahului Keven. “Eh, jangan deh. Bisa gawat kalau target cuci mataku kurang estetik.”
Keven menggeleng pasrah. Gadis di depannya ini seakan tidak ada takut-takutnya meski sedari tadi Keven diamkan.
“Gak capek?”
"Memang kalau aku capek kamu mau gantian ngomong? Dari tadi diem aja. Aku malah capek nungguin kamu kapan ngoceh. Makanya aku harus jadi arwah penasaran yang setia menghantui kamu,” seloroh Yuki sambil mengerling nakal. Sayangnya tidak juga digubris Keven.
'Masa gitu aja beneran ngambek?' batin Yuki tidak habis pikir. Sejurus kemudian kembali melebarkan senyuman manis seraya berkata, "sayangku masih ngambek ya? Ya ampun berkerut-kerut gitu tambah cepet penuaan. Hati-hati loh nanti bukan dipanggil Papa, tapi Eyang Kakung, hehehe ….”
Menghentikan langkah kakinya, Keven menarik pergelangan tangan Yuki. Secepat kilat berpindah merangkul pinggang gadis yang terhuyung ke depan itu sembari merundukkan badan.
"Kamu dari kemarin bahas anak terus, udah siap?" bisik Keven sambil membelai lembut pipi Yuki.
__ADS_1
"A-ap-pa, ha?"
"Siap ...." Keven sengaja menggantung perkataannya. Memindai satu per satu sisi wajah Yuki. Menelusuri alis, garis kelopak mata bahkan daun telinga yang mendadak bersemu merah.
Sudut kiri bibir yang tertarik naik itu sukses membuat Yuki membeku. Ia bergeming sepersekian detik memproses ekspresi penuh makna Keven. Pupil matanya bahkan bergerak acak sangat gugup.
Kini bersama sorot senja yang menghilang, Yuki gelagapan dan kesulitan bernafas. Salah tingkah membuat otaknya membeku. Bodohnya menggoda laki-laki dewasa yang sejatinya memilih menyegel insting buas penuh kerakusan. Apa lagi kini hanya ada mereka di tempat yang teramat sepi. Benar-benar cari mati.
"Berhenti sebelum kamu aku gigit."
Seketika Yuki menelan kasar air liurnya. Membalas dengan kekehan canggung dan berlari kencang setelah mendorong kuat Keven agar menjauh.
Sontak sepanjang perjalanan Yuki menjadi pendiam. Ia serius mengalihkan pikiran agar tidak keseringan menyebut soal anak.
Tapi bukannya teralihkan, Yuki justru tersipu malu-malu kucing kala bayangan mesra dirinya dan Keven semakin berkelebat hebat.
“Katanya gak boleh peluk-peluk," celetuk Keven sambil menurunkan pandangan sekilas pada belitan yang mengunci perutnya. Semakin lama bertambah erat. Bahkan tidak jarang terasa kepala gadis yang menempel di bahunya itu terguncang oleh tawa tanpa sebab.
“Hish, dikasih bonus gak mau.” Reflek Yuki mencubit perut keras Keven. Menepuk kuat bahu kokoh yang membuatnya nyaman.
“Sini.” Spontan Keven menarik tangan Yuki, menahan paksa agar gadis itu kembali memeluknya dari belakang.
“Dasar modus ... By, nanti peluk aku sekuat ini ya," ucap Yuki tiba-tiba. Ia julurkan leher agar kepalanya menyembul di atas bahu Keven. "Soalnya aku gampang kabur. Efek doyan main kejar-kejaran. Pokoknya minimal harus seerat ini."
“Kamu boleh lari. Boleh kabur ke mana pun kamu mau, tapi ….”
“Tapi apa?”
Perlahan laju perputaran roda motor itu berkurang. Bergerak menepi sambil menikmati malam yang mulai menyapa. Sejenak Keven mengulas senyum tipis lalu menjawab, “tapi harus ajak aku. Gak boleh ninggalin aku. Kabur dan larinya sama aku.”
“Kamu lagi ngelawak? Orang kabur ngapain ngajak-ngajak. Kamu kena penyakit gak jelasnya Dimas nih.”
“Gak usah sebut nama laki-laki lain!”
“Argh, Mas! Sakit-ih, nakal," rengek Yuki sambil menepuk-nepuk perut Keven. Pasalnya punggung tangan gadis itu baru saja Keven cubit. Sebenarnya tidak sakit sama sekali, Yuki sengaja merespon berlebihan.
__ADS_1
...****************...
Terima kasih untuk semuanya yang udah baca sampai sejauh ini😘 Semoga tetap ngikutin sampai tamat🥰