Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Terlambat Menyadari


__ADS_3

Lalu lalang keramaian para pegawai membersihkan sisa pesanan catering sebuah acara resepsi pernikahan tidak dapat mengusik lamunan Keven. Laki-laki itu diam mematung, termangu dengan segala pikiran berkecamuk yang berhasil menyita seluruh alam bawah sadarnya.


Matanya memang menatap lurus kesibukan yang melintas, namun otaknya beku untuk menyimpan memori hasil tangkapan reseptor mata.


"Pak? Pak Keven?" panggil manajer restoran utama milik Keven sendiri yang ikut serta menghadiri perjamuan itu. Tujuannya tentu bukan hadir sebagai tamu, namun memantau kinerja pegawainya dalam perhelatan besar resepsi pernikahan putri semata wayang salah seorang pejabat tinggi di Kota B.


"Pak?" panggilnya lagi, namun kali ini dengan sedikit sentakan di lengan Keven.


"Kenapa?" tanya Keven datar. Cukup terperanjat saat mendapati sang manajer sudah berada di sampingnya.


"Semua sudah selesai, Pak. Pembayaran terakhir juga sudah lunas lewat perantara Bu Susi, pihak wedding planner." Manajer itu menyodorkan bukti serah terima yang sudah dibubuhi tanda tangan basah di dalam sebuah map hitam berhias bingkai emas.


"Untuk uang juga sudah ditransfer ke rekening restoran," ujar sang Manajer lagi sambil melepaskan tangannya dari map hitam yang sudah berpindah ke tangan Keven.


Menghembuskan nafas berat, Keven mengangguk pendek. "Terima kasih. Tolong selesaikan urusan ini. Saya duluan." Mengulas senyum kaku yang jarang Keven lakukan, ia meneruskan langkahnya meninggalkan gedung perhelatan. Tentunya sikap Keven ini berhasil membuat manajer restoran yang sudah bekerja cukup lama terbengong kaget.


...----------------...


Ceklek.


Kamar itu kosong. Sudah beberapa hari Yuki menghindari Keven. Entah Yuki yang berpura-pura tidur, sibuk menempel Mama Agni atau tiba-tiba beralasan tugas menumpuk sebelum KKN yang tidak pernah ada penjelasannya.


Bahkan saat bersama orang tua Keven sekalipun Yuki akan pandai mengalihkan pembicaraan, membawa suasana hening yang ingin Keven sela berubah menjadi keseruan. Kontras hal itu membuat semuanya larut dan tidak menyadari adanya kecanggungan yang mendera Keven. Atau mungkin hanya pura-pura tidak tau.


Yuki bukan marah, namun benar-benar kecewa dan Keven menyadari hal itu. Oleh karena itu Keven ingin memperbaiki kekecewaan berubah menjadi awal mereka menyamakan langkah. Namun laki-laki yang tidak pernah melunakkan dirinya selain bersama Alia itu sangat sulit untuk menghadapi Yuki.


Sikap Alia dan Yuki yang sangat berbeda membuat Keven bingung harus dari mana untuk memulai memperbaiki hubungan yang terlanjur gagal itu. Satu lagi yang menjadi tamparan bagi Keven, ia terlambat menyadari status nyata dalam hubungan semu yang mulai nyaman dijalaninya.


"Huufft ...." Frustasi Keven menatap lemari kosong yang ada di hadapannya. Tangannya terangkat menyapu pada kayu lemari yang terasa dingin. Baru Keven sadari jika baju Yuki tidak banyak. Kini yang tersisa hanya beberapa helai yang tergantung rapi di hanger.


Sore tadi tanpa sepengetahuan Keven, Yuki sudah menarik koper dan tas ransel yang sudah 2 hari lalu dipersiapkan. Keven jelas tau jika esok hari Yuki sudah bertolak ke tempat KKN yang tidak pernah Yuki sebutkan namanya. Tidak tau, belum diberi tau, dan baru akan diberi tau saat keberangkatan, selalu itu alasan Yuki jika ditanya Mama Agni.


Keven tentu saja mencoba memancing obrolan dan salah satunya ikut bertanya mengenai tugas kampus Yuki berupa KKN itu, namun ajaibnya Yuki akan berubah bak patung air pancur. Ditanya tidak menjawab dan hanya berisik mengeluarkan pembahasan tidak jelas yang tentunya bukan untuk Keven tanggapi, karena nyatanya Yuki hanya sibuk berdialog dengan kedua mertuanya. Keven benar-benar diabaikan.


Menuruni anak tangga dengan kemeja berantakan, wajah kusut dan badan kecut karena belum mandi, Keven mengedarkan pandangannya mencari Mama Agni. Terlihat ibu kandung Keven itu nyaris tertidur dengan mulut menganga dengan posisi duduk bersandar di sofa. Remote televisi yang digenggamnya pun hampir saja terjatuh.


"Ma?" lirih Keven di belakang punggung Mama Agni.

__ADS_1


Keven yang tidak mendapat sahutan langsung melangkah memutari sofa panjang. Sontak saja matanya langsung mendapati Mama Agni yang terpejam. Kembali helaan nafas pendek namun berat terhembus.


"Awh!" desis Keven sesaat sebelum telapak tangannya berhasil meraih bahu Mama Agni. Tangan Papa Leigh yang lebih cepat darinya sudah berhasil menarik telinga anak nakalnya itu.


"Mau tanya Yuki? Sama Papa aja, biarin Mama mu tidur kalau gak mau perang!" bisik Papa Leigh tajam, tepat di sisi daun telinga kiri Keven.


Kini ayah dan anak itu sudah duduk di balkon, ditemani kopi pahit sebagai doping agar mata tetap terjaga.


"Kenapa Papa izinin Yuki pergi?" tanya Keven sambil melirik Papa Leigh sekilas lewat ekor matanya.


"Memang kenapa? Toh udah izin. Lagi pula alasannya logis. Papa juga yang antarin Yuki ke tempat kos temannya itu. Tempatnya masih di sekitar wilayah kampus," jawab Papa Leigh santai, menggoyangkan sebelah pergelangan kakinya yang bertumpu di atas kaki lainnya.


"Bukan gitu, Pa ... Keven bahkan gak tau Yuki udah pergi," keluh Keven dengan putus asa. Menyugar rambutnya yang menutupi dahi hingga tertarik ke belakang.


"Lah kamu gimana jadi suami sampai istri pergi gak tau? Introspeksi Kev kenapa Yuki bisa pergi tanpa ingin kamu tau. Saat ini percuma kalau kamu hanya mengeluh," ucap Papa Leigh sambil menepuk pelan bahu kiri Keven.


"Papa Mama gak mau terlibat ke dalam masalah kamu meski kami tau. Orang tua itu tetap pihak ketiga. Kami cuma bisa memberi nasehat." Menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, Papa Leigh melanjutkan kalimatnya, "kamu itu laki-laki, harus tegas, bedakan mana yang lebih prioritas di hidup kamu. Sama seperti kamu yang Papa suruh introspeksi, Mama mu juga minta Yuki untuk mulai belajar memilah dan memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri."


"Maksud Papa?" sela Keven dengan dahi mengernyit. "Memilah? Memilih?"


"Kamu pasti paham apa arti dari kalimat Papa barusan. Bahkan tanpa embel-embel menantu, Yuki tetap akan jadi anak perempuan di keluarga ini. Yaaah ... Kamu tau kan Mama mu selalu ingin punya anak perempuan?"


"Seandainya ...."


"Gak, Pa. Stop! Keven tau selama ini hubungan kami terlihat gak baik-baik aja di mata kalian, tapi Keven sekarang mau memperbaiki semuanya."


"Percuma kamu jelaskan ke Papa kalau gak mau jujur ke Yuki. Pernah kamu ajak Yuki bicara empat mata membahas tentang kalian? Papa yakin gak pernah," ucap Papa Leigh menyepelekan yang tidak bisa dielak Keven.


Laki-laki yang terlalu putus asa itu menatap rembulan yang tertutupi awan tebal, langit cerah malam itu berubah mendung.


Sedangkan Yuki yang sengaja memblokir nomor Keven sibuk mengetikan sesuatu di layar ponselnya. Berbalas pesan dengan laki-laki lain. Entah sudah bisa disebut selingkuh atau tidak karena nyatanya isi percakapan itu layaknya perghibahan.


Drrt, Drrt...


"Pacar ya kok senyum-senyum gitu?" celetuk seorang gadis dengan setelan baju tidur bermotif strawberry. Masker yang belum kering membuatnya berani menyeletuk kalimat yang sedari tadi sudah gatal ingin diucapkan.


"Bukan, Is ... Kenalan aja." Menggeleng pelan Yuki tersenyum menjawab pertanyaan sosok 'Is' yang baru dikenalnya tidak sampai 2 minggu itu. Jari lentiknya membuka pop up notifikasi pesan masuk yang membuat matanya membulat.

__ADS_1


^^^Me^^^


^^^Serius itu Pak Rava gitu? Orang bucin memang beda ya ... Gak kebayang kalau Ara sampai tau. Serem juga sih, diam menguliti, bergerak menjadi penguntit.^^^


Mas Dion


Kocak. Tapi mungkin Ara udah tau. Yang gak kebayang kalau Bang Rava tau aibnya aku sebar.


^^^Me^^^


^^^Adek laknat. Siap-siap aja dicincang sama Pak Rava.^^^


Pesan balasan itu terkirim pada kontak bernama 'Mas Dion'. Tentu dia adalah Dion yang sama dengan laki-laki yang menghampiri Yuki saat tragedi tusukan paku di ban motor.


Keduanya sepakat bertukar nomor ponsel setelah sempat menghabiskan waktu berbincang sambil menanti giliran ganti ban. Komunikasi yang awalnya basa-basi menanyakan motor berlanjut dengan obrolan seputar Ara. Iya, sekilas kisah tentang Ara menjadi perantara kedekatan mereka.


Meletakkan ponselnya di samping bantal, Yuki sudah mematikan sambungan data internet ponselnya. Kini tangannya menarik selimut tipis sebatas bahu. Udara mulai terasa dingin menusuk dan malam itu sepertinya akan turun hujan.


Jdaarr ...


Pyar.


"Aduh, Kev! Mama mu bisa marah ini cangkir barunya pecah ...," ucap Papa Leigh sambil berdiri panik. Pasalnya kilatan petir disertai suara menggelegar kencang mengejutkannya. Alhasil cangkir yang baru diangkat oleh jari renta nya lepas kendali dan tergelincir membentur lantai keramik balkon.


"Biar Keven aja yang bersihkan. Lebih baik Papa ganti celana, itu basah kecipratan."


"Celana basah itu bukan masalah besar, Mas. Besok ini Mama mu pasti ngomel panjang lebar." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Keven seolah sudah mendengar omelan nyaring Mama Agni.


"Oh iya, lebih baik susul istri mu besok pagi sebelum dia pergi. Tadi Yuki bilang jam 5 bus nya langsung berangkat dari halte kampus."


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah bersabar menanti kisah Yuki🥰


__ADS_2