
“Bisa ikutan gila aku lama-lama hidup sama dia.” Mengusap wajahnya kasar, entah mengapa ia menyesal memilih Yuki sebagai istrinya.
“Seandainya perempuan itu kamu, mungkinkah aku akan bahagia saat ini?” Tanpa sadar dirinya bergumam sambil membayangkan sosok Alia, wanita yang sudah lama ia cintai.
“Hi..”
Adelia Larina (Lee Sung Kyung)
Menatap sepasang kaki jenjang di hadapannya, aroma parfum hingga suara yang menyapa terdengar sangat familiar.
“Al-Alia? Kamu di sini?” Matanya terbelalak kaget hingga suaranya tergagap.
“Iya, aku di sini.” Jawab Alia riang, tersenyum hangat pada sosok yang tidak rela ia lepaskan.
Alia tau dirinya bersikap egois, tapi ia benar-benar tidak ingin melepaskan laki-laki yang rupanya sudah sejak lama memendam rasa kepadanya. Seandainya saja ia tidak terlambat mengetahui fakta tersebut, mungkin kini mereka yang menjadi pasangan suami-istri, begitu pikir Alia.
‘Aku menyusul kamu.’ Imbuh Alia dalam hati, mendekap lengan suami orang tanpa tau malu. Bergelayut manja layaknya sepasang kekasih, padahal jelas tatapan Alia sempat bersirobok dengan sorot mata tajam Yuki.
“Jadi gini rencana kamu mau buat aku tersiksa? Coba aja kamu bikin aku tersiksa, akan aku buat kamu menyesal udah berani melakukan hal itu suami ku tersayang.” Geram Yuki yang salah paham, menyaksikan pemandangan menjijikan dari kejauhan sambil mengepalkan tangan. Ia mengira bahwa kehadiran Alia adalah sebuah kesengajaan sang suami laknat.
Memilih menjauh dengan tatapan terluka, hati tercabik dan perasaan tercerai berai. Air mata Yuki mengalir membasahi pipi mulusnya. Berjongkok di lobby yang sepi, Yuki menengadahkan kepalanya, menangis tersedu tanpa sadar terpantau CCTV hingga menjadi aktris dadakan di ruang keamanan.
“Kenapa juga harus nangis sih!!?” Gumam Yuki kesal, mengusap kasar lelehan air mata dengan punggung tangannya.
Sayangnya pemandangan itu tidak hanya terjadi hari itu saja. Hanya 3 hari waktu mereka honeymoon, tapi selama itu juga selalu terisi kehadiran Alia. Bahkan Yuki sempat disangka sebagai seorang adik posesif yang mengganggu waktu honeymoon kakak nya. Menyebalkan!
Yuki akui dirinya masih kalah strategi tempur dengan jelmaan belut laut. Meski tampak tegar, Yuki jelas hancur secara perlahan. Ingin rasanya ia mengadu pada Mama dan Papa yang sudah memindahkan tanggung jawab atas dirinya kepada sang suami, namun sekali lagi Yuki sadar bahwa urusan rumah tangga nya bukan konsumsi pihak luar, termasuk pula orang tuanya.
“Kak Alia habis kesambet jelmaan belut laut yang dikawin silang sama ulat keket ya?” Seloroh Yuki memamerkan gigi putihnya lewat senyuman sumringah. Tidak tau saja kedua tangannya sudah terkepal erat meremas lengannya yang terlipat di depan dada.
Menghiraukan tatapan melotot sang suami, Yuki menggeser kasar Alia dari posisinya. Duduk manis tanpa dosa sambil mengangkat bahu acuh saat sebuah geraman menyeruak pendengarannya.
...----------------...
Ting.. Tong..
__ADS_1
“Ma..”
“Menantu Mama udah pulang..?” Seorang wanita paruh baya tersenyum sumringah, melewati anak laki-laki nya yang sudah merentangkan tangan.
“Halo, Ma, Pa..” Sapa Yuki sopan, mengangguk singkat pada kedua mertuanya.
“Anak Mama di sini, bukan di situ.” Mendengus sembari merotasi matanya, acara pelukan layaknya kartun anak-anak yang popular pada masanya melupakan sosok anak kandung merangkap anak pertama keluarga itu.
“Sekarang anak Mama itu Yuki. Salahnya kamu sempat bikin Mama mu kesal.” Ucap laki-laki paruh baya yang berdiri di ambang pintu.
“Hah..” Hembusan nafas itu terdengar berat dan kasar.
“Udah sana kamu bawa barang-barang kalian ke kamar. Biar Yuki sama Mama dulu, Mama penasaran sama cerita honeymoon kalian.” Kalimat itu mengusik 2 hati yang terpaksa bersatu dengan rasa yang berbeda. Jika sang lelaki tertegun takut pada kejujuran sang istri, maka sang wanita sedang kalut sibuk merangkai kebohongan indah yang tidak memilukan dirinya sendiri.
“Yuki?” Cegahnya sambil memegangi pergelangan tangan Yuki.
“Aku sama Mama dulu ya, Mas.” Ucap Yuki lembut, menepis pelan genggaman di pergelangan tangannya.
“Berjanjilah untuk membayar aku karena sebuah kebohongan yang akan aku ucapkan!” Bisik Yuki lirih sambil mengusap lengan kokoh yang diakhiri colekan dagu.
“Ya ampun kalian ini.. Udah main bisik sama colek aja di depan Mama. Kalau kayak gini kan Mama jadi yakin kalau kalian memang saling sayang.”
“I-iya.” Jawabnya terbata-bata, gugup dan nyaris terucap penolakan di bibirnya.
“Singkat banget.”
“Anak Mama kan memang gitu kalau malu-malu. Hehehe..” Terkekeh Yuki mencoba menyembunyikan perasaan aneh layaknya berputar di taman bunga mawar kala musim semi kemudian tertusuk durinya. Berawal senang dan berakhir mengaduh, begitu kiranya.
“Minum dulu Mas.” Ucap Yuki sambil menyodorkan secangkir teh hangat yang baru di tuang dari teko.
“Biar Yuki yang tuang teh buat Papa.” Ucap Yuki lagi sambil meraih cangkir lainnya. Menuangkan kembali teh hangat di malam yang pekat untuk mertuanya.
“Enak. Kamu pintar ya bikin teh.” Puji Papa Leigh, mertua laki-laki Yuki.
“Cuma bikin teh aja anak kecil juga bisa, Pa. Berlebihan banget mujinya.” Selorohnya mencibir pujian yang menurutnya sangat berlebihan.
“Kamu waktu kecil gak bisa tuh bikin teh.” Tukas Papa Leigh telak, membungkam bibir nyinyir yang tidak suka Yuki diberikan pujian.
__ADS_1
“Pisang goreng datang..” Ucap Mama Agni dengan suara melengking, berjalan mendekat dengan cepat.
“Wangi banget, Ma..” Ucap Yuki sembari membantu Mama Agni meletakkan piring berisi pisang goreng ke atas meja ruang keluarga. Keempatnya sedang berkumpul sambil menonton televisi.
“Ini kesukaan suami kamu loh, Ki. Besok bantu Mama bikin lagi ya.. Ada resep khusus di pisang goreng kesukaan dia.”
Byur..
Semburan berbau daun teh keluar secara tiba-tiba, bukan karena terkejut pada perkataan Mama Agni. Bukan pula karena tayangan iklan platform belanja online dengan model berbaju ketat hijau membungkus hingga kepala, menyisakan wajah dengan bibir berkomat-kamit menyanyikan slogan andalan.
“Kamu kenapa Mas?” Tanya Yuki panik, memasang raut wajah khawatir, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia sedang tertawa kencang.
“Teh apaan ini rasanya asin!?” Kalimat tanya itu terlontar dengan suara yang meninggi.
“Asin apaan sih Mas? Papa minum manisnya pas.” Bantah Papa Leigh sambil mengernyit heran.
“Manis dari mana coba, Pa? Asin banget.” Menatap tajam Yuki yang masih memasang raut bingung, ia tau pasti ada yang tidak beres dengan minumannya.
“Sini biar Mama coba.”
“Pakai gelas beda ya, Ma? Biar Yuki ambilkan. Bekas si Mas kan udah kena semburan tadi.” Secepat kilat Yuki bergerak menuangkan minuman manis itu ke dalam cangkir untuk Mama Agni.
Rahasianya tidak boleh cepat terbongkar. Yuki memang sengaja menaburkan banyak garam ke dalam salah satu cangkir, sudah jelas bukan untuk digunakan siapa cangkir itu? Benar, cangkir untuk suaminya. Anggap saja itu cicilan hutang karena lidah Yuki sudah dipergunakan untuk membohongi Mama Agni dan melukai hatinya sendiri.
...****************...
*
*
*
Nama Papa Leigh bacanya Papa Li ya😁
Sebelumnya Hana juga mau kasih tau kalau di kisah ini nantinya akan banyak flashback. Jika menjadi kurang nyaman maaf ya.🙏
By the way, ada yang senang dengan kejahilan Yuki?😎
__ADS_1