
“Kamu itu tuli ya!? Udah berulang kali aku bilang gak usah sok baik!” Ucap Keven dengan intonasi rendah. Sungguh kekesalan dari sisa semalam membuat emosi Keven meluap-luap.
“Tapi Mas, aku cuma mau kasih ini.”
“Shiit! Udah dibiarin harusnya sadar!” Umpat Keven semakin kesal. Merebut dengan kasar botol yang masih Yuki genggam seolah menyalurkan segenap amarah pada botol tidak bersalah, sedetik kemudian Keven mengayunkan tangannya yang membuat Yuki memejamkan matanya erat.
Pyar..!
Bersamaan dengan kepingan botol kaca yang berhamburan, hati Yuki seolah tersentil ketapel timah, sakit. Menatap Keven dengan sorot terluka, Yuki tidak menyangka jika Keven bisa tiba-tiba bertindak sedemikian rupa.
Apakah dirinya sudah keterlaluan? Apakah dirinya sudah sangat mengganggu? Atau mungkin Keven sedang datang matahari? Begitulah sekilas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Yuki.
“Yaah.. Sayang banget botolnya jadi pecah. Padahal kalau mau dibuang isinya aja bisa, botolnya kan bisa dipakai lagi nanti.” Ucap Yuki bermonolog seorang diri, memaksa bibirnya yang bergetar untuk terus tersenyum padahal jemari yang memunguti pecahan botol miliknya terasa ngilu melemas. Efek menahan tangis rupanya bisa berimbas pada melemahnya kekuatan sistem gerak.
Tanpa disangka mata Yuki sudah berembun. Alhasil pecahan botol kaca yang tersisa sedikit itu tidak tampak lagi di mata Yuki meski hanya sekedar bayangan.
“Kenapa nangis sih? Payah, lemah nih aku.. Argh! Baper banget!!” Gumam Yuki lirih, mengusap air mata yang terus berjatuhan. Sepertinya air mata yang selama ini Yuki simpan di balik senyum dan sikap tegar nya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Beranjak pergi dengan kepingan yang sudah ia kumpulkan dan dibantu beberapa pelayan restoran suruhan Keven agar membersihkan pecahan kaca botol yang dibanting, Yuki merasakan dilema yang teramat sangat besar. Ia tidak ingin kepedean lagi, sama seperti saat Keven mengantarnya pulang kala itu. Faktanya Keven hanya kasihan dan rasa kasihan itu sudah Yuki salah artikan sebagai bentuk ketertarikan.
Yuki tau, tapi ia menutup mata dan telinga. Satu hal yang membuat Yuki tetap berjuang, Saka. Bukan karena Yuki juga menyukai Saka, namun memang Saka lah yang selama ini bersikap baik pada dirinya. Setidaknya mencintai Keven sekaligus menjadi pengganggu lebih baik dibandingkan membiarkan ikatan yang salah diantara Saka, Alia dan Keven.
Sejujurnya Yuki ingin mengatakan apa yang belum lama ini ia lihat dan dengar dari pembicaraan Alia dan Keven. Menjelma sebagai penguntit Keven yang selalu saja ada akalnya, Yuki menyimpan sebuah bukti yang tentunya akan menghancurkan segalanya, termasuk persahabatan ketiga orang dewasa itu.
“Heh, pecundang.” Bentak kasar dari balik punggung Yuki.
Memutar tubuhnya sebelum sempat duduk di jok motor yang terparkir, Yuki mendapati Alia sudah berdiri dengan pongah sambil bersedekap. “Maksud Kak Alia aku?” Tanya Yuki sembari menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Lebih baik kamu keluar dari sini.” Ucap Alia tanpa basa-basi.
“Ini kan aku udah di luar Kak. Mau keluar ke mana lagi?” Ucap Yuki sambil terkekeh, pura-pura tidak tau makna sebenarnya dari kalimat Alia.
“Gak usah pura-pura bodoh ya..!!” Bentak Alia kuat menarik atensi beberapa orang yang kebetulan mendengarnya.
“Aku memang bodoh Kak, jadi si bodoh ini pulang dulu ya. Aku mau kuliah sebentar lagi biar pintar.” Ucap Yuki santai, memutar badannya serta ingin menuntun motor miliknya sedikit menjauh baru dinyalakan. Namun sayang, baru dua langkah kaki Yuki menapak, ia sudah tersentak ke belakang akibat tarikan kuat di rambutnya.
“Aduh.. Apa-apaan sih Kak!?” Ucap Yuki sedikit meninggi, mencengkeram erat pergelangan tangan Alia, berusaha memisahkan rambutnya dengan genggaman kasar Alia. Kesal, tentu saja itu yang Yuki rasakan. Kulit kepalanya seolah ikut tertarik lepas.
“Keluar dari restoran ini dan jauhi Keven!” Ucap Alia dengan suara berintonasi rendah yang tidak ingin didengar oleh orang lain. Entah otak Alia sedang vakum atau bagaimana, pasalnya aksi jambak yang ia lakukan sudah cukup menarik perhatian.
Memang benar kondisi restoran masih lenggang karena waktu yang terlalu pagi, namun pengendara yang berlalu-lalang dan orang-orang yang berada di sekitar area restoran tentu tanpa sengaja dapat melihat pertikaian itu.
“Kalau Mas Saka boleh?” Tanya Yuki sambil menyengir dan menahan sakit di kulit kepalanya. Jelas Yuki hanya bercanda. Siapa juga yang mau mendekati Saka, level kejahilan, cerewet dan rasa tidak ingin mengalah Yuki dan Saka berada pada tingkat yang sama.
Memanfaatkan celah saat Alia tercengang, Yuki berhasil melepaskan diri. Kini berganti Yuki yang mencengkeram erat pergelangan tangan Alia. Menyalurkan segenap kekuatan emosi negatif di telapak tangan kanannya.
“Dasar gila! Lepasin tangan aku!” Berontak Alia, menepis tangan Yuki dengan pukulan asal dan cakaran kasar. Namun Yuki bergeming, menahan kesakitan dan rasa perih menjalar yang seakan tidak dirasakan kulit tangannya.
“Sakit kan? Selama ini aku diam hanya sebagai bentuk hormat ke yang tua. Harga diri mu itu kemana setelah bilang cinta ke Mas Saka harus bersilat lidah bilang cinta juga ke Mas Keven?” Ucap Yuki sambil menghempaskan pergelangan tangan Alia yang dicengkeramnya. Kobaran amarah Yuki seolah ingin membakar hidup-hidup daging bernyawa di hadapannya.
Mengayunkan kaki selangkah lebih mendekat, Yuki berucap lirih. “Pernikahan? Apa benar pernikahan itu akan terwujud? Kasihan Mas Saka.” Menyeringai, Yuki memandang jijik tepat di wajah Alia. Sedangkan Alia terpaku mendengar seluruh kalimat yang Yuki ucapkan.
Tidak mungkin Yuki mengetahui bahwa dirinya dan Saka mulai mempersiapkan pernikahan mereka, tentu tanpa siapapun yang tau, karena semuanya atas permintaan Alia yang berkilah sebagai kejutan. Sejujurnya Alia enggan terikat dalam pernikahan bersama Saka, namun ia sulit untuk menolak lamaran mendadak yang Saka lakukan nyaris beberapa minggu setelah mereka resmi berpacaran.
Bahkan kepada Keven saja keduanya tutup mulut, lalu bagaimana Yuki bisa mengetahuinya?
__ADS_1
Menjatuhkan dirinya dengan sangat dramatis, Alia mengeluh kesakitan dan seenaknya menuduh Yuki. “Aww, sakit Yuki.. Kenapa kamu tiba-tiba nyerang aku gini sih?”
“APA-APAAN KAMU!!??” Bentak Keven pada Yuki dengan suara meninggi, menyentak kuat bahu Yuki hingga ia terdorong ke belakang.
“Kev..” Ucap Alia lirih dengan tatapan sendu.
“Kamu gak apa-apa, Al?” Berjongkok, Keven membantu Alia berdiri.
“Sakit.” Keluh Alia.
Sedangkan bisik-bisik yang masih mampu terdengar samar jelas membela Yuki sebagai korban pertama. Namun tampaknya suara pembelaan itu mental dan gagal mengetuk gendang telinga Keven.
“Mulai hari ini kamu dipecat!” Ucap Keven tegas, berlalu meninggalkan Yuki sambil menuntun Alia yang berjalan tertatih menyembunyikan seringai tipis.
“Waw, semudah itu?” Ucap Yuki dengan tatapan kosong dan tawa hampa.
“Suatu saat nanti kamu pasti nyesal udah menutup mata dari kebenaran gila ini. Sadari dimana letak salah mu saat ini juga. Kalau Kak Alia memang sayang sama kamu, dia gak akan sama Mas Saka. Dan kamu harusnya juga paham sifat diantara kedua sahabat kamu, mana yang tulus dan mana yang sedang mengadu curut.” Teriak Yuki tidak tentu arah, namun cukup menohok hingga ke relung hati Keven.
Menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, Keven justru mendapati Yuki yang mengacungkan jari tengah ke arahnya. Sikap kurang ajar Yuki benar-benar membuat Keven semakin geram. Meskipun nyatanya saat ini Yuki memacu laju motornya dengan suara tangis lepas tanpa ditahan.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Semua clue udah terkumpul ya.. Besok kita kembali ke masa kini😁
Alasan kenapa orang tua Yuki setuju gitu aja sama pernikahan Yuki?🤔 Nanti diulas saat Yuki tau satu fakta mencengangkan😉