
“Udah sadar? Jangan langsung bangun!” Kalimat tanya dan perintah terucap beruntun. Terdengar lembut namun tegas, sontak Yuki menyipitkan mata, memfokuskan penglihatan pada sosok yang berdiri di samping brankar.
“Aku nggak mungkin gila gara-gara gak makan nasi sehari aja, kan?” celetuk Yuki dengan suara serak khas orang bangun tidur. Sudut bibirnya tertarik naik, menyunggingkan senyuman bercampur seringai tipis.
“Kayaknya kamu gila sampai harus pura-pura pingsan.”
“Ck!”
“Udah puas tidurnya?”
Menatap plafon putih polos, Yuki mengerjap lambat. Sejenak ditolehkan wajahnya pada Dion sambil berkata, “lapar. Pengen pecel lele ….”
“Setelah jatuh di kolam lele, sekarang kamu mau makan pecel lele?”
“Salah?” tanya Yuki dengan kernyitan sebelum kembali berkata, “oya, ini di mana?”
“Puskesmas.”
“Padahal tadi aku malas bangun. Pura-pura pingsan malah ketiduran. Kenapa juga dibawa ke Puskesmas?” Mendesah kasar Yuki tidak mengira aksinya berakhir di brankar Puskesmas.
“Kamu mau aku kasih tau Pak Danu yang panik banget itu kalau kamu cuma pura-pura pingsan?” ucap Dion sambil menarik kursi plastik berwarna merah. Ia duduk sambil bersedekap, menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya sendiri. “Nanti jangan lari-larian lagi, kaki kamu terkilir.”
“Keren kan aku jatuhnya tadi?” Mata Yuki berbinar. Kedua sudut bibirnya tertarik naik, tersenyum sumringah.
“Keren? Kamu jatuh bangga?”
“Jangan salah, Freestyle loh jatuhnya. Anti mainstream banget kayak kodok koprol.”
Seulas senyum tipis menghiasi wajah Dion, antara takjub dan geli pada sosok Yuki. Tidak bisa Dion tebak dari sisi mana Yuki membanggakan gaya jatuh yang aneh itu, tidak ada cantik-cantiknya sama sekali.
Tergambar jelas dalam ingatan Dion, Yuki yang berlari mengejar Pak Danu justru tersandung hingga terhuyung dan terjungkal masuk ke dalam kolam lele terbengkalai. Beruntung kolam itu kering, ditumbuhi sedikit rumput liar seperti ilalang. Jika tidak, mungkin Yuki sudah basah kuyup dan tidak bisa berakting pingsan yang berakhir tidur nyenyak.
“Eh, Pak Danu mana?” Celingukan dengan kepala sedikit terangkat, Yuki mengedarkan pandangan.
Menggeleng tidak habis pikir, Dion sedikit terkekeh. “Kamu baru ingat sama Pak Danu?”
“Ya kali Pak Danu diingat mulu, udah punya bini tuh,” seru Yuki sewot sambil memutar bola mata malas.
“Kalau gitu ingat aku. Masih sendiri, ganteng, mapan, menantu idaman.”
“Cih, tapi belum move on,” sindir Yuki.
“Kamu kenapa maksain pengen lihat kolam? Padahal udah pucat banget,” ucap Dion dengan santai mengalihkan pembicaraan. “Udah aku kasih tau gak usah ngikutin Pak Danu, tapi kamu malah ngeyel.”
“Lagian nanggung banget udah kelihatan kolamnya tapi gak sekalian didatangi. Terus mana aku tau juga kalau bakal nyungsep,” cerocos Yuki sambil memejamkan mata. Sejenak hening melanda, hanya terisi hembusan nafasnya sendiri yang bisa Yuki dan Dion dengarkan.
“Mas … pecel lele ya satu,” ucap Yuki lagi. Tentu masih betah dalam posisinya yang berbaring dan memejamkan mata.
“Sop ayam aja. Udah aku pesanin. Nanti kalau udah datang aku antar pulang. Sengaja hari ini aku izin, sekalian aku mau bantu bersihin rumah yang mau kamu tempati. Udah aku beliin kasur lipat ... Pak Danu udah bilang kan kalau rumah itu gak ada isinya sama sekali?"
__ADS_1
“Ciyeee … ini bukan modus, kan? hayolooh ….” Membuka mata lebar-lebar, Yuki menaik-turunkan kedua alisnya secara bersamaan.
“Kalau aku bilang ini modus, gimana?” jawab Dion dengan ekspresi serius. Intonasi suaranya berubah penuh penekanan.
“A-apa … apanya yang gimana? Ya u-dah,” sahut Yuki terbata, mendadak ia kikuk membalas penuturan Dion atas candaannya.
...----------------...
Tiga hari berselang dari hari kedatangan Yuki yang berujung menyambangi Puskesmas. Kini gadis itu sedang berjibaku menangkap lele berukuran super besar, meliuk di atas lumpur yang menguarkan bau busuk. Benar-benar sudah kebal indera penciumannya.
“Nak Yuki … yang lumpurnya mau dibuang ke mana? Sebelah rumah?” teriak laki-laki berperawakan tegap, namun dengan lemak perut yang tercetak nyata dalam balutan kaos tidak ketat dan tidak pula longgar.
“Oke, Pak, di sana aja. Makasih ya, Pak,” sahut Yuki dengan teriakkan tidak kalah nyaring agar terdengar sampai ke petakan kolam lainnya.
Kembali Yuki merunduk, mengintai lele lainnya yang berukuran sedang. Putus asa tidak kuat mengangkat induk lele super besar ke atas tanah pinggiran kolam. Ingin dimasukkan terlebih dahulu ke dalam ember pun ia tidak tega lele-lele kecil akan terjepit.
“Sore Pak Dokter ….”
Suara sapaan menarik perhatian Yuki. Sontak Yuki mendongak, mendapati pemandangan Dion berjongkok mengobrol dengan seorang warga yang Yuki mintai tolong. Sedangkan dua orang lainnya tetap menggempur tanah di kolam yang kering, memisahkan bagian dasar kolam berupa lumpur menghitam yang berbau busuk karena menyimpan gas-gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida.
Bagai bocah berkubang lumpur Yuki masih sempat-sempatnya melambai pada Dion. Tawa renyah dan bunyi air terciprat terdengar riuh seiring badan Yuki jatuh menelungkup, mendekap lele yang menggelepar kuat. Semua masih baik-baik saja sebelum ia berlari kencang, memanjat kolam lele dan terpleset hingga satu ember lele kembali berenang riang di air berlumpur.
Spontan tawa Dion pecah. Sebelah tangannya memegangi perut yang menegang akibat tertawa terlalu kencang. Berbeda dengan Yuki yang mendengus sebal. Meratapi hasil tangkapan yang kabur bersembunyi ke dalam lumpur.
"Mandi sana," celetuk Dion yang langsung dihadiahi pelototan oleh Yuki.
Menggeleng singkat Dion menyahut, "gak bisa. Aku gak bawa pakaian ganti."
"Halah, alasan ... dasar penakut!" cibir Yuki sambil berusaha keluar dari kolam, mengabaikan riak air yang seakan mengejeknya. Gegas ia menuju kamar mandi, membersihkan diri dari lumpur yang menempel di tubuh.
Beberapa puluh menit setelah selesai membersihkan diri dan tentu berdandan ala kadarnya, Yuki melenggang dengan sebotol kopi hitam dalam wadah kaca bekas sirup, dibeli dari warung terdekat yang juga menjual gorengan. Ia sajikan di meja setinggi lutut yang terdapat di teras rumah sederhana.
"Selang airnya kurang panjang," ucap Dion tiba-tiba dari belakang Yuki. Laki-laki itu sejak tadi kebingungan membantu ketiga orang warga untuk membasuh tangan dan kaki tanpa masuk ke dalam rumah yang Yuki tempati.
"Suruh aja masuk kamar mandi lewat pintu belakang," ucap Yuki.
"Kamu sembarangan ya. Walaupun mereka bapak-bapak punya istri, tapi tetap laki-laki." Menyugar rambutnya, Dion menghembuskan nafas kasar.
"Gak usah nethink, ada kamu di sini ...."
Kalimat yang diucapkan sekenanya oleh Yuki menebarkan kembang api di dada Dion. Ia berdebar dengan perasaan menghangat yang mulai tumbuh.
"Ngapain senyum-senyum? Oh iya, kamu ngapain ke sini, Mas?" tanya Yuki sambil menaikkan sebelah alisnya.
Menggeleng singkat sebagai jawaban, detik berikutnya Dion berkata, "nomor yang kemarin kamu hubungi pakai ponselku, punya mantan suami kamu?"
"Iya." Angguk Yuki tanpa beban. "Kenapa? Mas Keven telepon?"
"Kenapa gak bilang dari awal kalau ponsel kamu kena copet?" tanya Dion agak kesal.
__ADS_1
"Tadinya mau kasih tau, mau minjam uang juga. Dompetku ikut dicolong. Tapi ternyata aku ada simpan uang di dalam koper. Sia-sia banget kan aku kelaparan meratapi recehan sampai lupa masih punya uang. Pokoknya nanti kalau Mas Keven kontak kamu lagi, bilang aja suruh paketin. Gak usah sampai datang ke sini, oke?" ucap Yuki panjang diakhiri acungan kedua ibu jari.
"Aku harap mantan suami kamu itu gak akan pernah ke sini. Tapi kayaknya semua itu mustahil."
"Dia memang keras kepala. Nanti biar aku yang kasih tau sendiri."
"Nggak, biar aku aja. Serahin semuanya ke aku," ucap Dion cepat, menolak usulan Yuki.
"Kamu tunggu di sini sebentar." Dion berlalu dari hadapan Yuki. Berjalan cepat menghampiri ketiga bapak-bapak untuk diarahkan ke kamar mandi lewat pintu belakang.
Beberapa saat kemudian Dion sudah bergegas menuju mobil yang terparkir tidak jauh. Dalam waktu singkat ia kembali menghampiri Yuki sambil menenteng kantong kresek hitam.
"Ambil ini." Tangan Dion terulur, menyodorkan kantong kresek yang tidak Yuki ketahui apa isinya.
"Apaan?" Meraih kantong yang Dion berikan sambil bertanya, seketika mata Yuki terbelalak.
"Pakai buat hubungi aku. Udah aku masukin SIM card, nomorku sama nomor Ara."
"Ini buat aku?" tanya Yuki tidak percaya. Matanya masih terbelalak lebar dengan mulut melongo kaget.
"Iya buat kamu, memang mau buat siapa lagi?"
"Nggak nyuruh aku kredit, kan?" tanya Yuki memastikan.
"Boleh kalau kamu mau. Tapi bayarnya dengan cara kamu setuju kita coba jalani hubungan ini berdua."
"Move on aja sana dulu!" ketus Yuki.
"Kamu juga harus move on."
"Iya-iya ... pokoknya makasih banget. Ini bakal aku cicil. Gak mau jadi barang gratisan. Sama satu lagi, jadi aku aja nanti yang hubungi Mas Keven pakai nomor ini. Tes yang masih baru," ucap Yuki riang sambil menggoyangkan tangan yang memegang box ponsel baru pemberian Dion.
"Kamu itu gak selamanya peka ya? Biar aku jelasin, saat ini aku lagi berusaha jauhin kamu dari dia."
"Kenapa gitu?" Mengernyit Yuki memiringkan kepala tidak mengerti.
"Supaya cuma aku yang ada buat kamu," jawab Dion seraya mengerlingkan matanya pada Yuki.
"Ish, sok spesial banget sih," ucap Yuki sewot dengan pipi merona. Reflek ia memalingkan wajahnya.
...****************...
*
*
*
Terima kasih buat semua yang udah menikmati kisah Yuki😘
__ADS_1