
Senyum Dion mengembang. Ditatap Yuki yang berkamuflase dalam ekspresi seakan bingung. Sekali lagi Dion menemukan jawaban atas pertanyaan dan penantiannya.
“Kamu udah punya jawaban, iya atau tidak … hanya sesimpel itu, bukan?”
“Apa mau lo?!” ketus Keven dengan suara rendah. Memasang badan di depan Yuki. Menghalangi wanitanya berhadapan dengan laki-laki lain.
“Beri kami waktu untuk bicara. Kamu nggak akan pernah rugi hanya diam sebentar,” ucap Dion tegas dan lugas. Pembawaannya yang tenang justru sukses membuat Keven kesal.
“Mas ….”
“No! Aku tetap di sini!” tolak Keven menyela suara Yuki. Menurunkan jemari mungil yang menyentuh lengannya. Digenggam erat terang-terangan di depan Dion dengan pongah. Ia seolah menegaskan kepemilikan.
“Gak usah aneh-aneh. Kamu di sini, diam! Bertingkah, pergi sana!” perintah Yuki garang. Mengusir Keven tanpa pikir panjang. Bahkan melupakan fakta bahwa dirinya menumpang pada mobil Keven.
Diam menurut, Keven perlahan mengendurkan genggaman tangannya. Sudah berkali-kali Yuki menepis dan mencubiti sambil melotot tajam. Alhasil kini Keven memegangi ujung baju bagian belakang Yuki. Ia bagai anak kecil yang siap merengek pulang dari sebuah undangan pesta tetangga.
“Apa kamu masih mau menjawab? Rasanya aku udah tau apa jawaban kamu. Kalian … manis.” Terkekeh Dion menurunkan pandangan. Tampak jelas Yuki yang gugup sedang meremas jari-jemari yang saling bertautan.
“Manis-manis, memangnya sari tebu?!” gerutu Yuki ketus. Namun dalam sekejap matanya yang mendelik itu memancarkan sorot serba salah. “Sebelumnya maaf kalau selama ini aku berusaha menganggap Mas Dion cuma main-main. Lagi pula move on itu nggak mudah. Apalagi intensitas kamu … ya tau sendiri lah kalian udah jadi ipar. Pasti nantinya nggak sedikit. Terlalu meragukan buat aku.”
Mengangguk, Dion bukan sedang membenarkan. Ia hanya mencoba menyimak arah pembicaraan Yuki. Sedangkan Keven berusaha mati-matian menahan diri agar tidak langsung membawa Yuki pergi.
“Maaf.” Singkat dan mantap, saat ini Yuki berucap dengan ekspresi datar. Bukan iya atau tidak seperti yang Dion inginkan, namun sepatah kata maaf itu berisi ketegasan yang sangat jelas.
‘Bangsat! Ngapain dia … arrgh!’ maki Keven dalam hati. Sebelah tangannya sudah terkepal ingin meninju Dion. Jelas Keven cemburu kala Dion menatap lamat Yuki sambil mengulas senyum tipis.
“Kita jadi kakak adik aja.” Suara itu melemah. Perlahan pupil matanya mengedar. Sedetik kembali melirik Dion yang tersenyum penuh makna. Namun terlihat menyedihkan bagi Yuki yang baru saja menolaknya.
Berbeda dengan Keven yang benar-benar tersenyum lebar. Bahkan ia ingin melompat girang dan mengejek Dion yang tertolak. Ketahuilah, Keven merasa menang meski dirinya sendiri belum tentu bisa Yuki terima kembali.
“Berlebihan ya kalau kakak adik? Ya udah temen deh temen. Bisa kan ya kalau jadi temen aja? Atau …,” imbuh Yuki menawar dengan rasa bersalah status hubungan di antara dirinya dan Dion.
“Oke, cukup. Kamu bisa jadi apapun di hidup aku sampai batas saudara. Lagi pula pasti lucu punya adik kecil kayak kamu,” balas Dion layaknya memotong perkataan Yuki. Sejurus kemudian ia maju selangkah sambil mengayunkan tangan ke udara. Sontak memicu sikap siaga Keven. Padahal Dion hanya ingin menyugar rambutnya saja.
“Secara gak langsung kamu mengakui move on itu tidak mudah, kan?” ucap Dion sambil tersenyum miring. Tatapannya jelas ditujukan untuk Keven, bukan kepada Yuki. Ia seolah bertanya, meski nyatanya sedang menekan sebuah peryataan yang tanpa sadar Yuki lontarkan.
Hening. Yuki menggigit bagian dalam bibirnya. Bimbang pada pertanyaan Dion yang sejatinya tidak tau harus dijawab apa.
Drrt … Drrt …
__ADS_1
‘Yeaah ... selamat!!’ batin Yuki bersorak. Gegas ia membuka tas selempang yang dikenakan. Mengeluarkan ponsel yang menjerit bersautan.
"Halo?” sapa Yuki pada si penelepon sambil membalikkan badan. Mengabaikan kedua laki-laki yang spontan bagai siap beradu pedang layaknya panglima perang.
[…]
“Maaf Kak ... iya-iya. Tadi gak mau nyala motornya. Jadi aku titipkan di kantin Kak Anna,” ucap Yuki lagi pada sosok di seberang telepon yang ternyata adalah pemilik motor. Berjalan pelan menjauh dari Keven dan Dion, Yuki tanpa sadar sudah hampir sampai di mobil Keven.
[…]
“Apa? Bensinnya habis? Loh kok bisa? Tapi itu panahnya masih full." Berkata lantang dan mata melotot, Yuki tampak syok dengan mulut melongo tidak percaya.
[…]
“Rusak? Astaga, aku nggak lihat tanki minyaknya lagi, kan itu panahnya ke arah full.” Lagi-lagi suara Yuki melengking nyaring, namun kali ini kentara sedang merutuki kecerobohannya.
[…]
“Maaf ya jadi ngerepotin Kakak. Padahal aku tadi pinjam, tapi malah nggak tanggung jawab," ucap Yuki penuh sesal, mengakhiri panggilan singkat dari si pemilik motor yang mendapati motornya terparkir tidak bertuan.
‘Jadi kangen Ara. Udah lama dia nggak ingatin buat isi bensin. Udah berbadan dua belum ya? Si Cuit juga betah banget nggak ada cuit-cuit,’ membatin Yuki seketika merindukan sang sahabat.
“Mas Keven!! Ayo pulang ….” Melambaikan tangan, Yuki berteriak memanggil Keven. Reflek rahang yang mengeras itu mengendur. Raut wajahnya dipenuhi binar bahagia dengan kedua sudut bibir yang tertarik naik, melengkung ke atas hampir memenuhi seluruh pipi.
Berlari dengan senyuman yang semakin terkembang, Keven lantas membukakan pintu untuk Yuki. Berdiri menanti Yuki, sekilas ia menyeringai sinis pada Dion.
“Tunggu sebentar di sini ya, aku mau pamit sama Mas Dion dulu.”
“Jangan!” tangan Keven menggantung. Ia berusaha menahan Yuki, namun hanya berhasil meraih kehampaan bersamaan dengan kesombongannya yang runtuh seiring langkah lincah Yuki menghampiri Dion.
...----------------...
Brak!
“Saka!”
“Sampai meja ini terbelah juga aku gak tau di mana Keven.”
“Omong kosong. Kamu pikir aku percaya?!”
__ADS_1
“Apa hanya Keven? Sedikitpun kamu gak bisa melihat aku, Al?”
“Kamu bercanda? Saat ini juga aku melihat kamu,” kekeh Alia sambil bersedekap.
“Lebih baik kita akhiri pertemuan hari ini. Berhentilah menghubungi aku jika kamu masih menanyakan hal yang sama. Dan lebih baik di masa depan kita berhenti untuk bertemu lagi.”
“Apa kamu bisa? Kamu sanggup hidup tanpa aku? Wow, hebat,” cemooh Alia pada Saka sambil bertepuk tangan mengejek.
Menghembuskan nafas kasar, Saka tertawa remeh. “Bukan aku yang nggak bisa hidup tanpa kamu, tapi kamu yang nggak bisa hidup tenang tanpa kami. Kamu gak mau kehilangan aku dan Keven, kan? Kamu berhasil. Kamu memang nggak kehilangan kami. Tapi sayangnya jalan hidup yang kamu mau, bukan pilihan kami," jelas Saka panjang lebar.
"Saat ini Keven udah bahagia dengan Yuki. Mereka kembali bersama. Aku juga udah menemukan orang yang lebih baik dari pada kamu," ucap Saka lagi, berkilah dalam perkataan bohongnya.
"Nggak ... nggak mungkin," gumam Alia dengan segala penolakan. Kepalanya menggeleng kuat dengan senyum miring yang bergetar. Ia masih saja percaya bahwa Keven dan Saka hanya memuja dirinya seorang, baik dulu maupun sekarang.
"Sadarlah Al … berhenti bersikap bahwa dunia kami hanya berputar karena kamu. Berdamailah dengan diri kamu sendiri dan mari bertemu lagi seperti saat pertama dulu, sebagai teman dan sahabat. Tentang Rezvan ... dia nggak pernah bersalah. Bukan maunya hadir di dunia ini."
"Nggak bersalah? Kamu pergi karena dia!!" jerit Alia marah.
"Jangan salahkan Rezvan!! Perceraian itu terjadi karena hubungan kita berantakan. Kamu hanya butuh aku untuk menutupi aib ... di mana Alia yang dulu aku kenal?" bentak Saka penuh emosi. Ia menatap nanar Alia yang bergeming di hadapannya.
"Tapi aku udah bilang cinta sama kamu, Ka!" balas Alia dengan suara tidak kalah meninggi.
"Pembohong," ucap Saka sambil terkekeh, "di hari pernikahan kita, apa yang kamu bicarakan dengan Keven? Pengakuan cinta? Kamu kira aku tuli?! Setelah semua yang aku lakuin demi menutup gosip murahan yang ternyata benar, justru di hari yang aku pikir sebagai moment paling membahagiakan ... dari mulut kamu sendiri fakta itu keluar. Satu minggu kamu mengabaikan aku, suami kamu, demi menyakinkan Keven ... menjijikkan!"
Suasana di ruang VIP sebuah restoran itu memanas. Amarah bercampur kekecewaan Saka memuncak. Namun tidak dipungkiri wanita yang berceloteh membela diri di depannya ini masih mengusik relung hati terdalam Saka.
Sedangkan di dalam mobil yang Saka tinggalkan terparkir, lewat kaca jendela yang terbuka terlihat seorang remaja sibuk menimang bayi yang memainkan rambutnya. Ia adalah Nita, adik perempuan Dimas yang menunggu Saka selesai dengan urusan mendadak.
"Papi sibuk ya, Dek? Kamu sama Kakak aja dulu ya. Nanti kita minta Papi beliin ice cream, tapi buat Kakak ... Dedek belum boleh." Tiba-tiba jari yang mencolek pipi gembul itu membeku iba. "Hah ... kamu pasti gak bisa dengar apa-apa, kan? Sabar ya, Dek. Nanti kita minta Papi antar ke Dokter kalau Kakak libur sekolah. Kita harus berusaha lebih semangat lagi biar Adek bisa dengerin suara Kakak."
...****************...
*
*
*
Terima kasih udah menanti kisah Yuki😘
__ADS_1
Note : untuk pembaca yang aku chat, silakan diperiksa kotak chat nya di aplikasi ini & balas ya ❤