
Bunyi kaca pecah mengejutkan Keven. Gegas ia berlari ke arah dapur, mendapati Yuki berjongkok memungut kepingan piring yang terpecah belah.
"Sayang ... aku aja."
"Aku bisa, By," balas Yuki lemah. Menolak bantuan Keven yang sudah mencekal tangannya.
"Tambah pusing?" tanya Keven sambil menempelkan punggung tangan ke dahi Yuki. Cukup menyesal tidak memperhatikan Yuki yang sejatinya cukup berbeda beberapa hari belakangan ini. Jelas Keven tau apa penyebabnya.
Keceriaan Yuki memang tidak pernah sirna, namun aura wajah yang memaksakan senyuman itu teramat sayu. Lingkaran kantong mata hitam menebal diperparah dengan bibir kering dan pucat.
"Istirahat sebentar ya, Sayang. Panasnya makin tinggi."
"Cuma pusing, By. Biasa aja."
"Kamu demam. Sekarang bangun, ke kamar terus tidur!" perintah Keven tegas seraya bangkit dan berpindah ke belakang Yuki. Berniat memapah gadis yang berulang kali menghela nafas berat.
"Sshh, duh ...," desis Yuki tiba-tiba. Rupanya tangan gadis itu masih saja meraih pecahan kaca yang berserakan.
"Lihat, kan ... luka lagi," tukas Keven. Buru-buru ia membopong Yuki. Secepat kilat melesat ke dalam kamar. Mendudukkan Yuki di tepi kasur.
Sejurus kemudian dengan cekatan namun cukup gusar Keven mengambil kotak obat. Pelan-pelan dan telaten membersihkan darah yang terus merembes. Tiba-tiba sudut hati Keven tercubit perih.
"Hari ini kamu istirahat aja.”
"Gak mau. Aku lebih suka ikut kamu. Kalau sendiri bosan. Pokoknya ikut. Gak mau tau!" rengek Yuki menolak. Bibirnya manyun dengan pipi mengembung.
“Nanti tambah sakit.”
“Janji cuma duduk diam, tapi ikut. Boleh ya, hm?"
“Harus aku percaya?”
Jurus mengerjap imut dengan rayuan memelas gagal. Keven tetap tidak mengizinkan. Laki-laki itu justru menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring. Ia jelas tidak tahan menghadapi godaan manis di depan mata, namun berusaha bersikap cuek tidak terpancing.
“Jahat.” Spontan Yuki memukul dada bidang Keven. Padahal tangannya sedang diobati.
“Sayang …,” tegur Keven sambil melotot sekilas.
__ADS_1
“Argh, kamu gak asik,” gerutu Yuki sebal sambil memandangi jari-jemari kiri yang terbungkus plester luka. Ada bekas teriris, ada pula luka bakar di bagian dalam ibu jari akibat menyenggol tungku pemanggang. Sedangkan tangan kanannya dibiarkan Keven kuasai, meski sesekali harus meringis perih saat obat merah menyentuh goresan luka memanjang yang beruntungnya tidak cukup dalam.
Sejenak Yuki merebahkan punggung. Memejamkan mata yang terasa panas dan berat. Pelan-pelan meloloskan udara hangat dari bibir yang terbuka tipis. Antara melawan dan pasrah pada kantuk yang bergelayut.
“Tidur lah,” lirih Keven sambil mengusap sayang pelipis Yuki. Beberapa saat kemudian usapan itu berpindah ke punggung gadis yang entah sejak kapan sudah mendengkur halus. Padahal sebelumnya tampak ogah-ogahan kala disuruh beristirahat.
‘Maaf,’ sesal Keven dalam hati. Tidak terasa sudut ekor matanya berair.
Laki-laki bertubuh tegap itu terduduk lesu di lantai, tepat di samping kasur yang Yuki tiduri. Tentu masih terus mengusap punggung gadis yang telah berkelana di alam mimpi. Tapi mungkin bukan mimpi menyenangkan. Terbukti dari kerutan halus di dahi dan hembusan tipis nafas yang memberat.
"Kamu pasti bosan dengan permintaan maafku. Tapi tolong maafkan aku lagi ... bersama laki-laki lain, mungkin kamu nggak harus berjuang seberat ini. Aku bahkan malu meminta kamu bersabar lebih dari saat ini."
Usapan lembut Keven terjeda oleh sengatan nyeri menusuk nadi. Sejenak ia hembuskan nafas kasar guna meloloskan gumpalan udara yang menyumbat tenggorokan. Lalu pelan-pelan mengulurkan tangan, menyibak helaian rambut yang jatuh dan terhisap di sudut bibir Yuki.
"Kenapa harus kamu yang selalu lebih banyak berkorban?" lirih Keven serak. "Ternyata baik dulu maupun sekarang, aku selalu terlambat, ya? Aku gagal menjaga kamu dari terluka lagi. Tapi yang bisa aku lakuin hanya meminta maaf meski kamu membencinya. Maaf ... hati ini terlalu egois untuk melepas kamu sesuai keinginan Papa. Aku gak akan pernah bisa merelakan kamu untuk laki-laki lain."
Diam-diam sudut kanan bibir Yuki tertarik sekilas. Bulu mata yang terpejam rapat itu bergoyang sekejap. Hembusan nafas yang mulanya berat berubah teratur dengan ekspresi wajah tertidur yang tampak damai. Tentu tidak disadari oleh Keven yang berkabut penyesalan, rasa bersalah dan ketakutan akan kehilangan Yuki.
"Cepat sembuh dan tolong tertawa lah disaat kamu ingin, bukan terus tertawa agar aku tenang," ucap Keven lembut seraya membenarkan posisi bantal Yuki.
Sementara di depan pintu kos, seorang pemuda tampak ragu ketika ingin mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka lebar. Pasalnya secara jelas ia yang belum sempat menyapa justru melihat Keven menggendong panik Yuki. Bahkan sejak tadi yang ditunggu tidak kunjung keluar dari ruangan yang diyakini pasti kamar tidur.
“Eh, Bos.” Tersentak, sosok yang dipanggil Ringgo itu tampak berdiri kikuk dan buru-buru menginjak seputung rokok yang tersisa.
“Toko gak ramai, kan?”
“Kayak biasa, Bos.”
“Oh ... hari ini bantu di sini. Malam kita jual berdua.”
“Yuki sakit, Bos?” tebaknya.
“Hm,” dehem Keven mengiyakan. Tanpa menunggu lama langsung memberi intruksi pada Ringgo.
Perlu diketahui, laki-laki yang tengah membasuh tangannya itu selain bekerja di gerai juga ikut membantu Keven dan Yuki berjualan di malam hari sebagai pekerjaan tambahan. Bukan karena Keven memperkerjakan di luar batas jam kerja, melainkan keinginan Ringgo sendiri yang katanya membutuhkan pemasukan lebih.
...----------------...
__ADS_1
"Gimana? Tambah pusing? Mual? Teh tawarnya mau diganti? Atau mau pulang?" Pertanyaan memberondong itu terlontar dari laki-laki yang memasang ekspresi khawatir. Ia berjongkok tepat di depan gadis yang duduk beralas tikar karpet, memeluk lutut sambil meniupkan udara hangat ke permukaan telapak tangan.
"Gak usah. Lanjut sana, By. Jangan sampai pembeli kabur. Aku udah gak apa-apa kok."
"Kamu menggigil gini masih bilang gak apa-apa?" Keven menyugar rambutnya frustasi. Sekeras apa pun memaksa Yuki beristirahat di kos atau ke rumahnya, pada kenyataan Yuki tetap berhasil mengekor. Meski berakhir tidak melakukan apa-apa karena dilarang keras bergerak ke mana pun tanpa izin Keven.
"Kalau dipeluk sebentar kayaknya langsung sembuh," sahut Yuki sambil terkekeh jahil. Namun mendadak berdecak keras.
"Tapi udah janji gak boleh peluk-peluk sebelum nikah. Kok kesel ya? Padahal kan aku yang bikin peraturan," lanjut Yuki berucap, tiba-tiba menggerutu sambil mendengus sebal.
Sejenak Yuki rapatkan jaket tebal milik Keven. Berusaha menghalau hawa dingin yang masih saja menyergap dari berbagai arah. Seakan kaos lengan panjang berpadu hoodie, selimut tipis dan tentunya jaket Keven itu hanya selembar tisu rapuh. Bahkan dua lapis kaos kaki seolah tidak mampu melindungi terpaan udara sedingin es batu di ujung-ujung jemari.
Sontak tindakan kecil Yuki semakin membuat Keven kelimpungan khawatir. Laki-laki yang mau tidak mau harus melayani pelanggan itu berulang kali menoleh pada Yuki yang terus memberikan kepalan semangat, kerlingan genit, goyangan bahu dan kepala yang menggemaskan meski gelombang pusing selalu menghantam setiap saat.
Berbeda dengan dua anak manusia yang berusaha saling melempar perhatian penuh cinta satu sama lain, di seberang jalan, tepatnya di dalam sebuah mobil yang tersamarkan remang lampu jalanan yang putus, pembicaraan serius tengah berlangsung. Ketiga orang itu telah sampai lebih dari setengah jam lamanya. Namun tetap diam mengamati di tempat.
“Kamu lihat? Anak kita bahagia," ucap seorang wanita tua yang tidak lain adalah Mama Maria.
"Udah cukup Yuki jadi korban keegoisan kita. Dari dulu anak itu gak pernah ngeluh. Pernah dia minta yang macam-macam selain oleh-oleh tas baru? Nggak. Memang keliatan manja, suka merengek waktu telepon, tapi itu karena kita selalu gak punya waktu buat dia," imbuh Mama Maria cukup panjang lebar. Matanya menatap sendu anak gadis semata wayang yang terlihat beberapa kali memijat pelipis saat Keven sibuk di balik keriuhan atraksi asap-asap beraroma nikmat.
“Tapi Yuki bisa dapat laki-laki yang lebih baik,” balas Papa Gibran kukuh.
"Jangan bercermin dari kisah kita. Mereka sama-sama belajar dan memilih bertahan bukan seperti kamu yang mencari pelarian," cibir Mama Maria menohok. Membungkam bantahan Papa Gibran yang berontak di ujung lidah.
"Maaf, kalau aku sela ... Yah, apa yang Mbak Maria bilang bener," ucap Bunda Inka ragu sambil menatap canggung Mama Maria dan Papa Gibran bergantian. "Ayah ingat nggak dulu pernah cerita pengen Kakak cepat nikah supaya ada yang jagain? Ingat, kan? Ayah berharap ada orang yang bisa menghibur Kakak di saat dia kecewa karena Papa-nya diam-diam punya keluarga lain."
"Cukup, Bun! Masih banyak laki-laki yang lebih baik. Yuki itu masih muda. Dia pintar, cantik, bis-"
“Kalau bahagianya sama Keven, kita bisa apa?! Bisa kamu pastikan Yuki bahagia sama laki-laki lain?! Bisa kamu pastikan Yuki dapat mertua sebaik Mbak Agni, Mas Leigh? Jawab Gibran!!" bentak Mama Maria lantang, memotong perkataan Papa Gibran. Emosinya meluap tidak terbendung. Matanya memerah nyalang.
"Dulu sebelum mereka nikah, kita yang bersikeras tanpa mau tau apa kemauan Yuki. Sekarang coba dengarkan anakmu, Gibran! Ingat secerah apa senyumnya yang kita hancurkan. Tolong sekali ini aja bekerjasama lah demi anak kita."
Baru saja kalimat menggeram rendah Mama Maria selesai diucapkan, ketukan konstan tepat di kaca samping Papa Gibran mengejutkan semua orang.
"Papa, Bun-da? MA-MA?!!" Mata menyipit Yuki seketika terbelalak kala kaca jendela mobil diturunkan dengan sempurna. Tebakannya tidak meleset pada mobil familiar di seberang jalan. Namun tidak pula Yuki menyangka akan mendapati Mama Maria yang duduk di kursi belakang bersama Bunda Inka. Sedangkan di kursi kemudi yang kini kosong, rupanya diduduki oleh supir Papa Gibran.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih untuk semuanya yang udah baca kisah Yuki, semoga makin suka😍