Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Titik Kegagalan


__ADS_3

Harapan Yuki hancur. Ketakutannya menjadi kenyataan. Tidak berbeda dengan Keven yang sangat kecewa. Bahkan laki-laki itu merasa tengah melempar kotoran ke wajah orang tuanya sendiri.


Kini Mama Agni dan Papa Leigh harus menahan rasa malu disebabkan sindiran pedas Papa Gibran. Namun masa lalu tidak ada yang bisa merubah, satu-satunya jalan terbaik hanya harus menjadi lebih baik, berdamai dan saling memaafkan.


“Sedikit aja bisa nggak Papa ngertiin aku?” Suara Yuki datar. Ia menatap nanar Papa Gibran yang tampak acuh menerawang langit senja.


Sengaja Yuki menyakinkan Keven untuk mengantar pulang Mama Agni, Papa Leigh dan Mama Maria ke penginapan. Sedangkan dirinya meminta waktu berdua untuk mengobrol antara ayah dan anak bersama Papa Gibran. Tentu tidak lama lagi Keven akan datang kembali.


“Sesuai keinginan Papa aku udah panggil Tante Inka, Bunda. Tapi asal Papa tau, kalau bukan karena Mas Keven, mulut ini sampai mati pun gak akan mau nyebut istri Papa itu BUN-DA,” tegas Yuki penuh penekanan.


“Dua hal itu gak ada hubungannya. Lama-kelamaan kamu juga terbiasa sama Bunda,” balas Papa Gibran masih sangat keras kepala.


“Papa kira mudah? Setelah aku terpaksa terseret di tengah kondisi ini tanpa dikasih pilihan, sekarang Papa … tolong, Pa, restui hubungan kami.” Yuki menunduk sambil meremas jari-jemari yang saling bertautan. Menghalau gejolak emosional yang menguras energi. Berulang kali pula dihembuskan nafas panjang meredam sesak di dada dan tenggorokan.


“Kamu lupa apa yang udah dia lakuin? Kamu menderita gara-gara dia! Sekarang mungkin masih baik-baik aja. Tapi ke depannya, kamu yakin dia gak mengulangi kesalahannya?! Kamu mau terluka lagi?!!”


Yuki mendongak. Tatapan yang sayu itu tiba-tiba mencemooh. Ia terkekeh hampa seraya berdiri dan mengedarkan pandangan. Otaknya dipenuhi petuah Keven agar tidak melawan Papa Gibran, namun situasi saat ini berhasil membuat Yuki menepis nasehat-nasehat bijak Keven.


Sejenak gadis itu tampak meraup oksigen dalam-dalam lalu kemudian berkata, “apa bedanya sama Papa? Papa selingkuh dari Mama. SE-LING-KUH!! Mengulangi lagi? Apa Papa juga bakal kayak gitu?”


Sontak gebrakan kasar di meja kayu menggelegar. Mengejutkan sosok yang diam-diam menguping pembicaraan Yuki dan Papa Gibran. Sementara Yuki spontan tersentak dan terpejam kaget. Perlahan ia beradaptasi dengan gema berdenging di telinga.

__ADS_1


“Kamu … kurang ajar!” Suara Papa Gibran menggeram rendah. Rahangnya mengeras dengan nafas memburu terputus. Ia lantas berlalu tanpa banyak bicara lagi.


“Apa Papa tau rasa terbiasa ini juga bisa mematikan perasaan aku? Sakit banget setiap aku ingat kebahagiaan kita bertiga. Aku selalu bertanya-tanya di mana semua itu nyata dan palsu. Kapan Mama dan Papa benar-benar bahagia sama aku. Seandainya aku gak mau mengalah dengan kesibukan kalian, bersikukuh pindah sekolah dan ikut ke sini, apa mungkin keluarga kita akan tetap utuh?” celoteh Yuki parau sambil menatap nanar punggung Papa Gibran yang mematung.


‘Tapi semuanya justru tambah membingungkan saat Papa seakan melupakan aku dan Mama. Kami seperti penghalang yang akhirnya bisa Papa singkirkan. Papa sekarang bahagia, mungkin Mama juga ... aku hanya berharap bisa bahagia sama Mas Keven,’ batin Yuki sendu mengimbuhi kalimatnya.


“Mas Keven selalu bilang, saat aku bisa berdamai dengan masalah kami, aku pasti bisa berdamai dengan kondisi keluarga kita. Tapi semakin lama rasanya kita menjauh. Aku gak nyaman ada di tengah keluarga baru Papa. Aku asing. Singkatnya aku seperti pengganggu. Dan bersama Mas Keven, aku merasa punya tempat berlindung, tempat untuk pulang, bahkan teman yang mengisi kekosongan Papa,” lanjut Yuki dengan hembusan nafas kasar. Mengindahkan kenyataan jikalau Papa Gibran bisa saja tidak mendengarkan.


Ketahuilah, penglihatan Yuki sudah mengabur. Embun di pelupuk mata telah luruh menjadi derai yang terus mengalir. Namun seulas senyum lebar tetap Yuki pertahankan meski bibirnya bergetar kelu.


Sekejap Yuki memundurkan langkah. Menoleh ke kanan pada jendela bertralis. Menatap tajam seseorang di balik gorden yang gelagapan salah tingkah.


“Aku harap Bunda di pihakku,” gumam Yuki seraya berbalik, bersamaan pula dengan Papa Gibran yang memutar badan.


“Pergi! Pergi sama dia kalau kamu gak mau lihat Papa lagi!” seru Papa Gibran tiba-tiba. Sorot sendu laki-laki tua itu mendadak dipenuhi amarah kala melihat Keven di kejauhan.


“Okay! Aku pergi! Ayo, Mas!” balas Yuki lantang. Namun berbeda dengan tindakan Keven yang melewati Yuki begitu saja.


“Pa ….”


“By, bangun!” seru Yuki pada Keven yang bersimpuh di hadapan Papa Gibran. Namun yang Yuki dapati justru Keven yang kembali meneruskan perkataannya.

__ADS_1


“Kesalahanku memang nggak termaafkan.” Sekejap Keven menunduk lesu, lalu memberanikan diri menatap Papa Gibran yang berkacak pinggang sambil memalingkan wajah. Suaranya yang serak terus melontarkan kalimat demi kalimat. “Aku hanya orang asing tapi berani menyakiti Yuki. Aku udah menghancurkan kepercayaan Papa. Aku nggak bisa melindungi, menjaga, membahagiakan Yuki. Aku sadar, aku salah. Tapi tolong, Pa, kasih aku kesempatan untuk membuktikan ke Papa sampai akhir nanti kalau kami pasti bahagia.”


Beberapa saat suasana menjadi hening mencekam. Tidak ada yang bersuara, hanya helaan penuh emosi beragam yang saling berebut udara.


Seketika kaki Yuki melemah, ia ikut bersimpuh di samping Keven. Diusap pula dengan kasar bulir-bulir kesedihan di pipi. Berusaha meloloskan air liur di kerongkongan yang tercekat.


“A-ku mo-hon, Pa … res-tui kami. Sekali i-ni aja kabulkan permintaanku," pinta Yuki memohon sambil menangkup kedua telapak tangan yang bergerak cepat saling bergesekan. Bunyinya seakan berdenging memukul gendang telinga Papa Gibran yang spontan menurunkan pandangan.


“Kamu bisa cari laki-laki lain, bukan dia.”


Ekspresi Yuki menggelap. Tangannya jatuh tepat ke sisi tubuh yang masih bersimpuh. Perlahan terkepal sarat kebencian. “Sayangnya aku bukan Papa yang bisa cari istri lain,” sarkas Yuki memukul telak Papa Gibran.


“YUKI!!”


Bentakan Papa Gibran sama sekali tidak menggoyahkan Yuki. Gadis itu hanya menggigit bibir yang bergetar. Pelubuk matanya lagi-lagi sudah basah, hanya satu kerjapan saja bulir air mata itu pasti luruh. Sementara Keven spontan memohon ampun atas kesalahan Yuki yang disebabkan oleh dirinya.


“Keluarga Mas Keven udah jauh-jauh datang, tapi malah kayak gini ... tiga kali aku minta Papa datang. Tiga kali pula Papa cuma jawab hm yang gak jelas iya atau nggak. Tapi ternyata tiga kali itu Papa nggak pernah muncul. Mas Keven nggak seburuk yang Papa sangka. Aku bahagia sama Mas Keven, Pa,” ujar Yuki panjang sebelum tanpa pamit pergi dari hadapan Papa Gibran.


Sekali lagi pertemuan itu berputar di titik kegagalan. Berhenti pada ujung jalan buntu tanpa solusi. Meninggalkan luka di antara orang tua dan anak yang belum bisa saling berdamai. Sementara Keven tenggelam merutuki imbas kesalahannya di masa lalu.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih buat semuanya yang udah baca kisah Yuki😘


__ADS_2