Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bangun, Ma!


__ADS_3

Yuki menatap miris sosok bermata cekung dengan tulang selangka menonjol. Tubuh kurus, pipi tirus, raut wajah sayu kurang tidur dan bibir pecah-pecah selayaknya dehidrasi. Semua terpantul jelas dari cermin yang sedikit terpercik air.


“Hah … beranak pinak ya kamu di muka cantikku?” gerutu Yuki sambil meneliti jerawat baru, bintik gigitan nyamuk dan ruam merah bekas garukan yang tergambar jelas.


Salah Yuki sempat tertidur di kursi taman rumah sakit berselimut kabut. Padahal kala itu langit masih gelap, embun jelas menebal meski pagi hampir menyapa. Namun cukup lega karena hatinya kini bisa lebih tenang.


Benar, cukup tenang sampai sedetik yang lalu.


“Kamu kok masih di sini, By?” tanya Yuki gelagapan. Buru-buru menutup setengah wajah dengan handuk kecil.


Setau Yuki, Keven sudah kembali ke Kota B. Namun rupanya laki-laki itu hanya pergi menyiapkan makanan yang mungkin berhasil termetabolisme di tubuh Yuki.


“Gimana aku bisa pergi kalau kamu belum makan. Aku suapin ya?”


“Aku masih kenyang.”


“Yakin?”


“I-iya.”


“Terus siapa yang teriak di perut kecil ini?” kekeh Keven seraya mengusap perut rata Yuki. Bukan langsing, tapi sangat kurus karena berat badan yang menurun drastis.


Tangan besar itu sejenak menjauh, meremas getir yang merebak menusuk dada. Sekejap Keven tersenyum lebar pada respon Yuki yang selalu di luar dugaan.


“Apaan sih kamu, By!?” tukas Yuki dengan suara rendah sambil memanyunkan bibir.


“Aku gak mungkin hamil ya! Ini lapar. Tau lapar? Belum dihamilin ya gak bisa hamil,” lanjut Yuki menggerutu. Tanpa sadar mengakui bahwa dirinya kelaparan, bahkan tangannya bergerak mencomot perkedel kentang dan melahap tidak sabaran. Lupa menutupi jerawat yang membuatnya rendah diri.


“Lihat, kan? Aku cuma butuh makan. Gak usah ngomong yang aneh-aneh. Kamu kan gak pernah menghamili.”


“Iya-iya, udah, kamu lapar. Jadi makan pelan-pelan ya? Enak, kan?”


“Hm, enak. Enak banget. Berasa kayak hidup lagi,” balas Yuki riang, namun seketika wajahnya murung.

__ADS_1


“Hidup? By, kira-kira Mama masih hidup nggak?” tanya Yuki gamang. Sisa perkedel di mulut tertelan tanpa dikunyah lagi.


“Kenapa bicara gitu? Setiap hari kita udah ketemu Mama, kan? Kata Dokter juga kondisi Mama banyak kemajuan.” Keven mengelus lembut puncak kepala Yuki yang menunduk. “Kita harus sabar sampai Mama bener-bener stabil dan pulih. Sekarang kamu yang harus banyak-banyak makan. Mama pasti sedih kalau bangun nanti lihat anaknya makin kurus. Kamu gak mau kan aku dimarahi Mama gara-gara gagal jagain kamu?”


Yuki mencebik malas, menatap sebal pada Keven yang memberikan sorot teduh. “Biarin aja kamu dimarahin. Kamu kan sekarang suka nakal. Selama aku gak ikut jualan kamu jadi tebar pesona ke ciwi-ciwi. Kesel!”


“Kamu pernah lihat aku tebar pesona?”


“Setiap hari!”


“Kapan?”


“Nah ini kamu lagi tebar pesona. Ngapain nyisir-nyisir rambut ke belakang pakai alis dinaik-naikin segala? Biar apa? Biar dilihat suster-suster itu? Genit ih!!” tuduh Yuki seraya mengedikkan dagu ke arah perawat yang sebentar lagi lewat di depan keduanya.


“Aku cuma garuk rambut, Sayang,” jelas Keven dengan helaan nafas panjang.


“Tapi keren!” ketus Yuki sambil menyipit sengit.


‘Astaga, Sayang,’ batin Keven tidak percaya. Namun senyum merekah di bibir sebab hati yang berbunga-bunga.


Pelaku yang semula sudah menempuh jalur damai, bersedia membantu setengah biaya perawatan meski cukup berat hati Yuki maafkan pun kini justru menghilang. Kabur tanpa jejak dan akhirnya menjadi buronan.


“Aku tambah jelek ya. Jadi kurus kering. Ini juga jerawatan banget. Aku malu sama kamu, By.”


Keven mengernyit bingung. Sedetik kemudian pupil matanya melebar pada ungkapan yang jauh dari kenyataan. Baginya Yuki tetap yang paling bersinar. Hanya tiga sampai lima jerawat menghuni pipi dan dagu tidak membuat pancaran pesona Yuki luntur.


“Gimana kalau nanti aku gendutan ya? Waktu udah nikah pasti hamil terus melar, terus bengkak, terus kamu … awas aja kalau lirik-lirik cewek lain! Aku sate itu bola mata!” Tiba-tiba gadis yang bergumam lirih itu meledakkan suara melengking.


“Lama-lama aku hamilin kamu sekarang,” gumam Keven seraya menyendok sesuap nasi untuk Yuki.


"Aku dengar ya, Mas!"


...----------------...

__ADS_1


Siang harinya sepeninggal Keven, Yuki kembali menemui Mama Maria yang terbaring lemah. Tanda kehidupan hanya terasa nyata saat Yuki menyentuh pergelangan tangan sang Mama, selebihnya terpampang jelas dari alat-alat penopang kehidupan yang berbunyi konstan.


Rutinitas berulang yang sehari pun tidak pernah absen. Bahkan gadis itu memilih menetap di rumah Mama Maria. Bukan untuk tinggal, hanya pulang mencuci pakaian dan bersih-bersih seperlunya karena tidak mungkin menjadikan lorong rumah sakit layaknya basecamp.


Hal itu pun digunakan Keven untuk meminjam dapur Mama Maria guna memasak asupan bergizi untuk Yuki. Walaupun mau tidak mau saat ini Keven hanya bisa datang tiga hari atau seminggu sekali. Berbeda dengan di waktu awal Keven yang setiap hari menemani Yuki.


“Ma … kebaya impianku udah ada. Tapi aku minta Mas Keven jangan beliin dulu. Kayaknya bakal kebesaran kalau Mama gak bangun-bangun. Padahal aku maunya langsing, bukan gepeng. Tapi aku gak selera makan. Yang udah masuk pasti gak lama keluar lagi," adu Yuki pada Mama Maria.


"Bangun ya, Ma. Tolong bantu Mas Keven bujuk aku makan. Mama tau kan aku paling suka makan?” lirih Yuki pilu dengan mata berkaca-kaca.


“Mama kenapa sih nggak bangun-bangun? Aku … aku capek nunggunya, Ma. Kenapa Mama suka ninggalin aku?! Aku kan bukan anak nakal. Iya aku ngaku memang banyak tingkah. Tapi aku kurang nurut apa sih sama Mama? Bangun, Ma! Tolong, bangun ….” Yuki meremas pakaian steril yang membalut dirinya. Memejamkan mata mengumpat aroma obat yang menusuk penciuman saat harus menghirup udara dalam-dalam.


Tanda vital masih menunjukkan gelombang yang sama, namun ujung jari telunjuk Mama Maria yang berkedut dan tersentak tipis tidak pernah Yuki sadari.


Gadis yang nyaris kehabisan air mata itu hanya mampu menggigit kuat bibirnya. Berusaha menegakkan punggung yang sudah sangat tidak sanggup memikul pahitnya cerita kehidupan. Menunduk dalam dengan tenggorokan yang seolah menolak dilalui udara.


“Mama tau …,” ucap Yuki parau, “Papa kemarin bilang makasih sama Mas Keven. Mereka udah mulai banyak bicara. Bahkan Papa mau nepuk-nepuk bahu Mas Keven. Gak tau sih nepuk intimidasi atau apa, tapi Mas Keven malah senyum-senyum kok. Seandainya Mama gak terus-terusan tidur, mendingan besok aku langsung kawin aja. Gak ada yang tau kapan Papa tiba-tiba oleng lagi. Jadi, Ma, sebelum besok aku ke sini lagi, tolong bangun.”


“Oya, aku gak sengaja pecahin serum anti aging Mama. Bangun ya, Ma? Aku siap dimarahin,” bisik Yuki dengan kekehan hampa mengakhiri pertemuan siang itu.


...----------------...


Yuki kembali duduk termenung di lorong rumah sakit. Menatap hampa dinding putih dengan pikiran kosong sampai sebuah getaran mengejutkannya. Ternyata ponsel di genggaman telah berbunyi nyaring.


Sekejap Yuki menarik nafas sebanyak-banyaknya. Menghembuskan dengan berat lalu menarik kedua sudut bibir selebar mungkin. Suaranya mengalun riang menjawab panggilan itu. Ia tidak ingin seseorang di seberang sana khawatir.


“Makasih banget ya, Ra. Maaf aku ngerepotin terus. Dulu beli kamu yang ngurus, sekarang itu tanah dijual juga nyusahin kamu. Sorry banget ya Beb, aku gak paham jual-jual tanah, taunya dapat duitnya aja. Tapi lumayan sih dulu kamu saranin beli tanah itu. Sekarang bisa buat tambahan bayar obat," celoteh Yuki dengan cengiran khas.


Sayangnya semua sirna kala panggilan telepon itu berakhir. Yuki luruh dengan lutut tertekuk. Ia menunduk dalam dengan tangan menjuntai ke depan yang masih memegangi ponsel.


Sekali lagi, Yuki tidak baik-baik saja.


...****************...

__ADS_1


Thank you banget buat yang udah setia baca sampai sejauh ini😘


__ADS_2