Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Program Hamil


__ADS_3

Hari berlalu, waktu terus berganti, tidak terasa dua bulan sudah terlewatkan. Kabar baik itu mundur melebihi setengah tahun. Mulanya bisa dipercepat, tapi Yuki membujuk semua orang untuk sedikit memundurkan tanggal agar bisa bersamaan dengan hari ulang tahun Keven. Selain itu, tidak terduga masih banyak hal yang harus dipersiapkan.


"Dengan atau tanpa restu Papa, kita nikah!” tegas Yuki lugas. Ia frustasi atas keputusan Papa Gibran yang masih tetap sama, tidak kunjung memberikan restu.


“Gak bisa,” sahut Keven cepat. Sukses membolakan mata berkilat kesal Yuki.


“Kita harus dapat restu Papa, harus! Satu hal yang penting, apapun yang terjadi kamu percaya sama aku dan kita selalu bersama,” lanjut Keven tenang, meskipun hatinya bergejolak gusar.


“Kita harus gimana lagi, By? Aku capek tau bujuk Papa. Kenapa sih gak mau terima kamu lagi? Harusnya Papa bisa lihat kalau kamu nggak seburuk yang dikiranya. Selama ini juga Papa udah tau kita jalan bareng. Logikanya gak mungkin banget cuma temenan bukan untuk balikan, iya kan? Bahkan aku sengaja ngabarin real-time kegiatan aku. Memang modus banget biar Papa tau kalau aku selalu sama kamu. Tapi masa sih gak bisa lihat kalau anaknya seneng terus kamu juga tanggung jawab?!”


“Iya-iya, jangan marah-marah. Kamu udah cukup stress.”


“Mau bilang nanti aku cepat tua?” tuduh Yuki sewot.


Keven menggeleng. “Kamu sering marah jadi cepat capek, kerjaan juga nggak ada yang beres.”


“Jadi kamu lagi nyalahin aku?” Mendengus sebal, Yuki menepis rangkulan Keven di bahunya. Ia berjalan menghentak kasar lantai yang tidak bersalah. Derapnya menggema di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi pagi hari itu.


‘Kalau kamu terus marah-marah kayak gini, sebentar lagi pasti ngeluh masalah kerutan yang sebenarnya gak pernah ada,’ jelas Keven putus asa dalam hati. Memilih tidak diucapkan lantang secara langsung. Mencegah semburan gelombang kecerewetan sedahsyat badai tornado.


“Kamu siap kan, By?” ucap Yuki tiba-tiba.


“Siap?” Keven menyipit. Reflek pupil matanya bergerak ke sudut kanan atas. Sejurus kemudian menyamakan langkah dengan Yuki yang berjalan mendahului. Lantas menoleh dan mendapati Yuki yang sudah tersenyum lebar. Sedetik kemudian Keven akhirnya paham maksud dari pertanyaan Yuki.

__ADS_1


“Harusnya aku yang tanya. Kamu punya hak atas tubuh kamu. Sebesar apa pun andil aku nanti, tetap kamu yang mau gak mau harus menghadapi kondisi itu. Kalau seandainya belum siap, gak masalah, bisa kita tunda.” Keven mengusap lembut puncak kepala Yuki. Menyibak poni yang menutupi dahi gadis itu. sejenak ia hembuskan nafas stabil lalu berkata, “kalau kamu tanya aku, jawabannya sangat-sangat jelas siap. Karena aku justru udah nggak sabar bisa lihat mini kamu.”


Seketika Yuki tertawa geli. Sejenak angannya dipenuhi keributan-keributan menggemaskan. Bayangan kaki kecil yang berlarian keliling rumah, saling mengejar dengan dua pasang kaki senja yang tergopoh-gopoh benar-benar mengharukan. “Baru dibayangin aja aku udah kasihan sama Mama, Papa. Pasti bakal capek banget kalau punya cucu duplikat menantunya.”


“Rumah pasti ramai,” imbuh Keven.


“Lagi pula kalau aku belum siap, untuk apa kita konsultasi program hamil jauh-jauh hari sebelum nikah?”


“Iya.” Angguk Keven setuju. “Makasih ya Sayang udah mau ….”


“Hamilnya belum loh. Belum juga berkembang biak,” sela Yuki frontal sambil menarik kedua sudut bibir datar, menyipitkan mata dengan lubang hidung mengembang. Sontak membuat Keven berdecak pasrah walaupun yang Yuki ucapkan memang sebuah kebenaran.


“Lantai tujuh kan, Sayang?” tanya Keven saat keduanya sudah berada di dalam lift.


“Iya, By. Jona bilang Ara udah pindah ke lantai tujuh. Sebentar ya, mau lihat chat bocah itu kakaknya ada di ruang mana. Gak nyangka banget semalam udah lahiran aja,” ucap Yuki sambil mengeluarkan ponsel dari tas selempang.


“Pasti. Ara itu bukan sekadar sahabat, dia juga keluarga buatku. Kita memang baru kenal semenjak masuk kuliah, tapi hubungan kami udah deket banget. Cuma kamu harus sabar ya kalau aku ajak ketemu Ara. Soalnya Pak Rava kayaknya masih dendam ke kamu gara-gara kejadian waktu Ara gelut sama Kak Alia di mall.”


“Ah, itu … maaf ya tentang kejadian itu.”


Memutar bola matanya bosan, Yuki lantas membalas, “okay. Merasa bersalah lah dan bertanggung jawab atas hidup aku selamanya! Jangan pernah sekali aja kamu berani untuk lepas tangan apalagi ninggalin aku. Kalau suatu saat ada perempuan lain lagi ….”


“Gak!” potong Keven. Suaranya menggema kuat memenuhi ruang persegi sempit yang terus bergerak naik. Beruntung tidak ada orang lain meski interaksi keduanya terpantau jelas dari ruang kontrol keamanan.

__ADS_1


Sedetik kemudian tanpa basa-basi Keven menggenggam erat pergelangan tangan Yuki. Menempelkan telapak tangan mungil itu di dadanya yang berdegup kencang. “Cuma kamu. Sampai kapan pun hanya kamu. Tolong percaya aku. Maafin semua hal tolol yang udah aku lakuin. Maaf, semua gara-gara aku hati kamu jadi gak pernah tenang.”


Perlahan rasa haru merayap di dada Yuki. Meniup tenang kegundahan yang sejatinya memang sering kali singgah. Ia bukan ragu pada Keven, namun bisikan-bisikan gila di otak yang mengguncang hati terkadang tidak bisa dikendalikan.


“Kenapa kamu ketawa?”


“Aku jatuh cinta lagi sama kamu.” Bersamaan dengan pernyataan Yuki, pintu lift terbuka, menampakkan beberapa orang yang sepertinya ingin turun. Sedangkan Keven tersipu salah tingkah sampai terpaku di tempatnya.


“By, buruan.” Sentak Yuki menarik tangan Keven agar keduanya segera keluar sebelum pintu kembali tertutup.


...----------------...


Selepas mengunjungi Ara, baik Yuki maupun Keven memilih menjalani kesibukan masing-masing. Hari itu keduanya sengaja tidak membuka lapak jualan di kala malam, mungkin juga tidak akan buka untuk beberapa hari ke depannya. Namun Keven tetap sibuk mengurus gerai kecil yang cukup beruntung selalu ramai pengunjung.


Di tempat berbeda, Yuki sibuk mengemas beberapa helai pakaian. Sesekali ia berbincang serius diselingi tawa renyah melengking.


“Maaf ya Ma, aku dulu udah kurang ajar banget sama Mama.”


“Wajar. Kamu kecewa. Mama juga salah malah emosi ke kamu. Padahal kamu ini anak kesayangan Mama.”


“Jelas anak kesayangan, cuma satu-satunya. Limited edition banget pantes nggak dikutuk,” balas Yuki sambil menyengir tengil.


Perbincangan antara ibu dan anak itu terus berlanjut. Baru terhenti saat Keven datang, secara khusus menjemput Mama Maria dan Yuki dengan mobil tua milik Papa Leigh agar bisa makan malam di rumahnya. Inilah salah satu alasan Keven dan Yuki memilih tidak berjualan. Tentu selain agenda bertolak ke rumah Papa Gibran di luar Kota esok harinya.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih udah terus-terusan ngikutin kisah Yuki 😍


__ADS_2