
“AAARRGGHH!!”
Brak.
Brak.
Denyut kesakitan di buku-buku jarinya terabaikan. Tidak sebanding dengan hujaman semu yang berhasil membuatnya nyaris kehilangan kewarasan. Keven tidak bisa menjaga Yuki dalam dekapannya, menahan gadis itu agar tidak lari menjauhinya.
Kini ia hanya mampu menunduk termenung dengan punggung kokoh membentur mobil yang masih terparkir di tempat yang sama. Menatap rerumputan bekas dibabat di antara kakinya yang memijak bumi. Raga itu tegap namun tergerogoti kenyataan yang diharapkan cukup menjadi sebuah mimpi buruk.
Brak.
Sekali lagi kepalan tangan Keven menghantam badan mobil dengan bebas. Tidak meninggalkan bekas hantaman, apa lagi lecet, hanya rasa ngilu menjalar pada tulang terlapis daging dan kulit yang memerah.
Entah sudah direncanakan atau benar-benar kebetulan yang berpihak pada Yuki. Ketukan di kaca mobil yang menginterupsi, mencurigai dan menuduh perbuatan gaduh di dalam mobil goyang sebagai aksi mesum berhasil mengalihkan fokus Keven.
Keven kehilangan kesempatan untuk menahan Yuki tetap duduk di kursinya. Gadis itu kabur tanpa tanda. Melesat laju dengan langkah lebar yang sejatinya mampu Keven jangkau. Sayangnya Yuki sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil yang nyatanya menanti sejak beberapa menit sebelum atraksi mobil goyang tercipta.
Mengejar dan menyusul? Tentu seperti itu rencana Keven. Namun ia tidak bisa menghindar dari hardikan warga yang menuntut penjelasan. Terpaksa membuang waktu hanya untuk menjabarkan pembelaan.
Keven bersumpah lebih baik dirinya dan Yuki digerebek saat benar-benar berbuat mesum dibandingkan harus menerima kenyataan jika hubungannya dengan Yuki telah sampai di ujung kehancuran.
...----------------...
“Sini peluk aku … Kamu hebat,” lirih Ara sambil merentangkan tangannya, menarik lembut Yuki yang tampak tegar namun sangat rapuh.
Kedua gadis itu saling menyalurkan ketenangan dalam keterdiaman. Saling mengusap dan menepuk pelan seolah memberi kekuatan hingga kekehan kecil kembali mengisi keheningan.
“Tiba-tiba merinding aku kita pelukan kayak gini. Hilang nuansa mengharu birunya gara-gara geli,” celetuk Yuki riang, menutupi kesedihan yang masih sangat jelas terpancar dari sorot matanya.
“Kayaknya bukan karena geli, tapi risih … Biasanya gak ada yang merhatiin,” seloroh Ara seraya melirik sekilas pada laki-laki yang mencebikkan bibirnya, melipat tangan dan memasang ekspresi kecemburuan yang sangat kentara.
Menggeleng samar Ara tujukan pada Rava yang mendengus tidak rela. Laki-laki itu berdiri agak jauh dari Yuki dan Ara yang duduk bersama di kursi pedestrian. Namun mata dan telinganya masih sangat mampu menangkap gerak-gerik serta pembicaraan gadis-gadis itu.
“Pak Rava gak ada kesibukan atau kerjaan ya?” ketus Yuki dengan suara sedikit meninggi, matanya menyipit menyelidik. Bagi Yuki, mantan Dosen salah satu fakultas di kampusnya itu terlihat seperti seorang pengangguran yang selalu mengekori Ara.
“Ada,” jawab Rava singkat seraya menoleh sejenak pada Yuki, mengangguk kecil sekedar mendukung jawabannya.
“Hati-hati Ara bosan terus kabur loh, Pak. Terlalu sering diikuti bisa bikin resah dan cepat menimbulkan kebosanan, kejengkelan akut sampai keinginan untuk udahan aja. Apa lagi Bapak tipe yang di ekspor langsung dari Antartika. Dinginnya lebih menggigit. Beeh … Kalau saya sih angkat tangan deh,” ucap Yuki sengaja menakut-nakuti Rava. Raut wajahnya memang serius, namun diam-diam menahan tawa yang hampir terpecah.
__ADS_1
Tentu saja Yuki tidak serius dengan perkataannya. Karena kenyataannya Yuki juga berjuang mendapatkan Keven yang tidak lebih membatu dari Rava. Bedanya Rava yang mengesalkan untuk orang lain akan bersikap sangat manis sekali pada Ara. Sedangkan Keven, semuanya juga tau apa yang telah Yuki lalui hingga membawanya pada titik mantap memilih berpisah.
“Semua tergantung komitmen, kepercayaan dan keterbukaan, bener kan, Sayang?” balas Rava pada cerocosan Yuki. Ia mengikis jarak dan merangkul bahu Ara yang masih duduk dengan nyaman.
“Hm,” dehem Ara singkat disertai anggukan kecil. Kepalanya mendongak menatap Rava. Memberikan senyum singkat karena sadar sang kekasih terpancing keisengan Yuki.
Senyuman Ara yang manis membuat Rava ikut tersenyum kecil dan mencubit gemas pipi Ara yang spontan mendelik. Tidak terhindar pula bunyi pukulan akibat pertemuan telapak tangan Ara dan lengan Rava.
Semua itu tidak luput dari perhatian Yuki. Interaksi pasangan kekasih itu sedikit banyak menghibur hari Yuki yang nyaris sempurna menyedihkannya.
Memutar bola matanya malas, Yuki tidak ingin kembali melanjutkan bantahan iseng demi meresahkan Rava yang diyakininya pasti sudah cukup ketar-ketir. Bisa-bisa dirinya menghilang dari permukaan bumi jika berani berulah pada Rava, begitulah pikir Yuki.
“Mas, kamu pulang duluan aja. Nanti Ara sama Yuki bisa naik angkutan umum,” ucap Ara tiba-tiba sambil menepis pelan tangan Rava yang merangkul posesif.
“Sayang mau pergi ke mana lagi? Biar Mas antar. Jangan naik angkutan umum. Lagi pula Mas sengaja kosongin jadwal hari ini buat temani kamu.”
“Gak mau ke mana-mana, cuma di sini aja. Tapi cewek itu kalau udah ngobrol bisa jutaan episode, jadi Mas gak akan sanggup nunggu.”
“Ya udah gak usah ngobrol. Kita antar Yuki pulang aja.” Ringan, mudah dan santai, begitulah kalimat yang terucap dari mulut Rava. Tanpa rasa bersalah pula ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.
“Ya gak bisa gitu juga lah, Mas!” protes Ara dengan mata melotot tajam.
Sejenak Yuki seakan takjub pada penuturan Rava, tanpa sadar telapak tangannya saling bertemu, menepuk pelan sambil menggelengkan kepala. “Pak Rava memang betah banget jadi orang ketiga di antara kita.”
Kini sangat terasa perbedaan kisah percintaan manis Ara dan miliknya sendiri di mata Yuki. Iri? Tentu saja. Tapi Yuki cukup sabar, tabah dan sadar bahwa Rava dan Keven adalah dua kepribadian yang berbeda. Yuki tidak bisa mengharapkan Keven mencintai dirinya seperti Rava mencintai Ara. Ia juga tidak boleh memiliki harapan apapun lagi pada kisah yang ingin ditutupnya itu.
Tersenyum kecut Yuki menertawai angannya yang tidak masuk akal, termasuk mirisnya pernikahan yang hanya sekedar status. Tidak ada kenangan yang tersemat lekat selain bekas-bekas luka yang berusaha disembuhkannya.
...----------------...
“Jadi gimana tadi?”
“Ya gitulah … Kayak yang kamu lihat tadi, Ra. Dia gak mau dan ngotot gak akan terima perceraian itu. Makanya aku kabur aja. Pas banget tadi ada orang-orang datang. Untungnya juga kamu udah sampai,” jawab Yuki sambil menggoyangkan kaki sebelah kanannya naik turun dalam posisi tengkurap dan bermain game cacing di ponselnya.
Tidak terlihat sedikitpun tingkah laku Yuki yang mencerminkan kesedihan. Perempuan itu terkesan santai tanpa beban. Namun ketahuilah hatinya gelisah tidak tenang. Dadanya sesak menumpuk kekalutan pikiran yang sekuat tenaga dihempaskan.
“Oh ya, orang-orang tadi ngapain?”
Mengernyitkan dahinya, Yuki menoleh pada Ara. Diletakkannya ponsel dengan layar menggelap di atas kasur. Nyawa cacing yang dimainkannya sudah habis, mati karena memakan ekornya sendiri.
__ADS_1
“Masa kamu gak paham karena apa?”
“Kalau tau ya gak nanya, Ki. Lagian mobil Mas Rava juga parkir sembarangan gak didatangi kok. Lagi pula tadi aku perhatikan juga gak ada rambu-rambu dilarang parkir.”
‘Temen ku ini beneran masih polos apa bodohnya kelewatan banget ya?' gumam Yuki dalam hati. Ia yang tidak lebih polos dari Ara saja juga paham pada alasan penyergapan dadakan itu. Ralat, hampir saja keliru. Bukan polos, hanya sama-sama minim pengalaman saja. Nyatanya otak Yuki tetap bisa mencerna setiap pembahasan yang menjurus pada ranah berlabel khusus dewasa.
Tok.
Tok.
Tok.
“Yuki?! Ada tamu tuh ....”
Tok.
Tok.
Tok.
“Yuki oohh Yuki … Suami di depan gerbang dari tadi maksa masuk woi!”
Suara ketukan dan panggilan nyaring terdengar memburu. Berhasil membuat Ara dan Yuki yang asik rebahan terlonjak kaget. Keduanya sama-sama menatap dengan mata terbelalak.
Gegas Yuki menyibak gorden kamar kos nya yang langsung menampakkan perdebatan sengit Keven dan Satpam di depan gerbang kos-kosan. Spontan Yuki menepuk kasar dahinya dengan dengusan sebal dan mata terpejam kesal.
"Woi buka!! Malah ngintip aja Buk ... Itu laki mu udah dari tadi mau nyelonong masuk!" pekik Ismi sambil berkacak pinggang di depan jendela kaca transparan dengan Yuki yang mengintip terpampang nyata. Gadis itu panik karena sudah sejak lama mengamati perdebatan Keven dan Satpam penjaga kos. Dikiranya akan segera berakhir, namun ternyata malah semakin membara.
"Aaaarrrghh!! Ngerepotin banget sih!! Mau pisah aja bikin masalah lagi!! Lama-lama aku mau jadi selebgram aja lah! Sensasi mulu, bikin malu!" sungut Yuki sebal. Menggerutu kuat hingga menggema ke seluruh sudut petakan kamar kos yang ditempatinya.
...****************...
*
*
*
Part kali ini biasa aja ya ... Jujur aku gak jago bikin yang mendebarkan apa lagi sampai bikin mewek-mewek. Pengen bisa nulis kayak gitu, tapi nyawa tulisan ku belum sampai situ. Masih perlu banyak belajar dari para pakar, termasuk dari teman-teman pembaca😄
__ADS_1
Terima kasih ya sudah kasih dukungannya untuk tulisan ku ini🥰