
"Dadah Leo ...," goda Yuki. Spontan dibalas senyum lebar sang buah hati.
Malaikat kecil itu sudah bisa duduk meski agak limbung. Belum mampu pula menegakkan punggung karena mudah menggelimpang ke sembarang arah.
"Loh kok ketawa? Ditinggal Mama kok ketawa sih?" protes Yuki sambil beringsut mendekat.
Dengan hati-hati Yuki menarik tubuh mungil Leo yang memukul-mukulkan kepalan tangan ke udara. Mendekapnya sekejap dari belakang. Membungkuk dengan kedua tangan mengukung bayi polos itu.
Tidak ketinggalan Yuki mendaratkan banyak ciuman lembut di pipi, tangan dan bahu Leo yang tertawa kegelian. Sedetik kemudian diangkat pula perlahan ke pangkuan.
Namun sayang, geliatan kecil memberontak justru membalas pelukan gemas Yuki. Leo berusaha melorotkan diri dari pangkuan. Ia sudah berani menolak dan mengekspresikan setiap keinginan atau sekadar rasa penasaran yang mulai terbentuk.
"Huah ... da-da dda bew bheeh ….”
“Iya … apa? Gak mau main sama Mama nih?”
“Dda-da bewewee huu aah … dadadaa adadadaddaa ... ei-da heibwah ...."
Bagai sales panci keliling kreditan, celotehan Leo terus bersambung. Berkobar tanpa mampu siapa pun hentikan.
Calon pemuda tampan harapan masa depan itu melontarkan setiap kata ajaib yang belum bisa diterjemahkan. Namun berhasil menghanyutkan seluruh penghuni rumah yang terlena akan bibir ceriwis bak duplikat sang Mama.
"Uhuk ... eheiheh-heh hii uuh ...."
"Sampai batuk-batuk kan. Suka ya kamu ngoceh sambil main liur, hm? Coba titisan burung walet, udah Mama tampung buat beli popok," canda Yuki sambil mengepalkan tangan dengan gemas. Membayangkan tengah mencubit pipi gembul sang buah hati.
“Anak siapa sih ini gemesin banget. Pengen dibungkus," ungkap Yuki lagi kala melihat Leo melemparkan tubuh kecilnya menabrak boneka singa. Tertawa oleh permainannya sendiri sembari menatap lucu ke arah Yuki tanpa beban sedikitpun.
Sedangkan tidak jauh dari ibu dan anak itu, Keven justru dibuat gemas oleh tingkah keduanya. Terpancar sorot teduh tengah mensyukuri setiap kebersamaan mereka.
Pemandangan rutin yang terkadang ingin Keven bekukan agar kekal abadi. Meskipun tidak dipungkiri ia menantikan setiap kejutan-kejutan perkembangan sang buah hati.
Berjalan mendekat dengan waist bag di tangan, Keven merunduk. Mencium puncak kepala Yuki. Berjongkok mengecup pipi montok Leo yang agak dingin dengan sedikit bekas air liur berjejak.
"Oma mana, Sayang?" tanya Keven sambil memainkan tangan Leo. Mengulum tawa kecil disebabkan hidung boneka singa yang basah. Tentu akibat ulah bibir Leo yang terus basah.
"Lagi pipis, Papa …,” jawab Yuki seimut mungkin. Bergerak mengelap air liur yang kembali menetes di sudut bibir bayi mungil namun gembul miliknya itu.
__ADS_1
“Ini kalau beneran ditinggal nangis gak ya?" ucap Yuki lagi tanpa mengalihkan perhatian dari celotehan Leo.
"Kalau udah sama Omanya pasti lupa sama kita,” jawab Keven diikuti celotehan Leo yang seolah bersahutan. “Kamu setuju ya, Nak?”
“Iya sih. Tapi tetap aja kepikiran, By.” Angguk Yuki membenarkan.
"Tinggalin aja. Cucu Oma itu anteng banget. Dari pada dibawa Mama yang was-was. Bahaya," ucap Mama Agni sembari bergabung bersama anak, menantu dan cucunya.
“Kamu pergi sendiri sama Papa bisa kan, By? Takut Leo rewel. Kasian nanti kalau Mama kewalahan.”
“Kamu kan tau sendiri Sayang, udah lama aku minta Papa periksa ke dokter. Tapi ya gitu ... Papa nurut kalau kamu yang ngomong,” balas Keven menolak permintaan tersirat Yuki.
“Mama bisa. Temenin aja Keven sana. Orang dua itu malah nggak beres kalau gak diawasin. Suruh Papa medical check up lengkap. Bilangin kalau gak mau gak usah ikutan jenguk besan. Kamu yang ngomong pasti nurut.”
“Tuh, Mama aja setuju, Sayang,” imbuh Keven mendukung kalimat Mama Agni.
“Terus Papa sekarang di mana, Ma?” tanya Yuki.
“Tadi di depan … coba kamu cek, Kev. Tadi ada temennya sepedahan mampir.”
Sepeninggal Keven, Yuki pun bergegas mengambil tas selempang di kamar. Kembali memeriksa bawaan Keven serta kebutuhan Papa Leigh yang sudah disiapkan, takut jika ada barang tertentu yang tertinggal. Maklum saja, orang tua itu terkadang rewelnya mengalahkan Leo.
"Cucu Oma sekali ya kamu," kata Yuki sambil mencium gemas pipi Leo. "Beneran gak mau nangis nih? Gak ada drama, Nak?"
"Habisnya tenang banget, Ma," ucap Yuki sambil duduk saling berhadapan dengan Leo. Merapatkan kedua paha kecil Leo hingga anaknya itu limbung ke samping. "Di dadah aja malah ketawa. Iya, kan? Dadah ...."
Bibir Leo mengembang, ia tersenyum lebar. Namun tidak membuat hisapan ibu jari dan telunjuk bersamaan itu terlepas dari mulut.
Sejenak bergoyang maju mundur dengan kaki bagai mendayung, meski tidak membuatnya bergerak sedikit pun. Namun percayalah itu sebuah balasan yang membuat Yuki semakin syok. Anaknya kelewat girang.
Sontak ruang keluarga rumah berlantai dua itu penuh dengan gema suara ajaib Leo. Bayi gembul yang berusaha tengkurap, bertiarap bagai prajurit di medan perang. Menggerakkan lengan dan kaki tanpa kesulitan. Berceloteh tiada henti dengan bibir basah yang harus rajin-rajin dibersihkan.
...----------------...
“Leo nangis gak ya, By?”
“Pasti lagi tidur. Setengah jam lagi baru bangun, main terus makan siang.”
Menghela nafas, Yuki menatap Keven sendu. “Gak lihat anak sebentar aja nggak tenang ya, By. Kepikiran Leo terus. Mana tadi nggak nangis waktu ditinggal. Rasanya kayak dicampakkan."
__ADS_1
"Anak kita pengertian. Dia udah tau kalau Mama Papanya mau nemenin Opa berobat. Jangan sedih," hibur Keven. Lantas ia buka sebotol air minum kemasan yang baru dibeli. "Minum dulu?”
Mengangguk, Yuki bersiap meneguk air dari botol yang Keven sodorkan. Namun belum sampai setetes air itu mengenai tepian bibir, Yuki reflek menjauhkan botol dan menutup mulut beserta hidung rapat-rapat.
"Sayang?" seru Keven kaget. Bajunya sedikit basah terkena air yang tumpah.
Dengan gerakan cepat Keven meraih botol terbuka dari tangan Yuki. Mengelap punggung tangan sang istri yang sedikit basah karena tumpahan air dengan telapak tangannya.
"Bau, By. Basi deh. Buang aja," keluh Yuki dengan mata berair dan wajah yang mendadak memerah. Berusaha menahan agar sesuatu yang mendobrak kerongkongan tidak keluar.
"Yuki kenapa, Kev?" Papa Leigh bergegas mendekat. Pupil matanya yang sempat melebar kini menyorot lamat Yuki yang seakan berusaha mengeluarkan isi perutnya.
"By jauhin. Bau banget."
"Iya-iya, Sayang. Pa, tolong lihatin tanggal kadaluarsanya," pinta Keven seraya menyerahkan sebotol air minum yang masih terbuka.
"Setahun lagi, Kev ... Yuki biar sama Papa, kamu beliin roti dulu sana. Jangan-jangan telat makan. Ini udah siang."
"Gak usah, Pa. Udah agak enak kok," tolak Yuki. Berusaha berdiri dengan tumpuan lengan Keven. Mundur dua langkah menjauh. Mengusap perutnya yang sempat bergejolak tidak karuan. Bergidik seraya berkata, "gara-gara air itu aja, bau banget."
"Tapi ini gak ada bau," ucap Papa Leigh sambil mengernyit bingung. Menghidu kembali aroma air yang tercium seperti pada umumnya.
"Masa sih, Pa? Baunya kayak got gitu. Udah kayak rendaman bangkai kodok. Ih, huek ... merinding nih, bau banget."
"Ada-ada aja kamu. Tadi sebelum berangkat Papa suruh makan lagi gak mau. Telat makan, kan," ujar Papa Leigh sambil menggeleng.
Sedangkan Keven mulai terdiam. Ia seolah dejavu. Ingatannya kembali pada setengah tahun ke belakang, tepatnya masa-masa trisemester ketiga yang penuh tantangan.
"Sayang ... ayo, periksa!"
"Gak usah. Udah gak mual. Tapi itu buang aja, By. Pa, buang aja. Jangan diminum."
"Aku bau nangka busuk ... kamu ingat?"
Menaikkan sebelah alisnya, sepersekian detik kemudian Yuki berkata, "By ... gak mungkin, kan?" Terbelalak, Yuki menggigit bibir bawahnya.
"Ayo, periksa." Keven menggenggam erat tangan Yuki. Menautkan jemari dengan tarikan lembut. Menyusuri lorong-lorong yang sejatinya sudah berulang kali dilewati hari ini.
Laki-laki satu anak itu bahkan nyaris melupakan Papa Leigh yang spontan melontarkan tanya tanpa jawaban di belakang keduanya. Otak Keven sudah dipenuhi praduga yang menghadirkan kebahagiaan baru, namun juga disertai sebuah kekhawatiran.
__ADS_1
...****************...
Terima kasih udah membaca lagi😘