
Alarm merdu telah berbunyi. Alunannya menggelitik gendang telinga Keven. Seketika tubuh lelah itu terlonjak. Kepalanya celingukan dengan mata mengedar mencari keberadaan Leo, pencipta suara indah pagi hari itu.
Dengan kantuk yang menguap, langkah yang agak berantakan Keven terus bergerak. Sesekali mengusap kelopak mata yang berat. Bunyi persendian akibat peregangan di leher dan lengan yang sedikit kaku pun menemani.
“Morning Papa,” sambut Yuki riang. Berdiri di balkon menghadap ke luar. Bergoyang pelan seirama bagai terpasang pegas di kedua kakinya.
Tangis Leo pun sudah berhenti, berganti decapan konstan dari bibir yang menyedot sumber ASI. Seketika hati Keven menghangat. Senyum merekah di sudut bibir. Ditambah sikap ceria Yuki yang sangat berkebalikan dengan pagi kemarin, sungguh cukup melegakan hati Keven.
“Morning, Sayang,” balas Keven seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Yuki. Melingkarkan tangan, mengintip dan ikut mengusap paha mungil Leo dari belakang. Menepuk-nepuk pelan sambil menahan rasa gemas yang meluap. “Pagi-pagi anak Papa udah bangun, udah sarapan … nggak bagi-bagi Papa ya Leo.”
“Bisa-bisanya iri. Gak sadar diri banget anak dikasih bekasnya. Dasar Papamu tidak berperi kebayian.” Spontan saja langsung Keven cium bibir istrinya yang menggerutu itu.
“Hish, curi-curi kesempatan,” gumam Yuki pelan sambil mengulum senyuman.
Menegakkan punggung, Keven berdiri menyerong di sisi kiri Yuki. Ia menunduk dan menatap lekat sang buah hati yang terlihat tengah memperhatikannya, meskipun tetap asik menikmati asupan pagi. “Minum yang banyak biar kuat waktu dijemur Mama ya, Nak?”
“Nggak, Papa. Mau belanja loh. Mau shopping. Mau hambur-hamburin uang Papa,” balas Yuki asal dengan menirukan suara anak kecil.
“Itu sih Mama.”
“Ih kok gitu? Masa Papa nuduh Mama, Mas. Papa tega ya … iya-ya, hm?” adu Yuki pada Leo yang merespon dengan senyum kecil. Terlepas pula pucuk kemerahan yang merembeskan cairan putih penuh gizi seiring mata membulat dan mengerjap-ngerjap super menggemaskan. Meskipun jelas bayi mungil itu sama sekali tidak mengerti apa yang Yuki bicarakan.
"Ketawa ya? Kamu setuju sama Mama ya? Anak pinter," puji Yuki senang.
“Sejak kapan Leo jadi Mas?”
“Sejak tadi.”
“Udah siap kasih adek buat Leo?”
Dengan bibir manyun Yuki menggeleng. “Nanti.”
Kegelisahan tanpa permisi menyergap. Bukan Yuki takut melahirkan, justru sangat mendambakan momen kehamilan serta proses persalinan yang penuh drama dan nyaris membuatnya seolah tercincang merata di sekujur tulang. Namun Yuki sadar mentalnya belum cukup kuat untuk meremas, meninju dan mencabik-cabik nyinyiran yang terbalut pujian untuk anaknya.
__ADS_1
“Bikinnya?”
Mendelik, Yuki lantas berkata, “siapa yang kemarin bilang mau anak satu aja? Urusan bikin semangat, full power.”
“Memang istriku yang cantik ini nggak?” goda Keven sambil mencolek pipi Yuki.
“Ya … iya juga sih. Tapi tiga anak lebih baik ya, By. Aku gak kebayang kalau sebelas atau selusin anak. Cukup tiga aja biar ibaratnya percobaan, latihan, pro.” Sambil bergidik dan menyengir Yuki balas tatapan penuh sayang Keven.
“Sedikasihnya aja. Satu pun gak masalah. Cukup kita berdua besarkan Leo sama-sama.”
“Bilang aja gak mau punya banyak saingan, kan? Jangan khawatir. Kamu gak akan punya saingan. Anakku pasti jauh lebih ganteng dari kamu. Bibit unggul,” seloroh Yuki bangga.
“Itu pasti karena Papanya ganteng.”
“Ngaku-ngaku. Udah sana mandi. Kamu bau. Aku mau bawa Leo berjemur dulu.” Mengedikkan bahunya, Yuki lantas menyerongkan badan. Ia putar langkah kakinya ke arah pintu balkon yang terbuka lebar.
“Biar aku aja. Kamu tolong siapin baju-baju aku ya?” pinta Keven seakan bernegosiasi. Menahan lembut kedua bahu Yuki.
“Siap, Mama. Serahin semua ke Papa. Sekalian buatin Papa kopi susu ya?”
“Ada maunya lagi ternyata,” jawab Yuki yang dibalas kekehan ringan Keven. “Udah sana buruan jemur Leo.”
Mengecup pipi Yuki secepat kilat, Keven akhirnya berlalu membawa Leo dalam dekapan. Pelan-pelan menuruni anak tangga menuju halaman samping.
Laki-laki bergelar Papa itu tampak sangat bahagia. Tanpa sadar menggumamkan melodi yang hampir setiap malam Yuki lantunkan. Seolah terdikte dan melekat di ingatan. Dinyanyikan pula berulang kali.
“From your head to your toes. You're so sweet, goodness knows. You are so precious to me. Cute as can be ….”
“Baby of mine. Baby mine, baby mine,” sambung Yuki tepat di sisi kiri Keven. Mengusap lembut ubun-ubun Leo. Menyandarkan kepalanya di lengan Keven yang juga menopang kepala sang buah hati.
Pemandangan hangat keluarga kecil itu seolah memancarkan kilaunya sendiri. Semu merah muda menjalar bagai benang pengikat, menancap di hati, membelenggu di nadi. Saling menguasai secara posesif untuk saling memiliki. Tanpa kata, tanpa suara, namun bisikannya menembus hingga jiwa.
Meskipun tidak akan pernah menghapus perjalanan jatuh bangun, berkubang lumpur dan bertabur gemerlap pelangi. Karena sejatinya ikatan yang terbentuk saat ini memberi warna positif dalam setiap kisah yang telah terukir.
__ADS_1
“Sayang … terima kasih udah hadir untuk kita.”
“Hm?” Menaikkan sebelah alisnya, Yuki mendongak, menatap Keven bingung. Lalu tidak lama senyumnya mengembang. “Iya. Kamu, aku dan … Kaleo.”
“Cucu Oma jangan dijemur lama-lama, bahaya!”
Sepasang orang tua baru itu terperanjat. Bersamaan menoleh ke belakang, tepat di ambang pintu Mama Agni berkacak pinggang. Tidak lama disusul Papa Leigh yang ikut berkata, “udah Mama siapin bak mandi ini. Ayo bawa masuk Cucu Opa. Masuk dulu, Kev. Kopimu keburu dingin.”
“Iya, Ma, Pa … ayo, By.” Melingkarkan tangan di pinggang Keven, Yuki benar-benar bahagia. Keluarganya terasa lengkap. Kebahagiaannya sempurna dengan caranya sendiri.
Walaupun terkadang dalam lamunan Yuki membayangkan Mama Maria bisa ikut menimang Leo. Papa Gibran bisa menggendong cucu pertamanya dengan sepuas hati.
Meskipun dipastikan hal itu sukar dilakukan. Bahkan sekadar bertemu saja dengan Papa Gibran sejauh ini baru sebatas perantara panggilan video. Kedepannya pun Yuki yang harus berkunjung agar kakek dan cucu itu bisa saling bertemu secara langsung.
Mau bagaimana lagi, tidak ada yang tau kapan sebuah musibah akan menimpa. Tidak ada pula yang ingin sebuah penyakit bersemayam. Meskipun kini dengan lapang dada dan keikhlasan hati Papa Gibran harus menerima dirinya terkena stroke akibat serangan tekanan darah yang terlampau tinggi.
Satu hal yang pasti, semua permusuhan telah usai. Yuki berdamai dengan hatinya yang terluka. Ia menerima Bunda Inka sebagai bagian dari keluarga, terlebih dengan sosok adik tiri yang akhirnya berani bersikap manja kala mereka berkumpul.
"Hei, Sayang ... kenapa nangis? Ada yang sakit?" tanya Keven panik. Buru-buru menghampiri sang istri yang sedari tadi mengamati Leo yang terlelap di kasurnya sendiri.
Terbengong bingung, Yuki biarkan kedua telapak tangan besar Keven menguasai pipinya. "Aku nangis? Aneh, padahal aku lagi seneng ...," balas Yuki tulus dengan lengkungan lebar yang ajaibnya dilelehi air mata haru.
Percayalah, Yuki bahagia.
TAMAT 😊
...****************...
Terima kasih atas semua waktunya selama mengikuti perjalanan Yuki. Meskipun masih banyak kekurangan, baik dari segi cerita atau update yang kelewatan lama, semoga tetap bisa memberikan hiburan kecil buat kita semua.
Sekali lagi, dengan tulus aku ucapkan terima kasih untuk semua dukungan di tulisanku ini. ❤
Sampai jumpa di lain waktu dan di kesempatan yang baru. 😘
__ADS_1