
Tepat pukul lima sore Keven duduk berselonjor, bersandar di kepala ranjang. Jemarinya berselancar serius di media sosial mencari trend kekinian yang diulas beberapa food vlogger.
Sesekali Keven mendongak, mengamati pintu kamar mandi akibat Yuki yang tidak kunjung keluar. Lalu kembali terpaku pada ponselnya dengan helaan panjang.
“Lima menit lagi,” gumam Keven sambil mengangguk kecil.
Sedangkan Yuki yang sebenarnya sudah menyelesaikan ritual mandi sejenak merenungkan apa yang ia lakukan beberapa hari belakangan. Rupanya kedatangan Ara tidak hanya mengembalikan keceriaan Yuki, namun juga kewarasan akan status istri yang kembali diemban.
“Ternyata udah lebih …,” ucap Yuki mengambang. Sepuluh jari-jari tangannya tidak cukup untuk menghitung hari-hari yang terlewat setelah pemakaman Mama Maria.
“Udah tidur bareng tapi belum diserang. Apa gara-gara aku … kayaknya bener gara-gara aku. Durhaka kamu, Ki. Tapi salah Mas Keven juga sih gak sat-set sat-set gol. Hish, punya laki kok gitu banget. Apa jangan-jangan ….”
Sambil menggigit sudut kiri bibir bawahnya, Yuki menyadari situasi di antara dirinya dan Keven. Semuanya seolah kembali pada masa-masa pernikahan yang pertama, hanya saja tidak tidur saling membelakangi. Namun tetap sebatas genggaman tangan sampai usapan lembut di punggung atau kepala, bahkan tidak pula berpelukan.
Berjalan gontai, Yuki lantas menghempas tubuhnya ke atas kasur. Gerakan kuat yang tiba-tiba itu sukses membuat Keven terperanjat. Ia benar-benar tidak mendengar bunyi pintu kamar mandi yang dibuka.
Namun Keven lebih terkejut lagi saat mendapati Yuki hanya mengenakan sehelai handuk. Memamerkan bahu polos dan paha mulus. Berbaring melintang dengan kepala hampir menyentuh betis Keven.
Terpaku kaku, mendadak Keven kehausan. Jakunnya naik turun. Tangannya bergetar. Seketika kehilangan tenaga hingga ponsel yang dipegang terjatuh ke kasur.
“Kamu kok nggak tergoda sama aku? Apa aku kurang bohai jadi gak mau kamu belai?” tanya Yuki sambil mendongak dalam posisi berbaring. Kelopak matanya yang mengerjap lambat dan bola mata berbinar memelas sungguh sangat menantang.
Tidak taukah Yuki jika Keven sudah panas dingin? Bahkan kini laki-laki itu tidak bisa membedakan dirinya sedang menggigil atau kegerahan.
“Sekali tarik aja ini udah bisa dibungkus loh … salah deh, unboxing maksudnya,” ucap Yuki semakin berani.
Perlahan jemari Yuki seakan menari pada ujung belitan handuk yang terselip. Jari telunjuknya pun tidak ketinggalan bergerak menarik turun lilitan handuk menyerupai kemben itu hingga memamerkan belahan dada.
‘Bentar deh. Kok dejavu ya?’ batin Yuki dengan kerutan halus di dahi.
“Belajar nakal?” ucap Keven sambil menyugar rambutnya dan menyeringai lebar. Secepat kilat melemparkan dirinya ke atas Yuki. Mengungkung perempuan yang terbelalak kaget itu di bawahnya.
“Kamu siap?” tanya Keven seraya merendahkan tubuh, melipat siku guna mengikis jarak. Tanpa basa-basi mengecup bahu polos Yuki, menyusuri hingga terhenti di tengkuk akibat jawaban panjang lebar yang agak mengesalkan.
“Gak tau. Cuma bingung aja kenapa dari dulu kamu gak tergoda. Ini kan bukan pertama kalinya kita tidur bareng tapi gak ngapa-ngapain. Atau sebenarnya dulu kamu bukan suka sama Kak Alia, tapi Bang Saka. Serem banget. Doyannya buah kelengkeng, bukan buah da-argh, By!?”
__ADS_1
Erangan Yuki menggema. Reflek mendorong mulut Keven yang baru saja menyesap kasar lehernya.
“Sembarangan banget sih!” ketus Yuki kesal.
“Kamu yang sembarangan,” balas Keven.
“Minggir sana. Aku mau pakai baju,” usir Yuki.
“Buat apa?” tanya Keven bingung. Padahal tinggal sedikit lagi mereka bisa melancarkan atraksi gila yang tertunda sekian lama.
Berdecak, Yuki hembuskan nafas panjang. Lalu tersenyum penuh makna, mengelus rahang tegas Keven lalu mengedikan dagu ke arah bawah. “Sorry to say, aku cuma menggoda. Lagi tanggal merah. Tuh ….”
Spontan Keven menurunkan pandangan. Mulutnya melongo syok. Tanpa belas kasih Yuki menyibak handuk sampai pinggul. Bahkan menyembulkan separuh pusar yang terekspos nyata. Memamerkan benda segitiga dengan bayang-bayang yang Keven tebak pasti pembalut.
“Kamu lihatinnya jangan gitu banget dong. Aku kan jadi malu,” seru Yuki sambil berusaha menutupi bagian bawahnya. Padahal Yuki sendiri yang memamerkan keindahan lekuk tubuh yang akan sangat menyiksa Keven sepanjang malam.
“Kamu lagi hukum aku?” tanya Keven seraya berangsur menyingkir dari atas Yuki. Mengacak rambutnya frustasi. Menunduk sedih pada rudal yang gagal meluncur.
“Anggap aja DP sebelum uji coba. Walaupun buat anak gak perlu coba-coba,” sahut Yuki santai. Sedetik kemudian berlalu seraya memperbaiki belitan handuk yang mengendur. Berpura-pura seakan tidak melihat ekspresi cemberut Keven.
“Ternyata aku kurus banget ya, By. Tetap cantik sih, tapi agak serem. Kayak tengkorak hidup gitu. Kok bisa sih kamu gak takut atau ilfeel? Kenapa juga aku dari kemarin gak sadar-sadar ya?”
Bukannya langsung berganti pakaian, Yuki justru terpaku memandangi pantulan dirinya di cermin. Beberapa kali berlenggak-lenggok tanpa peduli pada nasib malang Keven.
“Wajar. Berat badan kamu turun 15 kilo. Nanti kita atur pola makan, nutrisi, berat badan kamu pasti ideal lagi,” jelas Keven sesantai mungkin sambil menahan gejolak di sekujur tubuh, khususnya pada area yang sudah siaga satu. Berdiri kokoh dan tidak tau kapan bisa tumbang.
Satu hal penting lainnya, bayangan paha mulus dan sesuatu tersembunyi yang baru saja dilihatnya sukses menginvasi otak Keven.
“Bantu aku naikin berat badan lagi ya, By? Masakin yang enak-enak.”
“Janji pasti kamu makan?" ucap Keven penuh penekanan.
"Iya. Takutnya yang ini kempes juga."
'****!!' umpat Keven dalam hati. Spontan memalingkan wajah saat kedua tangan Yuki seenaknya menangkup dada kenyal yang hanya terbungkus handuk.
__ADS_1
Sudah cukup. Keven tidak bisa bertahan jauh lebih lama lagi. Buru-buru ia melesat ke kamar mandi tanpa banyak bicara.
“Wah langsung karaoke sendiri,” gumam Yuki sambil terkekeh geli. Akan tetapi kedua sudut bibir yang tertarik naik itu tiba-tiba melengkung turun.
"Iya, ini baru benar. Ini Yuki. Yang hidup tetap harus hidup. Mama di sana pasti udah bahagia. Mama di sana pasti mau aku bahagia. Semangat, Yuki! Semangat!!" seloroh Yuki pada pantulan dirinya sendiri. Dari kepalan tangannya seakan berkobar api penuh tekad.
Sejurus kemudian perempuan itu bergegas berganti pakaian. Tanpa riasan dan hanya menguncir rambutnya asal-asalan Yuki melesat turun. Kaki rampingnya menjelajah seisi rumah. Berhenti mengamati meja makan yang kosong belum ada menu untuk makan malam.
"Coba telepon Mama dulu deh. Lama banget gak pulang-pulang," ucap Yuki sembari melangkah ke ruang tengah, hendak menuju tangga untuk kembali ke kamar mengambil ponsel.
Pasalnya sang mertua siang tadi sempat berpamitan undangan ke rumah tetangga, namun hingga hampir gelap keduanya belum juga pulang.
Akan tetapi, baru saja kaki Yuki menapak di undakan anak tangga paling dasar, suara Mama Agni terdengar riuh dari arah ruang tamu. Tentu bersahutan dengan suara Papa Leigh.
"Mama habis undangan mampir ke mana? Banyak banget bawaannya," celetuk Yuki penasaran.
Tampak Papa Leigh membawa dua dus berukuran sedang. Sementara kedua tangan Mama Agni penuh tergantung kantong kresek. Sontak Yuki bergegas mengangsur satu per satu kantong-kantong itu agar ia bawakan.
"Loh? Dibungkusin makanan juga, Ma? Gak perlu masak lah buat malam ini," ucap Yuki sambil mengintip isi beberapa kantong yang ia bawa.
"Hangatin aja lagi. Rupanya cuma undangan demo masak. Orang jualan panci," ujar Mama Agni.
"Jadi makan-makan juga di sana, Ma?"
"Iya, dimasakin pasta, bolu sama itu makanan yang Mama bawa. Tapi enak buatan Keven ya, Pa? Tau gitu Mama gak datang."
"Terus kenapa Mama beli ini?" sahut Papa Leigh sambil menatap dua dus bergambar satu set panci teflon dengan putus asa.
"Semuanya ambil. Masa Mama sendiri yang nggak ambil, gak enak lah, Pa," jawab Mama Agni. "Udah gak apa-apa, kredit juga."
"Terserah Mama." Mengalah, Papa Leigh hanya menggeleng pasrah. Setidaknya selama menemani sang istri bisa ngopi bersama Bapak-bapak lainnya.
...****************...
Terima kasih udah dukung tulisanku ❤ Sabar menanti UP terbaru🥰
__ADS_1