
“Ra ….”
“Hm.”
“Hamil susah gak?” tanya Yuki datar. Matanya menatap lurus Keven yang ikut sibuk membakar jagung. Sesekali bibirnya melengkung ke atas kala beradu pandang dengan Keven yang menoleh ke belakang.
“Memang di dunia ini ada yang benar-benar mudah?” balas Ara seraya menimang Elly kecil yang terlelap.
“Susahnya itu pasti ada, Ki. Tinggal kita nikmati dan jalani aja dengan ikhlas. Percaya deh, masa-masa hamil itu menakjubkan. Perut yang tadinya bucit kebanyakan lemak pelan-pelan membesar seiring pertumbuhan malaikat kecil di dalam sana. Walaupun pinggang kita sakit, kaki bengkak, tidur pun susah … tiba-tiba semua rasa itu kayak hilang gara-gara pergerakan aneh di perut. Tendangan sampai sikuan yang bikin nyeri itu udah bukan masalah lagi. Bahagia kita yang terlalu besar.”
“Benar-benar ajaib ya, Ra. Durhaka banget aku yang belum bisa balas semua perjuangan Mama. Bahkan aku udah sangat-sangat jahat karena pernah ngelawan Mama. Sampai akhir pun aku ….” Lidah Yuki kelu. Tenggorokannya seakan terganjal bongkahan batu karang tajam. Sesak di dada itu hadir bersamaan mata sendu yang menjelaskan sebuah kehilangan yang teramat dalam.
“Nggak, Ki. Tante Maria pasti bangga sama kamu. Aku yang cuma sahabat kamu aja tau gimana hebat dan mandirinya kamu, pasti Tante Maria lebih tau lagi. Aku yakin tanpa bicara pun orang yang mengandung kita udah punya feeling kuat. Mereka punya kekuatan super yang bisa menembus isi hati terdalam kita walaupun tetap diam.”
“Aku cuma menyesal kenapa nggak memilih ikut Mama di pelarianku. Rasa kecewa itu justru bikin aku menjauh. Bahkan dari semua hal bahagia termasuk kamu, sahabatku.”
“Terkadang kita memang butuh waktu menyendiri. Tapi bukan berarti terus bersembunyi dalam kesendirian, kan?” tutur Ara lembut. “Seperti kamu yang hadir sebagai support system aku yang nyata selain Mas Rava. Nemenin dan selalu support aku bahkan sampai di titik terendahku. Kamu, orang yang baru aku kenal. Orang yang tanpa segan say hi dan ngajak aku duduk bareng. Siapa yang sangka berakhir selalu ada di samping aku? Makasih ya, Ki."
“Aku juga beruntung punya kamu, Ra. By the way, kenapa kita jadi melodrama gini sih? Kayaknya kebanyakan meresapi patah hati yang bikin aku lemah ya.” Yuki terkekeh. Bibirnya melengkung lebar dengan mata yang seolah tersenyum.
“Tapi bener loh, waktu itu otak rasanya lumpuh. Ibaratnya logika, nurani dan kata hati gak bersahabat. Yang aku mau hanya menjauh. Pengennya buka lembaran kehidupan baru. Tapi namanya juga kehidupan, nggak tertebak takdirku ternyata harus kembali. Dan jujur aja aku bahagia udah ditakdirkan kembali.”
“Karena sejatinya yang terpenting itu memaafkan diri sendiri. Kita berdamai dengan diri kita sendiri,” sambung Ara mengimbungi kalimat Yuki.
“Mendadak aku jadi pengen makan donat gulanya si Cuit. Brutal kali kita waktu itu. Nyembur di mana-mana.”
“Itu sih kamu aja yang nyembur, Ki. Kasihan banget Dimas. Kenal juga belum, tapi udah disembur.”
__ADS_1
“Ya gimana gak nyembur kalau kesedak donat. Anggap aja ritual jampi-jampi. Lumayan kan dia bisa dapat bestie cantik jelita,” sahut Yuki asal. “Oya, kayaknya aku gak pernah dengar kamu cerita ngidam. Ngidam gak sih, Ra? Beneran aneh-aneh ya kalau orang ngidam itu?”
“Kayaknya nggak deh. Soalnya aku memang nggak ngidam. Dari dalam kandungan Elly udah pinter. Gak ada ngidam aneh-aneh. Paling mual, pusing, lemes biasa efek perubahan hormon,” jelas Ara tenang, terlihat mengenang momen bersejarah selama mengandung anak pertamanya.
“Aku cuma tambah doyan makan. Makanya berat badanku naik drastis. Sampai sekarang juga susah turunin berat badan. Apa lagi Mas Rava kalau pulang ada aja yang dibawa,” imbuh Ara sambil menggoyang lengannya yang tampak lebih tebal.
“Gembul,” cetus Yuki dengan anggukan membenarkan. Sukses mengerucutkan bibir sahabatnya itu.
“Bahaya nih,” ucap Yuki tiba-tiba dengan serius. Kedua jemari tangannya saling meremas di atas paha. Digigit pula bibir bawah dengan kedua alis nyaris tertaut.
“Bahaya apa?”
“Iya bahaya kalau aku gak ngidam. Masa gak ada drama malam-malam pengen mangga muda colongan atau kelapa sawit gitu.”
“Bilang aja niatmu sebenernya mau nyusahin orang.”
“Nah itu.” Jentikan jari Yuki menyahut. Sepasang lubang hidungnya menghembuskan nafas pendek nan berat. Mata yang membulat seakan membenarkan tuduhan Ara.
Kedua perempuan seumuran itu masih duduk bersisian. Diperintah untuk makan tanpa perlu bergerak ke mana-mana. Bahkan setiap beberapa menit sekali ada Rian, adik bungsu Ara yang menjadi kurir sepiring aneka bakaran yang diam-diam juga dicomot sepotong dua potongnya.
...----------------...
“Hai, anak Papa lagi apa di dalam sana?”
Ada gelayar haru pada kalimat yang baru saja Keven lontarkan. Ia seakan melambung meski sempat merinding menyebut dirinya sendiri sebagai 'Papa'.
“Lagi merajuk pengen dijenguk, Papa.”
__ADS_1
Bibir Keven berkedut. Kekehan dan senyumnya ditahan meski teramat sangat gemas oleh suara Yuki yang menyerupai anak kecil.
Sejenak Keven mendongak. Lalu kembali menempelkan telinga di perut yang terbalut daster kesayangan Yuki. Tidak berapa lama bibirnya mengecup lembut perut membulat itu penuh kasih sayang.
“Tanya sama Mama ya, Nak, boleh nggak malam ini Papa jenguk kamu?”
“Hm, gimana ya?” sahut Yuki dengan dahi berkerut seolah berpikir. Telunjuknya mengetuk dagu dengan konstan. Bibir yang terkatup itu sekejap tampak bergerak dari sudut kiri ke kanan bagai riak gelombang.
“Kalau gak boleh Papa ngalah. Gak apa-apa kok. Kayaknya Mama capek.”
“Ih, kok nuduh?!” sungut Yuki tidak terima.
“Tadi siapa ya yang bilang capek ngemil, ngomel sama merajuk gak boleh jajan sembarangan?”
Menyeringai sinis, Yuki mengangguk cepat sambil menepis tangan Keven yang mengusap perutnya. “Oh gitu. Okay, kalau kamu maunya gitu. Mulai malam ini tidur di lantai!”
“Cantik banget sih Mama Simba kalau manyun gini?” Cubitan gemas mengapit bibir cemberut Yuki.
“Gak usah pegang-pegang! Gak usah ngerayu!”
“Mama ngambek loh, Nak,” adu Keven pada Simba, nama kecil yang disematkan pada sang buah hati.
Calon Papa muda itu sengaja menggoda sang istri. Mengindahkan pelototan yang menghunus tajam. Terus mengadu pada janin dalam kandungan yang sejatinya sudah bisa mendengar suara kedua orang tuanya, meskipun belum sekali pun merespon lewat pergerakan kecil di dalam sana.
“Ma, jadi jenguk?” Lontaran tanya itu tidak sejalan dengan jemari yang bergerilya. Tanpa izin menelusuri setiap inci kulit perut hingga dada yang semakin membesar seiring pertambahan usia kehamilan.
“Dasar mesum!”
__ADS_1
“Udah bangun loh, Ma.”
“Bodo amat!”