Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Hanya Takut


__ADS_3

“Iya, janji deh nanti Yuki kabarin kalau mau ke rumah. Mama juga jaga kesehatan ya. Salam buat Papa, maafin Yuki yang belum bisa jenguk.”


Duduk menunduk lesu, Yuki menghembuskan nafas kasar. Baru saja panggilan telepon Mama Agni diakhiri. Wanita senja itu merindukan Yuki sekaligus membawa kabar kondisi Papa Leigh yang kurang baik. Lagi-lagi mantan mertua Yuki itu terserang rematik hingga kesulitan untuk bergerak dengan leluasa. Bahkan jika memaksa berdiri saja katanya seakan lutut tengah bertumpu di atas tajamnya paku-paku dingin.


“Mandi nggak ya? Kok malas banget. Tapi nanti ngumpul sama orang-orang bisa jadi pusat aromaterapi,” gumam Yuki sambil memijat pelipis. Ia masih pusing akibat terbangun tiba-tiba dikala nyawanya belum terkumpul, bahkan sebagian seolah masih ingin berkelana. Tapi tidak dipungkiri Yuki bersyukur bisa terbangun tanpa melewatkan agenda padat yang tentu saja sebentar lagi akan dijalani.


“Mandi, kamu bau asem. Cepetan ya, kita harus ke rumah Pak Danu. Bantu-bantu sedikit buat acara nanti malam. Habis itu bisa kabur pulang. Kita punya alasan ada yang mau datang ke sini sore,” sahut suara dari arah belakang dengan derap kaki semakin mendekat.


“Boleh aku nggak ikut ke sana?” tanya Yuki dengan tatapan memelas.


Jujur Yuki malas bertemu Imel, istri Danu. Wanita itu semakin lama sangat kentara menunjukkan ketidaksukaannya pada Yuki. Apalagi semenjak Imel melihat Yuki sering bercengkrama dengan Anna. Padahal hanya sebatas obrolan ringan terkait hutang karena terkadang Yuki sengaja meninggalkan nota makan di kantin Anna.


Namun tanpa bisa membantah, kini Yuki malah sedang berjibaku membersihkan lele. Dengan telaten ia membuang kotoran serta organ yang tidak bisa dimakan sambil sesekali menguap lebar. Mengabaikan mata dan hidung berair efek tubuh lelah menahan kantuk.


“Alamak … punggungku encok,” keluh Yuki sambil meregangkan lengan yang merentang dan kepala mendongak. Kakinya kesemutan, hendak diluruskan namun terasa kaku. Belum lagi ia tiba-tiba malas untuk beranjak berdiri, membawa lele yang sudah bersih ke dapur. Pasalnya Yuki saat ini di luar sendirian dengan pemandangan bebek-bebek di kandang yang sedari tadi terus berisik.


...----------------...


Krieet …


Berderit pintu kayu yang engselnya mulai berkarat. Didorong cukup kuat karena bagian bawahnya bergesekan dengan lantai. Beruntung tidak menyebabkan karpet ruang tamu itu terkoyak.


Di sini Yuki melepas tas selempang yang dikenakan. Merogoh ponsel untuk melihat waktu yang tertera di layar pipih itu. Kembali menguap lebar sebelum membaui kuku-kuku jari tangan yang masih berbau amis. Samar-samar tercium pula aroma sabun cuci piring dan limau, namun tetap tidak menghilangkan bau amis lele yang tersisa.


Kedua perempuan yang sejam lalu ikut memetik pucuk daun singkong, saat ini sudah kembali ke sepetak rumah yang ditempati secara gratis. Mereka menunggu seseorang untuk mengajari dalam berkebun. Meskipun sejatinya dengan media yang berbeda, bukan tanah, melainkan air bekas budidaya lele yang kaya akan nutrien atau unsur hara.


Drtt … drrtt …


Baru saja Yuki ingin berlalu ke kamarnya, ponsel digenggaman berdering. Tampak sebuah nama yang akhir-akhir ini mulai jarang menghubungi.


“Tumben.” Mengernyit, Yuki bergumam pelan. Detik berikutnya ia menoleh ke belakang, mencari sosok wanita yang sudah berlalu pergi dari ruang tamu. Sontak Yuki langsung berteriak, “Kak, aku keluar sebentar mau angkat telepon dulu.”


Bergegas mengenakan sandal dan berlari menjauh dari rumah, Yuki menarik nafas dalam-dalam. Digeser ikon hijau dari dering yang nyaris mati.

__ADS_1


“Halo?”


[Hai … aku ganggu?]


"Nggak. Ada apa?"


[Kamu lagi apa?]


“Sekarang? Bicara, bernafas … kamu?” jawab Yuki sambil membenturkan ujung sandalnya ke tanah. Menendang pelan hingga menimbulkan gundukan kecil sebaris, sedikit melingkar menyerupai bentuk sandal.


[Coba tebak.]


“Mikirin aku?” tebak Yuki dengan alis berkerut dan kepala dimiringkan. Sedetik kemudian terdengar suara terkekeh dari seberang sana yang membenarkan tebakan Yuki.


“Sibuk banget ya?” tanya Yuki melanjutkan obrolan.


[Lumayan.]


“Oh, pantesan ….” Mengangguk dengan bibir manyun, Yuki tanpa sadar menghembuskan nafas kasar. Perasaannya memburuk tanpa sebab yang pasti.


“Kepedean banget, nggak!” sangkal Yuki ketus sambil memutar bola matanya malas.


[Padahal aku berharap kamu kangen aku.]


“Memangnya kalau aku kangen kamu mau ke sini lagi?”


Hening. Sejenak Yuki tidak mendengar apapun. Spontan ia menghentikan hentakan di ujung kaki. Dijauhkan ponsel itu untuk memastikan panggilan telepon Keven masih tersambung.


[Maaf … kali ini pekerjaanku nggak bisa aku tinggalkan.] Suara dari sambungan telepon itu tiba-tiba menggema lemah lewat pengeras suara yang dinyalakan.


“Nggak minta kamu ninggalin juga. Lagian buat apa kamu ke sini? Aku juga sibuk kok. Ya udah sana kerja lagi! Tumben banget telepon siang. Biasa cuma kirim pesan malam-malam.”


[Karena kamu nggak pernah balas pesanku.]

__ADS_1


“Ya maaf, udah tidur nggak mungkin bisa balas,” jawab Yuki dengan intonasi rendah, cukup merasa bersalah.


[Alasan. Kamu tetap bisa balas besoknya.]


“Lupa,” sahut Yuki singkat dengan santai.


[Kamu tau ... aku jadi makin takut. Kita terlalu jauh. Bahkan sekarang rasanya aku bukan laki-laki terbaik untuk kamu, kan?]


“Apaan sih tiba-tiba tanya gitu?!" Mendengus sebal, suara Yuki tiba-tiba meninggi.


[Kamu udah benar-benar gak punya perasaan sedikit aja buat aku, ya? Apa aku bukan orang yang bisa kamu cintai lagi?]


Diam menyimak ucapan Keven yang siap memborbardir dengan segala pertanyaan, Yuki memejamkan matanya. Sepersekian detik kemudian ia menatap gumpalan awan di langit cerah, tampak gerombolan putih itu seolah mengejar sang surya yang telah condong di barat.


[Seandainya perceraian kita nggak pernah terjadi, apa kamu tetap bisa mencintai kebodohan aku seperti dulu?]


"Kamu lagi ada masalah?” ucap Yuki serius, bukan untuk mengalihkan pertanyaan Keven. Gadis itu mulai merasakan kejanggalan dari nada bicara Keven. Suara bergetar yang lelah lambat laun membuat Yuki curiga.


Dalam sekejap Yuki mulai menerka-nerka. Ia menarik dan menyimpulkan berbagai praduga tanpa kejelasan, hanya bermodal sedikit keanehan Mama Agni yang belum lama ini menghubunginya. Mantan mertua Yuki itu sempat terdengar ragu-ragu saat beberapa kali menyebutkan nama Keven.


“Jujur sama aku, kamu kenapa?” tanya Yuki khawatir.


[Aku hanya takut ….]


Keven tidak berbohong, ia memang hanya takut. Namun tanpa diduga ketakutannya teramat sangat besar hingga ia tidak percaya diri jika Yuki sampai mengetahui kondisinya saat ini. Meskipun jika harus jujur Keven membutuhkan Yuki untuk berdiri di sisinya, memberi senyuman hangat dan tawa riang yang mampu mengobati kepenatan menggila.


Jauh di Pulau berbeda, tepatnya di Kota B, Keven hanya mampu tersenyum miris penuh kekecewaan di depan salah satu bangunan yang bukan miliknya lagi. Hasil kerja keras dan jerih payah bersama Saka hilang dalam sekejap mata. Semua karena keteledoran Keven yang membawa malapetaka.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih semuanya udah baca kisah Yuki sampai sejauh ini😘 nggak digantung kok, cuma lama update 🤭


__ADS_2