
Langit-langit polos ruangan persegi tampak menarik di mata kosong Keven. Semalaman ia tatap tanpa henti, teralih sebatas kerjapan. Meski perut meronta dan kerongkongan tercekat kekeringan, Keven masih saja terpaku dengan separuh badan bersandar di sofa empuk, serta sebagian menggantung menyentuh lantai dingin.
Tanpa diduga, mungkin saat inilah awal mula titik terpuruknya. Gairah hidup Keven bagai tersedot saluran pembuangan yang berujung di lautan, sulit dikembalikan karena terurai gelombang dan arus yang berputar.
Layaknya selalu menjejali Yuki dengan junk food yang menumpuk penyakit, kini dikala Keven belajar memberikan makanan sehat bertabur ketulusan hanya hambar yang berhasil terecap. Terlalu banyak kesakitan yang melukai hati Yuki hingga pernyataan cinta Keven dimuntahkan begitu saja. Bahkan melirik saja Yuki enggan.
Drrtt … Drrtt …
Getar ponsel mengusik pendengaran Keven, tapi tidak dengan matanya yang tetap menatap lurus langit-langit ruang pribadi miliknya di restoran. Plafon berhias lampu yang masih menyala seakan lebih menarik dari pada kesibukan dunia yang perlahan mulai bangkit. Samar-samar dapat pula Keven dengar deru kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan pagi hari itu.
Semenjak Yuki keluar dari rumah orang tuanya, Keven memang lebih memilih bermalam di salah satu cabang restoran yang berdekatan dengan kampus dan tentunya tempat kos Yuki. Terkadang laki-laki dewasa itu malah lebih nyaman terlelap di mobil, memarkir pada jangkauan radius pandang yang masih bisa mengamati lingkungan sekitar tempat kos Yuki.
Kamar yang hampir 29 tahun ditempatinya tidak bisa membuat Keven terlelap dengan nyenyak. Setiap membuka mata hanya kesedihan dan penyesalan mendalam yang Keven dapati.
Keven seolah hidup di dalam mimpi buruk yang menjadi nyata. Tidak ada lagi Yuki yang bergelung selimut memunggungi, berlenggak-lenggok di depan meja rias atau sekedar gemericik air di balik pintu kamar mandi yang menyamarkan nyanyian sumbang Yuki.
Tes.
Genangan air di pelupuk mata akhirnya luruh. Sesak yang semalaman menjalarkan panas di mata berhasil menggores iris lelah yang terpaku pada kekosongan.
Sejenak kembali Keven dengar bunyi merambat dari ponselnya yang kembali bergetar. Terpaksa digerakkan nya sendi engsel di leher untuk menolehkan wajah. Tertera nama kontak ‘Mama’ di layar ponsel yang menyala.
Menjulurkan tangan dengan tidak bersemangat Keven meraih ponselnya. Digeser ikon hijau beserta pengeras suara.
“Halo, Ma ….” Serak suara Keven memecah keheningan. Tanpa menempelkan ponsel ke telinga dan hanya menggeletakkan di atas meja, ia kembali mengamati lampu yang masih bersinar terang. Tampak jauh lebih menarik dari pada sesuatu yang sangat ingin dihindarinya hari itu.
[Datanglah dengan pakaian dan dandanan yang rapi. Jangan buat Yuki semakin yakin untuk berpisah dengan kamu … Mama udah di jalan sama Papa. Udah Mama siapkan baju yang bisa kamu pakai.]
Kalimat Mama Agni memukul telak ingatan yang sejak tadi malam berusaha Keven lupakan. Benar, hari yang cerah itu bagai malapetaka bagi Keven yang harus menghadiri jadwal sidang perceraiannya.
[Perceraian gak akan terjadi kalau kamu bisa menyakinkan Yuki dan hakim di persidangan. Jangan putus asa, Mas. Semangat! Mama sama Papa selalu di pihak kamu untuk mempertahankan Yuki.]
Sesalah apapun Keven tetaplah menjadi kelemahan Mama Agni dan Papa Leigh yang tidak akan pernah tega melihat anaknya terpuruk. Sama seperti pagi yang cerah hari itu. Kedua orang tua lanjut usia yang saling menguatkan, kompak akan menemani Keven pada sidang pertama gugatan cerai yang Yuki layangkan.
...----------------...
__ADS_1
“Kenapa kamu juga harus mengalami ini, Sa-yang?”
“Ma-ma?” Membeo Yuki terkejut pada kehadiran Mama Maria di hadapannya. Ia tidak pernah bercerita apa pun pada kedua orang tuanya, apa lagi menyebutkan tempat tinggalnya saat ini.
“Ma-ma ke-napa ...,” ucap Yuki lagi dengan terbata-bata. Ia bahkan belum membalas pelukan erat Mama Maria. Ibu dan anak itu hanya bisa terpaku dengan keterkejutan dan kekalutan masing-masing.
“Huuuu, Huu … Hiks, Hiks … Ken-na-pa ha-rus ka-mu? Ke-na-pa …..” Kalimat bercampur tangis Mama Maria pecah. Wanita itu menangis tergugu sambil mengusap wajah Yuki. Sendu, luka dan rasa bersalah itu tergambar jelas pada sepasang manik mata dengan kerutan kulit kelopak mata yang termakan usia.
“Tante, kita duduk dulu yuk di sana … Ayo, ki!” sela Ara dalam interaksi yang masih sangat kentara mengejutkan Yuki. Gadis itu merangkul bahu dan menuntun Mama Maria ke arah mobil milik orang tuanya yang sengaja dipinjam untuk mengantar Yuki. Melangkah pelan Ara menoleh sekilas sembari memberikan kedipan kode pada Dimas agar menyadarkan Yuki.
“Maafkan Mama … Mama bersalah … Seandainya dulu Mama gak lebih mementingkan karir dan melimpahkan amarah Mama pada perselingkuhan Papa mu ke kamu, mungkin kamu gak harus mengalami nasib perceraian seperti yang Mama alami. Semua salah kami … Gara-gara kami, orang tua yang merasa tau segala yang terbaik untuk kamu … Maafkan Mama yang gak berhasil memberi kamu kebahagiaan.”
Diam mencerna, Yuki ingin menangis kala melihat lelehan air mata membasahi pipi Mama Maria. Hatinya sakit mendengar permintaan maaf sang Mama. Namun ia kembali teringat saat dirinya tidak diberi kesempatan untuk menyangkal segalanya, bahkan dibohongi dengan kebahagiaan semu.
Pernikahan meriah terjadi begitu saja. Bukan hanya karena kelicikan Keven, tapi juga paksaan kedua orang tuanya yang seakan bahagia melemparkan satu-satunya anak gadis mereka dalam kubangan nestapa.
Dulu Yuki pikir karena dirinya telah mencoreng nama baik keluarga. Tapi kini saat penuturan Mama Maria terucap lancar, Yuki semakin sakit mengetahui bahwa mungkin segala dugaannya benar bahwa kehadirannya saat itu sudah tidak diinginkan Mama, Papanya lagi.
"Mama mendukung keputusan kamu untuk berpisah. Kamu gak perlu pura-pura bahagia ... Lepaskan sesuatu yang membuat kamu tidak bahagia. Jangan paksa diri kamu bertahan tapi terus tersakiti ... Mama janji akan selalu dampingi kamu menghadapi semua ini."
Janji Mama Maria terdengar mirip kebohongan. Jujur saja Yuki tidak mudah untuk mempercayainya. Berbagai kejadian yang menghantam secara perlahan membuat Yuki sulit mempercayai orang lain. Ia seolah ditempa paksa untuk membentengi diri agar tidak lenyap dari muka bumi atas segala bujukan manis yang beracun.
Sebenarnya Mama Maria sudah sampai di Kota B sehari sebelumnya. Niatnya yang ingin menikmati makan siang di salah satu restoran justru membuatnya tidak sengaja mendengar pergunjingan saat berada di sekitar toilet.
Perempuan-perempuan yang diyakini karyawan restoran terlihat asik berbisik, bergosip tentang pemilik restoran yang dicurigai memiliki hubungan tidak wajar dengan seorang teman padahal sudah beristri. Entah mengapa Mama Maria terdorong pada keinginan menguping, seakan bisa merasakan kesedihan jika menjadi istri pemilik restoran itu. Apa lagi menilik dari kisahnya sebagai korban perselingkuhan hingga rumah tangga yang dibina belasan tahun hancur.
Namun yang menjadi kejutan besar adalah pemilik restoran itu secara kebetulan ternyata Keven, menantunya sendiri. Pertemuan tidak sengaja antara mertua dan menantu itu tidak dalam situasi yang baik-baik saja. Amarah Mama Maria memuncak, mencerca Keven dengan berbagai pertanyaan. Wanita tua itu benar-benar kecewa, bukan hanya pada Keven, tapi juga dirinya sendiri.
Sedangkan Keven berusaha jujur atas apa yang menimpa rumah tangganya. Ia tidak menutupi alasan Yuki marah meski tidak semua hal diceritakan, termasuk tujuan utama menikahi Yuki. Keven tidak sebodoh itu untuk semakin memperkuat ketidaksukaan Mama Maria terhadap dirinya.
Dapat dipastikan pertemuan Keven dengan Mama Maria memberi cukup banyak tekanan bagi Keven. Laki-laki yang semalaman tidak bisa terlelap karena memikirkan sidang perceraian juga takut jika Mama Maria justru mendorong Yuki agar mantap berpisah darinya.
“Dari mana Mama tau aku di sini?” tanya Yuki yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Yuki butuh waktu untuk menenangkan diri, memilah dan mempercayai sesuatu yang dianggap sebagai kejujuran meski semua itu terucap dari bibir Mamanya sendiri.
Tersentak Mama Maria pada pertanyaan Yuki. Ia sekilas tampak kelabakan sebelum kembali bersikap santai dan menjawab, "Mama cari tau dari teman-teman kamu."
__ADS_1
Yuki tau Mama Maria berbohong, namun ia enggan mempertanyakan lagi. Dari siapa pun Mamanya tau itu tidak terlalu penting. Apa lagi sudah jelas selama ini teman kuliah Yuki yang Mama Maria kenal hanya Ara dan Dimas. Sedangkan dua manusia yang berdiri agak menjauh itu sama-sama tidak menunjukkan kegelisahan saat beradu pandang dengan mata Yuki.
...----------------...
Tidak terasa waktu bergulir begitu saja, tersisa 20 menit lagi dirinya akan memasuki sebuah ruangan. Jika saja tidak ada penundaan, Yuki pasti sudah duduk di salah satu kursi persidangan sebagai pihak penggugat.
Sayangnya Yuki harus bersabar sejenak sambil berusaha mengabaikan Keven yang terus-menerus mencari kesempatan mendekat. Beruntung bagi Yuki meminta Ara dan Dimas ikut serta. Kedua sahabatnya itu layaknya tameng yang mementalkan Keven.
"Urusan aku hanya dengan Yuki!" tegas Keven saat berhadapan dengan Dimas.
"Cih! Anda lihat sendiri kan Yuki gak mau? Jadi duduk manis aja di tempat Anda!!" ketus Dimas sambil mendorong mundur Keven yang hanya bergerak sedikit karena terkejut. Pasalnya Dimas secara tiba-tiba menyentak bahu kiri Keven.
"Jangan merasa menang dan punya kesempatan. Kami gak akan bercerai!"
"Ya-ya, yaa ... Terus? Bangga gitu kalau gagal cerai? Bangga juga gak udah bikin Yuki minta cerai?" Menyeringai Dimas bersedekap, memandang remeh Keven yang siap menjotos Dimas saat ini juga.
Melangkah mendekat, Dimas menghembuskan nafas berat disertai cengkeraman kuat di bahu Keven. Sontak kelakuan Dimas itu langsung ditepis Keven. Namun sejurus kemudian Dimas justru tanpa takut menepuk pelan salah satu bahu Keven seraya berkata, "selamat, sebentar lagi jadi duda."
Dengan cepat dan kuat Keven menangkap pergelangan tangan Dimas. Diremas dalam cengkeraman penuh amarah. Keven mengeraskan rahang dengan sorot mengintimidasi, ia benar-benar kehabisan kesabaran dalam menghadapi Dimas.
Sedangkan Dimas membalas tatapan Keven tidak kalah sengit sambil meringis serta terkekeh pada sensasi panas dan sakit yang menjalar.
'Argh! Sial sakit banget!! Bantengnya beneran ngamuk ... Goda lagi lah,' batin Dimas dengan berbagai ide yang melintas. Pemuda itu rupanya belum kapok juga meski pergelangan tangannya terasa remuk.
Sejujurnya interaksi kedua laki-laki berbeda usia itu mengkhawatirkan Yuki dan Ara. Gadis-gadis itu tentu paham bagaimana bibir pedas Dimas yang bisa memicu keributan. Jelas Yuki dan Ara takut jika Dimas bisa saja dibanting oleh Keven. Apa lagi dari segi postur tubuh sudah jelas Dimas kalah dibandingkan Keven.
Berbeda dengan para anak muda yang bersitegang di muka umum, Papa Leigh dan Mama Agni menyingkir bersama Mama Maria, membicarakan sesuatu sebagai sesama orang tua.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Kedepannya akan ada tangis haru, duka atau keduanya (atau nggak sama sekali karena yang nulis kurang greget), nantikan aja ya😄 semoga tetap bikin penasaran😁
Terima kasih untuk selalu mendukung tulisan aku, dari novel sampai cerpen dimampiri semua😍