Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Basah-Basahan


__ADS_3

“By, kamu ternyata pelit ya?”


“Hah?”


“Iya, kamu pelit deh. Siomay, tahu crispy, ketoprak, cilok, kue cubit tuh kamu lewatin semua. Lirik dikit dong. Tawarin istrinya yang udah ngiler di belakang.”


Keven terkekeh. Tangannya bergerak mengusap punggung tangan Yuki yang melingkar di perut. “Kamu mau?”


“Ish, kamu nih pakai nanya lagi. Kalau gratis ya mau banget.”


Mengangguk, Keven diam tanpa kata. Menepikan motor di depan pelataran sebuah agen pengiriman barang. Motor yang ditunggangi itu dalam sekejap berbalik arah. Melaju sedang menyusuri keberadaan siomay, tahu crispy dan kawan-kawannya yang Yuki sebutkan.


“Jadi dibeliin nih?” tanya Yuki girang. Kepalanya mendongak, melongok dan bertengger di bahu Keven.


Sekali lagi hanya anggukan Keven yang menjawab, namun memberi efek besar pada belitan di perut yang semakin mengerat. Mendapati itu tentu Keven sangat bahagia.


“Makasih suami tergantengku. Makin cinta deh sama kesayangan aku ini.”


Tidak taukah Yuki jika kalimatnya sangat berbahaya? Terlebih pelukan yang semakin mengerat itu justru melambungkan Keven seakan terbang ke langit tinggi. Tersenyum sumringah bagai orang kehilangan akal sehat sampai hampir kebablasan melewati penjual kue cubit. Nyaris saja terkena omelan Yuki.


"By, mau itu." Tunjuk Yuki pada stand berwarna merah. "Kemarin aku lihat di sosmed jual basreng sambal daun jeruk pedas. Pengen juga. Beliin ya?"


"Gak gratis loh,” sahut Keven setengah berbisik. Mengetuk pipi kiri dengan telunjuk disertai bibir yang menyeringai penuh makna. Namun dalam sekejap laki-laki yang sengaja menggoda Yuki itu menegang. Ia terperanjat pada serangan yang nyaris mengenainya.


“Cie, kuda-kudanya goyah. Lututnya bergetar ya?” cibir Yuki lirih sambil menahan luapan tawa. Gegas ia memundurkan badan yang sempat menyongsong. Melebarkan jarak di antara tubuh yang hampir merapat.


Sedetik kemudian jemari lentik Yuki menepuk pelan dada Keven. “Sabar, By. Nanti di rumah aja bayarnya. Habis ini kita masih harus ke warung kita. Bisa-bisa kamu gagal fokus lagi kalau udah main basah-basahan.”


“Maksudnya kalau dicium kan bisa kena air liur. Pipi jadi basah gitu loh,” imbuh Yuki seakan meluruskan sebelah alis Keven yang menukik naik. Menyengir dengan kekehan ringan. Berakhir melahap sepotong cilok utuh yang memenuhi rongga mulut.


“Lucu,” gumam Keven sembari mengusak puncak kepala Yuki.


“Apa, By?”


“Nggak.” Geleng Keven seraya merangkul mesra bahu Yuki. Sedang sebelah tangannya terlalu sibuk dengan berbagai kantong kresek aneka jajanan milik Yuki.

__ADS_1


Pelan-pelan keduanya menapaki paving yang di beberapa bagian mulai tidak rata. Berbincang ringan sembari menuju stand berwarna merah yang sempat Yuki tunjuk.


Sesekali Keven amati kaki Yuki yang melangkah, takut ada lubang atau sesuatu yang dipijak tidak seimbang. Lalu diam-diam ia menjatuhkan sorot haru pada perempuan yang kini tengah mengandung buah hati mereka itu.


Cinta memang begitu lucu. Cinta mampu membolak-balikan hati meski rasa itu setipis dan sebening plastik. Menampik akal sehat yang berkata lantang bahwa cinta itu sebatas belas kasihan, cinta itu empati sesaat, bahkan sesumbar dengan sumpah kematian bahwa itu bukan cinta karena ia tidak akan pernah mencintai. Namun kini cinta Keven sudah sepenuhnya milik Yuki, perempuan yang paling tidak disukai dahulu.


Perempuan yang jarang mengeluh meski kecerewetannya tiada tandingan. Selalu tertawa sampai tangisnya tidak seorang pun bisa mendengar. Tentu saja kecuali telinga Keven yang terlalu sering menangkap isakan tangis yang disamarkan oleh bunyi air kran, karena nyatanya ia lah salah satu penyebab terbesar dari tangis itu hadir.


...----------------...


"Sayang? Ayo, bangun. Kita pulang."


"Hm?"


"Ngantuk banget ya? Maaf ... bangun dulu ya, Sayang. Tidurnya nanti lanjut di rumah."


"Udah selesai beres-beresnya?" tanya Yuki dengan suara serak khas bangun tidur.


"Udah. Anak-anak juga udah pulang."


"Ayo bangun," ucap Keven lagi.


Perlahan Keven menarik lembut bahu dan tangan Yuki sampai perempuan itu terduduk. Mendekap erat yang dibalas sebuah pelukan manja. Bahkan Yuki semakin bergelayut nyaman karena tangan Keven bergerak mengusap dengan sedikit pijatan pada punggung memanasnya karena terlalu lama berbaring.


Sejurus kemudian Yuki mulai mengerjap dan menguap lebar. Punggung tangannya mencoba menyapu pelupuk mata yang terasa berat mengganjal.


“Jangan diucek matanya.”


"Gatel, By … ketiduran lama ya, By?”


“Nggak. Sekarang pakai jaketnya.”


“Kayaknya kekenyangan deh jadi gampang ngantuk. Oya, coba pegang ... keras, kan? Kira-kira anak kita kejepit ketoprak siomay gak ya, By?"


Menggeleng, Keven hanya mampu menghela nafas panjang penuh kepasrahan pada istrinya yang cengengesan. "Jadi besok masih mau makan kayak tadi lagi?"

__ADS_1


"Nggak. Kapok." Yuki cemberut. Segala makanan yang enak di lidah itu sukses membuatnya kalap. Benar-benar membuatnya susah gerak dan sering kali bersendawa tanpa permisi, memalukan.


"Janji gak ngambek kalau aku larang jajan kayak tadi?"


"Ya ngelarangnya pakai dibujuk dong, By. Pakai disayang-sayang juga gitu loh."


“Yakin masih gak ngambek?”


“Kalau minimal boleh tiga jenis, nggak ngambek,” lirih Yuki dengan tiga jari kanan teracung.


“Tapi bubur ayamnya nagih banget, By. Besok sarapan mau itu. Pakai cahkwe gunting kayak tadi juga. Rasanya gurih banget. Mendadak mulutku penuh, udah ngiler lagi." Benar saja, rongga mulut Yuki sudah penuh air liur. Bahkan sebagian ditelannya sambil membayangkan kunyahan cahkwe.


"Ternyata pinter ya suamiku sewain halaman buat pedagang lain. Gak ada yang gak enak lagi makanannya. Pantas warung kita rame terus. Padahal jualannya gak sampai setengah hari, tapi selalu habis. Apa besok coba mie lendir atau nasi lemak aja ya? Dicoba satu-satu gitu,” celoteh Yuki panjang. Benaknya tengah membayangkan beberapa penjual yang telah menyewa lahan di pelataran restoran Keven atau kini bisa disebut dengan nama ‘Warung Kita’.


“Bubur ayam, mie lendir, nasi lemak atau masakanku. Pilih salah satu.”


“Gak boleh dua?”


“Gak,” jawab Keven tegas.


“Gak adil. Mana bisa aku gak makan masakan kamu. Aku sekarang makan buat dua orang loh. Kamu mau anak kamu kelaparan?”


“Anak kita butuh nutrisi seimbang, makanan bergizi dan pola makan kamu teratur, bukan jadi rakus.”


“Jahat banget ngatain aku rakus!” Mendengus sebal, Yuki menyenggol lengan Keven dengan kasar. Berlalu dengan kaki menghentak kesal pada lantai yang tidak bersalah. Berteriak pada dinding bisu yang menggemakan dan menjalarkan gelombang suaranya pada telinga Keven. “Buruan pulang!”


“Mumpung masih di luar, ada yang kamu mau? Ada beberapa tempat yang masih buka,” ucap Keven sambil memasang helm untuk Yuki.


“Ngapain nawarin si rakus ini?! Gak takut bangkrut?”


“Jangan marah-marah.”


“Ish, modus!” gerutu Yuki sambil menggosok bibirnya yang dicium Keven. Meskipun di dalam hati berteriak kegirangan salah tingkah. Hampir saja tanpa sengaja memukul gemas Keven sebelum akhirnya tersadar sedang melancarkan aksi merajuk.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih udah membaca ❤


__ADS_2