
Mendekati masa-masa persalinan, Yuki semakin sering merasakan kontraksi palsu. Terkadang ia yang semula tertawa riang bisa spontan meringiskan keluhan. Tidak jarang pula lengan atau bahkan rambut Keven menjadi sasaran remasan.
“Sshh! Udah gak sabar ya, Nak?” lirih Yuki dengan pinggang kiri yang ditekan. Sedangkan sebelah tangannya mengelus lembut perut yang membulat besar.
“Kram lagi?”
“Iya, By. Nyeri.”
“Kita pulang ya … mau aku gendong?”
Menggeleng, Yuki lantas berkata, “gak usah, By. Jalan sedikit lagi kita duduk di sana.” Tunjuk Yuki pada kursi panjang di pekarangan terbuka milik salah seorang warga komplek. Tampak rumah itu sudah sepi ditinggal penghuninya meski mentari pagi baru saja menyapa.
“Pelan-pelan, Sayang,” tutur Keven seraya membungkuk. Dengan hati-hati ia bantu Yuki duduk.
Detik berikutnya Keven berjongkok. Perlahan diraih kaki Yuki yang lelah berjalan itu agar tidak menekuk, ditopang di atas paha penuh kehati-hatian.
“Kotor loh, By,” ujar Yuki dengan tangan terulur, seolah berusaha mencegah apa yang akan Keven lakukan.
Namun terlambat, sapuan lembut telah mendarat di telapak kaki Yuki. Menghempas bulir pasir dan sebagian debu yang menempel. Pasalnya pagi ini perempuan hamil tua itu berjalan tanpa alas kaki.
“Ya ampun anak ini ... By, Simba udah bangun. Barusan perutku ditonjok. Kayaknya nanti lahir mau langsung jadi petinju.”
Memindahkan kaki Yuki dari pahanya, Keven berpindah duduk di samping Yuki. “Jangan kuat-kuat ya, Nak. Kasihan Mama. Kita mainnya kalau kamu udah lahir. Sebentar lagi. Nanti Papa beliin sarung tinju. Kita buat ring di belakang rumah ya."
“Astaga, By,” seru Yuki tertahan. “Fix ini anakku. Kemarin Mama kira kamu anak Papa, ternyata Simba anak Mama ya. Makin dilarang, makin dibuat.”
“Anak kita, Sayang," koreksi Keven lembut.
“HPL masih lama kan, By? Masih sembilan hari lagi, kan?”
"Lama dari mana, itu sebentar lagi. Kata dokter kita harus tetap waspada. Kamu juga udah sering kontraksi palsu. Aku khawatir, Yang.”
“Jangan terlalu khawatir. Semua pasti baik-baik aja. Kita udah siapin semua kebutuhan buat lahiran. Ada bidan yang stand by 24 jam di Klinik bersalin. Aman, kan? Tenang aja.”
“Iya, ta-”
__ADS_1
“Udah gak usah tapi-tapi lagi. ayo, pulang,” ajak Yuki sembari berusaha berdiri. Memiringkan badan dan bertumpu pada salah satu lengan. Meskipun berakhir perlu bantuan Keven. “Kamu itu udah pulang malam. Capek sampai rumah bukannya istirahat malah sebentar-sebentar ngecek nafasku. Nggak mati lah istrimu ini.”
“Sayang! Gak boleh ngomong gitu. Aku gak suka.”
Mata melotot Keven sukses menaikkan dua jari tanda perdamaian yang diacungkan Yuki. “Peace, becanda suamiku tersayang. Ayo, buruan pulang sebelum panas banget.”
“Gak usah bicara aneh-aneh lagi!” tegur Keven diimbuhi kalimat di dalam hati, ‘Jangan bikin aku takut.’
“Dahinya gak usah kerut-kerut gitu. Kamu tenang aja. Gak akan aku biarin kamu jadi hot duda. Masih suami aku aja udah banyak ulat bulu, bebek, entok yang antri.”
“Kamu, bukan aku.”
“Loh kalau aku ya jelas. Siapa yang nggak klepek-klepek liat cewek secantik ini? Apalagi selama hamil pancaran calon mama muda keluar banget. Tambah cakep,” celoteh Yuki dengan lubang hidung mengembang menyombongkan diri.
"Iya, cakep banget. Rasanya jadi gak pengen jauh-jauh dari kalian berdua." Kecup Keven berulang di pipi Yuki. Menggelitik sudut bibir yang kini melengkung naik disertai tawa renyah nan manja. Menarik atensi penghuni dua rumah yang saling berseberangan pada sepasang insan yang tidak menyadari tengah diperhatikan.
Sudah bahagiakah pernikahan keduanya? Sangat. Bahkan semakin terasa lengkap dengan kehadiran sang buah hati yang tengah dinanti.
Layaknya seorang koki handal, baik Yuki maupun Keven menikmati setiap momentumnya. Meskipun tidak selamanya bisa lancar dalam alur yang berproses. Tidak selamanya sempurna dalam setiap takaran rasa yang dituang. Namun keduanya tetap menikmati setiap kobaran api dan bau asap yang mau tidak mau berjejak, menempel bercampur aroma parfum dan bau badan.
“Sayang, menurut kamu apa bisa aku jadi ayah yang baik? Jadi suami aja aku pernah gagal," ucap Keven sendu sambil merebahkan tubuh di samping Yuki. Sukses mengalihkan perhatian perempuan itu dari ponselnya.
"Tolong bantu aku ya? Bantu aku menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita."
“Pasti." Angguk Yuki disertai uluran tangan. Tanpa pinta terucap sudah bersambut hingga saling menggenggam. Berhadapan satu sama lain meski dengan posisi yang berbeda.
"Kamu pasti bisa jadi suami, papa, kakek, eyang, buyut yang baik buat keluarga kita. Jangan rendah diri lagi, By. Semuanya pasti baik-baik aja. Kita bakal kerjasama buat mewujudkan kebahagian keluarga kita. Karena yang terpenting itu ...."
"Komunikasi," sambung Keven cepat.
“Yups, betul. Tanpa komunikasi yang baik gimana kita mau kerjasama, iya kan?" Mengendikkan dagunya, Yuki berusaha berbaring miring. "Jadi jangan terlalu cemas, By. Kita pasti bisa jadi orang tua yang baik buat Simba dan adik-adiknya nanti."
"Aku takut bikin anak-anak kita kecewa. Aku jahat sama kamu."
"By ... gak masalah kalau seandainya suatu saat nanti anak-anak tau cerita kurang baik tentang kita. Bukannya kamu selalu bilang kalau udah jadi tugas kita untuk bimbing, nasehati dan memberi mereka kasih sayang tanpa kekurangan apapun?"
__ADS_1
"Karena anak-anak hadir atas kemauan kita. Tugas kita mendidik supaya mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab," sahut Keven menambahkan. Dibelainya pipi Yuki yang menebal. Terulas senyum tipis kala mendapati ekspresi damai sang istri.
"Nah kalau udah tau gitu gak usah khawatir, By. Aku yakin kamu akan jadi cinta pertama dan role model anak-anak kita."
Hati Keven menghangat. Kilau matanya berbinar. Rasa rendah diri atas kesalahan masa lalu perlahan terlapis kepercayaan yang terus dipupuk oleh Yuki. Tidak menghilang, namun berubah menjadi pengingat bahwa perempuan dalam dekapannya begitu berharga.
"Kamu yakin?" tanya Keven yang spontan dibalas anggukan.
"Kita yang akan menyatukan perasaan saling menyayangi di keluarga kecil kita. Karena menjadi keluarga bukan berarti dengan otomatis saling menyayangi. Jadi kita yang akan mengajari anak-anak nanti gimana sih kasih sayang itu."
"Aku bangga sama kamu, Yang. Sedewasa ini kamu ... makasih ya Sayang udah bikin aku sadar kalau gak ada gunanya bertahan selama apa pun kalau kita ujung-ujungnya tetap sendiri-sendiri. Makasih juga udah kasih aku kesempatan untuk jadi bagian dari hidup kamu lagi. Kamu segalanya buat aku."
"Kalau gitu sekarang kerja sana. Ngehidupin aku perlu banyak uang. Harus mulai nabung buat masa depan anak-anak juga. Jangan mentang-mentang nggak jadi koki di warung terus mageran gini. Istri kamu ini wanita realistis. Perutku gak bisa makan cinta. Kalau makan hati bisa."
"Magnetnya ini susah dilepas," tolak Keven sambil mendusel di dada Yuki. "Di warung udah aku training sesuai jobdesc mereka. Nanti sore aja aku kontrol waktu buka. Aku juga mau bilang untuk seminggu ke depan gak bisa full di warung."
"Kenapa? Nanti kalau bangkrut lagi gimana? Kamu mau kasih aku makan kerak nasi pakai garem dikit ditambah kuah air putih? Gak ya Mas. Demi ASI ekslusif kamu harus kasih asupan empat sehat lima sempurna enam banyak rasa. Tambah deh tujuh plus camilan spesial buatan Papa Simba," cerocos Yuki tidak sabaran, berakhir cicitan banyak maunya.
...****************...
Terima kasih semuanya udah baca sampai sejauh ini🥰
Sebenarnya aku udah pernah bilang belum ini baby boy or girl? Mendadak blank🤭
(kelewatan rajin up kan gini😭)
Tapi pasti udah pada tau lah ya ... yakin banget. Malah kebaca komen ada yang berhasil nebak nama padahal belum juga ditanya. Sungguh hebat pembacaku🙂
Satu lagi, maafkan novel yang seharusnya udah tamat lama ini tapi masih juga ongoing.
Tadinya terkendala pekerjaan, karena aku baru di dunia itu jadi kerjaku gak sat-set, harus banyak belajar. Terus 2 bulan terakhir mobilitasku sedikit terbatas. Yang pantau akun sosmed & grup chat 1Light pasti sadar udah lama banget gak nongol.
Jujur, pertengahan Juni itu aku awalnya cidera ringan di sepanjang tulang punggung, dari tulang leher sampai tulang ekor. Tapi karena gak fokus dipemulihan dan terforsir kegiatan yang emang banyak gerak jadinya ya harus terima konsekuensi.
Jadi, sekali lagi terima kasih udah menemani aku di setiap Yuki up dan maaf udah buat menanti selama ini🙏
__ADS_1