
“Cih … Pacar kamu?” celetuk sinis tamu tidak diundang di antara Yuki, Dimas dan Ara.
Menoleh ketiganya dengan raut wajah tidak bersahabat. Sama-sama menghadirkan kerutan di dahi dan kedua alis masing-masing.
“Maksud Kak Alia?” ketus Yuki. Mendorong mundur kursinya, ia berdiri menghadapi Alia. Tangannya yang bersedekap dan dagu terangkat seakan menantang Alia.
“Harusnya dari awal dia yang kamu dekati. Bukan setelah jadi istri orang malah main sama laki-laki lain,” ucap Alia setengah menyindir. Entah dirinya sadar atau tidak jika kalimat yang baru terucap dari bibirnya juga pantas digunakan untuk menampar prilakunya.
“Tumben Kak Alia sok kenal dan perhatian sama aku? Udah sadar ya kalau aku ini istri orang? Ups, bukan istri orang loh, tapi istri Mas Keven.” Terkekeh Yuki menanggapi kalimat Alia yang terdengar menggelikan.
“Masih mending juga Yuki main sama yang single, dari pada sama suami orang,” seloroh Dimas sengaja dilantangkan. Mana perduli dirinya jika pengunjung lain menangkap kedekatannya dengan Yuki sebagai aksi perselingkuhan sebenarnya.
"Namanya juga beda level, Dim," celetuk Yuki dengan salah satu telapak tangan seakan menutupi bibirnya yang berkomat-kamit. Jelas hanya pencitraan karena suaranya justru dinyaringkan.
“Lihat aja … Aku akan buat Keven secepatnya ceraikan kamu!” ancam Alia disertai senyum miring menyeringai.
‘Bukan dia, tapi aku yang akan gugat cerai!’ ujar Yuki mantap yang hanya terucap di dalam hati.
“Kak Alia dari pada nyinyirin aku lebih baik pulang deh. Lagi hamil juga kenapa doyan kelayapan sambil nyinyir? Apa perlu aku hubungi Mas Saka?”
“Buat apa kamu hubungi mantan suami aku? Lagi pula ini anak Keven,” cetus Alia membusungkan dadanya. Tangannya mengelus perut membulat yang tercetak jelas di balik gaun selutut.
“O-ya?” tanya Yuki singkat. Matanya melebar terperanjat pada informasi yang baru didapatkan. Sekuat tenaga Yuki bersikap setenang mungkin. Tidak ingin terprovokasi pada kalimat Alia yang belum jelas kebenarannya. Meski sesak di dada menghimpit seketika.
Menarik kedua sudut bibirnya yang kaku, Yuki mendudukkan dirinya. Tidak sanggup kaki yang melemas menopang bobot tubuhnya. Otaknya berusaha menyangkal, namun perhatian yang Keven curahkan pada Alia seolah menutup sangkalan yang mati-matian Yuki gumamkan.
Saat ini perubahan sikap Yuki sangat kentara di mata Dimas dan Ara yang sudah tersulut emosi. Namun keduanya menahan diri akibat kode yang Yuki berikan agar sahabatnya itu tetap menutup mulut.
“Iya. Ini anak Keven,” ucap Alia lantang, lugas dan pongah.
Tangan yang bergetar itu menopang wajah sebelah kanan yang dimiringkan menghadap Alia. Tidak akan Yuki tanggapi dengan menggebu-gebu. Sungguh sangat buang tenaga meski sejujurnya ingin Yuki berteriak di depan wajah Alia sembari menjambak rambut wanita yang lebih tua darinya itu.
“Anak kecil kayak kamu gak akan pernah terlihat menarik di mata Keven,” ucap Alia mencibir Yuki. Ia kembali menyeringai lebar sambil mendorong bahu Yuki dengan telunjuknya.
Krak!
Baru saja Dimas hendak membuka mulut, beranjak mengusir mundur, namun suara patahan menghentikan aksi yang belum sempat terlaksana.
"Patah," ucap Ara santai. Matanya menatap cuek penggaris tipis transparan sepanjang 15 sentimeter yang patah menjadi 2 bagian. Sejenak Alia bergidik ngeri saat matanya bersirobok dengan sorot tajam mata Ara. Reflek Alia mengingat rasa tamparan Ara yang sempat mencetak memar di rahang bawahnya. Bahkan karena terlalu syok Alia tanpa sadar menangkup kedua sisi pipinya sendiri.
"Ya ampun, Ra ... Lain kali jangan matahin penggaris kalau udah ada target alami," celetuk Dimas sembari merebut sisa patahan yang masih Ara genggam.
__ADS_1
Berpindah duduk ke seberang meja, Yuki meneliti telunjuk dan ibu jari Ara yang tergores. "Berdarah, Ra, tangan mu ... Bawa plester gak?" ucap Yuki panik.
"Ada, di tas. Lagian cuma tergores,” jawab Ara datar, matanya tetap menatap sinis Alia yang terlihat memundurkan langkahnya.
“Tolong ya Tante kalau gak ada urusan pergi sekarang aja! Apa mau dikretek abal lehernya? Kebetulan nih Ara jago banget. Udah pernah ngerasain digaplok kan dulu? Kali aja sekarang pengen ngerasain sensasi leher patah," cerocos Dimas panjang. Terlihat cukup puas kala melihat Alia tanpa kata memilih melengos pergi.
“Sumpah berdosa banget mulutku ngelawan orang tua!” gerutu Dimas sambil mengusap dadanya yang bergemuruh. Nafasnya sengaja diraup dan hembuskan dengan kasar.
“Bener kata itu Nenek tadi, Ki? Suami kamu hamilin jelmaan tadi itu?” ucap Dimas lagi dengan geram. Ia mendesis disertai hidung kembang-kembis tidak karuan.
“Entah.” Mengangkat bahunya seakan acuh, Yuki menutupi hatinya yang ingin menangis. Semakin bulat tekadnya untuk berpisah dari Keven.
Jika tadinya Yuki berpikir akan mengurus segala hal setelah penelitian skripsi usai, maka kini sebelum semester baru dibuka ia akan angkat kaki dari rumah keluarga Keven.
“Besok aku antar daftarin secepatnya gugatan mu! Kalau tadi bukan perempuan, udah aku tonjok bacotnya!” perintah Dimas tegas, emosinya seketika melonjak naik. Mengepalkan tangan kanannya, Dimas menghempas lurus ke sisi samping sebagai luapan emosi yang tidak tersalurkan.
Bugh.
Naas, bukan udara yang dibogemnya.
‘Mati aku!’ batin Dimas meringis. Tercekat kerongkongannya hingga kesulitan menelan air liur. Tangan yang terkepal itu masih menempel pada perut berotot seorang laki-laki yang menguarkan aura dingin mencekam.
“Siang, Pak Rava ….”
Suara Ara, Dimas dan Yuki mengalun bersamaan, menyapa mantan Dosen fakultas ekonomi yang Dimas pukul perutnya.
Menarik tangannya yang masih terkepal, Dimas menyengir, tersenyum canggung pada sosok yang menatapnya seolah siap menguliti.
Mengangguk singkat menanggapi sapaan Yuki dan Dimas, sosok yang dipanggil Rava itu beringsut ke sisi Ara. “Sayang, udah? Katanya mau ngerjain tugas kelompok.”
“Aah ....” Ara menepuk dahinya, “untung Mas datang ingatin. Lupa, hehe.”
“Jari kamu … Sayang luka? Tadi belum ada loh ini plester. Kenapa bisa luka?”
Seketika Yuki yang sudah kembali duduk di samping Dimas spontan saling pandang. Keduanya menipiskan senyum yang dibuat-buat, menyaksikan kebucinan yang tidak akan pernah terbiasa untuk mereka konsumsi, meski sudah berkali-kali disaksikan.
Sejurus kemudian Yuki menepuk paha Dimas di sampingnya. Memang bukan dirinya yang ditatap sinis oleh Rava, namun seolah ikut menjadi terdakwa.
“Bu-bukan saya, Pak … Ara itu, iya kan, Ki? Iya, Ara itu patahin penggaris tadi. Nah ini penggaris punya saya loh. Dari pada Bapak natap kejam gitu lebih baik tanggung jawab, 5 ribuan aja,” cerocos Dimas yang mulanya tergagap namun berakhir meminta ganti rugi.
“Gak usah dengarin Dimas. Tinggalin aja, Mas ….” Mengibaskan tangannya, kepala Ara menggeleng pada Rava. Sedetik kemudian ia menatap lekat sepasang pupil mata Yuki sambil berkata, “buat kamu, Ki, aku setuju apa yang Dimas bilang. Pesan aku, tinggalkan kesan yang baik untuk keluarganya sampai mereka merasa kepergian kamu itu musibah paling berat ....”
__ADS_1
“Aku pergi dulu ya. Lupa kalau udah janjian sama temen-temen KKN aku,” pamit Ara seraya mendorong punggung Rava menjauh. Tangannya melambai meninggalkan kedua sahabatnya. Namun sebelum keluar dari Kafe ia sempatkan membayar minuman yang dipesannya. Atau mungkin lebih tepat Rava yang membayar seluruh pesanan di atas meja, termasuk milik Yuki dan Dimas pula.
“Kesan yang baik,” gumam Yuki memikirkan kalimat Ara.
Hingga matahari beranjak turun, Yuki masih memikirkan kalimat yang Ara ucapkan. Segala rencana saling tumpang tindih. Ia ingin pergi begitu saja, namun apa yang Ara sarankan membuat sisi liciknya terbangkitkan.
Kembali Yuki merasakan dilema. Rasanya tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain melontarkan perkataan manis yang menyenangkan sebagai kesan mendalam.
Sekali lagi helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Menatap pantulan cermin dari meja rias baru yang tampak mewah.
“Yuki ….”
Tersentak Yuki dari lamunannya. Suara bariton Keven sukses membuat Yuki terlonjak kaget.
“Sorry, aku gak bermaksud bikin kamu kaget.” Mengusap tengkuknya dengan canggung, Keven menatap sekilas raut wajah Yuki yang merengut kesal. Tentu tanpa langsung menatap ke wajahnya, hanya mengandalkan pantulan cermin.
“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, ada yang mau aku sampaikan. Bersiap-siaplah. Jangan lupa nanti pakai jaket.”
“Buat ….” Hanya sepenggal kata yang berhasil Yuki selesaikan, sisanya tertelan kembali karena Keven berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Yuki.
Sikap Keven yang seenaknya seperti inilah yang semakin meningkatkan nilai keegoisannya di mata Yuki. Walaupun sejujurnya Keven melakukan itu karena sengaja menghindari jawaban Yuki yang pastinya berisi penolakan.
Menghela nafas panjang, Yuki terpaksa menuruti permintaan Keven. Ia juga cukup penasaran pada apa yang ingin Keven sampaikan. Bisa jadi kejelasan pernikahan yang ingin disudahi atau kejujuran tentang Alia beserta Saka, begitu pikir Yuki yang sudah berusaha memupuk mentalnya agar tidak hancur tercerai-berai.
"Mau ke mana?" tanya Yuki ketus, matanya mendelik sebal kala melihat Keven dengan setelan formal. Sedangkan dirinya hanya mengenakan setelah kaos oblong navy, celana jeans dan sebuah jaket yang masih tersampir di lengannya.
"Masuk." Membuka pintu mobil, Keven sengaja tidak menjawab pertanyaan Yuki. Ia sedang berusaha keras untuk mengingat kalimat yang berulang kali dihafalkannya.
"Gak. Kasih tau dulu kita mau ke mana!" tolak Yuki tegas. Dibandingkan masuk ke dalam mobil, Yuki memilih mundur 3 langkah.
"Tepi laut. Udah tau sekarang? Cepat masuk!" ucap Keven datar, sedatar ekspresi yang semakin kaku di mata Yuki.
...****************...
*
*
*
Terima kasih udah menanti kisah Yuki😍
__ADS_1